Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 223 Season 3


__ADS_3

Siang yang tadinya cerah, mulai berubah kelabu. Sepertinya senja baru saja berlalu dan mulai berganti malam. Aira mengerjap perlahan, lalu mengelilingi ruangan serba putih itu degan netra nya.


Ah, dia sedang berada di rumah sakit, begitulah yang ada dipikirannya saat ini etika melihat selang infus masih tertanam di atas punggung tangannya.


Tapi tunggu, kemana laki-laki kesayangannya itu ? Batinnya kembali bertanya sembari mengelilingi ruangan itu dengan netra nya. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mani terbuka dan menampakan sosok yang ia cari.


"Sayang." Panggil Abizar saat ia melihat Aira sudah terjaga dan sedang menatapnya. "Aku panggil dokter dulu." Sambungnya.


Aira masih diam, dan hanya menatap punggung laki-laki yang baru saja berlalu dari ruangan mewah itu.


Beberapa saat kemudian, Abizar dan dokter laki-laki yang pertama kali mengani Aira, masuk ke dalam kamar perawatan itu.


"Permisi ya." Ucap dokter tampan itu sebelum meletakkan stetoskop di dada Aira. Wanita yang masih setia menatap wajah suaminya itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Semua sudah kembali normal, tapi tetap masih harus banyak istirahat ya Mbak." Ujar dokter itu.


"Iya Dok, terimakasih." Jawab Aira.


Dokter tersebut kemudian berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Sedangkan Abizar tanpa berkata-kata naik ke atas ranjang di mana Aira sedang terbaring, lalu ikut masuk ke dalam selimut.


"Ada apa ?" Tanya Aira heran, karena suaminya itu sudah menenggelamkan wajah di bahunya.


"Nggak mau tidur sambil peluk kamu aja." Jawab Abizar.


"Yakin cuma peluk ?" Tanya Aira menggoda.


"Jangan mulai Ra. Kamu ngga tahu kepala ku masih sakit karena di pukuli Ibu." Ujar Abizar seketika membuat Aira terbahak.


"Kenapa di pukuli ? Kamu pasti di suruh beli minyak goreng, terus kembaliannya ga kamu balikin ke ibu ya ?" Tuduh Aira sambil tertawa keras dengan tuduhannya.


Abizar melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya yang terus saja tertawa dengan kemalangan nya hari ini.


"Kasus korupsi macam apa itu ?" Keduanya lalu tertawa bersama.

__ADS_1


"Kenapa kamu di pukuli ibu ?" Tanya Aira kali ini sudah lebih serius. Ia menatap wajah tampan Abizar dengan begitu lekat.


"Karena keseringan nidurin kamu." Jawab Abizar frontal dan membuat tangan Aira yang tidak terpasang infus segera mendarat di kepala laki-laki itu.


"Kamu bilang pada mereka ?" Tanya Aira dengan tatapan tajam juga wajah memerah malu.


"Dokter yang memeriksa mu yang bilang. Kamu kelelahan karena kita sering nganu." Jawab Abizar.


Wajah Aira memerah malu.


"Kamu sampai pingsan loh." Ujar Abizar lagi sambil menahan tawa ketika melihat wajah istrinya yang semakin bertambah merah. Tangannya terulur dan mulai mengusap lembut pipi Aira yang terlihat merona.


"Dasar !" Seseorang memukul punggung Abizar dengan keras, hingga membuat sang pemilik punggung merintih kesakitan. "Benar-benar bandel ya kamu." Omel Zyana sambil menarik kuping putranya.


"Aduh Ibu sakit.." Teriak Abizar.


"Turun ! Baru aja di tinggal sebentar sudah mulai kamu yaa." Zyana masih mengomel sambil menarik telinga putranya agar segera turun dari atas ranjang di mana menantunya berada.


"Ayah suruh dia pulang, biar Ibu yang jagain Aira." Ujar Yana lagi, kali ini tatapannya sudah tertuju pada sang suami.


"Mana boleh seperti itu.." Seru Abizar tidak terima. Abi ga ngapa-ngapain kok, hanya peluk aja.


