
"Kenapa ga bangunin aku." Ucap Nira saat ia sudah berdiri di ambang pintu pembatas balkon dan kamar tidur.
Wanita yang hanya berlilitkan selimut putih di tubuh polosnya itu, duduk di salah satu kursi yang ada di samping Arion.
"Aku ketinggalan waktu isya loh." Ucap Nira lagi.
Arion menoleh, menatap wanita dengan rambut acak-acakan di sampingnya dengan tatapan teduh. Tangannya terulur merapikan rambut acak-acakan itu dengan hati-hati.
"Aku bangunin kamu tadi, tapi kamu nya malah marah." Jawab Arion bohong sambil tertawa geli, terlebih melihat reaksi istrinya yang begitu terkejut. "Masuk sana, kamu akan kedinginan." Ucap Arion lagi. Kali ini tangannya sudah berpindah pada selimut yang terlihat jatuh, dan menampakkan pundak mulus Danira. Ia menarik selimut itu agar bisa menghalau pundak mulus itu dari terpaan angin malam yang berhembus di atas balkon.
"Aku mandi dulu, baru kita pesan makan malam." Pamit Nira.
Arion mengangguk. Ia melihat tubuh istrinya yang sudah berlalu dan kembali masuk ke dalam kamar tidur.
"Maafkan aku." Lirihnya.
Setelah beberapa saat kepergian Danira, lelaki tampan itu masih saja duduk di kursi yang tersedia di balkon. Pikirannya berkecamuk, bingung harus memulai cerita tentang dirinya dari mana.
Bermenit-menit waktu berlalu, Arion memaksakan diri kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Danira sedang menunaikan kewajiban yang sempat istrinya itu lewatkan. Ia lalu melangkah perlahan, dan naik ke atas ranjang yang sudah terlihat bersih untuk menunggu istrinya selesai dengan urusannya.
Beberapa saat kemudian, wanita yang tadinya sedang bersimpuh di atas sajadah, bangkit sambil melepaskan setelan mukenah berwarna putih gading dan melipatnya bersama sajadah yang baru saja ia gunakan.
"Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Arion.
Danira mengangguk patuh. Ia lalu melangkah menuju ranjang, dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah karena belum sempat di keringkan tadi karena mengejar waktu.
__ADS_1
"Duduk sini, biar aku keringkan." Arion menepuk ranjang kosong di depannya.
Danira menatap suaminya penh curiga.
"Kamu lagi ga ngerencanain sesuatu kan ? Punyaku masih perih loh ini." Ucapnya sambil melangkah ragu-ragu.
"Ngga janji." Kekeh Arion lalu menarik tangan istrinya.l, ketika wanita itu sudah berada di samping ranjang. "Abis shalat jangan lupa cium tangan suami, biar lebih berkah." Sambungnya sambil mengulurkan punggung tangannya ke hadapan Danira.
Danira tersenyum, ia lalu mengecup punggung tangan itu takzim. Beberapa saat kemudian, ia duduk di depan Arion dan membiarkan lelakinya itu mengerikan rambut panjangnya yang basah.
"Dia gadis yang baik. Sama seperti kamu." Ujar Arion tiba-tiba.
Danira diam, dia tidak tahu siapa yang sedang di maksud oleh suaminya ini, namun, ia tidak sama sekali berniat menyela pembicaraan yang baru saja di mulai oleh Arion.
"Dia pergi saat aku belum sempat meminta maaf karena sudah membuatnya kecewa." Lirih Arion.
"Aku jatuh cinta padanya hampir di sepanjang usiaku. Tidak, aku mencintainya hingga rasanya ingin ikut pergi bersamanya ketika aku membuka mata di rumah sakit, dan tidak mendapati dirinya di sana. Duniaku terasa berhenti saat itu juga.
Tarikan nafas yang terdengar begitu berat, membuat Danira memberanikan diri menggenggam tangan yang sedang mengusap lembut rambutnya menggunakan handuk kecil. Ia lantas membalik tubuhnya, lalu duduk berhadapan dengan Arion.
Yah, setelah menikah ia sudah menceritakan banyak hal tentang dirinya pada Arion, dan kini saatnya ia mendengarkan bagaiman kehidupan suaminya ini sebelum bertemu dan menikah dengannya.
