
"Hai Mia." Sapa Yana sembari meletakkan satu lembar kertas yang baru ia ambil dari HRD ke atas meja sekretaris pimpinan perusahaan.
"Eh Mbak Yana, tumben kesini. Ada perlu apa ?" Tanya gadis cantik berwajah teduh berbalut hijab itu sopan.
"Ini mau ketemu Dirut, beliau ada ?" Tanya Yana.
"Ada kok Mbak, tapi masih ada tamu. Keluarga beliau sedang berkunjung." Ujar gadis cantik itu.
"Oh begitu, saya tunggu di sana ngga apa-apa kan ?"
"Tentu Mbak, silahkan duduk."
Setelah mengucapkan terimakasih, Yana melangkah menuju kursi tunggu yang tidak jauh dari meja sekretaris, lalu duduk di sana sembari mengotak atik ponsel barunya.
Yana mulai menyalin satu persatu nomor rekan kerjanya dari grup chat dan menyimpan di dalam ponselnya yang terbaru. Alamat email dan segala hal yang di ketahui oleh laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami, ia perbaharui. Media sosial yang menyimpan banyak momen kebersamaan mereka, ia nonaktifkan.
Memilih memutuskan segala hal yang berhubungan dengan Reno, adalah salah satu cara yang di pilih Yana agar segera bisa move on dari laki-laki itu. Tidak mudah memang, namun, tidak ada yang tidak mungkin.
***
Di dalam ruangan, tiga orang dewasa sedang berbincang banyak hal. Termasuk tentang rencana masa depan Alfaraz.
"Mau Papa sediakan apartemen di dekat kantor ?" Tanya Zidan pada putranya.
"Tidak perlu Pa, Al lebih suka tinggal di rumah."
Farah tersenyum, tentu saja ia senang mendengar penolakan putranya. Ia ingin putra kesayangannya ini tetap berada di rumah bersamanya.
"Setelah ini Bunda mau kemana ?" Tanya Zidan pada istrinya.
"Mau jalan-jalan." Jawab Farah.
Zian berdecak, tapi senyum hangat masih belum pergi dari wajahnya.
"Papa senang kamu sudah mengambil keputusan yang bijak." Ujar Zidan. Lelaki tua itu menepuk bahu putranya dengan pelan.
"Terimakasih masih memberikan kesempatan untuk Al memperbaiki semuanya."
Zidan mengangguk, sementara Farah tersenyum lega.
__ADS_1
"Sudah ah, ayo temanin Bunda ke rumah Tante Diana." Ajak Farah.
Wanita cantik yang tidak termakan usia itu sudah berdiri dari sofa, dan menarik tangan putranya agar segera pergi dari ruangan itu.
"Hati-hati." Ujar Zidan.
Lelaki paruh baya itu ikut beranjak dari sofa dan mengantar dua orang berharga dalam hidupnya menuju pintu keluar.
"Hati-hati sayang." Ujar Zidan lagi sembari mengecup kepala istrinya yang tertutup hijab berulang kali.
"Ish, sudah dua kali loh Mas ngomong hati-hati." Ujar Farah membuat dua laki-laki tampan itu tertawa lucu.
"Kami pergi Pa." Pamit Alfaraz. Ia ikut mencium punggung tangan sang Papa seperti yang Bundanya lakukan.
Saat sudah berada di luar ruangan Farah tersenyum pada gadis yang sudah beberapa tahun ini menjadi sekretaris suaminya. Gadis itu pun tersenyum sambil menahan pintu ruangan pimpinannya agar tetap terbuka.
"Kami pamit Mia." Ujar Farah sembari melambaikan tangan pada sekretaris suaminya itu.
Alfaraz menatap sejenak karyawan sang Papa yang sedang duduk tidak jauh dari tempat mereka berada. Setelah mendengar ajakan sang Bunda, ia kembali mengalihkan tatapannya dari wanita yang sedang sibuk dengan benda pipih itu, lalu ikut melangkah bersama Bundanya menuju lift khusus direktur.
***
"Mbak Yana." Panggil Mia.
"Masuklah, tamu pak Dirut sudah pulang. Sebentar lagi pak Dirut ada agenda ketemu klien." Ujar Mia sembari melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh iya, terimakasih Mia." Ucap Yana lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Direktur tempatnya bekerja.
Gadis yang bernama Mia itu kembali menutup pintu ruangan setelah Yana masuk ke dalam.
