
Bab 70
Orang-orang yang sudah beberapa hari ini bekerja di taman belakang rumah, sudah tiba. Sama seperti biasanya, Farah membiarkan asisten rumah tangganya yang akan menyiapkan beberapa cangkir teh dan cemilan. Sedangkan dirinya akan kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat bersama Alfaraz.
Lelaki kecil kesayangannya itu akan menikmati waktu bermain di dalam kamar Papa dan Bundanya. Tayangan kartun yang berasal dari Negeri tetangga, akan menemani bocah laki-laki itu menyusun mainannya, dan Farah akan berbaring di atas ranjang sambil membaca buku tentang kehamilan hingga waktunya makan siang.
Semenjak kehamilannya yang kedua ini, Zidan memang membatasi ruang geraknya. Berbeda saat ia hamil Al, Zidan terkesan tidak perduli, untuk itu ia lebih banyak menghabiskan waktunya di Firma Hukum. Hanya Nadia yang selalu saja posesif berbagai hal, dan membantunya sedikit merasa berharga di rumah itu dulu.
"Unda haus." Ucap Al.
Bocah laki-laki itu sudah melangkah mendekati ranjang di mana Bundanya berada. Farah bangkit, lalu turun dari atas ranjang untuk membantu putranya minum.
Saat memasuki dapur, terlihat Asistennya sedang menyiapkan makan siang.
"Ini untuk mereka ?" Tanya Farah. Ia mengambil satu buah gelas di kabinet, lalu mengisinya dengan air putih untuk Al.
Asisten rumah tangga itu mengangguk mengiyakan.
"Masih lama lagi ya Mbok ?" Tanya Farah.
"Kayaknya sedikit lagi rampung Non." Jawab wanita paruh baya itu.
Sejujurnya ia tidak terlalu nyaman jika ada banyak orang di rumahnya, terlebih orang-orang itu tidak ia kenal. Dan lebih membuat ia khawatir, Zidan tidak berada di rumah saat siang seperti ini.
Bertahun-tahun bekerja menangani berbagai kasus, membuat Farah selalu waspada dengan orang-orang asing yang tidak ia kenal, terlebih pria.
"Oh iya Non, habis ini saya akan pergi berbelanja. Bapak sudah meminta saya tadi."
"Nanti aja Mbok, aku takut sendirian di rumah. Tunggu mereka selesai dulu."
Wanita paruh baya itu kembali mengangguk mengerti. Lauk yang ada di dalam wajan, sudah matang dan segera ia pindahkan ke atas mangkuk besar yang sudah tersedia di atas meja.
Setelah mengisi satu buah gelas dengan air putih untuk persediaan di dalam kamar, Farah kembali membawa Alfaraz menuju kamar tidurnya.
"Permisi Bu." Ucap seseorang tidak jauh dari tempat Farah dan Al berada.
Farah menoleh ke asal suara yang baru saja menyapa nya.
__ADS_1
"Iya ada apa ?" Jawabnya sopan.
"Saya boleh menumpang ke kamar mandi ?" Tanya lelaki yang mungkin masih seumuran dengan Zidan itu.
"Oh iya boleh. Nanti tanyakan saja pada asisten saya." Tunjuk Farah ke arah ruangan yang baru saja ia lewati beberapa menit yang lalu.
"Terimakasih." Ucap lelaki itu sopan.
Farah mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya.
Di ruangan yang baru saja ia tinggalkan, laki-laki itu masih menatap kepergian Farah. Lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang di tunjuk Farah.
Di dapur, lelaki yang meminta izin pada Farah ingin menggunakan kamar kecil, menatap sejenak punggung asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan, lalu dengan cepat ia melangkah menuju ke arah wanita paruh baya itu.
Belum juga sempat berteriak, wanita yang sedang menggenggam sendok itu sudah terkulai lemas tak sadarkan diri di atas lantai.
Lelaki gila itu menarik tubuh asisten rumah tangga Farah ke dalam kamar mandi, tidak lupa pula ia mengikat kaki dan tangan, juga menyumpal mulut menggunakan kain lap yang ada di dapur.
Beberapa kali ia mengambil gambar wanita yang tidak sadarkan diri itu, kemudian mengirimnya ke nomor seseorang yang ada di ponselnya.
"Lanjutkan." Satu kata balasan yang muncul di layar ponselnya di sertai foto setumpuk uang.
