Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 96 Season 2


__ADS_3

"Bu rumahnya sudah Yana jual." Ucap Yana.


"Itu hak kamu." Jawab Dinda sembari menata kotak makanan yang ia bawa dari rumah, ke atas meja sofa yang ada di dalam toko bunga miliknya.


"Uangnya kita pakai untuk renovasi rumah Ibu dan toko ini ya Bu." Bujuk Yana.


Namun, seperti biasanya Dinda menolak permintaan putrinya, lalu mengelilingi toko miliknya itu dengan pandangannya.


"Ini adalah pemberian seseorang yang sangat dermawan di masa lalu. Lagi pula ibu lebih nyama seperti ini." Ujarnya.


Yana mengangguk mengerti, meskipun ia tidak tahu siapa yang memberikan ini pada ibunya di masa lalu, ia tidak lagi ingin membahasnya. Cerita tentang sang Ayah yang begitu membuat Ibunya sedih, membuat Yana takut bertanya lebih jauh tentang masa lalu dari malaikat tak bersayapnya ini.


"Lagi pula, di toko ini dan rumah itu menyimpan banyak kenangan masa kecilmu, dan Ibu tidak ingin membuang kenangan berharga begitu saja." Ujar Dinda lagi.


"Uang Yana banyak Bu, ngga tahu mau di pakai buat apa." Ucap Yana tertawa lucu.


"Beli rumah yang baru atau jalan-jalan ke luar negeri, traktir teman-teman kamu." Saran Dinda.


Wanita paruh baya itu ikut tertawa melihat wajah cemberut putri kesayangannya.


"Yana mau numpang sama ibu aja, di sini lebih baik." Ucap Yana.


Dinda tersenyum, ia mengusap lembut pipi putrinya.


"Ayo makan, nanti pingsan." Ujarnya lalu kembali tertawa.


***

__ADS_1


Di sebuah rumah yang terlihat mewah, Reno memijit pangkal hidungnya. Kepalanya sakit mendengar omelan sang Mama yang tidak henti-henti sejak tadi.


"Ma tunggu Reno gajian dulu baru di transfer lagi." Ujar Reno.


"Kenapa begitu ? Biasanya kan kamu akan memberikan Mama uang berapa saja Mama butuh. Ren teman arisan Mama ada yang berulang tahun, ga enak kalau hadiahnya asal-asalan." Ujar Lina tidak terima.


"Ma itu karena ada Yana yang membantu keuangan Reno. Sekarang Reno harus memikirkan keuangan sendirian." Jawab Reno kesal.


"Cih wanita itu lagi. Bisa tidak kamu tuh ngga usah bawa-bawa anak yang tidak jelas asal-usulnya itu."


"Wanita yang sering Mama bilang tidak jelas asal-usulnya itu yang selama ini membantu memuaskan hidup Mama yang tidak terukur tingginya ini." Teriak Reno kesal.


"Mama tahu, jika bukan karena Yana mana mampu Reno membuat rumah semewah ini untuk Mama. Mama tahu, selama ini Yana tidak pernah membeli barang-barang mewah padahal ia mampu, hanya agar bisa membantu Reno membahagiakan Mama." Ujar Reno.


"Tapi tetap saja yang Mama gunakan selama ini kan uang kamu bukan uang dia."


Wanita dengan perut membuncit di sampingnya semakin tertunduk dalam. Sejujurnya saat ia menerima lamaran Mama mertuanya dulu, ia berharap Reno dan Yana tidak akan berpisah seperti hari ini. Ia berharap, mereka bisa meraih bahagia bersama-sama.


Setelah mengatakan semuanya dan membuat sang Mama terdiam, Reno beranjak dari sofa yang ia duduki dan melangkah keluar dari rumah itu.


"Mas..." Tahan Rara di tangan Reno yang sudah beranjak dari sofa tempat mereka duduk.


Reno menarik tangannya, namun, ia tetap menghentikan niatnya melangkah keluar dari ruangan itu. Menunggu apa yang ingin di utarakan oleh wanita yang kini mengandung calon anaknya.


"Minta maaflah pada Mbak Yana, dan bawa dia kembali dengan kita." Ujar Rara.


