Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 92 Season 2


__ADS_3

"Assalamualaikum Bu." Ucap Yana, berusaha terlihat biasa saja walau dadanya seakan meledak menahan emosi.


Wanita paruh baya dengan mata yang sudah terlihat sembab itu menoleh, menatap penuh prihatin pada putrinya yang sedang melangkah menuju ke arahnya.


Yana tahu ibunya sangat sedih saat ini, namun, ia tidak ingin menampakkan wajah yang sama, dan semakin menambah kesedihan wanita yang sudah melahirkan nya itu. Ia melangkah memangkas jarak, lalu mencium punggung tangan sang ibu, tapi tidak memperdulikan laki-laki yang masih tertunduk dan bersimpuh di kaki ibunya.


Baru saja Yana berniat kembali melanjutkan langkahnya, tiba-tiba lelaki yang sejak tadi diam tertunduk, sudah memeluk erat kedua kakinya nyaris membuat tubuhnya terjatuh.


"Maafkan aku Yana, ku mohon maafkan aku."


Suara serak di sertai isak tangis yang terdengar begitu jelas, membuat Yana terdiam. Entah mengapa, setiap kata maaf yang keluar dari mulut Reno, justru semakin menambah perih luka hatinya.


Yana menunduk, lalu kembali mengangkat kepalanya menatap sang ibu yang juga sudah tersedu-sedu menahan tangis.


"Aku sudah bilang Ren, aku sudah memaafkan segalanya karena aku tidak ingin menyimpan sesuatu yang akan menjadi penyakit di hatiku nanti, hanya saja kita tidak akan bisa kembali lagi. Ku mohon mengertilah, dan biarkan aku menata kembali hidupku yang sudah hancur lebur dengan tenang." Ujar Yana.


Reno menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukannya di kaki Yana sembari terisak pilu.


"Ren lepaskan, aku lapar dan belum makan siang." Ujar Yana Bohong. Yah, ia memang belum sempat makan siang, namun, ia tidak lapar sama sekali. Hanya saja ia ingin segera terhindar dari keadaan yang akan membuat hatinya semakin sakit.


Melihat lelaki yang masih ia cintai sedang bersimpuh memohon, bohong jika hati yang masih mencinta, tidak akan tergerak walau sedikit. Untuk itu, menghindar adalah jalan yang paling baik agar tidak lagi terpengaruh dengan keadaan. Terlebih lagi, kini logikanya terus berteriak untuk tidak lagi memberi kesempatan, walau sekecil apapun.


Jika seseorang yang sangat kita percaya telah berkhianat, maka selamanya kita akan terus tersiksa kerena menjalani kehidupan yang penuh curiga.


Reno melepaskan pelukannya di kaki Yana, lalu mendongak menatap wanita yang terlihat datar, dengan tatapan penuh permohonan.


Setelah memastikan Reno sudah memberi sedikit jarak, Yana kembali melanjutkan langkahnya menuju pekarangan belakang di mana rumah sang ibu berada. Wanita itu melangkah pergi, tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki yang terus mengikuti tubuhnya dengan tatapan mengiba.


"Bu, tolong bantu Reno." Reno memohon.


"Duduk lah di sini Nak." Pinta Dinda pada menantunya sembari menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.


Reno beranjak patuh, lalu duduk di samping ibu mertuanya.

__ADS_1


"Jangan menjatuhkan harga dirimu hanya demi sebuah permintaan yang sudah jelas tidak akan terkabul." Ujar Dinda tegas.


Hati Reno mencelos mendengar kalimat ibu mertuanya ini. Ia menatap lekat wajah kecewa wanita paruh baya yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Ibu ingin Yana bahagia, dan jika bahagia itu tidak lagi ia temukan bersamamu, maka Ibu mohon penuhi permintaannya. Lepaskan dirinya dari luka yang sudah terlanjur tercipta."


Wanita paruh baya itu sudah beralih, ia ikut menatap wajah menantunya yang terlihat begitu menyedihkan.


"Toh sekarang kamu sudah memiliki seseorang yang akan menemani harimu. Dan pastinya wanita itu mungkin jauh lebih baik dari Yana, karena mama kamu begitu menyukainya." Ujar Dinda lagi.


Reno yang tertunduk menggeleng tegas.


"Tidak ada wanita yang lebih baik dari Yana Bu." Jawabnya.


