Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 94 Season 2


__ADS_3

Ketukan palu hakim sebanyak tiga kali sudah terdengar di telinga Yana. Lelaki yang saat mediasi sama sekali tidak menampakkan diri, kini duduk diam di kursi yang tidak jauh dari tempat ia berada. Wanita dengan perut buncit, juga wanita yang sudah menjadi mantan mertua nya hari ini, terlihat duduk tepat di belakang Reno.


Yana menarik nafasnya yang terasa begitu berat. Di saat Reno sudah memiliki seseorang untuk menemani di waktu seperti ini, dirinya masih harus berjuang seorang diri untuk menata hatinya yang sudah hancur.


Yana memenangkan segalanya, akan tetapi jauh di lubuk hati terdalam nya, ini masih sangat sulit untuk ia terima dengan lapang dada. Pernikahan yang mereka bina lebih dari enam tahun sudah berakhir di ketukan palu hakim. Yana beranjak lebih dulu, ia bahkan tidak lagi menoleh pada laki-laki yang masih menatapnya sendu.


Melihat Yana sudah menggenggam tangan Ibu Dinda dan hendak keluar dari ruang sidang, Reno segera beranjak dan melangkah cepat menuju wanita yang masih sangat ia cintai sampai detik ini.


"Na aku ingin bicara untuk yang terakhir kalinya." Ujarnya memohon.


"Kita ke restoran terdekat." Jawab Yana.


"Ibu akan langsung pulang saja. Ngga enak sama pelanggan, jika toko di tutup terlalu lama." Ujar Dinda pada dua orang yang baru saja berubah status menjadi orang asing.


"Terimakasih Bu." Ucap Reno.


Ibu Dinda mengangguk, lalu menepuk pelan bahu mantan menantunya. Reno adalah laki-laki yang baik, begitulah yang ia tahu selama lebih dari enam tahun menjadi menantunya. Terlepas dari kesalahan yang di lakukan oleh laki-laki ini terhadap putrinya, Dinda masih tetap berusaha untuk berpikir positif, jika apa yang terjadi hari ini memang sudah menjadi rahasia Allah.


Yana melangkah bersama sang Ibu keluar dari dalam gedung pengadilan menuju pelataran. Beruntung di depan sana ada beberapa taksi yang sudah terparkir di sana. Ia lantas menemani sang ibu masuk ke dalam taksi, hingga akhirnya berlalu dari sana.


Reno berdiri tidak jauh dari mantan istrinya. Lelaki itu masih menatap lekat tubuh bagian belakang yang masih ingin ia dekap, akan tetapi sudah tidak mungkin lagi tergapai.


"Kamu ngapain sih di sini ? Ayo pulang, Rara butuh istirahat." Suara terdengar kesal itu tidak mampu membuat Reno mengalihkan tatapannya dari Yana.


"Aku tidak pernah mengundang kalian berdua untuk ikut hadir di sini."


Reno menjawab omelan sang Mama dengan nada kesal. Ia kemudian melangkah mendekati Yana yang sudah berbalik menghadap ke arah mereka yang sedang berdebat.


"Ayo." Ajaknya.


"Kita pakai mobil masing-masing." Jawab Yana datar lalu melangkah menuju mobil berwarna hitam miliknya.

__ADS_1


"Kamu sudah ganti mobil Na ? Terus mobil yang kita beli bersama kamu ke manain ?" Tanya Reno tidak terima.


Yana menghentikan langkahnya, ia kembali membalik tubuhnya lalu tersenyum sinis.


"Sekarang tidak ada lagi tentang kita Ren. Mulai sekarang hanya ada aku, jadi terserah mau aku apakan barang-barang milikku. Toh aku membelinya dengan uangku sendiri." Ujarnya.


"Maksud aku bukan seperti itu. Itu barang-barang penting penuh kenangan, apa kamu ngga kasian membuang barang-barang itu begitu saja ?" Tanya Reno lagi.


"Semua akan berarti jika kita masih sama-sama menjaganya dengan baik. Saat kamu sudah menciptakan kenangan baru bersama orang lain, maka aku pun harus menguatkan diriku untuk menghapus kenangan bersamamu, dan mulai menciptakan kenangan indah ku sendiri." Ujar Yana lalu masuk kedalam mobil kemudian berlalu dari sana.


Di pelataran pengadilan, Reno pun bergegas masuk kedalam mobil, dan mengikuti ke mana arah mobil Yana bergerak. Ia sama sekali tidak memperdulikan sang Mama yang terus mengomel kesal karena di tinggalkan begitu saja di sana.