"Permisi Pak." Ucap Yana hati-hati saat ia sudah berada di dalam ruangan mewah milik atasannya.
"Oh iya ada apa Yana ? Kata Mia kamu ingin bertemu dengan saya." Ujar Zidan sembari mempersilahkan pegawainya itu duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
"Saya ingin mengajukan cuti Pak." Ucap Yana. Ia mengulurkan selembar kertas yang ia bawa dari bagian HRD.
Zidan menatap wajah karyawan nya sejenak, lalu beralih pada satu lembar kertas yang ada di atas meja kerjanya.
"Kamu tidak akan berhentikan ?" Tanya Zidan.
__ADS_1
"Tentu saja tidak Pak, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Hanya saja ada sedikit masalah keluarga yang harus saya selesaikan segera, agar tidak mengganggu kinerja saya." Ujar Yana menjelaskan.
Zidan meraih kertas yang ada di atas meja kerjanya, lalu membubuhkan tanda tangan usai membacanya dengan seksama.
"Sejujurnya cuti dua Minggu ini sudah melebihi batas dari ketentuan yang di sediakan oleh perusahaan. Akan tetapi karena selama beberapa tahun bekerja, kamu belum pernah mengajukan izin cuti, maka saya akan menyetujuinya." Ujar Zidan. "Semoga secepatnya selesai, agar segera kembali bekerja dengan tenang." Sambungnya, lalu kembali menyerahkan lembaran yang sudah ia tanda tangani.
"Terimakasih atas pengertiannya Pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan." Izin Yana sopan.
Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk, lalu kembali fokus dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani di atas meja kerjanya.
Yana melangkah keluar dari ruangan mewah itu menuju lift. Sebelumnya ia pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada gadis cantik berhijab yang sedang fokus dengan layar komputer di meja kerja.
Yana turun menggunakan lift karyawan menuju lantai tempat ruangannya berada, sambil mencoba menghubungi pengacaranya.
"Assalamualaikum Mbak Yana."
Suara di ujung ponselnya terdengar.
"Bagaimana Pak ?" Tanya Yana.
"Semua berjalan sebagaimana mestinya. Surat panggilan sidang untuk Pak Reno nanti akan di kirimkan oleh pihak pengadilan ke apartemen kalian."
"Baiklah terimakasih banyak Pak Rei. Sampai ketemu besok." Ujar Yana lalu mengakhiri panggilan setelah mendengar balasan salam dari ujung sana.
Yana keluar dari dalam lift, lalu melangkah menuju ruangannya.
"Vi tolong beritahu teman-teman semua untuk masuk ke dalam ruangan saya." Perintah Yana pada asistennya.
Asisten Yana yang bernama Vivi itu mengangguk patuh, lalu menyampaikan perintah Yana pada rekan kerja yang di ruangan itu.
Tidak banyak yang mereka bahas dengan meeting dadakan itu. Yana hanya memberitahu tentang cutinya selama dua Minggu ke depan, dan meminta semua rekan kerjanya untuk tidak segan menghubungi apabila ada hal yang mendesak.
Usia memberitahukan hal yang menurutnya penting untuk di ketahui oleh rekan-rekannya, Yana berpamitan untuk pulang lebih dulu, karena ada banyak hal yang harus ia siapkan.
***
Yana memacu mobilnya dengan sangat perlahan. Jalanan Jakarta di siang bolong, jangan tanya lagi bagaimana macetnya. Sudah tidak lagi asing, karena hampir setiap hari saat berkendara, Yana akan selalu di hadapkan dengan banyaknya kenderaan yang ikut melintas di jalanan yang sama.
Baru saja memarkirkan mobilnya di halaman toko bunga sang Ibu, Yana kembali di buat kesal. Pasalnya mobil berwarna hitam yang sangat ia hafal siapa pemiliknya sudah terparkir di sana.
__ADS_1
Dengan hati menahan kesal, Yana keluar dari dalam mobilnya lalu melangkah masuk ke dalam toko bunga sang Ibu. Dan yah,, dugaannya memang benar. Laki-laki yang masih sangat ia cintai sekaligus benci, sedang bersujud di kaki ibunya.
Sejenak ia menarik nafasnya, menahan luapan emosi yang begitu ingin di tuntaskan. Ingin sekali mengumpat, akan tetapi semua juga percuma. Berkata kasar hanya akan mengotori bibir dan hatinya.