
Adzan subuh berkumandang, membuat Zidan terjaga dari lelapnya.
"Astagfirullah." Lirihnya saat mendapati tubuhnya tidak mengenakkan apapun dan hanya tertutupi selimut tebal. Ia mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar, lalu bernafas berat saat ingatan apa yang sudah ia lakukan semalam terhadap Farah kembali melintas.
Ia akan menjelaskan semuanya pagi ini, namun sebelum itu ia harus meminta maaf pada sang maha kuasa Krena lagi-lagi mendzalimi istrinya.
Zidan turun dari atas ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu kamar mandi yang beberapa menit tertutup, kembali terbuka. Handuk putih sudah melingkar di pinggangnya, lalu keluar dari kamar itu menuju kamar tidur mendiang istri pertamanya untuk mengganti pakaian.
Barang-barang pribadinya memang masih berada di kamar itu, karena selama satu bulan ini Zidan masih menempati kamar tidur Nadia, dan membiarkan Farah untuk belajar terbiasa dengan keberadaanya.
Usai mengenakkan pakaian, ia lanjut menunaikan ibadah seperti biasanya di dalam kamar Nadia, lalu keluar menuju dapur untuk melihat sang istri setelah urusannya dengan sang khalik selesai.
"Farah kemana Mbok ?" Tanyanya pada asisten rumah tangga yang sedang mempersiapkan sarapan. Biasanya selama satu bulan ini, Farah yang akan memasak, sedangkan asisten rumah tangga hanya bertugas merapikan rumah.
"Saya belum lihat Pak." Jawab wanita paruh baya yang sudah beberapa tahun ini membantu Nadia dan Farah.
Zidan kembali membalik tubuhnya menuju kamar Farah untuk melihat istrinya itu, namun ia tidak menemukan Farah di sana.
"Morning Boy." Ucapnya saat membuka pintu kamar putranya yang bersampingan dengan kamar tidur Farah. Namun, kamar itupun kosong. Ia tidak mendapati dua orang berharga itu di dalam kamar itu.
Zidan memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam kamar putranya dia periksa. Kamar mandi, ruang penyimpanan pakaian ia periksa namun, dua orang yang ia cintai itu tidak berada di sana.
"Mbok.." Panggil Zidan saat langkah kakinya kembali memasuki dapur tempat bisanya ia menemukan Farah di pagi hari seperti ini.
"Iya Pak," Jawab asisten rumah tangga itu sembari mengusapkan telapak tangan pada apron yang terpasang di tubuhnya.
"Farah sama Alfaraz tidak ada di kamar." Ucap Zidan. "Apa Mbok belum melihat mereka pagi ini ?" Tanyanya kemudian. Rasa khawatir sesuatu telah terjadi pada dua orang itu, mulai hinggap.
"Belum Pak. saya juga heran, biasanya setiap pagi saat saya bangun, Non Farah sudah berada di dapur." Jawab wanita paruh baya itu sopan.
Zidan kembali membalik tubuhnya, dengan setengah berlari ia kembali menuju kamar Farah. Ponsel yang tergeletak begitu saja di atas ranjang Farah seger ia raih, lalu segera menghubungi nomor ponsel istrinya.
Drrttt.... Drrttt...
__ADS_1
Getaran ponsel terdengar. Zidan mengelilingi ruangan itu, untuk mencari asal suara dari getaran ponsel yang terdengar samar.
Hingga suara operator menjawab panggilannya.
Zian kembali mengulang panggilan di nomor Farah, dan getaran kembali terdengar. Zian mendekat ke arah nakas yang dengan foto Farah dan Al tertata rapi di atasnya. Getaran itu semakin jelas terdengar, namun tidak apapun di atas nakas itu selain dua pigura kecil dengan dua gambar yang membuatnya khawatir pagi ini.
Zidan menarik laci nakas untuk memeriksa, ponselnya masih menempel di telinga dan pipinya dengan panggilan nomor Farah.
