
Yana kembali mengitari kamar mewah yang sudah di dekorasi dengan sangat indah itu dengan pandangannya. Pernikahan yang di impikan oleh banyak orang, begitulah yang ada di pikirannya saat ini. Kini ia tahu bagaimana rasanya saat tidak berharap, tapi Allah memberikan yang terindah. Dadanya begitu membuncah hari ini, ucapan penuh rasa syukur masih terus ia gumam kan di dalam hatinya.
Dengan hati yang masih di selimut bahagia, Yana kembali menatap tubuhnya di cermin lebar yang ada di dalam kamar hotel itu. Kebaya putih dengan harga fantastis sudah melekat sempurna, dan terlihat begitu indah di tubuhnya. Rambut panjang yang di sanggul modern, di tambah untaian melati yang menjuntai indah semakin menambah kecantikannya. Make up tipis semakin membuatnya terlihat begitu menawan.
"Ini sudah sangat cantik, tapi sayang jika mutiara ini tidak di pakai. Ini di minta langsung oleh calon suami Mbak loh." Ujar penata rias lalu mulai memberikan sentuhan terakhir di rambut Yana.
Saat sibuk memberikan sentuhan terakhirnya di kepala Yana, ketukan di pintu kamar disertai suara yang mengatakan adalah office boy hotel, membuat MUA itu menghentikan aktivitasnya.
"Saya cek dulu ya Mbak." Izin lelaki namun terlihat cantik itu, dan diangguki oleh Yana.
"Mungkin kamu salah kamar. Kamar ini sudah bersih dan tidak lagi membutuhkan jasa pembersihan."
"Saya mengenal pengantin wanita dan ingin bertemu sebentar saja."
"Mbak katanya si tampan ini mengenal mu." Lelaki gemoy itu membuka lebar pintu kamar, dan Yana membalik tubuhnya untuk melihat siapa gerangan yang datang melihatnya se pagi ini, karena ia memang tidak memiliki sahabat dekat.
Kejutan pertama yang menyambut hari pernikahannya. Yana tetap duduk dengan tenang di kursinya, ia menunggu apa yang ingin di lakukan mantan suaminya hingga memberanikan diri datang dan menemuinya di sini.
"Saya tinggal sebentar ya Mbak.." Pamit penata rias itu.
"Kamu tetap di sana, jangan bergerak selangkah pun dari pintu kamar pengantin ku." Ujar Yana cepat.
"Iya tetaplah di tempatmu." Ucap Reno masih berdiri diam di tempatnya dengan dada yang terasa terhimpit sakit. "Aku hanya datang mengucapakan do'a semoga kamu bahagia, dan tidak lagi merasakan..." Kalimat nya terhenti, ia menatap wajah cantik Yana dengan sorot mata penuh penyesalan.
Yana tidak menimpali, ia masih tetap diam di tempatnya.
"Aku sangat mencintaimu Yana, entah itu dulu ataupun sekarang perasaan ini masih sama. Dan tentu saja aku ikut bahagia melihat mu bahagia." Ujar Reno lagi.
"Terimakasih, semoga kamu juga bahagia. Maaf aku tidak bisa berlama-lama...." Kalimat Yana terhenti.
__ADS_1
"Aku mengerti, sekali lagi maafkan kebodohan ku, dan semoga kamu bahagia Zyana. Tidak, bukan semoga tapi kamu harus bahagia agar aku bisa benar-benar ikhlas melepas mu." Sela Reno cepat. "Kalau begitu aku pergi, selamat atas pernikahanmu." Sambungnya lalu melangkah meninggalkan pintu kamar yang tidak bisa ia masuki, dan menjauh dari sana.
Setelah kepergian Reno, Yana kembali membalik tubuhnya dan menatap cermin yang ada di kamar itu. Bohong jika ia tidak sedih melihat manik Reno yang berembun. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengukir kenangan, dan selama tujuh tahun itu tidak pernah sekalipun lelaki itu memperlakukan dirinya dengan buruk.
Ia memang tidak hidup mewah bersama Reno, tapi semuanya terasa cukup baginya. Tidak mengenakkan pakaian brand karena harus membantu suaminya untuk menghidupi sang Mama mertua bukanlah masalah baginya. Perlakuan baik Reno dan cinta yang di persembahkan oleh lelaki itu, baginya sudah lebih dari cukup. Tapi takdir kembali menamparnya, bahwa melangkah tanpa restu dari orang tua, memanglah bukan hal yang baik. Jika saja wanita yang pernah ia panggil dengan sebutan Mama itu mengatakan tidak mau menerimanya, mungkin pernikahannya dengan Reno tidak akan pernah terjadi.
Sudahlah, semua memang sudah menjadi garis tangan yang maha kuasa. Anggap saja kejadian di masa lalu adalah sebuah pelajaran. Bukankah guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman. Anggap saja sebagai pelajaran agar bisa lebih baik menata kehidupan berikutnya.
"Tutup pintunya, dan lanjutkan pekerjaanmu." Perintahnya pada sang penata rias. Ia lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Lupakan, kesedihan yang ia rasakan beberapa bulan yang lalu harus di lupakan.
