Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 244 Season 4


__ADS_3

"Maafkan aku Bang." Ucap Daniza merasa bersalah.


"Jangan pergi, tetaplah di sini. Abang ikhlas melepas mu pergi, asalkan sudah ada seseorang yang benar-benar bisa menjagamu." Jawab Azam.


Daniza hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun masih bimbang dengan keputusannya yang ingin pergi ke luar negeri, agar bisa memulai kisahnya yang baru di lingkungan yang baru.


"Ada seseorang yang mengatakan Bang, kenangan masa lalu tidak akan bisa kita hapus. Kita hanya perlu mencari tempat yang baru, dan mulai menciptakan kenangan yang baru di sana. Dengan begitu, kenangan yang dulu mengisi memori ku hingga saat ini, akan mulai terganti dengan kenangan yang baru di tempat yang baru itu." Ujar Daniza setelah beberapa saat keduanya hening,


Azam tidak lagi menimpali. Laki-laki itu terdiam dai kursi yang duduki. Tatapan sendunya masih tertuju pada gadis yang kini sudah tertunduk dalam di hadapannya.


Beberapa saat keduanya duduk diam di kursi makan, bel apartemen berbunyi. Azam melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu segera beranjak dari tempat duduk yang ia duduki dan melangkah menuju pintu apartemen adiknya.


Daniza pun ikut melangkah menuju ruang tamu. Dan betapa terkejutnya dia saat melhat laki-laki yang kini masuk ke dalam apartemennya saat pintu di buka oleh Azam.


"Bukannya Mas Daren perginya selama dua hari ?" Tanyanya heran sambil menatap bergantian dua laki-laki yang mulai melangkah perlahan menuju sofa.


"Fatih sudah tidur ?" Tanya Daren.


Daniza mengangguk mengiyakan.


"Pekerjaan mu telah selesai ya Mas ?" Tanya Daniza lagi. Namun, Daren masih belum menjawab. Laki-laki itu hanya terlihat menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat melalui mulut.


"Duduk dulu Niz, ada yang mau aku jelasin." Ujar Daren.


Daniza melirik Azam yang sedang duduk berhadapan dengan Daren. Ia lantas membawa tubuhnya untuk ikut duduk di samping Azam.


"Jadi gini Niz. Apa yang di katakan Maya kemarin, semuanya memang benar." Daren menghentikan kalimatnya sebentar. Sedangkan Daniza segera memalingkan wajah, menatap Azam dengan jantung yang terus berdetak keras. Takut jika Abangnya ini akan mengamuk di dalam ruangan ini.

__ADS_1


Di hadapan Daniza, Daren kembali menarik nafasnya untuk mengurangi gemuruh yang begitu mengganggu di dalam dadanya. Bukan khawatir dengan Azam, tapi mengakui perasaan cinta kepada adik sendiri baginya sangat lah berat. Namun, ia tidak ingin menyesal nanti, jika masih menunda untuk membicarakan hal ini dengan Daniza.


"Aku mencintai mu sejak dulu, dan pernah berniat untuk datang melamar mu, Niz." Ujar Daren.


Daniza masih diam membisu. Gadis itu hanya menatap wajah sang Abang yang sedang tertunduk dalam, dari samping. Ia sama sekali tidak melirik laki-laki yang sedang menatapnya, meskipun kini jantungnya seakan ingin keluar, kala mendengar kalimat singkat yang baru saja keluar dari mulut Daren.


"Azam tahu akan hal ini. Sebelum mengatakan pada Om Arion dan Tante Nira, aku sudah lebih mengatakan semuanya pada Azam."


Daren kembali menjelaskan. Dan penjelasan kali ini mampu membuat perhatian Daniza teralihkan. Kini ia menatap lekat laki-laki yang baru saja mengatakan, mencintainya sejak lama. Bibirnya masih tertutup rapat. Sepertinya, kata yang terangkai sekian tahun di otaknya, lenyap begitu saja saat mendengar pengakuan dari laki-laki yang masih ia cintai hingga saat ini.


"Dalam hukum agama yang kita percayai, pernikahan kita tidak di larang Niz, tapi dalam hukum sosial tidak semua orang bisa memandang normal pernikahan kita dan aku tidak ingin kamu menanggung penilaian buruk dari orang lain karena pernikahan itu." Ujar Daren lagi.


