Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 152 Season 2


__ADS_3

"Mau masuk ?" Kean membuka pintu ruang operasi lalu mempersilahkan adik sepupunya masuk. "Yang lain nanti ya." Sambungnya sambil tersenyum ke arah orang-orang yang ada sedang memasang wajah penuh harap di sana.


"Anak Tante sehat-sehat aja kan Nak ?" Dinda akhirnya bersuara, setelah beberapa jam membungkam mulutnya rapat-rapat.


"Zyana baik-baik saja Tante. Dan Cucu Tante cantik-cantik seperti ibunya." Jawab Kean. Ia lantas meminta izin untuk kembali masuk ke dalam ruangan operasi.


Saat sudah berada di dalam ruangan, Kean tersenyum saat mendapati adik sepupunya yang sedang mengadzani dua bayi mungil dengan suara yang terdengar mengharukan. Ia lantas kembali melanjutkan langkahnya menuju Yana yang sudah di pindahkan dan bersiap di bawa ke ruang perawatan.


"Kalau merasa tidak nyaman, nanti langsung bilang." Ucap Kean memberitahu istri dari adik sepupunya.


"Terimakasih Kak." Ucap Yana pelan.


Setelah Kean dan beberapa perawat yang ada di sana keluar dari dalam ruangan, Yana mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang masih begitu setia berdiri di samping dua ranjang kecil tempat putri kembarnya berada.


"Sudah mau ngelupain aku ya.. Bagus.." Ucapnya menyindir.


Lelaki yang sejam memasuki ruangan, langsung menemui dua bayi kembarnya itu, langsung membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya dengan senyum rasa bersalah.


"Mau lihat anak kita ?" Tanya Alfaraz.


"Mau lihat kamu aja." Jawab Yana.


Alfaraz melangkah menuju ranjang tempat Yana berada, sambil mendorong dua ranjang kecil agar lebih dekat dengan istrinya, lalu mendaratkan kecupan di wajah berulang kali.


"Danira Florens Prasetyo dan Nadira Agatha Prasetyo." Ucap Alfaraz.


Yana tersenyum, lalu mengangguk.


"Nama yang cantik." Ucapnya. Ia membawa tangan Alfaraz yang sedang mengusap lembut kepalanya, lalu mengecup tangan itu berulang kali.


"Aku cinta kamu Al, sangat." Ujarnya. Kali ini tidak ada wajah jail seperti biasanya. Hanya ada wajah cantik dengan sedikit air yang menggenang di pelupuk mata.


Alfaraz mengusap lembut pipi Yana, lalu mengecup bibir yang sedikit memucat itu dengan hati-hati.


"Terimakasih untuk hadiah hari ini." Ucap Alfaraz.

__ADS_1


"Mirip aku kan ?" Tanya Yana dengan senyum yang kembali jail seperti biasanya.


"Yah, dua-duanya secantik kamu." Jawab Alfaraz.


"Maaf Pak, kami akan membawa istri anda ke ruangan perawatan."


Alfaraz mengangguk, lalu ikut keluar dari ruangan bersama istri dan kedua anaknya.


Orang-orang yang ada di depan ruangan operasi, begitu antusias menanti. Raut cemas yang sejak tadi menghiasi wajah mereka, berangsur hilang saat melihat Yana dan Alfaraz serta dua bayi kembar keluar dari dalam ruangan.


Farah langsung melangkah menuju menantunya, begitu pun Dinda dan Zidan. Sedangkan Adelia dan Gerald lebih dulu melangkah menuju dua bayi yang akan di bawa menuju ruangan lain selama perawatan.


Wanita yang sedang hamil itu, ikut menatap takjub dua bayi mungil yang sedang terlelap di atas dua ranjang kecil khusus bayi.


"Luar biasa ya sayang. Selama sembilan bulan kalian membawa nyawa lain di dalam tubuh." Gerald mengusap lembut pipi yang masih memerah keponakannya itu bergantian. "Sungguh besar kekuasaan Allah." Sambungnya.


Adelia mengangguk. Ia lalu berpamitan pada sang Kakak dan keluarga yang lain untuk ikut bersama dua keponakannya menuju ruangan khusus untuk perawatan bayi.


Suster yang bertugas mendorong dua ranjang kecil itu di ikuti Adelia dan Gerald.


