Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 136 Season 2


__ADS_3

"Nak." Ketuk Farah di pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. "Yana." Panggilnya lagi.


Di dalam kamar mandi, Yana tersentak kaget. Ia mengalihkan tatapannya dari benda kecil yang ada di tangannya, lalu menatap pintu kamar mandi yang baru saja di ketuk dari luar.


"Nak, ayo buka pintunya. Ngga apa-apa kok, jika hasilnya belum sesuai dengan yang di harapkan. Kalian hanya perlu berusaha lebih keras lagi."


Suara dari luar kamar mandi semakin membuat Zyana tersentuh. Ia mengusap lembut sudut matanya yang berembun, lalu kembali menatap beberapa benda yang sama namun dengan merek berbeda yang baru ia ambil dari dalam gelas berisi urin.


Matanya berembun, tapi penuh dengan binar.


"Nak, jangan buat Bunda khawatir. Ayo buka pintunya. Tidak apa-apa."


Farah beranjak dari atas closet, lalu melangkah menuju pintu kamar mandi dan membukanya.


"Bun.."


Farah merentangkan tangannya, bersiap memeluk tubuh menantunya.


Yana segera menghambur dan membenamkan tubuhnya dalam pelukan wanita kedua yang ia hormati setelah Ibu.


"Yana positif hamil Bun." Ucap Yana.


Farah segera melepaskan pelukannya dari tubuh Yana, lalu menatap wajah menantunya dengan tatapan tidak percaya.


"Ini benar Nak ?" Tanya Farah.


Yana mengulurkan beberapa buah testpack dengan dua garis itu, ke arah ibu mertuanya.


"Allah maha baik ya Bun." Ucapnya.


Farah mengangguk membenarkan.


"Allah maha baik pada semua umatnya. Air mata yang jatuh, pasti akan selalu di ganti dengan tawa bahagia. Kita hanya perlu bersabar untuk menunggu waktunya tiba." Jawabnya.


"Dan kini waktu untuk Yana bahagia sudah tiba Bunda." Ujar Yana ikut menatap objek yang menjadi fokus ibu mertuanya.


"Yah, jangan terpengaruh dengan apapun, termasuk dua wanita yang ada di ruangan tadi."


Farah merapikan rambut Farah, lalu mengusap lembut pipi menantunya. Air mata yang terlihat membasahi pelupuk mata Yana, di usapnya dengan perlahan.


Yana mengangguk. Tentu saja, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun datang mengganggu kehidupannya saat ini.


***


Di dalam ruangan mewahnya, Alfaraz baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien perusahannya. Ia melangkah menuju meja kerjanya untuk memeriksa ponsel yang sejak tadi terus bergetar.


Alisnya bertaut melihat nama wife dengan ikon hati terpampang di layar ponselnya. Pasalnya, wanita kesayangannya ini sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menghubunginya di saat jam kerja seperti ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum


"Al.. hikss.. hikss..


Terdengar suara terisak dari benda pipih yang menempel di telinganya.


"Sayang kamu di mana ?" Tanya Alfaraz khawatir.


"Al..


"Zyana kamu di mana ? Jangan buat aku takut." Ucap Alfaraz lagi.


Ia sudah melangkah cepat keluar dari dalam ruangannya, menuju lift.


"Yana kamu di mana ?" Tanya Alfaraz lagi, namun belum juga ada jawaban yang ia inginkan, hanya suara terisak yang terdengar samar dari ujung ponselnya.


"Jangan matikan ponselnya, tetap bersamaku." Ujarnya lagi. Ia melangkah keluar dari dalam lift menuju ruangan Yana.


"Zyana.."


Panggilan berakhir. Alfaraz mendorong pintu ruangan bagian keuangan dengan keras, lalu segera melangkah menuju ruangan pribadi istrinya.


"Mbak Yana pergi terburu-buru tadi." Ucap Vivi saat melihat Alfaraz keluar dari ruangan Yana dan hendak bertanya padanya.


"Brengsek.." Alfaraz melangkah cepat keluar dari dalam ruangan istrinya, menuju lift. Lelaki itu mengabaikan tatapan penuh tanya dari rekan-rekan kerja istrinya.


"Lihat Mbak Yana keluar dari perusahaan ?" Tanya Alfaraz terburu-buru pada petugas resepsionis.


"Tadi belum lama setelah Bapak dan Mbak Yana tiba,


Alfaraz tidak lagi mendengar penjelasan karyawannya, dan melangkah cepat keluar dari kantor menuju mobil.


"Bun, Yana ada di rumah Bunda ?" Tanya Alfaraz setelah ponselnya sudah terhubung dengan telepon rumah kedua orang tuanya.


