Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 45


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel, Rita baru saja terjaga dari lelapnya, tubuhnya terasa remuk. Sudah dua hari ini ia terkurung di dalam kamar hotel ini untuk melayani syahwat seorang lelaki paruh baya.


"Sekali lagi, setelah itu pergilah." Perintah lelaki tua itu.


"Nggak, aku sudah lelah." Jawab Rita menolak.


Sungguh tubuhnya sudah remuk, bahkan memar nampak tercetak jelas di beberapa bagian tubuhnya.


Tidak mau menanggapi penolakan Rita, lelaki tua yang hanya mengenakkan bathrobe itu kembali melangkah mendekati ranjang, lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos Rita, dan kembali menggerayangi tubuh yang lemas itu sepuasnya.


"Kamu tahu berapa nilai tender yang aku korbankan malam itu ?" Tanya lelaki paruh baya itu di sela-sela nafasnya yang menderu. Ia terus memacu cepat, agar bisa sampai ke puncak yang sudah dua hari ini nikmati.


"Hentikan, ku mohon." Ujar Rita memohon.


Namun, lelaki paruh baya itu tidak mengindahkan permohonan Rita, dan terus melanjutkan aktivitas menyenangkan itu sesuka hatinya.


Setelah merasa puas, barulah lelaki tua itu berhenti, dan membiarkan Rita kembali tekapar lemas di atas ranjang.


"Setelah ini pastikan kamu berhasil menggodanya, jika tidak maka tanggung lah akibatnya. Pastikan tender itu kembali ke tanganku." Ancam lelaki itu lagi.


Rita menutup matanya, setetes cairan bening meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Entah sejak kapan ia merasa jatuh cinta hingga sampai terobsesi seperti ini terhdap lelaki yang di kenalkan oleh tantenya itu.


Zidan, tidak masalah ia akan menjadi wanita yang kesekian asalkan ia bisa hidup bersama lelaki itu.


Dengan langkah tertatih, Rita turun dari ranjang yang tidak lagi berbentuk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan dirinya dari jejak-jejak lelaki tua itu, agar tidak menempel lagi di tubuhnya.


"Sialan." Makinya kesal. Air shower mengucur dari pancuran, lalu membasahi tubuh Rita yang sudah terdapat banyak memar di kulit mulusnya.


Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Rita tidak lagi mendapati lelaki tua itu di dalam kamar hotel tersebut. Ia bergegas mengenakkan pakaian yang sudah dua hari ini di biarkan berhamburan di atas lantai.


"Dasar maniak." Umpatnya lagi sembari mengenakkan satu per satu pakaian pada tubuhnya.

__ADS_1


Rita menatap dirinya di depan cermin. Bagian bawah mata yang menghitam, wajahnya pucat seperti mayat juga beberapa memar di lengannya yang tidak tertutupi.


Rencana yang telah ia susun berantakan, karena Zidan yang bergegas pulang malam itu. Jika ia berhasil membawa Zidan dan menghabiskan malam dengannya, mungkin kejadian di hari ini tidak akan menimpanya.


"Sialan." Teriak Rita. Ia menatap wajahnya yang begitu mengenaskan di depan cermin. Jika saja ia memiliki sesuatu yang bis di gunakan untuk membunuh lelaki tua itu, sudah bisa di pastikan jika lelaki gila itu tidak akan pernah lagi melihat dunia hari ini.


Rita membongkar isi tasnya, mencari barang-barang yang bisa menutupi wajah mengenaskan nya ini.


Ini hari terakhir ia berada di Jakarta, dan besok harus kembali ke Bandung. Untuk itu ia memutuskan untuk mengumpulkan keberaniannya mendatangi perusahan Zidan.


Selesai mengoleskan berbagai produk kecantikan di wajahnya, Rita keluar dari kamar hotel tersebut. Wanita yang sudah menghancurkan dirinya sendiri itu tidak menyadari, jika keluarga Zidan bukanlah keluarga yang bisa di pandang remeh.


