Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 182 Season 3


__ADS_3

Di dalam kamar yang ada di salah satu hotel di tengah kota Berlin, Nira duduk diam di atas ranjang di mana Arion sedang berbaring. Gadis cantik yang sudah mengenakkan piyama, juga rambut yang biasanya tertutup hijab kini di biarkan terurai cantik di punggungnya, masih menunggu dengan setia apa yang hendak di bicarakan oleh suaminya.


Bermenit-menit berlalu, Arion masih bungkam. Ingin rasanya gadis itu memulai percakapan, namun, ia tidak tahu hal apa yang akan ia bahas dengan laki-laki yang terdiam di atas empat tidur mewah itu.


Ini masih sore, tapi Nira memilih untuk berada di dalam kamar saja karena begitu penasaran perihal apa yang ingin di bicarakan oleh suaminya. Seharusnya di sore yang indah ini, ia mengajak Arion berkeliling ibu kota negara Federasi ini, tapi kini ia terjebak dalam kamar mewah yang begitu hening.


"Ah kesal banget sumpah." Ucap Nira akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi dengan kebisuan Arion.


Arion hanya tertawa mendengar kalimat singkat penuh kekesalan itu.


"Mau tiduran di sini ?" Arion menepuk dadanya yang berbalut piyama senada dengan sang istri.


"Aku mau dengar apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, bukan bermanja-manja ria di atas dada bidang kamu." Jawab Nira.


"Iya aku akan cerita, tapi sambil berpelukan." Ujar Arion.


Nira menatap penuh curiga pada laki-laki yang tiba-tiba berubah aneh ini. Semalam saja adalah malam pertama pernikahan, Arion sama sekali tidak memeluk tubuhnya saat terlelap di atas ranjang.


"Ayo sini, mumpung masih gratis. Bentar lagi sudah berbayar." Ucap Arion sambil kembali menepuk dada bidangnya kala melihat Nira masih terdiam sambil menatap aneh karena kelakuannya malam ini.


"Kamu ga lagi ngerencanain pembunuhan kan ?" Tanya Nira dengan wajah serius.


Arion terbahak, terlebih melihat tatapan istrinya yang penuh curiga, membuat perutnya terasa di gelitik.


"Aku bilang sini, ga patuh sama suami dosa." Ia menarik tangan Nira, hingga membuat gadis itu mendekat ke arahnya.


Nira tersenyum, gadis itu sekian tidak canggung langsung melingkarkan tangannya di tubuh Arion.

__ADS_1


"Kamu mau ngomong apa ?" Tanyanya kemudian setelah kepalanya berada tepat di atas dada Arion.


"Gimana perasaan kamu saat melihat Arga ?" Tanya Arion sambil mengusap lembut rambut panjang Nira yang terurai.


"Biasa aja." Jawab Nira singkat.


"Jangan bohong, kan aku sudah bilang. Jangan menyembunyikan apapun dari ku, aku ga suka kamu pura-pura bahagia dan menyembunyikan luka di hati kamu." Ucap Arion tegas..


Nira membalik tubuhnya. Ia meletakkan dagunya di atas dada Arion, sementara tatapannya tertuju lekat pada wajah tampan suaminya itu.


"Aku tidak menyembunyikan apapun dari mu. Aku hanya sedang berusaha untuk terbiasa dengan keadaan. Kamu tahu, kata move on itu bukan berarti kita tidak lagi memiliki rasa apapun terhadap seseorang di masa lalu, tapi saat kita sudah mulai membiasakan diri dengan keadaan. Aku baik-baik aja kok, meskipun masih ada sedikit rasa yang tertinggal di sini. Aku ga akan bohong soal itu. Perasaan yang terkumpul selama belasan tahun lamanya, akan mustahil jika kita ingin menghapusnya dalam semalam. Tapi Arion, aku adalah gadis dengan pemikiran yang simpel, dan tidak ingin terus memaksakan kehendak yang aku tahu itu sangat sulit aku wujudkan."