Ke dua dan ketiga kali berbunyi, namun, belum ada yang membuka pintu itu.
Di dalam kamar, Farah akhirnya beranjak dari atas ranjang lalu melangkah menuju pintu kamar. Sebelum keluar dari kamar, Farah kembali berbalik pada putranya yang masih serius dengan tayangan kartun di layar tv.
"Al disini dulu ya Nak, Bunda mau bukain pintu dulu." Izinnya pada Alfaraz.
Bocah laki-laki itu mengangguk patuh, namun, tetap fokus dengan acara dua kembar berkepala botak di depannya.
"Mbok.." Panggil Farah saat sudah berada di ruang keluarga.
"Sedang mengantar makanan ke belakang." Jawab laki-laki yang tadi berpapasan dengannya.
Farah menatap heran, karena laki-laki ini begitu lancang menjawab bahkan ia pun belum bertanya kemana asistennya pergi dan tidak membukakan pintu rumah.
"Oh iya." Jawabnya, lalu membalik tubuhnya menuju pintu depan.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mbak." Wanita mudah dengan perut buncit seperti dirinya sudah berdiri di depan pintu rumah saat ia membukanya.
"Waalaikumsalam. Ada apa ya ?" Tanya Farah.
"Oh maaf, saya mau mengantar bunga pesanan Pak Zidan. Katanya di antar ke alamat rumah ini." Jawab wanita itu sopan. "Perkenalkan nama saya Dinda Mbak." Sambungnya sembari mengulurkan tangannya ke arah Farah.
"Oh iya, saya Farah istrinya Mas Zidan." Jawabnya lalu menyambut tangan yang sedang terulur ke arahnya.
"Ini khusus untuk Mbak dari Pak Zidan, sebagai permohonan maaf karena tidak bisa makan siang bersama di rumah." Ucap Dinda.
Farah tersenyum lalu menerima satu buket bunga mawar putih yang ada di depannya. Beberapa kotak bunga segar dengan berbagai warna pun ia tatap dengan mata penuh binar.
"Ini sangat cantik Dinda." Ucapnya.
"Alhamdulillah jika Mbak menyukainya." Ucap wanita itu.
"Oh iya mari silahkan masuk." Ajak Farah, lalu kembali menutup pintu rumahnya setelah wanita yang datang mengantarkan bunga sudah masuk ke dalam rumah.
Baru saja beberapa langkah, jeritan Alfaraz membuat Farah terkejut. Buket bunga yang ada di dalam pelukannya ia lepaskan begitu saja lalu melangkah cepat menuju ruangan di mana suara putranya berasal.
"Al..." Jeritan Farah terdengar memenuhi seluruh rumah.
Dinda yang masih berdiri di ambang pintu rumah, mengambil bunga yang ada di atas lantai lalu ikut melangkah masuk lebih dalam. Ia seketika terkejut ketika melihat lelaki yang saat ini sedang menarik lengan Farah dengan kasar.
Bocah laki-laki yang berteriak tadi, sudah tergeletak di atas lantai dengan darah segar mengalir entah dari bagian tubuh yang mana.
"Apa yang kau lakukan ?" Tanya wanita itu.
Lelaki itu pun terkejut ketika melihat wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Bukan urusanmu." Jawab lelaki itu dingin.
"Pak ambil saja apa yang kamu inginkan di rumah ini, tapi ku mohon biarkan aku melihat putraku." Mohon Farah. Ia tidak lagi memperdulikan dua orang yang terlihat saling mengenal di depannya. Yang ia khawatirkan saat ini hanyalah putranya yang tidak lagi sadarkan diri di hadapannya.
"Aku mau kamu." Ujar laki-laki itu dengan senyum jahatnya.
Farah kembali berteriak histeris, saat laki-laki yang beberapa hari ini bekerja di belakang rumah sudah menariknya menuju sofa lalu mendorongnya dengan kasar.
__ADS_1
Dinda tidak tahan lagi melihat perlakuan kasar yang sedang di lakukan oleh laki-laki biadab di hadapannya, tanpa lagi memikirkan apapun ia mengambil satu buah guci yang mungkin saja harganya selangit itu, dan menghantamkan ke kepala laki-laki gila yang sudah menarik pakaian Farah dengan kasar hingga sobek.