
"Arga mencintai Dira." Ucap Arga menjawab pertanyaan sang Papa. "Bukankah Dira dan Nira sama-sama baik. Jadi tidak ada salahnya untuk mencintai Dira. Toh selama ini Arga dan Nira memang tidak pernah menjalani hubungan lebih dari sahabat." Sambungnya menjelaskan.
"Bukannya selama ini kamu dekat dengan Nira ?" Tanya Rara mulai kesal dengan sikap putranya.
"Kami hanya sahabat Ma, sama seperti Dira." Jawab Arga. "Hanya karena memang Dira ga di Indonesia makanya Mama tidak pernah melihat Arga bersamanya." Sambungnya.
"Mbak, jadi bagaimana ?" Tanya Rara.
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa Ra. Aku tahu ini kesalahan putriku, tapi aku juga tidak ingin menjadikan putriku yang lain sebagai penutup kesalahan itu. Tidak, aku sama-sama mencintai kedua putriku." Jawab Yana. "Minta lah apapun yang kalian mau untuk mengganti semua kesalahan Nira, tapi aku tidak mau memaksa Dira untuk menggantikannya." Sambungnya.
"Tapi aku masih harus kembali ke Berlin, residen ku masih tersisa dua bulan lagi." Ucap Dira menimpali.
"Itu bukan masalah, kita akan tinggal di sana. Aku bisa membawa pekerjaanku ke sana selama dua bukan, dan kembali ke Indonesia setelah kamu selesai." Jawab Arga cepat.
"Ga.." Protes Reno.
"Tidak apa-apa Pa, kan ada Om Akmal." Bujuk Arga agar sang Papa tidak akan merusak rencananya.
"Baiklah, tapi jangan menuntut banyak dariku. Kita memang berteman, tapi tidak dekat. Jadi beri aku waktu untuk menyesuaikan diri." Putus Dira.
Arga bisa bernafas lega. Ia tidak perduli dengan apapun yang akan di minta oleh Dira nanti, yang penting untuk saat ini ia bisa menikahi gadis yang dia cintai ini.
"Apa kamu baik-baik saja dengan ini, Nak ?" Tanya Alfaraz sedih.
"Dira baik-baik saja Ayah, turunlah sudah banyak tamu undangan yang menunggu di bawah." Jawa Dira.
Empat orang lelaki yang ada di sana, kuat dari dalam kamar menuju ballroom hotel, yang akan menjadi tempat berlangsungnya seluruh acara sakral siang ini.
Rara ikut keluar dari dalam kamar untuk menemui penata rias dan meminta untuk segera menyiapkan calon menantunya.
__ADS_1
****
"Saya terima nikahnya Nadira Agata Prasetyo Binti Alfaraz Prasetyo dengan mahar tersebut tunai."
Kalimat kabul yang di ucapkan Arga dengan begitu lantang menggema di seluruh ruangan. Dira ikut mengucapkan kata Alhamdulillah setelah kata sah berhasil terdengar dari orang yang bertugas sebagai saksi pernikahan mereka hari ini.
Rara segera mengeluarkan satu buah cincin emas, lalu menyematkan di jari manis menantunya. Zyana pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Rara terhadap putrinya.
****
Dira bersandar di pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan. Tangannya terlipat di dada, tatapannya tertuju pada laki-laki yang kini sedang duduk di sofa sambil menunduk dalam.
Dia salah, pernikahan ini salah. Begitu yang ada di pikiran Arga saat ini. Tapi ini sudah terlanjur terjadi, dan dia sangat mencintai Dira.
Karena tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Arga, Dira berencana untuk keluar dari dalam kamar itu, dan memilih untuk beristirahat di kamar lain.
"Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu." Ucap Arga.
"Semua ini rencana ku dan Nira. Dia tahu aku mencintaimu sejak dulu." Ujar Arga lagi.
Dira masih diam. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang menjadi tujuan dari kalimat lelaki yang masih tersimpan rapi di dalam hatinya ini.
