
Hari begitu cepat berlalu. Momen sakral penuh haru bagi seluruh keluarga, sedang berlangsung di sebuah ruangan yang sudah di dekorasi dengan indahnya.
Abizar Prasetyo, lelaki mudah yang baru berusia dua puluh enam tahun, terlihat duduk dengan gelisah di depan penghulu yang sekaligus orang yang bertugas menjadi wali nikah dari calon istrinya.
Para tamu undangan yang ikut menyaksikan hari penting itu, sudah duduk dengan khidmat di dalam ruangan bernuansa putih gading itu.
Bunga-bunga segar yang di datangkan langsung dari perkebunan milik mendiang ibu dari Zyana, sudah menghiasi setiap sudut ruangan rumah mewah yang sudah di tempati oleh beberapa generasi itu.
Karangan bunga yang di kirim oleh para relasi bisnis Alfaraz terus saja berdatangan, dan berjejer di depan kediamannya.
Tidak hanya rekan bisnis yang nampak hadir di acara dadakan itu. Keluarga besar dari mendiang Zidan, terlihat hadir di sana.
Adelia dan Gerald juga kedua anak mereka, seakan tidak ngin melewatkan hari bersejarah keponakan mereka. Anak-anak mendiang Zia dan Alard juga ikut hadir di sana. Eliana dan Kenan juga anak dan menantu serta cucu mereka, juga terlihat hadir di sana. Begitu pun dengan Kean dan Rianti juga putri semata wayang mereka, Nana dan juga menantu mereka.
Di acara penting seperti ini, berubah menjadi reuni keluarga. Sekian tahun tak memiliki waktu dan kesempatan untuk bersua, karena kesibukan masing-masing membuat semua anggota keluarga besar Prasetyo tidak melewatkan dan menyempatkan hadir di acara besar seperti ini.
Ini pernikahan yang terakhir dalam keluarga Alfaraz. Meskipun acara pernikahan ini sama mendadaknya dengan acara pernikahan kedua putrinya, namun, pernikahan ini adalah yang paling mewah.
Bukan pilih kasih, tapi kedua putrinya memang tidak menginginkan acara yang banyak menguras tenaga, berbeda dengan Abizar, putranya. Pemuda yang di lahirkan oleh istrinya dua puluh enam tahun yang lalu itu, meminta agar pernikahannya di persiapkan dengan sanga baik. Dan istrinya pun tidak keberatan akan hal itu. Zyana ikut berperan penting dalam mempersiapkan pernikahan yang di impikan oleh putranya.
Dua wanita kembar yang ada di rumah itu, seakan ikut bahagia menyambut anggota keluarga baru dalam keluarga mereka.
Gadis manis sebatang ara itu, tidak hanya berhasil mencuri hati Abizar saat pertama kali bertemu di kamus, tetapi juga ikut mencuri hati kedua calon kakak iparnya.
"Sudah siap Nak ?" Tanya petugas kantor urusan agama yang akan bertugas hari pada Abizar.
Lelaki mudah dengan jas hitam di lengkapi peci berwarna senada itu, mengangguk.
__ADS_1
"Tarik nafas dulu." Pinta lelaki paruh baya itu saat tangan Abizar sudah menjabat tangannya.
"Jangan grogi Abi." Ucap Kenan yang menjadi salah satu menjadi saksi pernikahan.
Abizar mengikuti arahan dengan baik. Kalimat ijab yang sudah ratusan bahkan ribuan kali ia dengar selama tga hari ini mulai terdengar keluar dari bibir laki-laki paruh baya di hadapannya.
Dan langsung di sambut oleh suara lantang miliknya. Kalimat yang di impikan oleh semua wanita di dunia itu, berhasil di ucapkan Abizar dengan satu tarikan nafasnya. Tidak ada getaran grogi, hanya suara tegas penuh keyakinan yang terdengar memenuhi ruangan mewah itu.
