
di sebuah rumah minimalis namun mewah, sepasang suami istri sedang menikmati malam mereka sambil membicarakan kejadian yang terjadi hari ini. Bercerita banyak hal, sambil berpelukan di atas ranjang sudah menjadi rutinitas keduanya sebelum terlelap dalam mimpi indah yang panjang.
Danira masih terus membahas mengenai kejadian hari ini, sedangkan Arion dengan setia mendengarkan cerita menggelikan itu dengan bibir yang terus tersenyum.
Lelah seharian bekerja, langsung lenyap seketika hanya karena mendengar cerita lucu dari istrinya. Bagaimana nanti jika bayi mungil yang selalu ia nantikan kehadirannya sudah lahir ? Ah, baru membayangkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia.
"Ada apa ? Kenapa tiba-tiba mencium kepalaku ?" Tanya Nira sambil mendongak menatap wajah tampan yang juga sedang menatapnya hangat penuh cinta.
"Nggak tiba-tiba kok, dari tadi aku terus melakukannya." Jawab Arion. "Mau Baby moon gak ? Aku punya destinasi wisata yang harus kita coba." Sambungnya masih terus menatap wajah Danira.
"Ngga deh nanti aja tunggu baby nya lahir, kita liburan bertiga. Gimana ?" Ujar Danira memberi usul, dan langsung di setujui oleh Arion.
"Bertiga ?" Tanya Arion memastikan.
"Iya beberapa bulan lagi kita akan menjadi bertiga. Terus berempat dan selanjutnya. Aku mau punya banyak anak." Jawan Danira antusias, membuat laki-laki tampan yang masih memeluk tubuhnya semakin tersenyum lebar.
Arion kembali mencium puncak kepala Danira berulang kali. Bahagia dan tidak percaya, itulah yang ia rasakan saat ini. Sungguh ia tidak menduga sebentar lagi ia akan memiliki malaikat kecil dalam hidupnya. Terlebih beberapa saat lalu Danira mengatakan ingin memiliki banyak anak. Keputusan yang sangat ia nantikan, terdengar dari bibir Danira, dan yang lebih membuatnya bahagia, ketika melihat binar di wajah istrinya saat mengucapkan kalimat itu.
"Mau jenguk anak kamu ga ? Selama dia hadir kamu belum pernah di jengukin sama kamu." Ucap Danira lagi dengan wajah mesumnya.
Arion terbahak mendengar kalimat kesukaannya itu.
"Ga, nanti aja kalau anak aku udah lahir." Tolaknya. Sungguh, sebanyak apapun keinginannya untuk memiliki tubuh istrinya di atas ranjang, selagi itu akan membahayakan calon bayinya, tidak akan pernah ia lakukan. Terlebih mendengar cerita Danira beberapa saat yang lalu mengenai Aira. Ah, ingin rasanya ia ikut memukul kepala adik iparnya yang nakal itu.
"Kata Dokter janinnya sudah kuat kok." Danira masih mencari keberuntungan.
"Nanti aja. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa." Arion semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya. Hanya membayangkan sesuatu yang tidak baik terjadi pada Danira, sudah membuatnya takut. "Akan ada banyak waktu untuk kita nanti. Kamu akan menghabiskan sisa waktu mu di dunia bersamaku. Kamar ini akan selalu ada untuk kita, jadi aku tidak ingin mengambil resiko, sebelum memastikan kamu dan calon bayi kita benar-benar baik-baik saja." Jelasnya.
__ADS_1
"Kamu ga jajan di luar kan ?" Tanya Danira penuh curiga. "Ini sudah hampir tiga bulan loh." Danira menatap suaminya penuh curiga.
Arion tertawa geli, lalu mencium bibir nakal itu dengan gemasnya.
"Tidur !" Perintahnya setelah ciuman panjang berakhir.
