Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 285 Season 4


__ADS_3

Waktu begtu cepat berlalu. Malam-malam indah penuh gairah sudah terlewati. Kini berganti malam yang menyeramkan bagi Azam. Salahkan dirinya sendiri yang selalu saja membuat Trias kelelahan di atas ranjang hingga membuahkan hasil di dalam perut istrinya itu. Dan lihatlah sekarang. Dia harus memupuk kesabaran agar tidak sampai membentak Trias yang mulai kemarin terus membuatnya kesal sekaligus gemas.


"Malam ini aku tidur di sini ya ?" Bujuk Azam sambil memeluk selimut dan guling yang semalam ia gunakan tidur di atas sofa.Oh ayolah tubuh besarnya kesakitan karena harus meringkuk di sofa kecil itu.


Trias yang sedang membaca buku-buku tentang kehamilan, menoleh pada suaminya yang terlihat menyedihkan di samping ranjang.


"Aku mual Mas, jangan dekat-dekat dulu." Jawab Trias lalu kembali melihat lembar demi lembar buku yang ada di atas pangkuannya.


Azam tidak lagi perduli, laki-laki yang bergelar calon Ayah itu merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk kaki istrinya, sambil berharap tidak akan terkena tendangan maut. Cukup sudah, sehari rasanya sudah seperti setahun jika terlelap tanpa memeluk Trias.


"Mas, nanti aku muntah di atas ranjang gimana ?" Trias pura-pura memelas. Mana ada, meskipun ia sangat ingin menikmati nikmatnya hamil muda, sepertinya calon bayi yang ada di dalam kandungannya tidak ingin membuatnya tersiksa.


"Nanti aku bersihin. Sini kamu !" Azam ikut bersandar di kepala ranjang, lalu menarik tubuh Trias ke dalam dekapannya. "Ah aku rindu memelukmu seperti ini." Gumamnya membuat Trias tertawa dalam hati.


"Aku mau muntah, Mas." Trias mendorong tubuh Azam. Kali ini ia benar-benar merasa mual.


"Muntah aja, aku ga perduli yang penting bisa memelukmu seperti ini."


Hooeekk....


Azam terbelalak saat melihat muntahan yang sudah memenuhi piyama serta ranjang mereka.


"Sayang..." Ucapnya memelas.


"Kan aku udah bilang, Mas." Ucap Trias penuh sesal. Padahal sejak kemarin ia hanya berpura-pura mual, lalu mengapa sekarang benar-benar jadi kenyataan.


"Bentar." Ujarnya lagi sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, kemudian bergegas melangkah menuju kamar mandi.


"Ga usah di beresin, Mas. Biar aku aja." Teriaknya dari dalam kamar mandi, lalu kembali memuntahkan isi perutnya hingga terduduk lemas di atas lantai kamar mandi itu. Calon anaknya ini benar-benar tukang ngeprank yang handal. Padahal ia sama sekali tidak merasa mual atau hal aneh lain di dalam tubuhnya, lalu mengapa tiba-tiba menjadi seperti ini.


Hooeekk.... Hooeekk....


Azam yang sudah mengenakan piyama baru, melangkah masuk ke dalam kamar mandi di mana istrinya berada. Lelaki itu ikut duduk di samping sang istri, lalu mengusap punggung wanita nya itu dengan hati-hati.


"Maafkan aku, aku akan tidur di sofa. Maaf membuatmu tidak nyaman." Ujarnya masih sambil mengusap lembut punggung Trias.


"Ngga apa-apa, Mas.


Hooeekk....


"Perut aku keram.." Ucap Trias.


"Ini ga apa-apa ? Bentar aku panggil Mami dulu."


Azam hendak beranjak dari atas lantai, tapi segera di tahan oleh Trias...

__ADS_1


"Aku mau tidur, Mas. Sambil peluk kamu tapi." Rengek nya.


Azam terbelalak. Jadi benar jika orang hamil itu suka berubah-ubah. Tidak ingin Trias kembali berubah pikiran, Azam segera mengangkat tubuh mungil itu menuju ranjang.


"Diam sini, aku beresin dulu." Ujarnya lagi sambil meletakkan tubuh Trias dengan hati-hati ke atas sofa yang ada di kamar tidur mereka.


"Aku bantuin ya, Mas." Pinta Trias lemah, namun segera mendapat gelengan kepala dari Azam.


Setalah memastikan Trias duduk dengan nyaman di atas sofa, Azam Kemabli mendekati ranjang, dan menarik keluar seluruh bedcover yang atas ranjang itu, lalu mulai menggantinya dengan yang baru.


Trias menatap Azam dengan perasaan bersalah. Seharusnya ia yang melakukan hal itu, dan bukan Azam. Namun, kakinya terasa begitu lemas, dadanya masih perih karena tiba-tiba muntah tadi. Wanita yang terlihat lemas itu hanya bisa menatap suaminya yang terus mondar mandir di dalam kamar menuju ruang ganti untuk mengambil bedcover yang baru.


"Maaf, tidak terlalu rapi seperti biasa jika kamu yang melakukannya." Ujar Azam. Ia lantas membantu Trias untuk berbaring di atas ranjang yang baru saja ia bereskan.


"Terimakasih ya, Mas. Dan maafkan aku karena tidak berguna." Jawab Trias.


Azam ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping istrinya.


"Kok ngomong gitu sih, ayo sini aku peluk." Pinta Azam. Namun, beberapa saat kemudian, lelaki itu kembali menggeser tubuhnya agar sedikit berjarak dengan sang istri. "Aku takut kamu muntah lagi." Sambungnya.


