
"Bagaiman ?" Tanya Zyana lagi saat putrinya sudah duduk di ats sofa.
"Kami membatalkan pernikahan ini." Jawab Nira pelan.
"Maksud kamu ?" Tanya Zyana lagi tidak mengerti.
"Bu, Feri menyayangi Nira dengan tulus, tapi ada wanita lain yang juga dia sayangi sejak lama. Dan malam ini gadis itu memerlukan kehadiran Feri, ibunya meninggal." Ucap Nira mejelaskan dengan perlahan.
"Tapi apa urusannya sama pernikahan kalian ?" Zyana masih belum mengerti, jika memang calon menantunya itu hanya ingin membantu orang lain, bukankah tidak perlu sampai membatalkan pernikahan.
"Bu, Nira tidak mencintainya, dan Nira akan sangat merasa bersalah jika tetap menahannya untuk tinggal. Karena Nira tidak bisa memastikan jika perasaan ini akan tumbuh untuknya. Sementara gadis itu, sangat mencintai Feri, begitupun sebaliknya." Jelas Nira.
"Lumayan melelahkan ya Bu, Nira mau peluk." Sambungnya sembari terkekeh.
Zyana tidak lagi menjawab, wanita paruh baya itu merentangkan tangan dan meminta putrinya masuk ke dalam pelukannya.
Di sisi lain sofa, Alfaraz mengepalkan tangan usai mendengar penjelasan putrinya. Meskipun tidak nampak terlihat kesediahan di wajah Danira, tapi ia tahu jika saat ini, putri sulungnya sedang tidak baik-baik saja.
Kalimat tidak apa-apa yang terus saja terlontar dari bibir Danira, seakan tidak mampu mengobati kesediahan yang semakin menghujam di hati sepasang suami istri paruh baya yang kini sudah terdiam seribu bahasa di ruang keluarga mewah itu.
"Jangan khawatir Bu, mungkin Feri memang bukanlah orang yang terbaik buat Nira. Tenang aja, Allah sudah mengatur jodoh terbaik untuk setiap umatnya. Kan Ibu sering bilang, jika wanita baik-baik pasti akan bertemu dengan laki-laki yang baik pula. Ibu jangan sedih gitu, nanti Nira ikutan sedih." Rengek Danira pada sang ibu.
Gadis itu terlihat biasa-biasa saja, meski jalan hidupnya sedang berjalan dengan cerita yang menyedihkan.
Zyana tidak menanggapi rengekan dari putrinya, ia hanya mengusap lembut punggung Danira sambil membalas pelukan di tubuh mungil gadis itu. Tidak ada satu orang ibu di dunia ini yang akan baik-baik saja saat mendapati kabar seperti yang ia terima malam ini. Meskipun kesediahan tidak terlihat di wajah putrinya, tapi ia tahu jika tidak ada wanita yang akan baik-baik saja, setelah di tinggalkan saat sudah merencanakan sebuah pernikahan.
Sebulan telah berlalu setelah lelaki yang datang ingin meminta putrinya, namun, malam ini ia mendapati hasil yang membuat emosinya sedikit naik. Meskipun berulang kali Danira menjelaskan jika Feri adalah orang baik, dan gadis kecilnya ini tidak terluka sama sekali dengan kejadian malam ini karena memang tidak adanya cinta di hati putrinya untuk laku-laki itu, tetap saja sikap yang di ambil laki-laki itu sedikit membuatnya geram.
"Jangan khawatir Ibu, Nira baik-baik saja kok."
Kalimat yang berusaha menenangkan sang Ibu kembali terdengar dari mulut Danira. Tapi sepasang suami istri yang berada di sana sama sekali tidak menanggapi kalimat itu. Karena keduanya sama-sama tahu jika putri mereka hanya ingin membuat mereka merasa tenang.
__ADS_1
"Nira pamit ke kamar ya Bu." Pamit Nira setelah terlepas dari pelukan sang Ibu.
Zyana hanya mengangguk lemah, lalu membiarkan putrinya berlalu dari ruangan itu.
