
Kata orang kunci dari sebuah rumah tangga adalah seorang istri. Dan yah, semua memang benar adanya. Rumah tangga yang berjalan satu bulan harus kembali berakhir dengan perceraian.
Hati tidak akan bisa di paksakan kepada siapa harus di berikan.
Sama halnya dengan seorang Rara, ia tidak bisa memaksa hatinya saat dulu jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah memiliki istri. Dan kini, ia pun tidak bisa memaksakan hatinya untuk mencintai laki-laki yang datang menawarkan sebuah kebahagiaan dan bersedia menjadi Ayah sambung untuk putranya.
Kecewa, itulah yang kembali ia torehkan di wajah tua sang Abi. Namun, sepertinya memang sudah garis tangannya akan yang selalu gagal dalam membina sebuah rumah tangga.
"Jika kamu masih begitu mencintai Reno, memohon lah sekali lagi pada Abi. Aku yakin, sampai saat ini yang paling beliau inginkan masihlah tentang kebahagiaanmu." Ujar Akmal.
Hari ini ia datang mengambil beberapa barang pribadinya yang masi berada di rumah mantan mertuanya ini, dan akan membawanya kembali ke apartemennya.
"Maafkan aku atas perasaan bodoh ini Akmal." Ucap Rara penuh rasa bersalah.
"Hei aku ngga apa-apa Ra, bukankah setelah ini akan lebih mudah bagi kalian untuk kembali bersama. Minta lah restu pada Abi, dan bilang pada beliau hanya Reno yang bisa membuatmu bahagia, bukan aku." Ujar Akmal.
"Reno sedang di timpa musibah, dan saat ini dia sendirian." Ucap Rara lirih.
Akmal memangkas jarak, lalu menepuk pelan bahu Rara untuk memberi semangat pada mantan istrinya itu, lalu keluar dari kamar yang pernah ia gunakan selama hampir satu bulan itu dengan hati yang sudah jauh lebih baik.
Setelah beberapa saat Akmal keluar dari dalam kamar, Rara juga melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar itu menuju ruangan dimana Abi dan Umi nya berada.
Ia memberanikan diri untuk melakukan apa yan di sarankan Akmal padanya beberapa saat yang lalu.
"Abi, Rara dan Arga akan ke Jakarta." Ucap Rara tiba-tiba saat sudah berada di dalam ruangan dimana Umi dan Abi nya berada.
Wanita paruh baya yang sedang mengajak cucunya bermain, segera beranjak dari ruangan itu bersama bocah laki-laki dalam gendongannya.
"Abi.." Rara berlutut di depan cinta pertamanya dengan tatapan penuh permohonan.
__ADS_1
"Tidak." Jawab lelaki paruh baya itu tanpa basa basi.
Rara masih terus memohon pada sang Abi. Wanita dengan hijab itu masih terus berusaha membujuk lelaki paruh baya itu agar di izinkan ke Jakarta untuk menemui mantan suaminya.
Setelah melihat pemberitaan mengenai mantan ibu mertuanya yang di temukan tewas dan menjadi salah satu tersangka dalam kasus penculikan bayi membuat Rara ingin sekali terbang ke Jakarta dan bertemu dengan mantan suaminya itu.
"Izinkan Rara pergi melihat keadaanya Abi. Dia sendirian saat ini." Pinta Rara memohon.
"Apa yang ingin kamu harapkan darinya Nak. Dia sama sekali tidak mencintaimu." Lelaki paruh baya yang kini tertunduk sambil menatap putrinya yang sedang berlutut di atas lantai, masih terus bersikukuh untuk tidak mengizinkan putrinya pergi.
"Abi, Rara akan membuatnya mencintai Rara seperti yang Abi harapan. Beri Rara satu kesempatan."
"Tapi Akmal yang harus mengantar kalian ke sana. Jika semua tidak berjalan seperti yang Abi harapkan, kamu janji akan pulang ke sini."
Rara mengangguk. Ia lantas melirik putranya yang sudah berumur satu tahun lebih beberapa bulan itu dengan jantung berdebar.
