Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 236 Season 4


__ADS_3

Belasan tahun berlalu begitu saja. Gadis yang selalu berteriak histeris saat kesal karena di ganggu salah satu Abangnya, kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.


Minggu yang indah di kota Jakarta. Meskipun Jakarta tdak lagi sesejuk kota-kota yang lain di Indonesia, tapi masih ada tempat-tempat tertentu yang bisa di gunakan untuk menghirup udara segar di pagi hari. Salah satu taman buatan yang ada di tengah kota Jakarta, menjadi tempat Daniza untuk menghabiskan waktu pagi ini.


Usai menjalankan kewajibannya kepada sang pencipta, gadis cantik yang kini berstatus sebagai dokter residen di rumah sakit milik keluarga itu, langsung meluncur dengan mobil kesayangannya menuju taman kota, tempat biasa ia menghabiskan waktunya di pagi hari.


Matahari baru mulai terbit di ujung sana, namun gadi cantik dengan hijab andalannya sudah berlari mengelilingi taman itu dengan begitu bersemangat. Sesekali ia melirik tukang bubur langganannya yang sedang mempersiapkan dagangan di pinggiran taman.


"Serius amat sih, naksir sama tukang buburnya yaa."


Daniza menghentikan langkahnya lalu berbalik. Salah satu laki-laki yang ia panggil dengan sebutan Abang sudah berdiri lengkap dengan baju olahraga andalannya.


"Bang Ayi sudah lama ?" Tanya Daniza sambil melangkah mendekati laki-laki yang kini menjadi penerus perusahaan keluarga Prasetyo.


"Lumayan. Tadi Abang ikutin kamu keliling taman, kamu nya aja yang ga sadar." Jawab Ayiman.


Laki-laki yang terlihat begitu tampan dengan baju olahraga itu, ikut melangkah mendekati adik sepupunya. Keduanya lalu melangkah bersama menuju tukang bubur yang baru saja menyelesaikan persiapan dagangannya.


Sama seperti biasanya keduanya memakan sarapan mereka di pinggiran taman sambil sesekali membahas kegiatan mereka di tempat kerja masing-masing.


"Kak Ayu gimana kabarnya ?" Tanya Daniza.


"Baik. Sekretaris yang menyebalkan." Jawab Ayiman dan membuat keduanya tertawa. "Aku bahan yakin ga ada yang berani datang melamarnya karena kelakuan jahatnya itu." Sambung Ayiman lagi di sela-sela tawanya.


Ayura memang terkenal dengan sikap tegasnya. Entah dari mana wanita yang di juluki perawan tua itu mencontoh sikap galak itu.


"Pasti Abang takut sama Kak Ayu." Tebak Daniza.


Ayiman hanya tersenyum, karena tebakan Daniza memang benar adanya.


"CEO kok takut sama sekretarisnya ?" Kekeh Daniza.


"Yah mau bagaimana lagi, Abang masih pengen miliki perusahaan itu seorang diri." Ujar Ayiman.


"Jangan tamak Bang." Daniza ikut tertawa geli.


Usai sarapan, Ayiman membayar pesanan mereka. Keduanya lalu melangkah menuju tempat di mana mobil Daniza terparkir.

__ADS_1


"Kunci mobil." Ujar Ayiman sambil mengulurkan tangannya ke arah Daniza.


"Abang ga bawa mobil ?" Tanya Daniza heran.


Ayiman hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Niza.


"Terus kesini naik apa ?" Tanya Daniza lagi.


"Pakai taksi." Jawab Ayiman singkat.


Meskipun heran dengan jalan pikiran Ayiman Daniza tetap menyerahkan kunci mobilnya dan membiarkan kakak sepupunya itu yang mengendarai mobil kesayangannya.


Mobil mewah yang merupakan hadiah ulang tahun dari sang Papi mulai melaju di jalanan Jakarta menuju apartemen milik Daniza. Gadis itu menatap jalanan yang masih begitu sepi dengan hati yang berkecamuk.


Jika saja, jika saja.


Dua kata ini terus saja bersarang di otaknya.


Tidak hanya kali ini Ayiman menunjukan perhatian padanya, tapi Daniza menganggap perhatian berlebihan yang sering di berikan Ayiman terhadapnya hanyalah bentuk kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Bukan tanpa alasan, tapi karena memang bukan seorang Ayiman yang ia inginkan.


