
Yana turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam perusahaan. Baru saja langkah kakinya hendak melewati meja resepsionis, petugas yang bertanggung jawab di sana kembali menahan langkah kakinya. Gadis cantik berhijab itu tersenyum, sedangkan Yana menatap satu buket mawar putih yang ada di atas meja resepsionis dengan wajah frustasi.
"Dari Pak Gerald Mbak." Ujar petugas resepsionis itu.
Yana menghembuskan nafas berat, sambil merutuki laki-laki yang bernama Gerald itu. Sudah berulang kali ia memperingati untuk tidak lagi mengirimkan bunga, namun mantan bawahannya itu memang sangat gigih. Yana meraih bunga tersebut, tapi satu tangan yang entah siapa pemiliknya lebih dulu meraihnya.
Yana menoleh, wajahnya bertambah frustasi karena kini laki-laki posesif sudah berdiri dengan tatapan tajam tertuju padanya.
"Saya menginginkan bunga ini." Ujar Alfaraz.
Petugas resepsionis menatap Yana, gadis itu meminta persetujuan. Setiap pagi meja resepsionis nya akan di penuhi aura aneh seperti hari ini.
"Iya ambil aja Pak, di rumah saya ada banyak. Jika Bapak mau saya akan membawanya kemari, per buketnya seratus ribu." Ujar Yana.
"Kamu mau berdagang di kantor saya." Tanya Alfaraz kesal.
"Tidak, Ibu saya punya tokoh bunga, karena setiap pagi Bapak selalu mengambil bunga saya, sepertinya Bapak memang sangat menyukai bunga, untuk itu saya menawarkan." Jawab Yana acuh. "Kalau begitu saya permisi keruangan." Sambung nya sedikit membungkuk tanda hormat lalu bergegas meninggalkan laki-laki yang masih kesal di depan meja resepsionis.
Alfaraz membawa bunga mawar itu masuk ke dalam lift menuju ruangannya sambil mengumpat kesal. Yana selalu saja mampu membuatnya jungkir balik karena kesal. Bahkan sudah tertangkap basah menerima pemberian dari laki-laki lain, wanita itu masih saja bersikap sesantai itu di hadapannya. Alfaraz memukul-mukul dinding lift menggunakan bunga indah yang ada di tangannya sambil mengumpat laki-laki yang masih saja mengirimkan bunga untuk calon istrinya.
"Tidak bisa di tunda lagi. Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku mati kesal." Omelnya masih terus menggenggam bunga yang sudah hancur di tangannya.
Mia yang sudah bersiap di meja kerjanya, segera bangkit menyambut kedatangan atasannya.
"Perlu saya bantu Pak ?" Tanya Mia sambil melirik bunga mawar putih yang ada di tangan atasannya. Beberapa bulan ini, hampir setiap pagi atasannya ini akan membawa buket bunga ke dalam ruangan, lalu bunga indah berubah hancur berantakan dan kemudian berakhir di dalam tempat sampah.
Alfaraz memberikan bunga itu pada sekretarisnya, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya sembari mengumpat kesal di dalam hatinya.
"Kita nikah besok !" Pesan chat singkat terkirim ke nomor Yana.
Beberapa menit sudah berlalu, tidak ada tanggapan dari wanita yang membuatnya kesal setiap hari. Hanya dua centang sudah berubah warna, dan itu berarti si pemilik nomor sudah membacanya tapi tidak berniat membalas pesannya.
"Aku masih ingin menerima banyak bunga dari penggemar, jangan terburu-buru."
__ADS_1
Alfaraz menatap balasan pesan itu dengan mata melotot. Lihatlah, di situasi seperti ini Yana bahkan masih ingin menyiram api yang menyala dengan bahan bakar.
Alfaraz menarik nafasnya dalam-dalam. Yah,, sepertinya dia sudah jatuh cinta dengan wanita yang salah. Cantik tapi kejam dan tidak ada manis-manisnya. Dengan kelebihan mampu membuat orang kesal setiap hari.
Ia meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. Ia tidak berniat membalas pesan itu, dan hanya akan semakin membuat tekanan darahnya naik.
Ia meraih beberapa berkas yang sudah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Memeriksa dengan hati-hati, kemudian membubuhkan tanda tangannya setelah memastikan laporan itu sudah benar.
Bunyi notifikasi pesan di ponselnya terdengar. Alfaraz melirik ponselnya sebentar, lalu senyum kembali terlihat di wajahnya saat mengetahui siapa yang mengirimnya pesan.
