Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 188 Season 3


__ADS_3

Area 21 +++


Yang belum nikah, tolong di skip !!


Ga apa-apa performa novelku turun, yg penting kalian ga ketularan virus mesum penulisnya 🙈🤣🤣


Aku ga mau nanggung dosa anak di bawah umur. Dosaku aja di suruh tanggung sama Emak-emak yang ada di sini. 🥴🥱


****


Senja mulai beranjak pergi. Nira masih berdiri di balkon kamar hotel, sambil melihat pemandangan yang begitu memukau di ujung sana. Warna emas kekuningan begitu indah di pandang mata. Hingga tiba-tiba, tangan yang sudah ia tahu milik siapa melingkar sempurna di tubuhnya yang masih berbalut mukenah.


"Indah yaa ?" Tanyanya pada laki-laki yang kini memeluk tubuhnya dari belakang.


"Masih lebih indah kamu." Jawab Arion sambil terkekeh geli dengan jawabannya sendiri.


"Gombal receh." Ucap Nira ikut tertawa.


Kecupan demi kecupan mulai meluncur di atas kepala Danira yang masih tertutup mukenah. Gadis itu menutup matanya, sambil menikmati gelenyar aneh yang mulai terasa di relung hatinya, saat Arion memperlakukan dirinya dengan sangat manis seperti ini.


"Arion..." Panggil Nira.


"Hm..." Jawab Arion.


"Apa kamu ga berniat membawaku ke dalam ? Kamu ga lihat di sebelah sana ada lelaki yang sedang memperhatikan kita." Ujar Danira sambil menatap atap gedung yang bersebelahan dengan hotel tempat mereka menginap.


"Mana ?" Tanya Arion sambil mencari-cari orang yang sedang di maksud oleh istrinya. Bertepatan dengan itu, seseorang di sebrang sana melambai ke arah mereka, dan gilanya Nira membalas lambaian tangan itu.


"Aku bisa jalan sendiri." Teriak Nira saat Arion mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar. Gadis itu tertawa keras karena merasa sangat kegelian. Bagaimana tidak, lelaki yang sudah menjadi suaminya selama beberapa hari ini, dengan tega mengangkat tubuhnya seperti karung beras.

__ADS_1


"Oke maafkan aku, tadi itu iseng aja." Kekeh Danira lagi saat tubuhnya sudah terduduk di atas sofa yang ada di alam kamar itu.


"Kalau orang itu datang dan menemui mu di sini, apa yang akan kamu lakukan ha." Ujar Arion kesal. "Kamu ga tahu aja, orang di sini seperti apa." Sambungnya sambil bercekak pinggang dengan tatapan tajam tertuju ke arah Danira.


"Ya ga mungkinlah sampai seperti itu. Kan tadi orang itu lihat, kalau kita lagi berpelukan. Sini peluk aku lagi." Jawab Danira sambil merentangkan kedua tangannya. "Ayo sini." Tarik Danira di baju kokoh yang masih melekat di tubuh Arion, hingga lelaki itu terjatuh dan menindih tubuh mungilnya.


Senyum jail di wajah cantik Danira seketika terlihat, terlebih melihat suaminya yang mulai salah tingkah namun tidak berniat beranjak dari atas tubuhnya.


Cup...


Kecup nya di atas bibir tipis Arion.


"Jangan seperti itu, seharusnya aku yang mencium mu." Protes Arion karena Danira selalu saja nyosor dan mengambil alih tugasnya.


"Apa ini juga ngga boleh ?" Tanya Danira dengan kedipan mata menggoda sambil melepaskan satu persatu kancing kemeja Arion.


Arion tidak menjawab, lelaki itu langsung melancarkan aksinya sebelum istri kecilnya ini mengambil alih semua tugas yang seharusnya ia lakukan.


Danira tidak menolak setiap perlakuan suaminya. Ia tahu, meskipun pernikahan mereka tidak seperti pernikahan yang di jalani dua orang yang saling mencintai, namun, ia bertekad untuk menjalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya.


Menurutnya hak dan kewajiban dalam pernikahan, tetap harus di laksanakan, terlepas bagaimana perasaan keduanya saat ini. Baginya cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Selama kita masih terus mengusahakan yang terbaik, maka tidak ada yang tidak mungkin.