"Niz.." Panggil Ayiman.


"Kamu ga punya niat menikah ?" Tanya Ayiman.


Daniza kembali mengalihkan tatapannya, lalu tersenyum miris.


"Setelah orang yang aku harapkan memilih menikah dengan orang lain, sepertinya harapan itu ikut hilang." Jawab Daniza.


Ayiman diam sejenak. Seluruh keluarga sudah mengetahui hal ini.


"Apa Abang tidak lebih baik dari Mas Daren ?" Tanya Ayiman lagi.


Daniza tersenyum, bahkan Ayiman jauh lebih baik dari Daren. Namun, ia tidak bisa memaksa hatinya untuk memandang lebih laki-laki yang sudah berulang kali menawarkan sebuah kebahagiaan untuknya ini.


Ayiman tidak lagi membahas, bahkan saat pertanyaannya tidak terjawab ia tidak lagi membahasnya. Daniza masih membutuhkan waktu yang lama untuk berbenah, karena ia mengerti bagaiman rasanya saat sebuah harapan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Apa tidak perlu aku antar sampai rumah ?" Tanya Daniza saat mobil yang di kendarai Ayiman sudah berhenti di depan gedung berlantai yang baru satu tahun ini ia tempati.

__ADS_1


"Ngga usah, Abang akan pulang naik taksi ke rumah." Ayiman mengusap kepala adik sepupunya, lalu berniat keluar dari dalam mobil.


"Ga mampir ke apartemen ku dulu ?" Tanya Daniza lagi.


Ayiman terdiam, lalu menatap jail ke arah Daniza yang seketika membuat gadis cantik itu memasang wajah horornya.


"Bang Azam pasti sudah di sana, ga usah mikir macam-macam deh." Kesal Daniza sontak membuat Ayiman tertawa.


Laki-laki itu kembali memperbaiki duduknya, lalu membawa mobil itu masuk e dalam basemen apartemen. Setelah mobil mewah itu sudah terparkir sempurna, keduanya lalu turun dari dalam mobil, dan masuk ke dalam lift bersama-sama.


"Ini mungkin yang terakhir kalinya Abang datang menemui mu sebagai seorang laki-laki." Ujar Ayiman tiba-tiba.


Daniza masih diam, gadis itu menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir Ayiman.


"Abang sudah mulai tua Niz, dan Ayah meminta Abang untuk segera menikah."


Ayiman menarik nafasnya, lalu kembali menghembuskan nya perlahan.


"Ada seorang wanita cantik dan baik yang di tawarkan Ibu, dan Abang meminta waktu untuk menemui mu sekali lagi. Jika jawaban mu masih sama, maka mungkin setelah ini kita hanya akan tetap menjadi Abang dan adik." Imbuh Ayiman.


"Lakukan lah Bang. Aku akan jauh lebih lega jika Abang menemukan wanita yang baik. Aku siap menanti takdir yang akan Allah berikan nanti." Jawab Daniza.


Ayiman tidak lagi berbicara, lelaki tampan itu kembali mengusap kepala Daniza dengan sayang. Keduanya lalu melangkah bersama, keluar dari dalam lift menuju pintu apartemen Daniza.


"Tuh kan aku bilang juga apa." Gumam Danza saat membuka pintu apartemen, dan mendapati empat perjaka tua sudah memporak-porandakan ruang tamunya.


Ayiman hanya tertawa mendengar kalimat kesal dari bibir Daniza.


"Aunty..." Bocah laki-laki yang begitu berantakan berlari keluar dari dalam dapur kesayangannya.


Senyum di wajah Ayiman seketika hilang saat melihat sosok laki-laki yang kini melangkah keluar dari dalam dapur.


"Aunty dari mana sih ?" Tanya bocah itu saat sudah duduk bergabung dengan empat pamannya yang terlihat berantakan di atas sofa.


"Dari olahraga, bentar yaa Aunty mandi dulu." Jawab Daniza sambil mengusap kepala bocah itu.


"Kamu sudah sarapan ?" Tanya Daren.

__ADS_1


"Sudah, sama Bang Ayi." Jawab Daniza, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ruang tamu itu menuju kamar tidur.


__ADS_2