Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 214 Season 3


__ADS_3

Di sebuah bangunan mewah yang masih dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun, Aira duduk dengan diam di salah satu ruangan. Usai menikmati tidur siang yang begitu panjang karena kelelahan, gadis itu memilih duduk di ruangan dengan TV yang menyala.


Sepasang suami istri paruh baya yang bertugas menjaga villa tersebut, sudah memohon undur diri beberapa saat yang lalu. Kini tersisa dirinya bersama laki-laki yang belum keluar dari dalam kamar di bangunan luas itu.


"Kamu mau makan ?" Tanya Abizar sambil melangkah menuju sofa di mana Aira berada.


Aira memalingkan wajahnya dari layar TV yang sedang menampilkan acara talk show, lalu menatap laki-laki yang kini sudah berdiri di belakangnya.


"Aku juga sudah lapar karena tadi siang tidak sempat makan." Jawab Aira.


"Maafkan aku, ayo kita makan." Ajak Abizar sambil mengulurkan tangannya ke arah sang istri.


Aira beranjak dari sofa lalu meraih tangan yang sedang terulur ke arahnya, kemudian mengikuti langkah kaki Abizar menuju ruangan lain yang ada di bangunan mewah itu.


"Bapak dan Mbok ngga tinggal di sini ?" Tanyanya saat sudah tiba di ruangan yang tidak kalah luas dari ruangan tempat ia duduk tadi. Matanya mengelilingi ruangan itu, ada meja makan yang cukup panjang, juga beberapa buah kursi di sana.


"Jika ada yang berkunjung ke Villa ini, mereka akan menginap di bangunan lain, ngga jauh kok dari sini." Jawab Abizar.


"Kok aku tiba-tiba jadi teringat film horor yaa." Ucap Aira sambil mengusap-usap lengannya.


Abizar tertawa melihat tingkah konyol istrinya.


"Kita ini lagi bulan madu Ra, masa iya kamu ingat-ingat film horor sih. Ingat film romantis atau apalah gitu." Ujar Abizar.


"Aku ga suka film romantis." Jawab Aira. Ia lalu mulai mengisi piring dengan nasi dan lauk yang sudah tersedia di sana, kemudian memberikannya pada Abizar. Tidak lupa pula ia menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri, keduanya lantas memulai makan sore itu tanpa suara lagi.


Setelah menyelesaikan makan sore yang sangat tidak romantis itu, Abizar mengajak Aira berjalan keluar villa. Gadis itu mengangguk patuh, dan ikut melangkah keluar dari bangunan mewah yang ada di tengah hutan itu sambil menatap tangannya yang sedang di genggam erat oleh suaminya.


"Kok kesini ? Ini sudah sore loh, nanti kalau ada setan gimana ?" Tanya Aira saat ia di ajak ke bagian belakang villa.


"Di sini asik menjadi tempat buat pacaran, banyak setan nya." Kekeh Abizar.


"Iya, kamu setannya." Ujar Aira kesal. Ia lalu melangkah lebih dulu menuju taman bunga yang ada di belakang villa itu.

__ADS_1


"Ngga sakit lagi ?" Tanya Abizar. Lelaki itu kembali mensejajarkan langkahnya di samping Aira. Tak lupa pula tangan mungil milik istrinya itu ia raih, lalu di genggamnya dengan begitu erat.


"Jangan di bahas lagi !" Tegas Aira.


Abizar tertawa geli, istri kecilnya mulai menunjukan tingkah istri-istri galak.


"Kalau masih sakit, aku bisa kok angkat tubuh kecil kamu ini menuju kursi taman." Tawar Abizar dengan senyum jail di bibir tipisnya.


"Aku bilang ga usah di bahas, ya jangan di bahas lagi !" Manik indah itu kini menatapnya tajam. Namun, Abizar terus saja membuat gadis manis itu kesal.


"Atau aku periksa seperti di kamar mandi tadi ? mau ngga ?" Goda Abizar lagi.


Aira berhenti melangkah, lalu menatap wajah tampan yang kini terlihat begitu mengesalkan dengan tatapan tajam.