Arion terdiam dengan kalimat panjang lebar yang meluncur dari bibir Danira.


"Jangan khawatir tentang rasa yang mungkin masih tertinggal di dalam hatiku. Kita berdua sama. Sama-sama memiliki seseorang di masa lalu. Dan kamu harus tahu, jika tujuan ku saat ini adalah sama dengan mu, yaitu berusaha untuk membuka diri, dan memulai kisah mu sendiri bersama mu." Ujar Nira lagi.


Arion seketika tersenyum, kini ia yakin jika dalam hubungan ini tidak hanya dirinya yang sedang berusaha membiasakan diri dengan keadaan, tapi Nira juga melakukan hal yang sama.


"Aku mandul." Ucap Arion.


Nira tidak terkejut, ia justru tersenyum mendengar pengakuan itu dari bibir Arion langsung.


"Itu berarti kamu masih manusia biasa. Coba lihat, wajah tampan anak pemilik perusahaan dan yang paling penting kamu adalah laki-laki yang sangat baik. Kamu tuh sempurna Arion. Dan saat mendapati hal ini, aku jadi percaya, jika kamu itu benar-benar manusia biasa, bukan malaikat." Ujar Nira masih dengan senyum manis di bibir tipisnya.


"Aku serius Nira." Ucap Arion pelan.


"Aku juga serius Arion. Nggak masalah, mungkin dengan ini kita bisa berbagi kasih sayang dengan anak-anak lain yang membutuhkan di luar sana. Iya kan ?"

__ADS_1


Arion mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Danira perlahan.


"Aku sangat bersyukur karena wanita yang kini menjadi istriku itu kamu." Ucap nya tulus sambil mengusap lembut pipi istrinya.


"Terimakasih untuk pujiannya, tapi pasti kamu akan bosan sama aku. Feri sudah mengatakan banyak hal tentang ku kan ?"


"Yah, dia bahkan mengancam ku agar selalu memperlakukan kamu dengan baik."


drrttt...drrrttt...


Ponsel Nira berdering. Gadis itu beranjak dari atas dada Arion, dan meraih ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidur , untuk memeriksa siapa gerangan yang sedang menghubunginya.


"Abizar." Gumamnya saat melihat nama sang adik tertera di layar ponselnya. Terlebih saat ini, Abizar sedang menghubungi nomor internasional miliknya.


"Siapa ?" Tanya Arion.


"Abi, kok tumben anak ini menelfon. Biasanya dia itu paling anti sama aku." Ujar Nira setelah panggilan itu berakhir sebelum ia menjawabnya.


Beberapa saat kemudian, nama yang sama kembali tertera di layar ponsel pintar miliknya. Tanpa membuang waktu, Nura segera mengusap ikon hijau, dan menyapa adik lelakinya itu.


"Ada apa Abi ? Ayah sama Ibu baik-baik aja kan ?" tanya Nira.


Suara frustasi terdengar di ujung sana. Nira masih mendengar dengan seksama apa yang sedang di ceritakan oleh adiknya tanpa berniat menyela.


"Buat apa, jangan aneh-aneh Abi. Pulang ke rumah sekarang, Ayah dan Ibu pasti sedang menunggu mu." Perintah Danira tidak ingin mengabulkan permintaan tolong yang menurutnya sangat aneh dari adiknya.


"Antar di ke rumah orang tuanya Abizar ! Ngapain kamu bawa dia ke apartemen Kakak.. Kakak akan laporin Ayah, dan bilang kalau kamu mau main-main sama anak orang." Teriak Nira kesal.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat penuh penekanan itu, Danira terdiam sambil mendengar penjelasan yang terdengar begitu memelas di ujung ponselnya.


Beberapa saat kemudian, ia merubah panggilan suara itu menjadi panggilan video, agar bisa memastikan dengan mata kepalanya sendiri, apa yang sedang di lakukan oleh adiknya di Jakarta.


__ADS_2