Dimas, laki-laki yang tidak lagi mudah itu memiliki koneksi di mana-mana untuk memastikan keluarganya baik-baik saja.


Rita melangkah keluar dari dalam kamar hotel, tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menemui Zidan. Jika masih belum mendapat kan laki-laki itu setelah semua yang telah ia lakukan, maka habislah hidupnya.


"Lepaskan aku." Teriak Rita saat seseorang menariknya masuk ke dalam sebuah kamar hotel.


Tatapannya tertuju pada laki-laki yang terlihat sedang menatapnya tajam.


"Om ?" Gumam Rita.


"Kita tidak sedekat itu, hingga kamu begitu lancang memanggilku dengan sebutan Om." Sinis Dimas.


Ia menatap tajam gadis mudah yang sudah berani mengusik ketentraman keluarga kecil putranya ini.


"Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ini membuat menantuku pergi ?" Bentak Dimas.


Namun, Rita hanya tersenyum menanggapi bentakan Dimas. Bukan karena bentakkan yang membuat ia tersenyum, namun, kabar Farah meninggalkan Zidan sedikit membuat ia senang, itu berati usahanya tidak berakhir sia-sia.


"Jika yang lama sudah pergi, bukankah memang sudah waktunya untuk di ganti dengan yang baru." Ujarnya.

__ADS_1


Dimas terkekeh, ia menatap remeh gadis yang terlihat begitu anagkuh di hadapannya.


"Kamu sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan Farah." Ujarnya. "Seribu dirimu tidak akan mampu menggantikan satu menantuku." Sambung Dimas lagi.


Rita terkekeh mendengar hinaan yang keluar dari bibir laki-laki paruh baya di hadapannya.


"Aku tidak tahu jika calon Ayah mertuaku ternyata memiliki sisi iblis juga. Selama ini kenapa diam saja saat Tante Nina terus menghinamu ?" Tanya Rita acuh.


Dimas menatap tidak percaya pada gadis mudah di hadapannya. Bagaimana bisa, gadis semudah ini sama sekali tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua.


Bahkan, tidak sedikit pun terlihat takut, dengan apa yang sedang di hadapinya saat ini.


"Kamu pikir Putraku akan mau dengan gadis seperti dirimu ?" Ucap Dimas.


"Ah jadi sekarang Zidan adalah putra mu ya ? Apa jangan memang benar-benar putramu ?" Tanya Rita sembari terkekeh.


Dimas menggeram kesal, jika tidak cepat di selesaikan sekarang, bisa di pastikan darah tingginya pasti akan kambuh di dalam kamar hotel ini. Tidak lucu rasanya jika Anisa mendapati dirinya pingsan di kamar hotel dengan seorang wanita mudah.


"Bawakan laptop itu." Perintahnya pada laki-laki yang menarik Rita masuk ke dalam kamar. "Perlihatkan padanya." Perintahnya lagi.


Adegan demi adegan mulai terlihat di layar laptop itu, Rita tidak lagi memikirkan apapun, dan langsung mengambil benda lipat itu dan membntingnya ke atas lantai kamar hotel.


Dimas tertawa melihat ketakutan yang terlihat jelas di wajah Rita. Sejak tadi gadis ini terus bersikap angkuh, merasa diri paling benar.


"Aku bisa membeli seribu laptop. Oh iya, aku sudah menyimpan banyak salinan. Kamu pikir pebisnis akan semudah itu melepaskan tangakapannya ?" Ejek Dimas.


"Lelaki tua ini merekam semua yang terjadi di kamar kalian selama dua hari, agar bisa menggunakan kamu kapan saja untuk melancarkan semua niat busuknya." Ujar Dimas.


Wajah Rita sudah terlihat pucat pasih, bahkan kini ia sudah terduduk lemas di atas lantai.


"Tidak banyak yang aku minta, jangan mengusik kehidupan putraku lagi, maka rahasiamu akan aman bersamaku." Sambung Dimas.

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu melangkah keluar dari dalam kamar hotel, meninggalkan dua orang yang ada di dalam kamar itu tanpa menoleh lagi.


__ADS_2