
Mentari yang begitu cerah mulai terlihat mengunig di ujung sana. Zidan sesekali menggerutu kesal karena mobilnya terjebak di tengah-tengah kemacetan Jakarta. Di jam-jam pulang kerja seperti ini, memang harus lebih kuat iman, agar kata-kata yang mengotori bibir tidak akan terlontar, karena ada sebagian pengemudi yang ingin segera sampai ke rumah, dan tidak lagi memperdulikan keselamatan orang lain.
"Mau bunga Tuan." Tawar seorang wanita saat Zidan berhenti di persimpangan lampu lalu lintas.
Zidan menurunkan kaca jendela mobilnya, menatap sejenak wanita yang sedang mengandung dengan beberapa buket bunga dalam pelukannya.
"Semuanya berapa ?" Tanyanya pada penjual bunga itu.
Wanita itu terkejut, namun matanya berbinar saat Zidan menanyakan harga keselurahan dari bunga yang sedang ia jual.
"Per buketnya seratus ribu rupiah Pak, ini bunga segar." Jawabnya.
"Aku beli semua. Apa hanya ini yang tersisa ?" Tanya Zidan.
Wanita itu mengangguk.
"Baiklah, saya beli semua." Ucap Zidan sembari menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah ke arah wanita yang kini terlihat begitu bahagia. "Istri saya juga sedang hamil, dan dia sangat menyukai bunga." Ucapnya lagi.
"Semoga Istri Bapak sehat selalu." Wanita itu menundukkan kepalnya sembari mengucapkan banyak terimakasih.
Zidan mengambil bunga mawar bermacam warna yang di serahkan oleh wanita hamil tersebut, kemudian meletakkannya dengan hati-hati di kursi penumpang yang ada di sampingnya.
"Pulang dan beristirahatlah." Ucap Zidan.
"Terimakasih Pak." Jawab wanita itu, kemudian melangkah meninggalkan mobil Zidan menuju tempat yang lebih aman untuk pejalan kaki, karena sebentar lagi lampu lalu lintas akan berganti warna.
Berulang kali ia mengucapkan kalimat penuh syukur, sambil mengusap lembut perut buncitnya. Tidak lupa pula ia menggumamkan banyak terimakasih pada laki-laki yang baru saja memberinya rezeki hari ini.
***
Di kediaman mertuanya, Farah mengajak Al bermain di ruang keluarga. Sesekali ia melirik layar ponselnya, berharap ada pesan atau apapun yang akan masuk dari laki-laki yang belum pulang padahal sebentar lagi waktu magrib.
"Kemana sih dia ini ?" Gumamnya pelan.
"Zidan belum pulang ya Ra ?"
Farah menoleh, menatap wanita paruh baya yang sudah ikut duduk di sofa di ruang keluarga
"Belum Bu." Jawabnya.
"Sudah kamu tanya di mana dia ?" Tanya Anisa.
Farah menggeleng.
__ADS_1
"Belum Bu." Jawabnya.
"Ya udah, kamu telepon dulu. Tanyain di mana dia sekarang." Ujar Anisa.
Farah menatap Ibu mertuanya, lalu menggeleng.
"Kenapa ?" Tanya Anisa heran.
"Farah takut ganggu kerjaannya Mas Zidan." Jawab Farah.
"Kamu tidak akan tahu jika panggilan mu mengganggu atau tidak, sebelum kamu mencoba menghubungi nya. Ya udah di coba hari ini. Mulai terapkan hari ini, jika Zidan tidak bisa menghubungi maka kamu yang harus menghubunginya." Ucap Anisa memberi saran. Meminta wanita mudah yang kini menunduk sembari menatap layar ponsel, agar segera menghubungi putranya.
"Itu pasti Zidan." Ujar Anisa ketika mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. "Sana panggil Bunda, jemput Papa kamu." Sambungnya pada Alfaraz.
Bocah laki-laki itu menggeleng, namun, segera beranjak dari tempat ia bermain, lalu bergegas menuju sofa tempat Farah duduk.
"Ada apa ?" Tanya Farah pada putranya.
Alfaraz tidak menjawab, bocah laki-laki itu justru semakin mendekat lalu naik ke atas pangkuannya.
Anisa dan Farah sontak tertawa melihat tingkah Alfaraz yang begitu menggemaskan.
"Assalamualaikum." Ucap Zidan saat memasuki ruang keluarga. Senyumnya mengembang ketika melihat ada dua wanita berharga sedang duduk dan tertawa bersama.
Zidan mendekati Anisa, lalu mencium punggung tangan milik wanita yang sudah membesarkannya itu takzim.