Entahlah, ia tahu Reno pasti akan kecewa karena selama ini ia dan keluarganya menyembunyikan perihal keberadaan Arga, namun, saat ini rasa ingin datang dan menemui mantan suaminya itu jauh lebih besar dari ketakutannya.
Tidak banyak yang di siapkan oleh wanita itu, ia hanya membawa beberapa lembar pakaian untuk dirinya sendiri dan untuk anaknya.
"Kita berangkat sekarang." Perintah Rara pada tangan kanan Abi nya sekaligus mantan suaminya.
"Umi..." Lirih Rara saat dua orang paruh baya itu ikut mempersiapkan barang-barang mereka.
"Abi tidak akan membiarkan kalian menampung dosa untuk yang kedua kalinya. Abi harus memastikan sendiri, jika kali ini benar-benar tidak akan ada pihak yang di rugikan lagi karena keinginanmu." Ujar lelaki paruh baya itu lalu melangkah bersama cucunya menuju mobil yang akan membawa mereka sekeluarga menuju Bandara.
Akmal tersenyum lalu mengangkat kepalan tangannya untuk memberikan semangat pada wanita yang selalu ia hormati itu.
"Terimakasih." Ucap Rara pelan, lalu ikut melangkah keluar dari rumah menuju mobil yang akan membawa mereka ke Bandara.
__ADS_1
****
Di dalam ruangan perawatan Yana, sepasang suami istri sedang menatap TV dengan lebar beberapa inci itu dengan serius dari atas ranjang. Pemberitaan pagi ini sungguh begitu keduanya mengejutkan.
Nara di temukan tak bernyawa di dalam sel tahanan, juga beberapa aset dari artis yang sangat terkenal itu sudah berganti atas nama Reno. Dan kini Reno menjadi satu-satunya orang yang di duga dalang dari semua kejadian yang menimpa keluarga besar Prasetyo.
Yana sesekali menelan ludahnya yang terasa begitu kelat. Jadi semua ini masih tentang harta ? Semua nasib tragis yang menimpa dirinya selama ini hanya karena harta ?
Kini ia menyadari, jika mertua yang selalu mementingkan harta di atas segalanya itu, bukan karena ia dan Reno tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya, tapi karena memang tidak adanya rasa syukur dari wanita yang pernah ia hormati selayaknya seorang ibu itu.
"Sayang, tolong bantu Reno bebas dari jeratan hukum. Tolong carikan pengacara yang terbaik, aku akan membayar berapa pun yang mereka minta." Ujar Yana.
Alfaraz mengalihkan tatapannya dari layar lebar yang menempel di dinding kamar perawatan Yana, lalu menatap wajah istrinya itu dengan begitu lekat.
"Kamu ngga kasihan sama aku. Aku cemburu loh kalau kamu terlihat seperti ini karena mantan suami kamu itu."
Yana tersenyum, lalu segera membenamkan tubuhnya dalam pelukan suaminya.
"Kami pernah jadi sahabat baik semasa SMA sebelum menjadi sepasang suami istri yang pernah saling menyakiti. Untuk itu sekarang aku ingin memandangnya sebagai sahabat, dan bukan mantan suami yang pernah menyakiti." Ujar Yana.
"Tenang aja, Papa selalu tahu apa yang harus ia lakukan tanpa kita beritahu. Jangan khawatir, semua pasti kan baik-baik saja." Ujar Alfaraz menenangkan istrinya.
Yana mengangguk, ia percaya keluarga yang kini begitu baik terhadap dirinya adalah keluarga yang baik kepada semua orang, dan tahu mana orang yang benar-benar bersalah atau tidak.
"Kapan kita pulang ?" Tanya Yana. "Aku rindu rumah." Sambungnya.
"Dua hari lagi." Jawab Alfaraz sambil memeluk erat tubuh Yana.
"Jangan memelukku terus, putrimu cemburu." Ucap Yana saat suara tangis bayi terdengar di dalam ruangannya. "Ayo sana, bawa adiknya ke sini, sebelum si kakak akan ikut mengamuk." Pintanya.
__ADS_1
Alfaraz dengan antusias bangkit dari atas ranjang dan pergi menuju dua ranjang kecil yang ada di sudut ruan