
"Titip calon istri ku ya Kak." Ucap Abizar. Pemuda itu tidak lagi masuk ke dalam rumah, dan memilih untuk langsung pergi ke apartemen milik Danira.
"Tenang aja, aku bakal jagain dia." Danira tesenyum jail.
"Bukan Kak Nira, tapi Kaka Dira. Ujar Abizar.
"Kakak Dira mu bakal jengukin bayinya malam ini, jadi ga bakalan bisa jagain calon istri kamu. Udah sana, serahkan semuanya padaku." Ucap Nira.
Abizar mendengus kesal.
Dira dan suaminya memang sudah lebih dulu masuk ke dalam bersama Arion dan hanya meninggalkan Danira dan Aira di depan rumah.
"Hati-hati Abi." Ucap Aira pelan.
Abizar mengangguk.
"Aku pergi yaa." Pamitnya lalu mulai melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah.
Setelah kepergian Abizar, Danira mengajak Aira masuk ke dalam rumah. Karena memang kedua orang tuanya sudah beristirahat, Danira langsung membawa Aira menuju kamar tidur Abizar yang ada di lantai atas. Tidak hanya kamar Abizar, tapi juga kamar tidurnya dan Dira juga berada di lantai dua rumah itu.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau ambil pakaian buat kamu." Pinta Danira saat Aira sudah berada di dalam kamar adiknya.
Sepeninggalan Danira, Aira melangkahkan kakinya menyusuri ruangan serba putih itu dengan hati-hati. Bersih dan mewah, itulah kesan yang ia dapati di dalam kamar yang pertama kalinya ia masuki ini.
Bukan karena tidak lagi terkejut dengan segala kemewahan yang ada di rumah itu, namun, ia sudah menebak semewah apa kehidupan laki-laki yang entah mengapa begitu ingin menikahinya, padahal belum pernah sekalipun lelaki itu mengucapakan kata menyukai atau mencintainya.
"Aku masuk yaa." Danira mengetuk pintu yang di biarkan terbuka, lalu melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
Aira pun mengehentikan acara jalan-jalan nya di dalam kamar Abizar, lalu melangkah menuju sofa di mana Danira berada.
"Ini piyama untuk kamu pakai malam ini. Dan ini pakaian untuk besok. Oh iya ini juga mukenah, jangan lupa setel alarm kamu agar tidak mendapat gedoran di pintu kamar saat subuh nanti." Ujar Danira memperingati sambil menahan tawa karena melihat kekhawatiran di wajah Aira.
"Terimakasih ya Kak, aku jadi ga enak." Ucap Aira.
__ADS_1
"Sama-sama. Aku pamit ke kamar yaa, kamu boleh mengacak-acak kamarnya sesuka hati kamu jika penasaran semua tentang dia. Ini kesempatan kamu."
Aira tersenyum sambil menatap punggung calon kakak iparnya yang mulai berlalu dari kamar itu.
"Oh iya Ra, selamat datang di keluarga kami. Aku senang gadis di bawa Abi ke apartemen ku adalah kamu." Ucap Danira lagi lalu menutup pintu kamar adiknya dengan hati-hati.
Hati Aira tersentuh. Entah terbuat dari apa hati orang-orang ini hingga begitu baik terhdap dirinya, padahal apa yang sudah ia dan Abizar lakukan di apartemen malam itu adalah sebuah kesalahan. Meskipun ia tahu Abizar tidak sampai melakukan hal jauh terhadap tubuhnya, tetap saja kejadian malam itu sudah melebihi batas.
Aira meletakkan lipatan pakaian yang ada di tangan sekaligus tas kecil yang melingkar di bahunya, ke atas sofa, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ini sesuatu yang baru baginya dan tanpa berpikir panjang ia mulai melepaskan seluruh pakaiannya dan berdiri di bawa kucuran air shower di dalam kamar mandi mewah itu..
Biarlah ia tidak sopan, toh tadi Danira sudah memberinya izin untuk melakukan apa saja di dalam kamar ini. Ah, berbagai rencana mulai melayang-layang di dalam otaknya. Ia benar-benar penasaran terhadap laki-laki yang tiba-tiba menawarkan diri untuk bertanggung jawab, padahal malam itu mereka sama sekali tidak melakukan apapun yang melanggar.
