
Mobil mewah milik Azam terus melaju di jalanan Jakarta. Laki-laki yang menjadi anak tertua arion dan Danira itu, terus saja bergumam kesal karena kekacauan yang di ciptakan oleh salah satu pegawainya di lingkungan perusahaan. Bukan karena kekacauan itu yang membuatnya marah, tetapi yang membuatnya kesal kekacauan ini terjadi tepat di hari penting adiknya.
Karena kecepatan mobil, juga jalanan yang sedikit lenggang membuat Azam tidak harus berlama-lama di jalanan. Setelah memarkiran mobilnya dengan aman di depan rumah sakit, laki-laki itu bergegas keluar dari dalam mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Beberapa buruh pekerja proyek, menundukkan kepala mereka saat melihat pemilik perusahaan datang langsung untuk menemui atasan mereka di rumah sakit. Di sana juga sudah terdapat salah satu pengacara yang menjadi bagian dari team kuasa hukum di perusahannya.
"Apa beliau belum sadarkan diri ?" Tanya Azam sambil melirik laki-laki paruh baya yang masih menutup mata di atas ranjang.
"Sudah, tapi mungkin beliau masih ingin beristirahat." Lelaki yang sedang mengenakan setelan formal itu menghentikan kalimatnya sebentar. "Dokter membutuhkan wali, karena ada pembekuan darah dan harus segera di lakukan pembedahan. Tidak ada luka dari kecelakaan kerja, hanya memang beliau memiliki penyakit yang mungkin belum di ketahui keluarganya." Sambung laki-laki itu lagi.
"Kamu tidak menghubungi keluarganya ?" Tanya Azam lagi.
"Sudah pak, masih dalam perjalanan." Jawab laki-laki yang bertugas sebagai pengacara di perusahaan Azam.
Azam mengangguk mengerti. Meskipun hatinya masih sedikit kesal dengan kejadian hari ini, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak berniat menambah masalah.
"Selesaikan semua administrasi rumah sakit." Perintah Azam lalu bersiap meninggalkan ruangan tempat di mana lelaki paruh baya itu sedang di rawat.
Baru saja hendak melangkah, ia kembali berhenti saat melihat gadis yang sedang melangkah cepat memasuki ruangan.
"Saya putrinya Pak." Ucap gadis yang masih terlihat begitu muda itu pada Azam.
Azam menoleh pada pengacaranya.
"Tiara ?" Tanya pengacara tersebut. Namun, gadis yang sedang berdiri di depan Azam menggeleng.
__ADS_1
"Kakak saya sedang berada di luar kota, ada pekerjaan Pak." Jawab gadis itu sopan lalu melangkah menuju ranjang di mana Ayahnya sedang terbaring.
"Urus semuanya." Perintah Azam lagi.
Pengacara perusahaan itu mengangguk mengerti.
Sebelum keluar dari ruang perawatan itu, Azam kembali melirik gadis yang sedang duduk di samping ranjang pasien sambil menggenggam tangan pasien tersebut.
"Pak..." Suara serak dari laki-laki paruh baya yang ada di atas ranjang pasien kembali menahan langkah kaki Azam.
"Maafkan saya. Maaf atas kesalahan saya hari ini." Ucap laki-laki paruh baya itu, memohon.
"Tdak perlu membuang banyak uang untuk perawatan saya, tapi saya ingin meminta uang itu untuk biaya sekolah putri saya, karena setelah sembuh saya tidak akan bisa lagi bekerja."
"Ayah kan sudah bilang, kamu fokus kuliah aja, ga usah kerja."
Azam menarik nafasnya dalam-dalam. Kesal ? Yah dia sangat kesal harus menjadi penonton drama keluarga seperti ini. Ia sudah berusaha untuk melupakan kejadian hari ini,dan bersedia membayar seluruh biaya pengobatan, tapi lelaki paruh baya yang sedang sekarat ini sengaja membuat keadaan semakin runyam.
