
Yana terkejut melihat gambar Reno yang di kirimkan Vivi padanya. Entah apa yang terjadi dengan laki-laki itu hingga berakhir mengenaskan seperti malam ini. Tubuh yang sudah penuh dengan darah dan tergeletak begitu saja di atas tanah.
Tanpa lagi memikirkan apapun, Yana bangkit dari atas ranjang dan bergegas mengambil satu buah switer rajut dari lemari pakaian, kemudian mengenakkannya. Ia melangkah cepat keluar dari dalam kamar, menuju pintu depan.
Saat ingin meraih handel pintu, tubuhnya terhenti. Apa pantas ia melakukan hal ini setelah semua yang telah terjadi di antara mereka ? Pikiran waras kembali menahan langkah kakinya.
"Mau kemana dengan pakaian seperti itu ?"
Suara sang Ibu terdengar di Indra pendengarannya. Yana menoleh, ia menatap sedih wanita paruh baya yang juga menatapnya heran.
"Reno kecelakaan Bu. Dia di pukuli orang." Jawab nya.
"Kok bisa ?"
Yana menggelengkan kepalanya.
"Yana tidak tahu." Jawabnya. Sungguh ia pun tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan mantan suaminya itu. Reno bukanlah laki-laki yang gemar mencari masalah dengan orang lain, itulah yang ia tahu selama tujuh tahun pernikahan.
"Mau pergi melihatnya" Tanya Dinda lagi. "Ayo Ibu temani, kita bawa dia ke rumah sakit."
"Ngga apa-apa Bu ?" Tanya Yana.
"Tentu saja, ayo." Ajak Dinda.
Ia dan sang Ibu ikeluar dari dalam mobil menuju alamat diskoti yang di kirimkan Vivi padanya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka akhirnya tiba, karena memang ini sudah sangat malam dan jalanan sudah begitu lenggang.
"Astagfirullah.."
Dinda mendekati mantan menantunya yang tergeletak begitu saja di depan bangunan yang ia tidak tahu tempat apa.
"Ren.." Tepuk Dinda di pipi Reno.
Reno hanya menggeliat, sembari bergumam nama Yana. Sedangkan Yana hanya berdiri menatap sedih tubuh yang sudah tidak lagi beraturan itu. Kemeja berwarna biru yang biasanya selalu terlihat sangat rapi, kini sudah lusuh dengan noda darah di mana-mana.
"Sudah berdarah-darah seperti ini, kok ga ada yang bantuin bawa ke rumah sakit ya Na ?" Tanya Dinda. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap putrinya yang masih berdiri di sampingnya.
"Ini tempat di mana terdapat orang-orang yang tidak akan peduli dengan orang lain." Jawab Yana.
"Ayo Nak, bantu Ibu kita bawa ke rumah sakit. Nanti jika sudah di rumah sakit, hubungi ibunya." Perintah Dinda pada putrinya.
Yana mengangguk, lalu ikut membungkuk untuk membantu laki-laki yang terdengar terus menerus menggumamkan namanya masuk ke dalam mobil.
Kalimat meminta maaf terus saja terdengar dari kursi belakang. Akan tetapi Yana tidak lagi menghiraukan hal itu, ia hanya terus memacu mobilnya dengan hati-hati menuju rumah sakit.
"Dia begitu mencintaimu." Ucap Dinda saat menoleh laki-laki yang entah sadar atau tidak terus saja menyebut nama putrinya.
__ADS_1
"Cinta saja tidak akan cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Yana tidak ingin terus menerus hidup dalam kegelisahan karena tidak bisa lagi mempercayai suami sendiri." Jawab Yana.
Dinda tidak lagi berkata, ia hanya mengusap pelan punggung putrinya yang tertutup rambut panjang terurai. Putrinya tidak butuh masukan apapun, gadis kecilnya ini hanya membutuhkan seorang teman yang bisa mendengarkan segala isi hatinya.
"Ren ayo bangun. Aku dan Ibu ga akan kuat bopong kamu." Ucap Yana setelah membukakan pintu mobil di samping Reno.
Reno membuka matanya perlahan. Ringisan menahan sakit masih terdengar jelas dari bibirnya. Lelaki itu menatap lekat wajah yang kini berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Yana pun sama, ia memperhatikan wajah tampan yang sudah babak belur itu dengan prihatin. Sudut mata yang membiru, bibir yang pecah serta memar hampir di seluruh bagian wajahnya.
"Kamu di sini sayang ? Sungguh maafkan segala kebodohan ku."
Yana terkejut saat Reno menarik tubuh dan memeluknya erat.
"Aku benar-benar sudah gila karena Kehilangan kamu Na." Ujar Reno lagi.
Yana masih bergeming, hatinya ikut sakit melihat keadaan Reno seperti ini. Namun, kala mengingat apa yang sudah terjadi, sekeras apapun ia berusaha untuk menerima justru akan semakin sakit pula rasanya.
"Lepaskan." Ucap Yana dingin. Tapi lelaki itu tidak lagi terdengar suara, dan ambruk di bahunya.