Bathrobe berwarna putih sudah melekat di tubuh mungilnya. Ia lalu keluar dari dalam kamar mandi untuk mengenakkan piyama yang di berikan Danira padanya tadi. Akan tetapi, ia kembali mengurungkan niatnya saat bunyi notifikasi di ponselnya terdengar.
Aira merogoh tas kecilnya, lalu memeriksa siapa gerangan yang mengirim pesan padanya di tengah malam seperti ini.
"Selamat beristirahat calon istri. Jangan lupa mimpiin aku."
"Aku baru habis mandi. Oh iya aku numpang di dalam kamar mandi kamu, maaf ga izin dulu."
drrrrttt...drrrrttt
Aira mengerinyit saat melihat nama laki-laki yang kini tertera di layar ponselnya. Terlebih panggilan itu bukanlah panggilan suara seperti biasanya mereka lakukan, tetapi panggilan video.
Tanpa curiga Aira menjawab panggilan itu, dan membiarkan wajahnya dengan rambut yang terbungkus handuk kini terpampang di layar ponsel miliknya.
"Kirain masih di dalam kamar mandi."
Ucap laki-laki yang terpampang di layar ponsel Aira.
"Maksud kamu ?" Tanya Aira heran.
__ADS_1
"Yah aku pikir kamu masih berendam di dalam bathtub seperti malam itu..."
Tut... Tut... Tut...
Tanpa berpamitan, Aira segera memutuskan sambungan video itu.
"Dasar mesum." Umpatnya lalu melempar ponselnya yang masih di cicil itu ke atas sofa.
"Liat aja, aku ga akan menerima panggilan dari ya lagi. Ah, bikin kesal aja."
Aira masih mengomel kesal sambil mengenakkan piyama yang di berikan Danira tadi.
Setelah berpakaian lengkap, Aira kembali mengambil ponselnya, lalu menatap nomor yang kembali menghubunginya melalui panggilan video itu.
"Ah sial aku jadi kangen padanya." Umpatnya lagi.
Meskipun ia masih begitu ingin bercerita dengan lelaki itu, ia tidak mau melakukan nya malam ini karena ini adalah kesempatannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya seorang Abizar.
Sampai hari ini, ia masih belum mengerti mengapa laki-laki yang begitu populer di kampusnya itu tiba-tiba bersikeras ingin menikahinya. Jika di lihat dari segi keluarga, kelihatannya mereka adalah orang-orang yang tidak terbiasa menikah di usia seperti Abizar saat ini.
Dengan langkah perlahan, Aira menuju meja belajar yang ada di dalam ruangan itu. Ada banyak tumpukan kertas di atas meja, dan Aira tidak menyentuh barang-barang yang mungkin penting itu, karena takut merusaknya.
Ia memilih untuk meraih satu pigura kecil yang terpajang di samping komputer.
Aira mengusap lembut wajah menggemaskan yang ada di dalam pigura itu. Remaja laki-laki yang mengenakkan seragam dongker itu terlihat begitu tampan.
"Senyum hangat yang sama, padahal di usia yang berbeda." Gumamnya sambil menatap wajah Abizar yang terlihat begitu menggemaskan.
Dengan hati-hati, Aira meletakkan pigura itu kembali ke tempatnya, lalu melangkah menuju ranjang. Ingin sekali ia melihat isi komputer Abizar, tapi ia masih belum ingin melanggar privasi dari laki-laki itu.
Tidur ? Sepertinya malam ini ia ingin terus terjaga, agar kebahagiaan hari ini tidak akan cepat berakhir. Ia ingin merasakan kebahagian yang di berikan oleh laki-laki asing itu, jauh lebih lama lagi.
*****
__ADS_1
*Note Author.
Maaf jika kalian mendapati banyak typo. Tiga Bab yang terburu-buru, jadi ga sempat aku periksa dulu sebelum di publish. Besok aku aku edit, karena waktunya mepet bgt 🥱🥱