
Danira menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Protes sang ibu yang terus saja memintanya untuk berhati-hati, ia abaikan. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya menuju halaman depan, karena utusan dari calon mertuanya sudah menunggu dirinya di pelataran rumah.
Senyum masih terus terlihat di bibir tipis Danira. Gadis cantik itu seakan memiliki banyak stok alasan yang selalu mampu membuat bibirnya melengkung indah di setiap harinya. Ah iya senyum adalah ibadah, jangan lupakan hal itu. Mungkin karena hal itu pula, ia selalu menampakkan senyum bahagia di bibirnya, walaupun terkadang keadaan tidak selalu berjalan baik seperti yang ia harapkan.
"Silahkan masuk Non." Ucap lelaki paruh baya usai membuka pintu mobil untuk calon menantu dari majikannya.
"Terimakasih Pak." Balas Nira ramah. "Kamu di sini juga ?" Mata Danira melotot saat melihat laki-laki tampan yang sedang duduk di dalam mobil sambil menatapnya hangat.
"Tentu saja. Aku ngga mungkin membiarkan calon istriku pergi sendirian, itu tandanya ngga gentleman." Jawab Arion ikut tersenyum.
"Selamat siang calon suami." Sapa Nira dengan senyum manis, usai mendengarkan kalimat jawaban dari bibir Arion. Ia lantas masuk ke dalam mobil, lalu duduk di samping calon suaminya.
Arion semakin tersenyum lebar. Danira jauh lebih menyenangkan, begitulah kata sang adik dan itu benar adanya. Beberapa menit ia terus memperhatikan wajah cantik calon istrinya dari samping, hingga mobil yang di kemudikan oleh sopir ayahnya mulai meninggalkan pelataran rumah mewah keluarga Prasetyo.
Mobil yang di kendarai sopir, terus melaju di jalanan Jakarta. Tidak ada yang bersuara, bahkan sifat supel yang di miliki Danira menghilang entah ke mana saat tatapan Arion terus saja tertuju padanya.
"Kenapa senyum-senyum ?" Tanya Danira. Alisnya bertaut, ia menatap heran wajah tampan yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Kamu cantik." Jawab Arion, sontak membuat laki-laki paruh baya yang ada di bangku depan tiba-tiba batuk, padahal tenggorokannya baik-baik saja.
"Kamu baru tahu ? Aku ini memang sudah cantik sejak lahir." Jawab Danira sambil menangkup kedua belah pipinya lalu mengedipkan matanya berulang kali.
"Cih..." Arion berdecih, namun senyum di bibir tipisnya makin mengembang kala mendapati sikap Danira yang tidak canggung dengan pujiannya. "Kamu mau resepsi pernikahan yang bagaimana ?" Tanya Arion kemudian.
Danira menggeleng.
"Cukup akad nikah di rumah aja." Jawabnya sambil memalingkan wajah, menatap kenderaan yang berlalu lalang di jalanan yang sama, di mana mobil mereka sedang bergerak.
"Aku punya banyak uang jika hanya untuk membuat sebuah pesta mewah untuk istriku." Ujar Arion masih menatap ke arah Danira. Namun, gadis itu masih diam seribu bahasa sambil menatap keluar jendela mobil.
"Aku tidak ingin semakin menjadi kakak yang tidak baik untuk adikku." Jawab Danira pelan. Ingatannya kembali melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Ia memutuskan hal seorang diri, tanpa bertanya pada Dira, pernikahan seperti apa yang di inginkan oleh adiknya itu.
"Egois ? itulah aku Arion. Aku membuat adikku menjalani pernikahan yang mungkin tidak ia inginkan." Ujar Nira lagi.
__ADS_1
"Maksud kamu ?" Tanya Arion.
"Okeh, sepertinya aku perlu jujur tentang siapa aku sebelum kita melangkah." Danira menatap Arion dengan lekat.
"Aku dan Dira tertarik pada laki-laki yang sama, tapi laki-laki itu hanya menginginkan Dira bukan aku." Sambungnya.
Arion masih diam, tanpa mengalihkan tatapannya dari manik milik Danira. Dia ingin mencari tahu, jika apa yang sedang di utarakan oleh calon istrinya ini benar-benar sebuah kejujuran.