"Assalamualaikum Al." Ucap Zidan lagi. Ia melangkah mendekati dua orang tidak kalah berharga dalam hidupnya, beberapa buket bunga mawar ia letakkan ke atas karpet, lalu duduk di samping Farah.
"Hei kok ga jawab salam Papa sih." Ucapnya lagi. Ciuman sudah ia darat kan di pipi menggemaskan Alfaraz, namun, bocah laki-laki itu masih tidak menjawab. Hanya tangan mungilnya semakin mendekap erat tubuh sang Bunda, membuat Farah tertawa geli.
"Dia ga mau kamu pulang." Ujar Anisa.
"Kenapa ?" Tanya Zidan heran. "Biasanya Al senang kok kalau Zidan pulang." Sambungnya.
"Takut nanti kamu akan ambil Bundanya, iya kan Al ?" Ujar Anisa sambil menatap cucu nya yang kini membenamkan wajah di dada Farah.
Zidan tertawa mendengar kalimat sang Ibu. Tidak lagi membuang waktu, ia segera membawa tubuh Al dan Farah sekaligus ke dalam dekapannya.
"Ibu senang kalian sudah benar-benar memutuskan untuk memperbaiki semuanya." Ujar Anisa.
"Farah ingin mencobanya Bu. Bukankah dengan mencoba, Farah bisa tahu akan akhir dari semua ini." Jawab Farah.
Anisa mengangguk.
__ADS_1
"Ini bunga dari mana Mas ? Kok banyak banget ?" Tanya Farah.
"Oh itu, tadi ada wanita hamil yang sedang menjual bunga di pemberhentian lampu merah, ya udah aku beli aja." Jawab Zidan.
"Kalau begitu Ibu akan bini buat menaruhnya di vas agar tidak cepat layu. Kalian bersiaplah. Ibu mau ke kamar menemui Ayah kalian, sebentar lagi kita shalat magrib berjamaah." Ucap Anisa.
Farah dan Zidan mengangguk mengiyakan, lalu setelah telah Anisa berlalu dari ruang keluarga itu, Farah dan Zidan pun beranjak dari sofa, menuju kamar yang bisanya di pakai Alfaraz.
"Sini Papa gendong."
Zidan mengulurkan tangannya, namun, bocah laki-laki yang sebulan sebelum Farah kembali selalu menempel padanya, hanya menatap tangan yang sedang terulur dengan mata polos menggemaskan.
"Kalau ngga mau, Papa akan ambil Bundanya." Ancam Zidan.
Farah terkekeh, mendengar kalimat ancaman yang akhirnya mampu membuat Alfaraz mengalah dan berpindah ke pelukan suaminya.
Zidan segera membawa tangan Farah ke dalam genggamannya, lalu menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar yang akan mereka gunakan untuk beristirahat malam ini.
***
Usai melaksanakan shalat magrib berjamaah, Dimas mengajak istri dan anak-anaknya untuk makan malam bersama.
"Ayah senang kamu menunggu di sini." Ucap Dimas pada menantunya.
Farah mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih karena Ayah mertuanya ini segera menyelesaikan masalah yang hampir saja membuat ia kembali mengambil keputusan yang salah.
Makan malam yang begitu hangat. Senyum masih terlihat jelas di wajah pucat Zidan. Beruntung, setelah kedatangan Farah, mual yang selalu mengganggunya mulai mereda.
Farah menyuapi Al, sambil menjawab setiap pertanyaan yang meluncur dari bibir mungil bocah laki-laki itu.
"Ini oltel ya Unda ?"
"Iya ini wortel, bagus untuk mata Al." Jawabnya.
Anak laki-laki yang ia lahirkan tiga tahun yang lalu itu mengangguk, lalu membuka mulutnya agar potongan wortel itu bisa segera masuk ke dalam.
"Kamu juga makan Ra, adiknya Al butuh makan juga" Ujar Anisa.
"Iya Bu." Jawab Farah.
Apakah ia harus benar-benar bersyukur saat ini ?
Semoga kali ini tidak akan ada lagi masalah yang datang mengganggu ketenangan yang baru saja ia mulai.Setelaj bertahun-tahun di tinggalkan Ibu dan Kakaknya, memiliki keluarga seperti ini, sudah menjadi impiannya.
__ADS_1
Farah mulai makan malam di temani Zidan. Dimas dan Anisa sudah selesai makan, dan memilih untuk mengajak Alfaraz bermain di ruang keluarga, agar Farah bisa makan malam dengan nyaman.