Baru saja beberapa langkah menaiki anak tangga, ponsel yang masih berada di dalam tas branded Nira bergetar. Gadis itu segera merogoh ponsel tersebut lalu mengusap ikon hijau di layar ponselnya.
Senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantik Nira kembali terlihat, saat wajah tampan penuh sesal sudah memenuhi seluruh layar ponsel miliknya.
"Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Nira.
Ferri menggeleng.
"Aku tidak baik-baik saja karena sudah meninggalkan kamu di restoran malam ini. Aku minta maaf Nir." Balas seseorang yang kini sudah berada di layar ponsel Nira.
"Hei, kan aku sudah bilang aku baik-baik saja. Aku justru akan merasa bersalah seumur hidup jika kamu tidak pergi dan menemuinya malam ini." Jawab Nira. "Tapi jangan salahkan aku jika ibumu akan membunuhmu nanti. Kamu tahu dia sangat marah karena kamu meninggalkan gadis secantik aku." Sambungnya sambil tertawa geli.
"Yah dia baru saja menelfon dan memaki ku." Ujar Feri lesu.
Gadis itu membuka pintu kamar tidurnya, lalu melangkah menuju temat tidur dan langsung membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang mewah miliknya.
"Kamu tiduran ?" Tanya Feri.
"Yah, aku tiduran di atas ranjang yang kamu sia-siakan." Kekeh Nira.
"Aku semakin menyesal." Ujar Feri ikut tersenyum karena lelucon Danira. Tapi kesedihan di wajahnya masih belum pergi dari wajahnya.
"Apa Elin mu itu sudah berada di sana ?" Tanya Nira.
Feri mengarahkan kamera ke arah wanita yang masih terus berbaring di samping jenazah.
"Dia baru tiba malam ini, dan tadi saat dia memintaku datang, dia baru saja tiba di Bandara." Jawab Feri
__ADS_1
"Aku turut berduka Fer." Lirih Nira.
"Maafkan aku Nira. Aku akan datang dan menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu nanti." Ujar Feri.
Nira mengangguk.
"Aku terlalu lelah untuk melangkah Fer. Ingin berhenti saja dan menunggu seseorang yang datang dengan sendirinya untuk membawaku pergi dari keadaan rumit ini." Ucapnya lirih.
Aku sudah menjelaskan pada mereka juga. Namun, akan lebih baik lagi jika kamu datang dan menjelaskan secara langsung kepada mereka. Ujar Nira memberi saran. Aku tutup yaa. Pamitnya kemudian.
Terlihat Feri mengangguk mengiyakan, kemudian panggilan itu berakhir.
Setelah mengakhiri panggilan tersebut, Nira lantas bangkit dari atas ranjangnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama kemudian, gadis itu keluar dari dalam kamar mandi dan melangkah menuju ruang ganti miliknya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan piyama.
Kini gadis yang terlihat selalu baik-baik saja meskipun sesuatu yang menyedihkan itu kembali datang menyapa, sudah duduk di atas ranjang kesayangannya sambil memangku satu benda lipat juga beberapa lemar dokumen yang sudah tersusun rapi di sampingnya.
Ada banyak hal yang harus ia lakukan, karena ribuan orang sedang bergantung pada nya sebagai penerus perusahaan keluarga.
Ada banyak agenda di hari senin nanti, dan ia hanya memiliki waktu malam ini untuk mempersiapkan segalanya, karena di hari minggu besok ia ingin berkunjung ke rumah Oma dan Opa tercintanya.
*****
Di sebuah rumah yang juga ada d Jakarta, Feri masih menatap lekat ponselnya. Gundah dan gelisah kian mengganggunya saat melihat wajah sahabat yang ia cintai tadi.
Terlalu lelah ? Kalimat Nira tadi terus saja terngiang di dalam otaknya.
Dia yang menjanjikan sebuah komitmen pada sahabatnya itu, tapi dia juga yang merusaknya.
"Maafkan aku." Lirih Feri.
Setelah beberapa saat ia menyendiri di sudut ruangan, kini ia bangkit lalu melangkah menuju gadis yang terus sesegukan di samping jenazah.
__ADS_1