"Dia mengidap penyakit yang membuat ia tidak bisa hamil. Bukan karena mandul, tapi karena penyakitnya itu, dokter melarangnya untuk hamil. Karena jika nanti di paksakan, akan sangat berbahaya untuk hidupnya. Suatu hari, entah apa yang membuatku berpikir bodoh. Niatnya aku hanya ingin membuat diriku sama-sama menanggung kesedihan itu bersama dengannya, tapi keputusanku itu justru membuatnya sangat marah. Kami bertengkar hebat saat mobil yang aku kendarai masih melaju di jalanan, hingga akhirnya kecelakaan yang membuat dia pergi selamanya pun tidak bisa aku hindari."
Arion berhenti, tiba-tiba ia menjadi takut melanjutkan kalimatnya. Takut, jika nanti Danira akan mengetahui alasan kepergian seseorang di masa lalu, akan kembali membuat wanita yang kini sedang berada di hadapannya ikut melangkah pergi dari hidupnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi ? Apa yang sudah kamu lakukan hingga membuat wanita baik itu terluka ?" Tanya Danira pelan sambil menatap sendu wajah tampan yang kini tertunduk dalam di depannya.
"Janji dulu kamu ngga akan melakukan hal yang sama." Ucap Arion.
"Tentu, kita akan membicarakan apapun itu dengan baik-baik." Jawab Danira.
"Aku melakukan tindakan vasektomi." Ucap Arion sambil menatap lekat wajah Danira. Tidak ada reaksi apapun di sana, wajah cantik itu masih terlihat begitu tenang ketika mendengar pengakuannya.
"Aku melakukan operasi kecil itu seminggu sebelum pernikahan kami. Niatnya ingin sama-sama merasakan duka bersama, namun, sepertinya bukan itu yang dia mau. Dia marah, dan memilih membatalkan rencana pernikahan kami yang sudah di depan mata." Sambung Arion.
Beberapa saat Danira terdiam, lalu tangannya terulur dan menggenggam tangan laki-laki yang terlihat begitu rapuh usai menceritakan kisah yang mungkin hanya di ketahui olehnya sekian tahun lamanya.
"Tidak ada manusia yang sempurna Arion. Aku tahu bagaimana kecewanya dia saat itu, ketika kamu mengatakan apa yang sudah kamu lakukan tanpa sepengetahuannya. Kami sama-sama wanita, dan aku pasti akan melakukan hal yang sama jika saat itu aku berada di posisinya. Kamu tahu bagaiman sedihnya dia, saat mendapati lelaki yang begitu ia cintai mengorbankan aset berharga demi dirinya. Wanita memang terlihat lemah, tetapi yang kalian tidak tahu adalah, seorang wanita mampu melakukan apapun demi untuk melihat orang yang dia cintai bahagia. Kamu bisa bayangkan, mungkin saja saat itu dia ingin melakukan yang terbaik untuk membuat kamu bahagia di tengah-tengah duka yang dia alami, tapi tanpa berpikir panjang kamu justru menciptakan duka baru untuknya. Seorang wanita mampu menutupi kesediahan ketika dirinya terluka, tapi ia tidak akan mampu menutupi kesedihannya ketika orang yang ia cintai terluka."
Cairan bening mulai menetes membasahi tangan Danira yang sedang menggenggam erat tangan suaminya. Arion masih tersedu, tapi tak lagi berkata apa pun. Kini ia tahu betapa kecewanya seseorang dulu, karena perbuatannya. Danira mengangkat sebelah tangannya, lalu mengusap lembut pipi suaminya.
"Kamu sudah janji nggak akan ninggalin aku. " Ucap Arin serak.
"Tentu saja, aku baru menikah masa iya harus jadi janda di usia pernikahan yang belum genap sebulan." Jawab Danira sambil menghambur masuk ke dalam pelukan Arion. "Bawa aku ketemu dia nanti. Aku mau minta izin untuk mencintaimu. Dan akan aku katakan padanya nanti untuk tenang di sana, karena aku akan mewujudkan impiannya yang belum terwujud, dan membuat kamu bahagia." Sambung Danira sambil terbenam dalam pelukan Arion.
Aron tidak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Danira sambil mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.
****
*Note Author
__ADS_1
Bagi jejak dong 🥺🥺🥺
Jahat banget, padahal aku crazy 🥺🥺