"Aku tahu kamu pasti membenci semua yang terjadi hari ini, namun sejak awal semua ini memang aku siapkan untuk mu bukan untuk Nira."
Arga masih tertunduk dalam sambil mengutarakan semua rencana bodohnya yang justru membuat Dira tidak nyaman.
"Maafkan aku jika pernikahan hari ini tidak seperti yang kamu impikan." Kali ini Arga sudah menatap wajah wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.
"Aku tidak memimpikan pernikahan seperti apa yang akan aku jalani Kak, hanya saja yang paling aku takutkan adalah keadaan setelah menikah. Aku tidak ingin ada orang lain dalam pernikahanku, termasuk kakak kembar ku." Jawab Dira pelan.
__ADS_1
Arga tersenyum, lalu menggeleng tegas. Karena sejak awal yang dia mau memang Dira, bukan Nira.
"Aku takut terluka. Lebih baik untuk tidak memulai, jika suatu saat nanti akan terluka." Ucap Dira lagi.
Ia ingin memberitahu pada lelaki yang sedang duduk tidak jauh dari hadapannya, bahwa yang paling ia takutkan adalah kembali tersakiti dengan orang yang dia cintai. Karena sampai kapanpun dia tidak akan mampu membalas rasa sakit itu, meskipun sangat ingin melakukannya.
"Tolong bilangin Ayah, batalkan resepsi malam ini. Aku tidak ingin melakukannya." Ucap Dira dan segera di angguki oleh Arga.
"Istirahatlah, aku akan menemui Ayah dan meminta maaf atas semua yang terjadi hari ini."
Arga melangkah menuju pintu kamar di mana Dira berada. Gadis itu menggeser tubuhnya, memberikan akses pada lelaki yang baru beberapa jam yang lalu menjadi suaminya agar bisa keluar dari dalam kamar itu.
"Aku benar-benar mencintaimu Dira. Maafkan aku harus melalui jalan yang rumit ini untuk menahan kamu agar bisa tetap di sisi ku." Ujar Arga. "Aku benar-benar pengecut, padahal Berlin tidak terlalu sulit untuk aku datangi dan memintamu selayaknya laki-laki." Sambungnya merasa bersalah.
Dira terkejut saat tangan Arga menyentuh lembut pipinya. Ia terdiam tanpa kata, tangan yang sama sekali tidak pernah menyentuhnya kini mengusap pipinya lembut.
"Aku keluar sebentar, kamu istirahatlah." Ujar Arga lagi, lalu keluar dari kamar itu usai mengecup kening istrinya yang tidak sempat ia lakukan setelah prosesi ijab kabul berakhir.
Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, Dira kembali bersandar di pintu itu sambil menekan dadanya yang terus saja berdebar. Setelah lelaki yang masih ia cintai itu keluar, barulah nafas bisa berhembus dengan bebeas dari mulutnya.
Apa semua yang di katakan Arga benar ? Apa lelaki itu benar-benar mencintainya ? Apa selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan ? Entahlah, begitu banyak pertanyaan yang mulai merasuki otaknya, nyaris membuat kepalanya sakit.
Biarlah, biarlah semua akan berjalan seperti apa yang sudah di takdirkan Allah untuknya.
Bahagia ? Bohong jika dia tidak bahagia karena mendengar beberapa kalimat yang baru saja di utarakan oleh Arga padanya. Bohong jika dia tidak bahagia karena hari ini benar-benar resmi menjadi istri dari laki-laki yang dia cintai sejak lama.
Namun, ia tidak akan terlalu berharap akan hal itu, dan membiarkan rasa yang kini tumbuh di dalam hatinya hanya dia dan Allah yang tahu.
Jalani dan nikmati setiap alur cerita kehidupan seperti yang sudah-sudah, begitu pikirnya. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa menentukan kemana takdir akan membawanya.
__ADS_1
Lakukan dengan baik, dan teruslah berbuat baik. Untuk hasilnya, serahkan semuanya pada sang maha kuasa.