"Lalu kenapa ada wanita lain yang hadir dalam pernikahan kalian ?" Tanya Dinda.


"Mama ingin segera punya cucu." Jawab Reno pelan.


Reno menggeleng


"Kami sengaja menundanya." Jawabnya.


"Dan kamu tidak memberitahu tentang hal itu pada Mama kamu ?"


"Tidak Bu."


"Itu berati kamu memang menginginkan wanita lain selain Yana. Seharusnya kamu menolak dengan berbagai macam alasan agar tidak sampai mengkhianati pernikahan kalian. Tapi ya sudahlah, Ibu sedih kalian jadi seperti ini, namun, semuanya sudah terjadi dan waktu tidak akan bisa di putar kembali." Ujar Dinda.


"Pulanglah, biarkan putri ibu tenang dengan kehidupannya." Sambungnya sembari menepuk pelan pundak menantunya.


"Bu tolong beri Reno satu kesempatan lagi." Ujar Reno masih memohon.


"Jika Yana tidak lagi memberi itu, apakan Ibu berhak untuk melakukannya ? Ini masalah kalian Nak, Ibu sudah bilang. Asalkan Yana bahagia, ibu akan selalu mendukung setiap keputusannya."

__ADS_1


"Pulanglah Nak, istri dan calon bayi kalian pasti sedang menunggu kepulangan mu." Ujar Dinda lagi membujuk.


Tidak tega, tentu saja ia tidak tega melihat wajah memelas dari menantunya, namun saat ini Yana masihlah menjadi prioritas utamanya. Apapun akan ia lakukan agar putrinya itu bahagia. Dan semua ibu di dunia pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak mereka.


Meskipun begitu berat, Reno tepaksa mematuhi permintaan wanita yang mungkin sebentar lagi hanya akan berstatus sebagai mantan ibu mertua. Ia beranjak dari sofa yang ia duduki lalu keluar dari toko bunga yang selalu ia datangi sejak mengenal Yana, dengan kesedihan yang hanya dirinyalah yang tahu.


Sedih, ah sungguh menyedihkan dirinya. Setelah apa yang ia lakukan kemarin dengan Rara, dan di saksikan langsung oleh Yana, dia masih begitu tidak tahu malunya datang dan memohon untuk di beri sedikit kesempatan.


Di dalam tokoh, setelah kepergian menantunya, Dinda menangis tersedu. Ia tidak menyangka jika putrinya akan kembali mengalami keterpurukan karena perpisahan. Ternyata lelaki yang terlihat begitu baik dan penyanyang seperti Reno pun, belum tentu bisa menjaga kesetiannya.


"Bu, jangan seperti ini, Yana baik-baik saja kok." Ucap Yana sambil melangkah mendekati sofa tempat ibunya duduk. Ia membawa tubuh yang terus bergetar karena menangis itu kedalam dekapan sembari mengucapkan jika ia baik-baik saja. Sebenarnya sejak tadi ia sudah berada di toko bunga, tapi ia masih menunggu Reno pergi dari sana.


"Maaf Ibu tidak bisa membantu meringankan kesedihan kamu." Ujar Dinda pada putrinya.


Yana menggeleng, lalu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang ibu.


"Ibu hanya perlu untuk jangan bersedih, maka itu akan membuat Yana baik-baik saja." Ujarnya.


Kedua wanita itu mengurai pelukan mereka, lalu berbicara tentang banyak hal. Dan tentu saja Yana tidak ingin membeberkan tentang prahara rumah tangganya bersama Reno. Biarlah, ia ingin sampai akhir hanya dirinya dan sang suami saja yang mengetahui tentang segalanya.


"Kamu sudah makan siang ?" Tanya Dinda pada putrinya.


"Iya. Masakan ibu Yana abisin." Jawab Yana sambil terkekeh.


Dinda ikut tertawa, namun butiran bening masih saja lolos di pelupuk matanya.


"Ibu selalu berharap yang terbaik." Ujarnya.


"Aamiin Bu, Yana pun berharap hal yang sama." Jawab Yana.


Itulah ia harapkan saat ini. Meskipun perceraian ini adalah hal yang di bolehkan, namun, Yana tahu jika hal itu adalah hal yang paling di benci oleh Allah.


Biarlah, untuk urusan akhirat biarlah menjadi urusannya dengan sang khalik. Dan saat ini, ia masih hidup dan ingin menikmati kehidupan dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2