"Urus saja semuanya. Turuti apa yang beliau inginkan, saya harus kembali ke rumah karena hari ini hari pernikahan adik saya." Ujar Azam pada pengacaranya.
Laki-laki paruh baya yang sedang terbaring di atas ranjang segera bangkit, dan dengan cepat turun dari atas ranjang tempat ia terbaring. Beberapa saat kemudian, lelaki yang sudah mengenakan piyama rumah sakit itu, bersimpuh di hadapan Azam yang hendak keluar dari dalam ruangan perawatannya.
"Nikahi putri saya, Tiara Pak." Pinta lelaki itu memohon.
Azam memijit kepalanya yang terasa meledak.
__ADS_1
"Sejak tadi saya sudah menahan diri sekuat tenaga Pak. Saya menghargai kinerja Bapak di perusahaan, tapi jangan seperti ini. Jangan menggunakan keadaan Bapak untuk menyeret orang lain dalam masalah." Ujar Azam pelan. Sungguh, jangankan orang lain, Ayahnya saja tidak pernah sekalipun membahas hal seperti ini dengannya.
"Putri saya Tiara gadis yang baik dan mandiri Pak. Tolong, hanya dengan ini saya bisa tenang meninggalkan mereka berdua." Mohon lelaki itu lagi. "Dia seorang reporter yang baik dan cantik." Sambungnya masih terus bersimpuh di kaki Azam.
Azam melirik gadis muda yang sedang tertunduk dalam di samping ranjang pasien. Setelah beberapa saat berusaha menenangkan kekesalan yang semakin meliputi hatinya, Azam perlahan ikut berjongkok di atas lantai ruangan.
"Apa kedua putri Bapak sudah mengetahui perihal penyakit yang sedang Bapak derita ?" Tanya Azam pelan.
Laki-laki paruh baya itu tertunduk, ia merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan saat ini. Tapi hanya ini yang bisa ia lakukan untuk kedua putrinya. Azam terkenal orang yang paling dermawan dikalangan para pengusaha, dan akan sangat beruntung jika Tiara, putri sulungnya bisa menjadi bagaian dari hidup laki-laki baik ini.
"Bapak kamu tidak mengalami kecelakaan kerja.Beliau memang sedang mengidap penyakit, entah apa saya pun tidak tahu. Nanti bisa kamu tanyakan langsung pada dokter yang bertanggung jawab. Kamu tenang saja, perusahaan akan menanggung seluruh biaya pengobatan Ayahmu." Azam sudah berdiri dan menatap gadis yang masih terdiam di samping ranjang pasien. "Saya sudah mengerti dengan keadaan, tapi saya mohon mengertilah dengan keadaan saya juga." Sambungnya.
Gadis yang masih tertunduk dalam itu mengangguk.
"Trias.." Aidar melangkah cepat memasuki ruangan. Azam terkejut, tapi masih diam seribu bahasa saat melihat adiknya menerobos masuk dengan nafas terengah-engah dan langsung memeluk gadis yang sedang tertunduk dalam di samping ranjang pasien.
Aidar belum menyadari jika Azam juga berada di dalam ruangan itu, sedangkan gadis yang bernama Trias itu sudah terisak dalam pelukan Aidar.
"Mbak Tia ke Jogja Mas, penyakit Ayah kambuh." Lirihnya.
Aidar mengusap pelan punggung yang di tutupi rambut panjang itu dengan pelan.
Setelah berhasil menenangkan Trias, Aidar berniat membantu laki-laki paruh baya yang masih bersimpuh di atas lantai untuk bangun dan beristirahat di atas ranjang. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati sang Abang juga sedang berada di dalam ruangan itu.
Azam pun seakan mengerti dan tidak berniat menegur adiknya. Ia tahu bagaimana kepribadian Aidar, dan mungkin gadis dan lelaki paruh baya yang ada di dalam ruangan ini tidak mengetahui jika ia dan Aidar memiliki hubungan saudara.
__ADS_1