Plak...


Tangan mulus Zyana kembali mendarat sempurna di punggung putranya.


"Kamu diam di sana, jangan coba-coba dekatin Aira." Tunjuk Yana pada sofa kosong di mana suaminya sedang duduk.


Setelah puas memukul dan menjewer telinga putranya, Zyana kembali memasang wajah bahagianya lalu melangkah mendekati ranjang di mana Aira sedang berbaring. Sejak tadi, gadis yang masih terpasang infus di punggung tangannya itu hanya bisa menahan debaran jantung yang menggila kaena harus di beri tontonan live seperti ini. Apa iya ya ibu mertuanya ini marah arena suaminya korupsi uang kembalian beli minyak goreng ?


"Bagiamana perasaan kamu Ra ?"


Suara lembut sang ibu mertua menyadarkan Aira dari lamunan korupsi minyak goreng.

__ADS_1


"Sudah jauh lebih baik Bu, Alhamdulillah." Jawab Aira takut-takut. Takut di jewer karena ikut menikmati uang hasil korupsi minyak goreng.


"Alhamdulillah. Kamu makan yaa, Ibu suapin..


"Abi aja Bu..." Sela Abizar dari ujung sana sambil beranjak dari atas sofa, namun, dengan cepat kembali duduk karena mata yang menghasilkan samurai hampir saja menebas lehernya.


"Makan sama Ibu aja ya Ra ? Jangan percaya Abizar, dia itu modus dan kamu akan tambah sakit nanti."


Aira hanya menatap wajah cantik yang tak termakan usia itu dengan lekat.


"Ga apa-apa kan sama ibu aja, biar cucu ibu cepat besar."


Aira hanya mengangguk patuh bagai di hipnotis. Sudahlah, yang penting ia terlepas dari keterlibatan korupsi uang kembalian minyak goreng.


Eh, tunggu dulu cucu ? Apa salah satu Kakak iparnya sudah lahiran ? Tapi kenapa dirinya yang harus di beri makan ?


"Kak Dira sudah lahiran ya Bu ?" Tanya nya.


"Kamu lagi hamil, dan gara-gara si edan itu kamu sampai pingsan. Di kantor masih sempat-sempatnya dia nganu, dasar !" Omel Zyana sambil menyuapi Aira dengan potongan buah. Orang yang hendak di suapi olehnya, ingin sekali menenggelamkan wajah di bawah kasur.


"Sudahlah Bu, kayak ga pernah jadi pengantin baru aja. Kasian Aira malu." Rengek Abizar semakin membuat Aira memerah malu.


"Kita juga kan pernah di kantor Bu." Alfaraz menimpali.


"Iya kalian benar-benar mirip. Mesum nya yang mirip !" Kesal Yana lalu kembali fokus pada pasien yang sejak tadi menahan malu karena pembahasan vulgar di sana.


Setelah memakan beberapa potong buah, Aira mulai memakan beberapa sendok bubur yang di berikan oleh ibu mertuanya.


"Terimakasih Bu." Ucap Aira pelan.


"Jangan sungkan, kami keluargamu juga." Jawab Yana. "Waktunya minum obat." Sambungnya sambil mengulurkan beberapa tablet vitamin ke arah Aira.


Aira pun patuh melakukan apa saja yang di perintahkan demi buah hatinya.

__ADS_1


"Kamu masih terlalu muda, untuk itu tidak boleh kelelahan. Jadi jangan tergoda dengan rayuannya." Ujar Zyana memperingati sambil merapikan bekas makan Aira dan membawanya menuju meja sofa. Setelah merapikan bekas makan tersebut, Zyana kembali melangkah menuju ranjang, dan duduk di sana. Ada banyak hal yang harus ia bagi dengan menantunya itu, agar bisa terhindar dari jurus modus suami mesum.


Laki-laki muda yang ada di sofa, hanya bisa cemberut karena ibunya terus saja mempengaruhi otak polos istrinya, untuk menjadi istri yang tidak patuh.


__ADS_2