
Setelah makan malam tanpa Adelia, Farah mengajak putra dan suaminya duduk di ruang keluarga. Ada yang ingin ia bicarakan dengan putranya, dan ia yakin ini tidak akan mudah.
"Al, besok Bunda akan ajak Yana ketemu teman-teman Bunda ya, sekalian mau lihat perkembangan persiapan pernikahan kalian." Izin Farah.
"Ngga usah aneh-aneh deh Bun." Tolak Alfaraz.
"Ngga akan lama kok Al, hanya jalan sebentar terus Bunda akan antar Yana pulang dengan selamat." Bujuk Farah pada putranya.
"Ngga, jangan bawa-bawa Yana ketemu teman-teman Bunda, apalagi Tante Regina nanti Gerald makin menjadi." Alfaraz masih menolak permintaan bundanya yang ingin membawa Yana. "Buda tahu, laki-laki itu masih terus mengirimkan bunga untuk Yana, bikin kesal aja."
"Kami hanya akan memeriksa hotel tempat kalian menikah, biar Bunda tahu dekorasi seperti apa yang Yana inginkan." Farah masih ingin terus memaksa agar keinginannya di penuhi. "Soal bunga, itu karena Gerald tidak tahu jika Yana calon istri kamu, makanya dia masih saja mengirimkan bunga untuk Yana. Makanya Bunda mau kenalin Yana sama Tante Regina juga, biar Gerald berhenti mengirim bunga." Sambungnya.
Alfaraz menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap laki-laki paruh baya yang sedang sibuk dengan koran tanpa ingin menimpali perdebatannya dengan sang Bunda.
"Yana ngga akan keberatan Bun, buat aja sesuai keinginan Bunda. Iyakan Pa ?" Alfaraz meminta dukungan dari kaki-laki yang terlihat tidak ingin ikut campur
"Benar kata Bunda Al, akan lebih baik Yana di ajak untuk melihat bagaimana perkembangan persiapan pernikahan kalian, biar dia merasa di hargai. Dan untuk ketemu teman-teman Bunda, itu akan membantu kamu biar ngga akan ada lagi yang mengirimkan bunga untuk Yana." Ujar Zidan.
Sejujurnya ia pun tidak setuju dengan ide Farah, sama seperti dirinya yang tidak akan mau mengizinkan Farah bertemu siapapun, apalagi itu laki-laki yang jelas menyimpan rasa. Lagi pula ntuk persiapan pernikahan sudah di pegang oleh WO yang handal. Tapi jika istrinya sudah mengeluarkan jurus memaksa seperti ini, perdebatan pasti tidak akan berakhir sebelum kemauannya di turuti.
"Nah itu, dengarin kata Papa kamu." Farah tersenyum lalu memberikan jempol pada suaminya.
"Ya udah iya. Tapi harus sama Al juga. Yana ngga boleh pergi sendirian." Ujar Alfaraz mengalah.
"Yana ngga sendirian kok Al, kan sama Bunda." Farah masih tidak setuju.
"Pergi sama Al atau tidak sama sekali."
Farah cemberut, namun, tidak lagi memaksakan kehendaknya yang ingin jalan-jalan berdua dengan calon menantunya.
"Pembelaan tadi ngga gratis ya Ra." Bisik Zidan di telinga istrinya.
Alfaraz melongo mendengar suara bisikan namun begitu jelas di telinganya itu.
"Dasar." Kesalnya lalu beranjak dari sofa yang ada di ruang keluarga menuju kamarnya, meninggalkan dua orang yang tidak malu dengan usia itu.
"Apa sih kamu, bikin malu aja." Pukul Farah di lengan suaminya. Wajahnya masih saja merona jika suaminya bersikap seperti ini. Namun, ia tetap masuk kedalam pelukan hangat yang selalu saja nyaman walau sudah puluhan tahun terlewati.
__ADS_1
***
Beberapa hari telah berlalu setelah pertemuannya dengan Nara di kafe. Yana masih saja beraktifitas seperti biasa di tempat kerja, yang tentu saja harus di antar jemput oleh calon suaminya. Meskipun Alfaraz sudah memintanya untuk diam di rumah saja sampai hari pernikahan tiba, ia tidak mendengarkan. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan sambil mempertimbangkan permintaan sang Ibu.
Malam ini ia janjian bertemu dengan calon ibu mertuanya di hotel tempat yang akan di gunakan untuk acara pernikahannya. Dress selutut sudah melekat sempurna di tubuhnya. Rambut panjang lurus di biarkan tergerai indah di punggungnya. Sebelum keluar dari dalam kamar, Yana kembali melihat tubuhnya depan cermin, melihat jika tidak ada yang kurang dengan penampilannya sore ini lalu keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu tempat calon suaminya menunggu.
"Aku pamitan sama Ibu dulu." Ucap Yana lalu masuk ke dalam toko bunga melalu pintu samping dekat rumah. " Kamu tunggu saja di mobil." Sambungnya.
