Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 166 Season 3


__ADS_3

Setelah Zyana berlalu dari ruang keluarga, Nira menghambur memeluk sang Ayah sembari meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan.


"Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Do'akan adik kamu agar kebahagiaan senantiasa menyertai setiap langkah kakinya." Ujar Alfaraz.


Lelaki paruh baya itu mengeratkan pelukannya di tubuh putri sulungnya.


"Dia akan selalu bahagia Ayah. Percayalah, tidak ada laki-laki sebaik Arga. Dan yang paling penting, Arga sangat mencintai Dira." Jawab Nira meyakinkan sang Ayah jika apa yang ia lakukan hari ini akan membawa adiknya pada kebahagiaan. "Nira mau menemui Ibu dulu." Izinnya setelah pelukan di tubuh Ayahnya terurai.


Alfaraz mengangguk, lalu membiarkan putrinya itu berlalu dari ruangan menuju kamar tidur.


Nira melihat wanita yang selalu mencintainya sedang terbaring di atas ranjang. Gadis dengan hijab itu naik ke atas ranjang, lalu ikut masuk ke dalam selimut yang di kenakan oleh sang Ibu.


"Bu, Nira mau nikah juga. Tapi setelah nikah, Feri akan ngajak Nira tinggal sama Ibunya di Melbourne, gimana dong ?"


Zyana segera menarik selimut yang menutupi wajahnya, lalu menatap putrinya untuk meminta penjelasan dari kalimat yang baru saja terdengar di indera pendengarannya.


"Tenang aja, walaupun jauh, Nura akan selalu memastikan gadis dingin itu baik-baik aja." Imbuh Nira lalu masuk dan memeluk wanita yang selalu mengutamakan kebahagiannya sejak dulu.


"Nira sudah tidak apa-apa sekarang, ibu tidak perlu khawatir lagi. Arga laki-laki yang baik Bu, tidak sulit untuk jatuh cinta padanya. Tapi, cinta Nira untuknya terlalu besar untuk bisa melepaskan dia berbahagia dengan Dira."


Zyana berusaha mendorong tubuh mungil Nira yang terbenam dalam pelukannya, namun, putrinya ini hanya semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya.


"Arga mencintai Dira, begitupun dengan Dira. Dan mungkin ini saatnya Nira memberikan semua kebahagiaan yang tidak sempat di rasakan Dira selama kami menjadi saudara kembar. Izinkan Nira pergi ya Bu."


Zyana tidak lagi berusaha melepaskan pelukan, ia justru kembali membalas pelukan putrinya itu dengan sangat erat.


"Maafkan sikap ibu tadi." Ujarnya.


Nira menggeleng dalam pelukan. Tidak, dialah yang bersalah dalam hal ini. Sikapnya memang salah, seharusnya ia meminta Arga datang dan berjuang sendiri, bukan merencanakan sebuah pernikahan.


"Malam ini, Nira tidur di sini sama Ibu ya.." Pintanya.


Zyana mengangguk.

__ADS_1


****


Di sebuah gedung berlantai, Dira duduk di depan sebuah meja yang berada tepat di pinggir kaca yang menjadi dinding pembatas restoran. Hingga menampakkan pemandangan malam di tengah kota Jakarta, yang terlihat begitu indah.


Arga yang baru saja kembali dari urusan pribadinya di toilet, berdiri diam tidak jauh dari Dira berada. Lelaki itu mengeluarkan benda pipih miliknya dari dalam saku celana, lalu mengambil gambar wanita yang sejak dulu mengisi hatinya.


Pengecut, memang sangat pantas di sematkan padanya. Sejak dulu, ia hanya berani mengagumi Dira dari kejauhan. Sikap dingin tak tersentuh yang selalu di perlihatkan oleh wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya, membuat nyalinya menciut.


Setelah beberapa saat wajah samping Dira yang sudah berganti menjadi wallpaper di layar ponselnya, Arga lalu melangkah menuju tempat duduk yang berada tepat di hadapan Dira


Wajah datar yang sama sekali tidak memudarkan kecantikan itu, menoleh. Menatap wajah Arga dengan begitu lekat. Mungkin inilah saatnya untuk mengurai benang rumit yang mengikat mereka sebelum semuanya melangkah terlalu jauh.


Dira mengangkat tangannya, meminta pelayan restoran untuk membereskan bekas makan malam nya bersama sang suami yang sudah selesai beberapa menit yang lalu, kemudian membayar makanan itu beserta tip untuk sang pelayan.


Masih tanpa suara, Dira beranjak dari kursi yang ia duduki lalu keluar dari dalam restoran dan masuk ke dalam lift di ikuti Arga.


Dira membiarkan tangan hangat Arga menggenggam tangannya. Perasaan yang memang masih utuh di dalam hatinya, kembali membuat dadanya berdebar saat tangan hangat itu semakin terasa erat di jemarinya.