"Ibu titip makan siang untuk mu. Katanya biar semangat cari uang hantaran buat aku. Aku titip di meja resepsionis yaa, aku ada kunjungan ke kantor cabang, mungkin pulangnya malam. Sampai ketemu nanti."
Mata Alfaraz melotot, ia bergegas keluar dari ruangannya menuju lift. Tatapan aneh dari sekretarisnya tidak lagi ia hiraukan. Setelah sampai di lantai dasar, ia melangkah cepat menuju meja resepsionis. Satu paper bag sudah ada di sana, itu berarti Yana sudah keluar dari perusahaan.
Tanpa perduli dengan makan siang itu, Alfaraz kembali membawa langkah kakinya keluar dari dalam perusahaan. Dan benar saja, mobil Yana tidak lagi ada di tempat biasa mobil itu terparkir.
Bahu Alfaraz merosot, batal sudah lamarannya malam ini. Si wanita jahat itu sudah pergi bahkan kini tidak mengangkat panggilannya.
"Iya Pak, Mbak Yana menitipkan di sini, katanya Bapak yang suruh." Jawab petugas resepsionis.
Alfaraz mengangguk, lantas meraih paper bag itu kemudian kembali masuk ke dalam lift menuju ruangannya.
***
Di dalam mobilnya, Yana masih tersenyum dengan dada yang berdebar. Percakapan Alfaraz dengan sang Ibu semalam masih terus terngiang di telinganya. Lelaki itu benar-benar akan melamarnya, terlebih pagi ini ia mendapat telepon dari Adelia untuk mengajaknya bertemu.
Yana masih memacu mobilnya dengan hati-hati, membelah jalanan padat ibu kota menuju restoran tempat ia dan Adelia janjian untuk bertemu siang ini. Senyum masih belum pergi dari bibir tipisnya, dadanya berdebar tidak karuan. Terlebih saat melirik ponselnya, satu nama yang entah mulai kapan mengisi hatinya kembali terlihat di layar benda pipih itu.
"Jangan seperti ini Yana." Gumam ya memperingati dirinya sendiri untuk jangan terlalu bahagia. "Aku serahkan semuanya pada-MU." Sambungnya lagi.
Cukup lama waktu yang ia habiskan di jalanan, dan kini mobilnya sudah terparkir rapi di depan restoran. Yana kembali memeriksa alamat yang di kirimkan Adelia, dan tidak salah lagi ini adalah tempatnya.
Yana keluar dari dalam mobil, lalu melangkah masuk ke dalam restoran tersebut. Gadis berhijab terlihat melambaikan tangannya. Yana melangkah dengan senyum yang masih belum pudar dari bibirnya.
__ADS_1
"Kita ketemu lagi Mbak." Sapa Adelia beranjak dari atas kursi yang ia duduki, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Yana.
"Yah, senang bertemu dengan mu lagi Adelia." Jawab Yana lantas menjabat tangan lentik yang sedang terulur ke arahnya.
"Kita makan, aku lapar." Ujar Adelia.
Yana mengangguk, lalu memanggil pelayan restoran untuk memesan makan siang mereka.
"Mbak.." Panggil Adel ragu-ragu.
Yana mengalihkan pandangannya, lalun menatap calon adik iparnya yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu.
"Mbak sudah tahu tentang Kakak Al ?" Tanya Adel.
Yana menggeleng.
"Aku tidak ingin mencari tahu tentang apapun yang terjadi di masa lalunya." Jawab Yana.
Adelia tersenyum lalu mengangguk.
"Untuk kehidupannya di masa lalu bersama siapapun itu, biarlah menjadi kenangannya sendiri."
"Kenapa ?" Tanya Adelia. "Bagaimana jika Kakakku hanya ingin memanfaatkan kehadiran Mbak sebagai alt untuk terlepas dari masa lalunya ? Apa Mbak tidak keberatan dengan hal itu ?" Tanya Adelia.
"Aku malah bersyukur jika mampu membuat Al terlepas dari masa lalunya. Bukankah itu berarti aku jauh lebih berharga dari wanita yang ada di masa lalu nya itu ?"
Adelia kembali tersenyum.
"Nikah besok aja Mbak, biar aku punya teman cerita yang keren di rumah." Ujar Adelia membuat Yana tertawa.
"Makan dulu, kamu bilang lapar kan ?" Ajak Yana.
Adelia mengangguk antusias, kemudian mulai menyantap makanan yang baru saja di hidangkan oleh pelayan restoran di atas meja mereka.
__ADS_1