"Dan aku memilih untuk melepaskan diri , dan membiarkan adikku berbahagia dengan laki-laki yang juga aku cintai. Tapi aksi ku itu salah, yah aku salah. Aku tidak tahu pernikahan seperti apa yang di impikan oleh adikku, dan dengan lancangnya aku merencanakan pernikahan untuknya." Ujar Danira masih terus menjelaskan keadaan rumit yang ia jalani selama beberapa terakhir. "Untuk itu aku pun ingin melakukan hal yang sama pada diriku sendiri. Jangan ada pesta meriah, agar aku pun bisa merasakan bagaimana rasanya jika menjalani pernikahan yang tidak sesuai dengan impianku." Sambung Danira sambil menatap penuh permohonan.
Arion tersenyum, ia mengangkat tangannya lalu menyentuh pipi Danira. Tingkah spontan Arion itu membuat Danira terkejut dan langsung memundurkan wajahnya agar tidak tersentuh tangan Arion.
"Belum halal Den." Celetuk laki-laki paruh baya yang masih terus berkonsentrasi dengan kemudi.
Wajah Danira memerah, ia menatap penuh rasa bersalah pada laki-laki seumuran sang Ayah di depan sana.
"Kamu sih, tangannya nakal banget. Pasti ga sabar kan pengen pengang-pegang aku." Tuduhnya sambil menunjuk ke arah Arion untuk mengalihkan suasana agar tidak canggung.
****
Di sebuah Bandara internasional di ibu kota, Ferri masih berdiri di tempatnya. Begitu pun dengan Evelyn. Gadis blasteran itu terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya meninggalkan terminal keberangkatan.
"Apa kali ini kamu memintaku menunggu ?" Tanya Ferri pada gadis yang terlihat ragu melangkah meninggalkan terminal keberangkatan di salah satu bandara yang ada di ibu kota tempat mereka berada.
"Jika kau memintamu menunggu, apa kamu akan melakukannya ?" Tanya Evelyn.
Feri menatap manik indah yang masih nampak penuh kesedihan itu dengan lekat, lalu mengangguk yakin.
Sebuah senyum samar terlihat di sudut bibir Evelyn.
"Aku tidak akan pergi lama. Kurang dari sebulan aku akan kembali lagi." Ujarnya. "Dan kali ini tidak akan pernah pergi lagi." Sambungnya yakin.
Feri mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap lembut pipi Evelyn.
__ADS_1
" Janji, setelah ini jangan pergi lagi. Jangan menjauh dari orang-orang yang sangat mencintaimu." Ujarnya.
Evelyn menghambur, dan memeluk tubuh Ferri dengan begitu erat.
"Maafkan aku. Aku sedih banget ga sempat minta maaf ke Mama karena sering aku tinggalkan sendirian di Jakarta."
"Sudah, tante pasti mengerti. Lakukan yang terbaik, kamu tahu kan aku ngga punya pekerjaan." Ucap Ferri sambil terkekeh.
"Aku ngga mau nikah sama pengangguran." Jawab Evelyn mash terus membenamkan wajahnya di dada bidang Ferri. Tolong jaga makam Mama ya. Pintanya lirih.
"Tentu, jangan khawatir." Jawab Ferri.
"Aku hanya punya kamu sekarang." Ucap Evelyn lagi.
Ferri tidak lagi berkata, tangan kokoh miliknya hanya semakin mendekap erat tubuh Evelyn.
"Sampaikan maaf ku juga pada sahabatmu karena sudah merusak rencana kalian."
"Dia gadis yang baik, jangan khawatir."
Evelyn masih terus bercerita sambil terbenam di dalam dekapan Feri. Semua maaf yang belum sempat terucap selama ini, ia utarakan sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang begitu ia rindukan.
"Aku harus pergi." Ucap Evelyn setelah puas menghirup wangi tubuh yang akan kembali ia rindukan sebulan ke depan.
Feri melepaskan tubuh Evelyn dengan perlahan. Kecupan penuh kasih sayang kembali ia darat kan di kening gadis yang ia cintai sejak lama. Lambaian tangannya terus mengiringi langkah kaki gadis yang kembali memberinya sebuah pengharapan.
*****
*Note Author
Hai kalian semua..
Maaf baru bisa hadir sekarang.. Mulai hari ini aku akan up seperti biasa ya.. Dua tau tiga Bab sehari, di tunggu aja 🥰🥰
__ADS_1