Arga menoleh, lalu mengangguk. Setelah itu, ia melakukan mobilnya keluar dari parkiran bangunan dengan puluhan lantai itu menuju taman terdekat.


Tidak lama kemudian, mobil mewah itu sudah terparkir di sisi jalan dekat taman yang masih di penuhi lalu lalang orang-orang yang sedang menikmati malam mereka dengan orang-orang tercinta di monumen nasional yang ikon kota Jakarta.


Sepasang suami istri yang baru resmi menikah dua hari yang lalu, duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di sana.


Arga terkejut saat Dira ikut menautkan jemari, dan bersandar di pundaknya. Setelah belasan tahun mereka saling mengenal, ini adalah hal paling nekat yang di lakukan oleh gadis yang sudah resmi menjadi istrinya ini.


"Aku mencintai mu Kak." Ucap Dira sambil menutup matanya.


"Dira...


"Aku pikir Kak Nira sudah memberitahumu hal ini. Dia tahu aku mencintaimu sejak lama, dan aku pun tahu jika dia juga mencintaimu." Ujar Dira lagi menyela kalimat yang belum selesai di utarakan oleh suaminya.


"Apa dia juga ngga jujur tentang perasaanya pada mu ? Dia benar-benar pintar dalam menyembunyikan kesedihannya. Tapi aku tidak bisa menjadi seperti dia. Aku akan sedih, jika itu membuat ku sedih. Aku marah jika itu membuatku marah, dan aku akan tersenyum jika itu benar-benar membuatku bahagia. Kami kembar, rapi memiliki sikap yang sangat bertolak belakang." Ujar Dira lagi.

__ADS_1


Arga masih belum menimpali, ia tidak tahu hal ini. Yang ia tahu selama ini, Dia mencintai Dira, sedangkan Nira adalah sahabat yang baik.


"Kamu tahu Kak, di dalam komputer kami sama-sama memiliki rahasia, yaitu banyak kenangan tentang kamu. Dan saat melihat kalian dekat, aku pikir kamu mencintainya, untuk itu aku memilih menjauh."


"Aku tidak tahu akan hal itu, Nira tidak pernah mengatakan apapun tentang dirinya. Yang selalu dia bicarakan pada ku adalah kamu. Yang selalu dia minta padaku, adalah membahagiakan mu." Jawab Arga.


Dira mengangkat kepalanya dari bahu Arga, lalu menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Tapi, sepertinya itu akan sangat sulit ia lakukan, karena tangan yang terasa begitu hangat itu semakin mengeratkan genggaman di jemarinya.


"Kak, aku ingin mengurai semuanya malam ini, sebelum kita melangkah semakin jauh. Bagiku, dua hari ini masih belum cukup bisa menahan ku di sini, jika yang kamu mau adalah Kak Nira dan bukan aku." Ujar Dira.


Arga tersenyum, lalu membawa sebelah tangannya menyentuh pipi Dira.


"Bagaimana dengan rasa yang aku miliki selama belasan tahun, apakah itu masih belum cukup juga menahan mu ?" Tanya Arga sambil menatap manik indah istrinya.


Dira terdiam, mulutnya tertutup rapat hanya dadanya yang terus berdebar karena tatapan lekat suaminya.


"Nira tahu, sejak dulu yang aku inginkan adalah kamu. Untuk itu, sekarang dia melangkah menjauh, dan membiarkan kita bersama." Ujar Arga lagi. "Jangan khawatir, seperti kamu yang ingin Nira bahagia, dia pun sama." Ujar Arga lagi.


"Aku hanya tidak ingin, pernikahan yang akan aku jalani nanti penuh dengan drama orang ketiga, terlebih itu saudariku sendiri." Tegas Dira.


"Dan itu tidak akan pernah terjadi. Aku cukup tahu, dan Papaku tidak pernah lupa mengingatkan untuk jangan melakukan kesalahan yang sama. Jadi maukah kamu menjadi istri ku." Arga berpikir Sejenak. "Sepertinya bukan istri, karena sekarang kamu sudah jadi istri aku. Maukah kamu jadi ibu dari anak-anakku ?"


Dira tersenyum, dan langsung menghambur memeluk tubuh suaminya.


"Sepertinya aku belum siap jadi Ibu, residen ku belum selesai." Jawab Dira.


Arga tertawa geli mendengar jawaban aneh itu.


"Ayo kita pergi, dan cepat selesaikan semua yang tertunda." Ajaknya.


"Kamu di sini saja, ini tidak akan lama. Hanya kurang dari dua bulan." Ujar Dira tapi segera mendapat gelengan tegas dari Arga.


"Kita pergi bersama, sambil menyelam minum air sepertinya jauh lebih baik. Lagi pula Berlin tidak buruk untuk menjadi tempat bulan madu kita."

__ADS_1


__ADS_2