"Oke, oke. Maaf kan aku." Kekeh Abizar lalu merangkul pundak Aira. Keduanya lalu melangkah menuju kursi panjang yang ada di taman itu.


****


Yang membuatnya terdiam, pigura itu tidak hanya memuat foto pernikahan mereka, tetapi lengkap dengan kalender dan jam weker.


"Tunggu." Tangan nakalnya mendorong wajah Arion yang mulai melancarkan aksinya yang ingin mencoba ranjang baru mereka.


"Ada apa ?" Tanya Arion sambil memalingkan wajahnya, mengikuti arah tatapan sang istri.


"Aku terlambat." Jawab Danira.


"Ini hari minggu kamu sudah lupa yaa." Arion mendorong tubuh Danira hingga terlentang di atas ranjang. Jilbab yang selalu setia menutupi aurat istrinya, sudah terlepas dari tempatnya.


"Bukan itu, aku telat Arion." Jawab Danira sambil berusaha mendorong kepala Arion dari leher jenjangnya.


"Ada apa sih ?" Tanya Arion kesal karena gagal memberikan jejak kepemilikan di atas kulit mulus menggoda milik istrinya itu.


"Aku terlambat datang bulan Arion. Sejak kita menikah, aku tidak lagi kedatangan tamu bulanan. Ya Tuhan ini sudah hampir dua bulan, dan aku tidak menyadarinya." Ujar Danira.

__ADS_1


Arion terhenyak. Ia menatap lekat wajah cantik yang selalu memperlihatkan binar bahagia itu. Senyum manis juga mata yang berkaca, begitu jelas terlihat di wajah cantik istrinya.


"Tapi bagaimana bisa ?" Tanya Danira.


"Kita ke dokter." Ajak Arion tanpa berniat menjawab keraguan dari bibir istrinya.


"Besok kita ke dokter, hari ini aku ingin mencoba ranjang baru kita." Ujar Danira. Tanpa di minta, ia kembali menarik Arion hingga terjatuh di atas tubuhnya.


"Jangan sayang." Cegah Arion. "Kita harus memastikannya dulu. Aku takut fatal nanti, kamu tahu kan kalau sudah di atas ranjang, aku ga bisa lepaskan kamu begitu saja." Bujuknya.


Danira cemberut, namun tetap patuh pada permintaan suaminya.


"Kita ke apotek dulu dan lihat hasilnya. Kalau benar, maka malam ini kita tunda dulu sampai besok setelah konsultasi dengan dokter. Tapi kalau tidak.."


"Kalau tidak, maka malam ini akan jadi malam yang panjang buat kita." Sela Arion dengan senyum hangat di bibirnya.


Sejujurnya dadanya terus berdebar dan tidak sabar menunggu hasil dari usahanya ketika berbulan madu di Berlin. Meskipun ia tidak memberitahu perihal penyambungan kembali, karena tidak ingin memberi harapan pada Danira. Terlebih saat itu, dokter memberi tahu jika rekanalisasi tidak semuanya berhasil.


"Okeh setuju." Jawab Danira, lalu bangkit dari atas ranjang tempat ia berbaring. Wania yang tidak kala berdebar itu, melangkah menuju meja rias dan kembali memakai hijab yang sudah berhasil di lepaskan oleh suaminya.


Di atas ranjang, Arion memperhatikan gerakan istrinya dengan begitu lekat. Hingga membuat wanita yang sedang di perhatikan oleh suaminya itu, tersenyum manis dari cermin besar yang ada di meja rias.


"Ada apa ?" Tanya Danira sambil menatap Arion dari cermin.


"Jika hasilnya tidak sesuai, aku mohon jangan kecewa padaku yaa." Ucap Arion dengan wajah memohon.


Danira beranjak dari tempat duduk, lalu melangkah menuju laki-laki yang terus menatapnya dari atas ranjang.


"Ngga kok, kan kalau ga jadi kita bisa buat lagi." Jawabnya sambil duduk mengangkang di atas pangkuan Arion.


"Cih, dasar." Arion segera membawa tubuh Danira, dan memeluknya erat. "Terimakasih sudah jadi wanita terhebat Danira." Sambungnya penuh ketulusan.


*****

__ADS_1


__ADS_2