"Bertepatan saat itu, ada seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dan aku pun ingin berusaha mengubur rasa yang tidak seharusnya aku simpan di dalam hati. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya." Daren menjelaskan siapa Maya dalam hidupnya.


"Dan pernikahan itu tidak bisa menghapus semuanya ?" Tanya Daniza menimpali.


"Ternyata rasa yang tercipta sejak kecil, tidak akan semudah itu di hapuskan begitu saja. Aku pikir, rasa berlebihan yang ada di dalam hati, hanya seperti kasih sayang yang di rasakan Azam, Aidar dan juga Alfan terhadap kamu. Tapi nyatanya, rasa ini lebih dari itu. Bahkan sekian tahun mencoba membunuhnya, masih saja tidak membuahkan hasil yang aku inginkan." Jawab Daren.


Daniza terdiam sambil menatap Daren. Detak jantungnya terus berpacu dengan begitu kencang.


"Aku tahu saat ini sudah terlalu terlambat untuk mengutarakan semuanya. Mungkin pernikahan ku dengan Maya beberapa tahun yang lalu, sudah membuat penilaian mu buruk terhadap ku."


Daren menghentikan kalimatnya. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan satu kotak cincin berwarna merah, dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Daniza.


Kali ini Azam sudah mengangkat wajahnya, lalu menatap kakak sepupu sekaligus sahabatnya yang sedang berusaha meluluhkan hati gadis yang kini kembali menoleh ke arahnya.


"Sebelum datang kesini, aku sudah melamar mu pada Om dan Aunty, mereka tidak keberatan. Bukan hanya Om dan Aunty, tapi seluruh keluarga kita dan mereka tidak keberatan akan hal itu. Niat ku hari ini sama sekali tidak melanggar ajaran agama yang kita percayai. Walaupun begitu, aku tetap akan menghargai setiap keputusan mu." Ujar Daren lagi.

__ADS_1


"Bang.." Lirih Daniza saat melihat wajah sendu Abang kesayangannya. Gadis itu mengabaikan kalimat panjang lebar yang baru saja di utarakan oleh laki-laki yang ia cintai.


"Abang..." Kali ini Daniza sudah menarik lengan Azam, karena sejak tadi laki-laki yang begitu menyayanginya ini hanya diam membisu di sampingnya.


"Jangan pergi. Tetaplah di sini bersama Abang, ya.." Bujuk Azam.


Daniza mencelos. Kini ia tahu alasan apa yang membuat Abang nya ini menerima Daren sebagai laki-laki malam ini.


"Aku akan tetap di sini. Dan jika Abang tidak ingin, maka aku tidak akan melakukannya." Jawab Daniza.


Beberapa saat menatap Azam, kini ia kembali menatap Daren dengan sendu. Kemudian berpindah pada kotak beludru yang ada di atas meja sofa yang ada di dalam ruang tamu apartemen miliknya.


"Jangan rusak persaudaraan kita hanya karena sebuah rasa yang kita tidak tahu apakah akan selamanya atau tidak." Gadis itu mendorong kotak cincin yang di keluarkan Daren beberapa saat yang lalu. "Soal Fatih, jemput nya besok aja, kasian dia sudah tertidur." Ujar Daniza lagi.


"Abang ga usah khawatir, aku ga akan pergi jika Abang tidak mengizinkannya." Daniza beranjak dari sofa dan bersiap kembali ke kamarnya.


Daren dan Azam saling bertatapan. Kepanikan mulai terlihat di wajah keduanya. Daniza salah paham, itulah yang ada di otak Daren saat ini. Sejak dulu, Azam lah orang yang selalu memaksanya agar menikahi Daniza, tapi Daren memilih jalan lain, agar Daniza tidak akan menerima anggapan buruk dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Menikahlah dengan Mas Daren, Niz." Ucap Azam cepat.


Daniza menghentikan langkahnya, lalu menatap Azam dan Daren bergantian.


*****


Mulai membosankan yaa 🥺🥺


Viewnya turun drastis 😭😭

__ADS_1


__ADS_2