Lelaki kekar namun berhati hello Kitty itu kembali menutup pintu kamar, lalu melangkah mendekati Yana dan melanjutkan pekerjaannya.
"Beruntung banget sih hidup mu di cintai tiga pria tampan." Ujar lelaki berwajah wanita itu.
Yana hanya tersenyum menanggapi ocehan penata riasnya. Jangan bangga, karena sejatinya tidak ada kehidupan yang hanya ada bahagia di dalamnya. Orang yang terlihat beruntung dan terus tersenyum, bukan berarti dia tidak pernah merasakan kesedihan.
Air mata yang ia keluarkan sebelum mencapai tawa bahagia hari ini, tidaklah sedikit. Namun, dari situlah ia belajar banyak hal tentang menjalani hidup.
Yana membalik tubuhnya, lalu mengangguk.
"Cantik banget sih mantu aku." Ujar Farah.
Yana hanya tersenyum, lalu mengikuti langkah dua wanita hebat keluar dari dalam kamar menuju ballroom hotel. Saat memasuki ruangan yang terlihat indah namun masih sepi itu, tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan cepat. Apalagi saat tatapannya tertuju pada laki-laki yang kini menatapnya dengan lekat.
Tatapan Yana kembali beralih, ia melihat ruangan indah namun masih sepi untuk mengurangi kegugupan. Hanya ada beberapa orang yang ikut hadir menyaksikan akad nikah mereka siang ini, yang ia tahu adalah kerabat dari Alfaraz. Waktu pernikahan yang begitu singkat, membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk mengenal keluarga Alfaraz lebih jauh.
Zia dan Alard serta anak dan cucu mereka si kecil Riana, juga Rehan dan Diana serata putri semat wayang mereka Liana ikut menjadi saksi pernikahan kedua Alfaraz. Saat yang pertama mereka tidak bisa ikut hadir, karena keponakan mereka ini memang menikah tanpa sepengetahuan.
Yana duduk dengan hati-hati di samping Alfaraz. Ia tersenyum geli melihat tangan Alfaraz yang bergetar.
__ADS_1
"Takut ya." Bisiknya jail di telinga Alfaraz.
Alfaraz mendengus kesal, bahkan di situasi seperti ini Yana masih sempat-sempat menjaili nya..
"Bagaiman, sudah siap Nak Alfaraz ?" Tanya petugas yang akan menikahkan mereka hari ini.
Alfaraz mengangguk, lalu mengulurkan tangannya pertanda ia siap memulai acara sakral hari ini.
Kalimat ijab yang di lafadzkan wali nikah, terdengar jelas di dalam ruangan mewah itu, dan langsung di sambut Alfaraz dengan kalimat yang sudah ia hafal di luar kepalanya. Kalimat singkat namun memiliki arti yang sangat panjang itu berhasil ia ucapakan dengan satu tarikan nafasnya.
Yah siang ini, di saksikan keluarga dekat ia berjanji tidak hanya pada dirinya sendiri tapi juga berjanji kepada Allah bawa mulai hari ini ia akan menjaga Yana dengan baik. Menerima segala kurang dan lebihnya seorang Yana. Entah bagaimana dengan Yana, ia tidak tahu. Karena hati manusia tidak ada yang bisa mengukurnya.
Namun, yang pasti saat pertama kali ia meminta Yana untuk menjadi istrinya, ia memang berniat bersungguh-sungguh melakukannya.
Kata sah lalu di ikuti Alhamdulillah dari orang-orang yang menjadi saksi pernikahan sudah terdengar, dan tanpa di minta satu tetes cairan bening meluncur begitu saja dari pupuk mata Yana. Bukan tidak bahagia, tapi ia masih tidak percaya keisengannya menerima tawaran Alfaraz beberapa bulan yang lalu mampu membuatnya semembuncah ini.
Tangan yang entah mulai kapan ia harapkan sentuhan nya kini terulur ke arahnya. Yana meraih tangan Alfaraz, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Kecupan di kening, terasa sampai ke relung hati terdalamnya. Yana menutup mata, menikmati gelenyar aneh yang semakin terasa di dalam hatinya.
Alfaraz mengusap lembut sudut mata Yana yang terlihat berair, lalu menyematkan cincin emas yang pernah di kenakan oleh wanita yang sama berharganya dengan sang Bunda di jari manis Yana.
"Pas banget.." Ucapnya.
"Cantik, aku suka." Jawab Yana.
"Orang yang pernah mengenakkan ini juga sangat cantik seperti kamu." Ujar Alfaraz.
"Aku akan menceritakannya nanti, kita masih harus menandatangani ini, biar pernikahan kita resmi." Sambungnya saat melihat wajah penuh tanya dari wajah istrinya.
Yana tertawa lucu, kemudian mengangguk.
__ADS_1
Keduanya lantas mengikuti arahan petugas dari kantor urusan agama untuk meneyelesaikan segala administrasi pernikahan mereka.