"Kita pindah ke atas ranjang." Ajak Arion dengan nafas yang terengah-engah. Ia lantas membawa tubuh Danira yang masih berbalut pakaian lengkap dengan beberapa kancing sudah terlepas, menuju ranjang besar yang ada di ruangan itu. Mukenah yang tadi membalut tubuh Danira, sudah teronggok di atas sofa.


Setelah keduanya sudah berada di atas ranjang, Arion kembali melanjutkan aksinya yang tertunda beberapa menit yang lalu. Kemeja kokoh yang ia pakai untuk shalat tadi sudah terlepas dari tubuhnya. Begitupun atasan yang melekat di tubuh Danira. Meskipun belum terlepas sempurna, akan tetapi dalaman berenda yang menutupi bagian dada, sudah terpampang nyata di depan suaminya.


Sedikit rintihan terdengar dari bibir Danira, saat Arion meninggalkan tanda kepemilikan di atas bagian tubuh kenyal yang masih tertutup kain berenda itu.


Leher jenjang, dada dan bagian tubuh yang lain milik Danira, seakan tidak ingin di lewatkan oleh Arion walau hanya seinci pun. Lelaki itu terus saja mengecup, setiap bagian tubuh yang bisa di jangkau oleh bibir nakalnya.

__ADS_1


Hingga tanpa Danira sadari, seluruh pakaian yang menutupi tubuh mulusnya sudah melayang entah kemana. Berganti selimut tebal berwarna putih, yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Kok sakit ?" Keluhnya pelan dengan mata berkaca saat Arion mulai menerobos inti tubuhnya.


"Tentu saja sakit, sabar sakitnya hanya kali ini kok." Bujuk Arion sambil mengecup mata basah Danira. "Maafkan aku yaa." Sambungnya dengan tatapan bersalah, terlebih air mata yang hanya menggenang di bola mata, kini mulai jatuh menetes hingga membasahi bantal.


"Aku berhenti saja." Ucap Arion tidak tega.


"Ngga apa-apa, tapi berhenti sebentar. Sumpah ini perih banget." Jawab Danira.


Setelah beberapa saat, dan Danira terlihat mulai terbiasa, Arion kembali melanjutkan aktivitas menyenangkan itu. Dengan perlahan, ia mulai memacu tubuhnya penuh hati-hati, agar tidak sampai menyakiti gadis yang baru saja berhasil ia ambil kegadisannya ini.


"Kok jadi nikmat banget yaa." Ucap Danira lagi membuat Arion tidak tahan untuk tidak membungkam bibir yang terus saja berceloteh itu. Rasanya sudah seperti menikah dengan bocah di bawah umur. Ada-ada saja yang keluar dari bibir menggoda yang kedepannya akan menjadi candunya ini.


Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di atas ranjang mewah itu. Dan entah sudah ke berapa kalinya pula, Danira menyebutkan nama Arion saat sesuatu di bawah sana terasa seperti mau meledak.


Kini rasa itu kembali menyerang nya. Terlebih Arion semakin mempercepat gerakan tubuhnya. Danira menggigit bibir bawahnya, sambil menikmati ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan di dalam perutnya.


"Aku ga tahan lagi." Ucapnya pelan dengan suara serak.


"Bentar, tunggu aku." Jawab Arion sambil etis memacu tubuhnya di atas tubuh mungil Danira.


"Sungguh, aku ga kuat lagi." Lirih Danira.


Arion tidak menjawab, ia pun sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan cepat ia menenggelamkan wajahnya di cerucuk leher Danira.


Hingga beberapa saat kemudian, puncak kenikmatan itu kembali melanda Danira. Gadis itu tidak lagi malu melenguh sambil menyebut nama Arion.


Tidak jauh berbeda dengan Arion, lelaki itu pun melakukan hal yang sama, ketika sesuatu di bawah sana keluar dan memasuki tubuh istrinya. Tidak lupa pula ia memohon, agar apa yang ia lakukan saat ini, akan membuahkan hasil yang membahagiakan ke depannya.

__ADS_1


Bukan berharap, namun, meminta keajaiban.


__ADS_2