"Biar kami bantu Bu." Terdengar suara seseorang di belakangnya. Yana perlahan keluar dari pintu mobil, dan membiarkan dua orang perawat itu yang membantu Reno keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Hubungi Tante Lina, lalu kita pulang." Ujar Dinda.
"Yana sudah ga memiliki nomor mereka, lagi pula ponsel Yana ada di rumah. kita pulang aja." Ajak Yana.
Yana menggeleng lalu tersenyum pada ibunya.
"Ini rumah sakit Bu. Lagi pula lukanya tidak terlalu parah. Dia tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol." Jawabnya lalu kembali masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Ibu Dinda.
Yana lantas kembali memacu mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit menuju rumah. Tidak ada lagi yang bersuara, dua wanita berbeda usia itu hanya tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
Ada banyak hal yang ingin di tanyakan Dinda pada putrinya, namun, ia terlalu takut jika pertanyaannya akan kembali membuka luka yang sedang berusaha di sembuhkan oleh putrinya ini.
Saat mobil Yana semakin mendekati rumah, wanita itu terkejut mendapati laki-laki yang baru beberapa saat lalu menghubunginya lewat video. Dan kini laki-laki itu sedang berdiri di depan rumah. Ia terpaksa ikut berhenti di sisi jalan, lalu keluar dari dalam mobil.
Dinda pun sama, wanita paruh baya itu ikut keluar dari dalam mobil dan melangkah bersama putrinya menuju Alfaraz yang berdiri cemas sambil menatap ke arah mereka.
"Kok bisa di sini ?" Tanya Yana heran.
"Ayo Nak Al, kita masuk ga enak berdiri di luar." Ajak Dinda.
Alfaraz mengangguk, laki-laki itu masuk ke dalam rumah bersama Dinda, sedangkan Yana mengikuti keduanya dari belakang masih dengan tatapan herannya.
Setelah mengunci pintu depan, Yana melangkah menuju sofa tempat Alfaraz berada lalu duduk di sana.
"Maaf Al datang malam-malam begini." Ucap Alfaraz tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, pasti ada sesuatu yang sangat penting sehingga kamu memaksakan diri datang di jam seperti ini. Bicaralah, Ibu akan duduk di ruang keluarga." Ujar Dinda lalu melangkah meninggalkan ruang tamu tempat Alfaraz dan putrinya berada.
Yana masih duduk diam di tempatnya, sedangkan Alfaraz menatap wanita dengan beberapa noda darah di switer itu dengan perasaan yang campur aduk. Kesal dan cemas sama-sama mengganggu kesadarannya.
"Aku tadi menghubungi ponsel kamu, tapi ngga di angkat." Ucap Alfaraz.
"Ponsel aku ketinggalan di kamar." Jawab Yana. "Seseorang yang aku kenal mengalami musibah, jadi aku dan Ibu datang dan membawanya ke rumah sakit." Sambungnya menjelaskan.
Alfaraz mengangguk.
"Kamu kenal dengan Gerald ?" Tanya Alfaraz.
Yana mengangguk
"Rekan kerja di keuangan." Jawabnya.
"Kalian berdua makan malam bersama ?" Tanya Al lagi.
Yana diam, dia menatap Alfaraz dengan lekat. Aneh, yah entah apa yang membuat laki-laki ini datang ke rumahnya di tengah malam hanya untuk menanyakan masalah tidak penting ini.
"Tidak, bukan kami berdua, tapi kami berenam." Jawabnya jujur.
"Sebenarnya ada apa sih, seperti mau di interogasi saja." Kesal Yana.
Alfaraz tertawa mendengar keluhan dari bibir Yana.
"Aku makin kesal, laki-laki itu mengungkapkan perasaannya di website perusahaan. Benar-benar gila ! Terlebih lagi katanya kalian makan berdua malam ini."
"Hanya itu ?" Tanya Yana.
"Maksud kamu ?"
"Al kamu tuh umur berapa sih ? kamu ga pernah pacaran yah saat masih SMA ?"
Yana sudah melipat tangannya di dada sambil menatap tajam laki-laki aneh di hadapannya ini.
"Kenapa tanya begitu ?"
Alfaraz semakin kesal saat melihat Yana yang tidak terlalu memusingkan apa yang baru saja ia katakan. Padahal hal itu membuat darahnya naik. Jika saja laki-laki yang bernama Gerald itu masih bekerja di perusahaanya, akan ia pastikan tidak akan lagi bisa masuk walau hanya di lobi kantor.
"Ya iya, sikap kamu tuh kaya anak-anak umur belasan tahun tahu ngga." Kesal Yana.
"Habisnya kamu bikin aku semakin kesal aja."
Yana menghembuskan nafas berat, sepertinya dialah yang harus berusaha menjadi orang dewasa di sini. Sungguh hubungan mereka belum di tahap saling mencemburui, tetapi lelaki ini bahkan sudah menunjukan sikap seperti ini.
"Kita harus buat perjanjian." Putus Yana.
__ADS_1