Trias tertawa, lalu membawa tubuhnya agar lebih dekat dengan Azam.


"Tri.."


****


.Entah berapa lama waktu yang terlewati. Azam bahkan tidak berani bergerak sedikit pun takut mengganggu dan membuat Trias kembali muntah. Ia hanya terus mengusap-usap lembut punggung Trias, sambil sesekali mengecup kepala istrinya itu.


"Aku mencintaimu." Gumamnya. Namun, orang yang sedang ia nyatakan cinta sudah terlelap dengan begitu nyenyak di dalam pelukannya.


Ia baru tahu, jika mencintai seseorang akan semenyenangkan ini. Jika ia tahu, kehadiran Trias bisa memberikan warna baru alam hidupnya yang terlalu datar, sudah sejak dulu ia mencari wanita yang sedang berada dalam pelukannya ini. Oh ayolah, mendiang Ayah mertuanya bahkan sudah bekerja selama bertahun-tahun di perusahaan keluarga.


"Aku mencintai mu, dan kamu juga." Tangannya sudah berpindah mengusap perut rata milik istrinya. Dengkuran halus yang begitu menenangkan terdengar dari wanita yang masih berada di dalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian, matanya pun ikut tertutup. Seharian ini ia sama sekali tidak beristirahat karena begitu banyak pekerjaan di kantor. Belum lagi otaknya yang terus mengingat Trias di rumah.


Mencintai seseorang memang semenyenangkan ini. Jangan takut untuk jatuh cinta, karena cinta akan selalu memberikan warna baru dalam kehidupan. Jika pun nanti akan ada hari yang terluka karena cinta, itu mah memang sudah nasibnya aja yang ngenes. Tapi jangan khawatir, jika saat kamu jatuh cinta, dan berbalas dengan luka, maka itu berarti kamu dan dia bukanlah orang yang di takdirkan bersama. Jangan terpuruk, tapi tetaplah membuka hati untuk menanti cinta yang baru, yang akan Allah sediakan nanti.


Rumah mewah itu nampak begitu sunyi. Semua penghuni rumah menggunakan malam hari untuk mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing. Setelah melewati beraktivis padat di siang hari, maka tubuh memiliki hak untuk beristirahat di malam hari. Agar besok bisa kembali di pakai untuk mewujudkan mimpi yang malam ini menemani.


****


Di depan sebuah apartemen, mobil Aidar masih belum pergi dari sana. Padahal sudah beberapa saat yang lalu Tiara masuk ke dalam gedung berlantai itu.


"Aku harus menyelesaikan tugas dan tanggungjawab aku dulu. Ga enak sama atasan, kalau aku resign begitu saja dengan banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan."

__ADS_1


Kalimat Tiara beberapa saat sebelum calon istri sekaligus sahabat nya itu keluar dari dalam mobil, masih menari-nari di benaknya.


Apa ia yang terlaku banyak menuntut, ataukah memang Tiara yang setengah hati menerima pingannya malam itu.


"Kok belum pergi ? Sudah malam, pulanglah."


Suara lembut yang membuat Aidar menutup mata, terdengar dari ujung ponselnya.


"Maafkan aku tentang hari ini. Apa aku terlaku terburu-buru meminta mu ?" Tanyanya sambil melihat ke arah gedung dengan puluhan lantai itu, seakan mencari di mana sahabat kesayangannya itu berada.


"Ngga apa-apa, nanti akan aku pikirkan. Bantu aku bicara dengan bos ya, biara semuanya lancar tanpa hambatan."


Aidar tersenyum mendengar kalimat itu. Sikap inilah yang selalu membuatnya jatuh cinta pada Tiara. Gadis yang selalu berpikiran dewasa dalam hal menyelesaikan masalah.


"Aku mau tidur, tapi kamu belum pergi. Ajak kamu kemari, takut khilaf. Kamu terlalu menggoda untuk di lewatkan." Tawa geli di ujung ponselnya, membuat Aidar ikut tersenyum.


"Aku ke sana ya ? Malam ini aku nginap..


Tut...Tut...


Aidar menatap layar ponselnya yang baru saja di putuskan secara sepihak. Sakit bestie..


"Pulang !"


Satu kata menyebalkan itu berhasil terpampang di layar ponselnya.


*****


*NoteAuthor


Meminta jatah duluan ga apa-apa kan ya, biar ada drama hamil duluan gitu. Tapi lihatlah jari orang yang sedang mengetik ini, membuat orang-orang yang sedang membaca kesal.


Ayolah Thor, buat unboxing duluan buat mereka berdua.. Kagak !!!


Aidar karakter kesayanganku, dan aku ga mau merusak lelaki kesayangan ku itu dengan otak dan jari ku yang mesum.


Oh iya, dua Bab lagi menuju tamat ya guys, dan jali ini benar-benar tamat.


Mulai besok aku mau fokus ke kisah Briana, jangan lupa semua dukungannya, karena novel itu pun berhadiah bagi yang rajin membaca dan memberi dukungan buat author. Gift, vote dan lain sebaginya berikan di Novel itu aja, karena pemenang GA di novel ini sudah di umumkan yaa..


"Mengubah Takdir Briana"


Ayo mampir, dan berikan dukungan yang banyak. Mulai besok aku bakal fokus satu novel itu aja, tentu saja dengan pekerjaan real life ku yaa..


selamat membaca, Semoga kalian tetap suka dan love banyak-banyak buat kalian semuanya.

__ADS_1


__ADS_2