Ketakutannya semakin memuncak, wajahnya puas saat mendapati ponsel Farah ada di alam laci nakas di samping tempat tidur. Di raihnya ponsel itu, lalu di tatapnya lama.
Ini bukan ponsel Farah, tapi ponsel milik mendiang istri pertamanya. Tapi mengapa nomor Farah terpasang di ponsel ini.
Dadanya semakin berdebar, kekhawatiran semakin mengusiknya.
Ia kembali memeriksa laci itu, berharap ada sesuatu yang bisa ia temui di dalam sana. Namun nihil, tidak ada barang apapun di alam kotak kecil itu.
Zian bergegas keluar dari dalam kamar, lalu turun menuju halaman rumah.
Mobilnya masih ada di halaman rumah, ah tentu saja istrinya itu sama sekali tidak pernah terlihat menggunakan mobil.
Tidak apa-apa jika kali ini Ayah akan menghajarnya, setelah mendengar penjelasan apa yang sudah terjadi padanya semalam, yang terpenting sekarang, ia bisa memastikan jika istri dan putranya ada di sana.
Karena belum banyak kenderaan yang melintasi jalan, membuat Zidan tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai kediaman Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Bu." Panggil Zidan sembari mengetuk pintu dengan terburu-buru.
"Ra.." Panggilnya lagi masih terus mengetuk pintu dengan ukiran mewah itu.
Seorang asisten rumah tangga membuka pintu, dan mempersilahkan putra dari majikannya itu masuk ke dalam rumah.
Zidan bergegas masuk, bahkan tidak sempat mengucapkan kata terimakasih seperti biasanya. Lki-laki itu melnglah cepat menuju ruang makan, namun sepasang suami istri yang sedang ia cari belum berada di sana. Hanya makanan untuk sarapan yang sudah terhidang dengan rapi.
"Ayah dan Ibu di mana Bik ? " Tanya Zidan cepat.
__ADS_1
"Mungkin masih di dalam kamar Den." Jawab wanita paruh baya itu.
Zidan kembali melangkah cepat menuju kamar tidur Ayah dan Ibunya.
Baru saja langkah kakinya memasuki ruang keluarga, dua orang paruh baya itu sudah terlihat keluar dari dalam kamar.
Anisa menatap heran putranya, tidak biasnya Zidan datang menemui mereka sepagi ini.
"Bu, Farah dan Al ngga ke sini ?" Tanya Zidan.
Anisa menatap suaminya sebentar, lalu kembali menatap putranya lekat.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Dimas cepat.
Zidan terdiam, ia ingin menjelaskan lebih dulu pada Farah.
"Ada apa Nak ?" Tanya Anisa lebih pelan sambil menatap wajah pucat putranya.
"Saat Zidan bangun, Farah dan Al sudah tidak ada di rumah Bu." Lirih Zidan.
Kini ia yakin jika istrinya tidak datang ke rumah Ayah dan Ibunya ini. Jika Farah ke sini, pasti ia akan mendapati kemarahan dari dua orang paruh baya di hadapannya ini.
"Jam berapa kamu bangun ? Kamu ngga shalat subuh ?" Tanya Anisa heran.
Zidan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Zidan shalat Bu, bisanya pagi hari Farah sudah di dapur menyiapkan sarapan. Namu setelah selesai shalat subuh, Zidan tidak mendapati Farah di sana. Al juga tidak ada di rumah." Jawabnya lesu.
"Sudah menghubunginya ?" Tanya Anisa.
Zidan mengangguk, namun ragu memberi tahu tentang kartu SIM Farah yang terpasang di ponsel lama milik mendiang Nadia.
"Sudah tanya Kakak kamu ?" Tanya Anisa lagi, Kren Zidan hanya mengangguk itu berarti Farah tidak mengangkat pnggilannya. Kemungkinan Farah berada di rumah Zia, karena selama ini menantunya itu memang lebih dekat dengan Zia dari pada dirinya.
__ADS_1
Zidan tersadar, ia segera merogoh ponselnya dari dalam saku baju kokoh, lalu menghubungi sang Kakak.