Reno tidak menanggapi kalimat yang tidak berguna dari bibir istrinya, ia kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari rumah mewah itu. Meminta maaf dan membawa Yana kembali ? Oh ayolah, mantan istri pertamanya itu adalah wanita yang selalu mengandalkan logika dalam berbagai hal. Dan setelah luka yang ia berikan, mustahil jika Yana masih mau untuk di ajak kembali, meskipun ia memohon sampai menangis darah pun, Yana tidak akan pernah mau memberinya kesempatan itu.

__ADS_1


Mobil Reno keluar dari pelataran rumah Mamanya, dan mulai melaju di jalanan menuju apartemen miliknya dan Yana. Ia ingin beristirahat dengan tenang di sana. Tuntutan sang Mama tentang ini dan itu membuat kepalanya terasa mau pecah. Biasanya saat masih bersama Yana, jika hanya masalah tentang uang akan sangat cepat mendapat solusinya. Namun, kini semuanya terasa begitu sulit di pikirkan.


Uang puluhan jutaan yang terus di hambur kan oleh wanita yang telah melahirkan nya itu, terasa tidak berarti apa-apa dulu, saat Yana masih bersamanya. Namun kini, bahkan hanya beberapa juta saja yang keluar dari rekeningnya, nyaris membuat otaknya sakit.


Selama ini ia bisa menuruti kemauan sang Mama, karena keuangannya masih terbantu. Namun, sekarang semuanya sudah berubah, wanita yang selalu menomorsatukan semua tentangnya, kini tidak lagi ada.


"Di transfer aja Mas, kalau kurang nanti aku tambahin."


"Ngga usah khawatir Mas, kan ada aku. Kita sama-sama berjuang ya."


Kalimat-kalimat Yana kembali berputar-putar di otaknya.


Padatnya jalanan di siang ini, semakin menambah panasnya dada Reno yang terasa semakin terhimpit kala mengenang segala kebaikan Yana. Gadis dengan kehidupan biasa saja, sama seperti kehidupannya. Mereka memulai kisah saat Yana masih menjadi siswa di salah satu SMA swasta di Jakarta, hingga ke perguruan tinggi.


Berulang kali ia menyatakan perasaannya pada gadis manis yang sudah menjadi sahabat dekatnya sekian tahun, tapi berulang kali juga penolakan ia terima. Gadis manis menggemaskan semasa SMA sudah berubah menjadi gadis cantik saat mereka mulai kuliah di universitas yang sama.


Dan saat itu ia tidak lagi meminta Yana menjadi seorang pacar, tapi langsung memintanya menjadi pendamping hidupnya kelak. Lamaran tanpa cincin, hanya satu buah apartemen yang masih harus mereka cicil bersama, ia memberanikan diri meminta sahabat baiknya itu untuk menikah, jika Yana sudah menyelesaikan kuliahnya nanti, dan perjuangan panjang untuk menaklukkan hati Yana pun akhirnya berbuah manis. Namun, kini semuanya sudah hancur lebur. Tidak ada lagi yang tersisa, Yana memilih pergi tanpa memberinya satu kesempatan untuk memperbaiki segala kebodohannya.


Reno membawa tubuhnya menuju kamar tidur yang sudah ia kotori dengan hasrat bodohnya. Kamar yang seharusnya membuat Yana mengingat segala kenangan indah bersama dirinya, kini menjadi kamar yang penuh luka untuk satu-satunya wanita yang ia cintai itu.


Semua masih sama, wanita yang sejak enam tahun lalu mengabdikan diri padanya itu, bahkan tidak datang mengambil barang-barang pribadi yang ada di apartemen ini. Beberapa buah tas yang ia tahu tidak semahal tas milik sang Mama masih berjejer rapi di lemari kaca di dalam kamar itu.


Reno kembali melangkah, ia mengitari setiap sudut kamar yang kini tinggal kenangan. Jejak-jejak percintaan mereka di dalam kamar ini masih begitu melekat dalam ingatannya.


"Na maafkan aku. Maafkan segala kebodohan ku." Lirihnya. Ia menatap lemari pakaian Yana, dan semua masih tertata rapi di sana.


"Aku rindu kamu." Reno terduduk di atas lantai. Ia menangis lirih, meratapi setiap kenangan yang masih tersisa di ruangan itu. Kenangan indah yang berubah luka dalam sekejap, saat ia tidak bisa mengendalikan hasratnya.

__ADS_1


Kini wanitanya tak lagi tergapai.Yana sudah melangkah menjauh dari kehidupannya. Ternyata seperti inilah penyesalan.


__ADS_2