Alfaraz mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang ada di tangannya,
"Eh, Yana tunggu..." Teriaknya.
"Ada apa sih ? Ngga usah teriak-teriak, nanti Ibu kirain kita lagi ngapain aja di rumah."
"Kamu mau pergi dengan penampilan seperti ini ?" Tanya Alfaraz.
"Ada apa ? Penampilan aku ngga bagus yaa." Yana kembali melihat dress yang sudah ia kenakan.
"Bukan, masuk lagi sana. Ngga usah berlebihan, ganti aja dengan yang biasa. Terus itu warna di bibir kamu ga usah yang seperti itu." Alfaraz mendorong tubuh Yana agar kembali masuk ke dalam.
"Apa sih, lepas ! Ngga usah aneh-aneh. Sana tunggu aku di mobil." Perintahnya pada Alfaraz.
Alfaraz tidak mendengarkan permintaan Yana yang ingin ia menunggu di mobil. Laki-laki ikut masuk ke dalam toko bunga di mana calon ibu mertuanya berada untuk meminta dukungan.
"Baju ga usah di ganti, tapi warna merah-merah di bibir kamu di hapus." Perintahnya.
Yana tidak mendengarkan, ia melangkah sambil menahan tawa melihat sikap kekanakan Alfaraz. Benar-benar menggemaskan dan ini adalah sesuatu hal yang baru baginya.
"Bu, Yana dan Al berangkat ya." Yana menyalami punggung tangan ibunya. Alfaraz pun melakukan hal yang sama.
"Bu, minta Yana ganti baju dong." Pinta Alfaraz.
Dinda menatap penampilan putrinya. Tidak ada yang aneh, penampilan ini seperti biasanya saat putrinya hendak keluar dan bertemu seseorang di luar rumah.
"Na hapus lipstik kamu ?" Pintanya pada sang putri.
Yana menatap horor wajah Ibunya.
__ADS_1
"Dandan di depan suami aja." Ujar Dinda lagi.
"Lah Yana kan belum punya suami." Jawabnya. "Ga apa-apa lipstik ini mau Yana pakai untuk cari suami baru. Ya udah Bu Yana berangkat ya." Sambungnya lalu melangkah keluar dari tokoh bunga. Lelaki yang terlihat kesal namun, menggemaskan, juga ikut keluar dari toko bunga ibunya.
"Buka pintu mobilnya, Bunda sudah menunggu." Ujar Yana sambil menatap tajam wajah Alfaraz.
"Nggak, sebelum kamu hapus warna aneh itu." Tunjuk Alfaraz pada bibir menggoda Yana.
"Ya udah." Jawab Yana lalu mengusap bibirnya dengan jari. "Cekatan buka pintu mobil, aku butuh tisu."
Alfaraz tersenyum, lalu membuka pintu mobilnya dan ikut masuk ke dalam. Setelah Yana duduk dengan nyaman, Alfaraz segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat Yana tinggal, menuju hotel di mana sang Bunda sedang menunggu.
"Bisa ngga sih orang-orang ini berdiam diri di dalam rumah, bikin macet aja." Omel Alfaraz.
"Ya ngga bisa lah, mereka kan punya kepentingan juga." Jawab Yana. "Sabar aja, cepat atau lambat tetap akan sampai juga kok ke tempat tujuan." Sambungnya.
Di dalam perjalanan, Yana masih berusaha membersihkan bibirnya menggunakan tisu, agar terlihat lebih baik.
"Ingat dandan di depan suami aja, jangan bandel." Ucap Alfaraz sesekali melirik Yana yang sibuk membersihkan sisa-sisa pelembab bibir yang masih menempel di sana.
"Makanya buruan nikahin aku, jangan larangan aja di banyakin." Jawab Yana.
"Nikah juga aku bisa kok, malam nanti kamu bisa dandan yang cantik di depan aku."
Yana menatap Alfaraz sebentar, lalu senyum jail kembali terlihat di sudut bibirnya.
"Ayo siapa takut, putar balik cari hotel lain yuk." Ajaknya sambil melepaskan sabuk pengaman dan mendekatkan tubuhnya ke arah Alfaraz.
"Pakai sabuk pengaman kamu, bahaya." Ujar Alfaraz frustasi.
****
*Note Author
Hai Kakak mungkin di sini ada yang sedang ngikutin Promise, mohon maaf kisah itu aku ajukan penghapusan ke pihak NT. Ada beberapa bagian alur dan Bab yang harus aku rubah, karena kisah Rianti harus nimbrung di sana.
Tunggu saja, pasti akan aku Up lagi tapi dengan judul yang berbeda Menggenggam Janji Sekarang masih dalam tahap persiapan cover nya.
__ADS_1
Maaf atas ketidak nyamanan yaa 🙏🙏
Oh iya untuk Babang Al, hari ini tiga bab aja yaa, satu bab lagi entar malam 🥰