Sepertinya suara tegas bercampur haru itu, tidak hanya terdengar di dalam ruangan itu, tetapi mampu menembus ke lantai dua di mana gadis yang baru saja ia ikat dalam tali pernikahan sedang berada.
Benar saja, di dalam kamar yang sudah tiga hari ini berganti pemilik, terdengar isak tangsi menyayat hati dari bibir gadis manis yang sudah terlihat rapi dengan kebaya putih khas pengantin, setelah mendengar kalimat tegas dari bibir laki-laki yang begitu berbaik hati membawanya dalam keluarga luar biasa ini.
Tidak hanya ada gadis manis itu di sana. Dua wanita kembar dengan gaun panjang senada terlihat sedang berusaha menenangkan adik ipar mereka.
Tetesan air mata masih terus menetes membasahi pipi yang kembali di rias dengan susah payah oleh penata rias. Seorang gadis yang terus saja memamerkan senyum bahagia, terus mengusap pipi sahabatnya dengan hati-hati.
"Aku ga tahu harus gimana Gea, Kakak kamu itu benar-benar nikahin aku sekarang. Aku sudah resmi menjadi istrinya." Jawab Aira.
Gea tidak lagi menanggapi. Sampai hari ini, ia pun masih tidak percaya jika Kakak sepupunya yang tampan itu, benar-benar mewujudkan impiannya yang ingin menikahi Aira, sahabatnya.
"Kamu bahagia ?" Tanya Gea.
Aira mengangguk.
"Saking bahagianya, air mataku ga mau berhenti menetes Ge." Jawab Aira.
Gea dan dua wanita kembar yang ada di sana tertawa mendengar jawaban Aira.
__ADS_1
"Kalau bahagia harusnya jangan nangis lagi Ra, kasian Mbak nya karena teru memperbaiki riasan kamu." Ujar Danira.
"Ngga apa-apa kok Kak, itu membuktikan tidak selamanya air mata hanya untuk sebuah kesediahan. Kalian berdua adalah wanita yang paling aku kagumi hingga hari ini. Kalian membuktikan padaku, jika tidak selamanya senyuman itu adalah kebahagiaan, dan tidak selamanya pula air mata adalah kesediahan." Ujar Nadira sendu.
Entahlah, tiba-tiba saja ia mulai menyadari kesalahannya selama ini. Puluhan tahun lamanya ia memaksa kakak kembarnya untuk hidup dalam kepura-puraan.
Danira melangkah mendekat, lalu membawa tubuh yang mulai terlihat berisi itu kedalam dekapannya.
"Udah dong Kak, Aira jadi tambah sedih nih." Protes Gea dengan mata berkaca.
Danira tertawa, lalu melepaskan pelukannya di tubuh ibu hamil yang sedang duduk di atas ranjang pengantin.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar yang di huni oleh para wanita cantik terbuka lebar.
"Sudah selesai ?" Pintu kamar yang bernuansa putih itu terbuka perlahan, dan menampakkan wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya di padukan dengan hijab berwarna senada. "Cantik banget anak ibu." Ucap Zyana lagi saat melihat gadis manis yang sedang duduk di depan meja rias yang ada di dalam kamar putranya.
Mendengar kalian ibu mertuanya, Aira tersenyum dengan mata yang masih terlihat sembab walau samar.
"Kok nangis ?" Tanya Zyana.
"Dia terharu sama putra ibu yang sudah berhasil mempersunting dirinya." Jawab Danira.
Zyana tersenyum mendengar kalimat putrinya. Tentu saja, tida akan ada wanita yang mampu menahan air mata setelah ada seseorang yang berhasil mengikatnya dalam hubungan suci pernikahan.
"Ayo, suami kamu sudah menunggu. Dia penasaran secantik apa istrinya hari ini." Ajaknya.
Para wanita cantik yang ada di dalam kamar pengantin itu, melangkah keluar dan turun menuju ruangan yang sudah terdapat banyak tamu undangan di sana.
__ADS_1