Mobil keduanya berhenti di depan sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung pengadilan. Yana keluar dari dalam mobil baru miliknya, lalu melangkah masuk ke dalam restoran, mengabaikan laki-laki yang berulang kali mengajaknya berbicara.


Setelah sudah berada di dalam restoran, Yana menarik salah satu kursi lalu duduk di sana. Reno pun hendak menarik kursi yang ada di samping Yana, namun, melihat wanita yang kini menjadi sudah menjadi orang asing itu akan beranjak, ia mengurungkan niatnya dan memilih duduk saling berhadapan.


Selang beberapa menit mereka masih diam, menikmati keadaan yang terasa begitu canggung di antara keduanya. Pelayan restoran datang mendekat, Yana memesan minuman untuk nya sendiri, sedangkan Reno memesan sendiri minumannya. Ini begitu asing, karena biasanya Yana akan langsung memesan apa saja untuk mereka berdua. Tapi kini, wanita yang ia nikahi beberapa tahun yang lalu, sudah terlihat bak orang lain yang tidak saling mengenal.


"Bicaralah, ini kesempatan terakhir kamu. Karena setelah ini, aku tidak akan mau lagi berhubungan dengan mu." Ujar Yana. Ia memilih bersandar sembari melipat tangan nya di atas dada.


"Tidak masalah, toh sebelumnya kalian juga sudah pernah melakukannya dan Rara hamil." Jawab Yana santai. Ia tidak perduli lagi, akan tetapi ia masih ingin memberi kesempatan kepada Reno untuk berbicara, walaupun semuanya sudah sangat percuma.


"Yana aku..


"Kita hanya perlu untuk tidak lagi saling mengganggu Ren. Dan aku pun tidak lagi ingin tahu tentang kalian akan seperti apa nanti. Aku memberimu kesempatan hari ini, hanya agar kedepannya tidak ada lagi pengganggu karena kita belum benar-benar menyelesaikan ini." Ujar Yana.


"Aku masih mencintaimu." Ujar Reno.


Yana menarik sudut bibirnya.


"Aku juga. Bohong jika aku tidak lagi mencintai mu."

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tetap memilih bercerai Na."


"Kamu tahu Ren, sesuatu yang paling penting dalam rumah tangga itu adalah kepercayaan. Jika aku tidak lagi percaya pada suamiku, lalu untuk apa aku harus tetap memaksa menjadi seorang istri."


"Kita tidak akan pernah bahagia, karena setiap hari aku akan terus mencurigai mu. Setiap hari aku akan terus menuduh bahkan pada hal-hal yang mungkin tidak kamu lakukan."


Yana menjelaskan dengan pelan, agar lelaki di depannya ini paham betapa pentingnya menjaga sebuah kepercayaan.


"Maafkan segala kebodohan ku Na." Lirih Reno.


"Aku sudah memaafkan mu."


"Semoga kamu bahagia."


Reno kembali berkata sembari menatap wajah Yana sepuas hatinya


"Terimakasih."


"Aku pulang, berhati-hatilah di perjalanan. Sampaikan permohonan maaf ku pada Ibu, karena telah melukai putri kecilnya." Ujar Reno sembari beranjak dari kursi yang ia duduki saat melihat dua sosok wanita yang ia tinggalkan di pelataran pengadilan tadi sedang melangkah masuk ke dalam restoran. Sebelum benar-benar berlalu dari sana, ia mengusap lembut puncak kepala Yana yang kedepannya tidak akan bisa lagi ia sentuh.


"Kamu tuh."


Reno melangkah cepat melewati wanita paruh baya yang sedang bersiap mengomeli dirinya di depan banyak orang.


Yana tidak menoleh, ia hanya mengusap satu tetes air mata yang kembali meluncur tanpa permisi dari sudut matanya.


"Minumnya Mbak." Seorang pelayan datang mengantarkan minuman.


"Terimakasih." Ucap Yana. Ia tersenyum, namun matanya berembun.


Pelayan itu melihat sebentar ke arah kursi kosong yang ia tahu baru saja di tinggalkan oleh pelanggan.

__ADS_1


"Saya akan membayar keduanya. Jangan khawatir." Ujar Yana lagi.


Gadis dengan seragam hitam putih itu mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih sebelum kemudian berlalu dari sana.


__ADS_2