Danira tidak lagi melanjutkan rengekannya untuk meminta Arion menjenguk calon bayi mereka, dan memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Seutas senyum terlihat di bibir
****
Berbeda dengan Danira yang akhirnya mengalah karena Arion tetap berikukuh tidak mau menjenguk calon bayi mereka demi keselamatan, Dira justru harus bisa memasang wajah garangnya karena Arga terus saja merengek memintanya untuk melakukan ritual menjenguk bayi di malam hari.
"Kamu dengar ga sih apa yang aku ceritakan. Aira pingsan gara-gara kemesuman Abizar, dan kamu malah mengeluarkan kemesuman kamu itu." Omel Dira. Wanita yang sudah hamil tua itu menatap tajam laki-laki yang terus merengek dengan tampang mesum di atas ranjang mereka.
"Itu kan Abizar terus menerus tanpa henti, nah aku udah lama banget loh ini." Bujuk Arga.
Beberapa saat kemudian, Dira kembali berbaring di atas ranjang. Sejujurnya ia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Arga. Namun, ada banyak hal yang harus ia jaga sebelum bayinya benar-benar lahir dengan selamat ke dunia. Tidak perduli dirinya akan seperti apa nanti, yang jelas ia ingin membawa bayi mungil yang kini menumpang kehidupan di dalam tubuhnya, berhasil melihat dunia ini dengan selamat.
"Tidur sambil peluk aku aja, gimana ?" Tawarnya kemudian sambil menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Arga.
Arga mengangguk, lalu mengecup kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tapi aku kangen." Ucapnya lagi, membuat Dira tertawa geli.
"Dasar mesum." Ujar Dira. "Bersabarlah sedikit lagi, ini tidak akan lama, hanya tersisa waktu kurang dari dua bulan." Sambungnya.
"Masih lama sayang." jawab Arga.
__ADS_1
Dira tertawa lucu, namun tidak lagi menanggapi ajakan suaminya itu. Ia hanya menikmati pelukan hangat di tubuhnya, dengan perasaan yang campur aduk.
"Aku mencintai mu." Ucap Dira.
"Ya udah ayo buktikan cinta kamu itu." Arga masih terus mencari celah agar malam ini bisa menjenguk calon bayinya.
"Ngga jadi deh, aku bakar kata-kata ku tadi."
"Sayang...
"Ga, tidak untuk malam ini." Sela Dira cepat. "Aku takut nanti fatal akibatnya." Sambungnya pelan, namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Arga.
"Fatal gimana ?" Tanya Arga. Laki-laki itu berusaha menarik tubuh istrinya agar sedikit menjauh dari tubuhnya, akan tetapi Dira terus saja menenggelamkan wajah di dada bidangnya.
"Sayang.." Panggil Arga.
"Perut ku sering keram Ga, aku ga bisa paksain takutnya nanti berimbas ke bayinya." Jawab Dira.
"Ya udah maafkan aku." Arga tidak lagi membahas lebih lanjut. Mungkin ada hal yang masih belum berani di ungkapkan oleh Dira, mengingat istrinya ini lebih sering memendam sesuatu dalam hati. Biarlah, nanti jika punya kesempatan mereka akan membahasnya.
Arga semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Dira. kecupan berulang kali terus saja ia hujam kan di puncak kepala istrinya itu. Beberapa saat kemudian, dengkuran halus mulai terdengar, dan dengan perlahan Arga melepaskan pelukannya di tubuh Dira, lalu membantu istrinya itu agar tertidur lebih nayaman di atas ranjang mereka.
Entah berapa lama waktu yang ia habiskan di atas ranjang, hanya untuk menatap wajah cantik yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Arga mengulurkan tangannya dan mulai menyentuh wajah cantik yang begitu damai itu, dengan hati-hati.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan padaku sayang ?" Gumamnya bertanya entah pada siapa.
Selang beberapa saat kemudian, Arga bangkit dari atas ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar yang sudah sejak kecil ia tempati itu, menuju lantai bawah kediaman kedua orang tuanya.
__ADS_1