"Iya dia datang sambil nangis. Apa yang sudah kamu lakukan padanya ?"


Tuutt... Tuuutt...


Alfaraz segera mengakhiri panggilan itu, dan berkonsentrasi dengan kemudi.


"Sial apa yang terjadi dengannya. Tadi pagi masih baik-baik saja." Alfaraz meremas kuat kemudi mobilnya.


Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi, sungguh ia begitu khawatir. Pasalnya setelah hampir dua bulan mereka menikah, ini pertama kalinya Yana seperti ini. Wanita yang ia nikahi itu tidak pernah terlihat sedih atau apapun.


Mobil Alfaraz berhenti di depan pintu gerbang, ia menatap tajam mobil yang sedang terparkir di depan pintu gerbang kediaman kedua orang tuanya. Berbagai macam hal buruk kini mulai mengisi otaknya. Ia keluar dari dalam mobil, dan memeriksa mobil tapi mobil itu kosong tak berpenghuni.


"Itu mobil milik tamu dari Bapak."

__ADS_1


Petugas keamanan menjawab, padahal Alfaraz tidak bertanya apapun.


Alfaraz melangkah cepat masuk ke dalam pekarangan saat melihat dua wanita yang sudah keluar dari dalam rumah orangtuanya. Ia meninggalkan mobilnya begitu saja di depan gerbang, dadanya bergemuruh tangannya terkepal hingga tulang tangan memutih karena menahan geram.


"Apa yang kamu lakukan dengan istriku." Teriak Alfaraz. Ia menggenggam erat lengan Nara hingga membuat mantan istrinya itu meringis sakit.


"Kak Al lepaskan...


"Aku sudah menawarkan kompensasi sebanyak yang kamu mau, meskipun kamu sama sekali tidak berhak mendapatkan kompensasi apapun dari ku. Apa itu masih belum cukup ha !"


Lina yang sedang berjalan di samping Nara, segera melangkah cepat menyelamatkan diri sendiri. Kini dia sadar, sudah salah karena mencari masalah dengan keluarga ini.


"Jika terjadi sesuatu dengan istriku, aku sendiri yang akan memastikan kehancuranmu."


Alfaraz menghempaskan tangan Nara dengan kasar.


"Apa semudah ini kamu membuang ku ?"


Pertanyaan Nara kembali menahan langkah kaki Alfaraz.


"Seharusnya, sejak dulu aku sudah membuang mu. Ternyata kata Papa dan Bundaku benar, buah itu tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya." Ujar Alfaraz. Ia kembali menatap tajam wajah yang terlihat pias dan menyedihkan mantan istrinya.


"Ingat baik-baik, sekali lagi kamu membuat istriku menangis, akan aku pastikan kamu tidak akan pernah menampakkan diri di dunia hiburan. Tidak, bukan hanya di dunia hiburan, tapi di dunia ini." Ujarnya lagi.


Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Nara terdiam, Alfaraz kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


Yana, yah saat ini hanya nama itu yang berada di dalam otaknya. Tangisan Yana yang tidak pernah ia dengar selama pernikahan, begitu mengganggu.


"Assalamualaikum. Yana di mana Pa ?" Tanya Alfaraz cepat.


"Lagi sama Bunda, ada di kamar kalian." Jawab Zidan.


Alfaraz tidak lagi bertanya, ia kembali melangkah cepat menuju tangga, meninggalkan lelaki paruh baya yang terlihat sibuk dengan beberapa lembar kertas di atas meja di ruang tamu.


Jika saja ia bisa seperti Minato, ia pasti sudah menggunakan ninjutsu teleportasi agar tidak perlu melewati anak tangga ini. Ah sepertinya setelah ini ia harus mampir ke Konoha agar bisa belajar jutsu itu.


"Bun, Yana di mana ?" Tanya Alfaraz cepat saat melihat wanita terbaik pertama dalam hidupnya, sudah melangkah menuju tangga yang baru saja ia lewati.


"Ada di kamar." Jawab Farah lemas.


Alfaraz tidak lagi bertanya, melihat wajah sedih sang Bunda, sudah bisa menjawab semua yang ada di dalam otaknya saat ini. Istrinya sedang tidak baik-baik saja.


***


*Note Author


Maafkan atas ketidak konsistensinya waktu update. Aku masih harus memprioritaskan pekerjaan real life. Tapi jangan khawatir, sehari pasti akan update dua Bab, entah itu siang atau nanti di malam hari.

__ADS_1


Tidak bisa lebih yaa, karena jari keriting ku masih harus di bagi dengan Menggenggam Janji, jangan lupa mampir yaa 😘😘🥰


__ADS_2