"Oh gitu ya ? Ya udah, sayang kita ke sana." Ajak Adelia pada suaminya.


Gerald mengangguk, keduanya melangkah menuju kaca yang menjadi dinding ruangan itu, untuk melihat suster yang sedang menyiapkan dua keponakan mereka.


"Nama yang cantik. Nadira dan Danira." Ucap Adelia saat melihat suster menempelkan kertas pada masing-masing box bayi tempat keponakannya berada.


"Florens dan Agata juga cantik." Ucap Gerald menimpali sambil melihat dua bayi cantik yang sedang di siapkan di dalam ruangan.


Setelah beberapa saat kedua suster yang bertugas itu keluar dari dalam ruangan, lalu melangkah menuju ruang kerja mereka.


Melihat dua bayi mungil itu kembali anteng di atas tempat tidur masing-masing, Adelia mengajak sang suami untuk kembali ke ruangan Yana. Yah, sejak keluar dari ruang operasi, ia belum sempat berbicara dengan kakak iparnya itu.


"Aku pengen bayi kembar juga." Rengek Adelia sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Ga apa-apa satu dulu, nanti kita bikin lagi." Jawab Gerald.

__ADS_1


****


Setelah kepergian Adelia dan Gerald, dua suster yang keluar dari ruangan tadi kembali berbalik dan masuk ke dalam ruangan.


"Apa kita akan aman setelah ini ?" Tanya suster yang satunya.


"Mereka berdua tadi sudah menyaksikan kita keluar dari dalam ruangan ini, jadi itu bisa kita gunakan sebagai alibi nanti." Jawab yang satunya lagi berusaha meyakinkan.


"Satu aja, yang satu biarlah di sini. Toh yang membayar kita tidak tahu jika bayinya kembar."


Suster yang hendak membawa bayi Nadira kembali meletakkan bayi itu kembali ke tempatnya, dan hanya membawa Danira keluar dari dalam ruangan itu lalu melangkah cepat keluar dari rumah sakit.


Terlalu di buta kan dengan uang yang di janjikan oleh lelaki paruh baya yang tidak mereka kenal, membuat keduanya melupakan jika terdapat banyak CCTV di setiap sudut rumah sakit.


Saat sudah sampai di tempat yang di janjikan, kedua suster itu terkejut saat mendapati seorang laki yang berada di balik kemudi, bukan wanita seperti yang di bicarakan dengan lelaki paruh baya yang memberi perintah terhadap mereka.


"Itu anak saya, berikan padaku bayi itu dan kalian kembalilah ke dalam." Perintah Lina.


Suster yang memeluk Danira, lantas menyerahkan bayi mungil itu kepada wanita paruh baya yang ternyata berada di kursi penumpang bagian belakang.


Reno segera melajukan mobil milik sang Mama, lalu meninggalkan area itu dengan cepat.


"Seperti yang sudah kita rencanakan, Mama foto bayinya sekarang dan kita akan berpisah di sini. Aku yang akan membawa bayi Yana menuju panti asuhan yang sudah Mama pilih itu." Ujar Reno setelah meninggalkan tempat itu, dan berhenti di samping mobilnya.


"Ren, jika saja ini adalah putri kalian berdua, Mama pasti akan sangat bahagia saat ini." Lirih Lina


Reno menoleh, menatap wajah sang Mama yang mulai di basahi air mata.


"Mama benar-benar menyesal sekarang." Ucap Lina lagi. "Kita boleh merawatnya Ren, dia kan anak dari wanita yang kamu cintai." Lina mengusap lembut pipi bayi yang ada di atas pangkuannya.


"Jangan aneh-aneh Ma, lakukan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan." Kesal Reno.


"Baiklah, kamu pindah ke mobil kamu." Lina memotret bayi mungil it yang ada di atas pangkuannya, lalu mengecup pipi yang masih memerah itu berulang kali sebelum menyerahkan pada putranya.


"Maafkan Mama yang sudah menghancurkan seluruh kebahagiaan kamu ya Nak." Ucapnya lagi sebelum akhirnya Reno keluar dari dalam mobil itu, dan pindah ke mobil lain yang sudah tersedia di sana bersama bayi mungil di dalam pelukan.

__ADS_1


__ADS_2