Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 34


__ADS_3

Siang ini terlihat lebih cerah dari hari-hari biasanya. Langit yang biasanya di tutupi awan gelap, kini terlihat biru dan begitu sangat indah di pandang mata. Awal yang baru, bahkan langit pun seakan ikut mendukung keputusannya.


Usai makan siang di temani asisten rumah tangga, Farah melangkah menuju taman belakang rumah. Taman yang di buat oleh Nadia dengan begitu antusias saat ia melahirkan seorang putra.


"Ra, nanti anak kita main di sini." Kalimat dengan mata penuh binar kembali melintas dalam ingatan Farah.


Budi tidak pernah lupa menyambung kalimat kepemilikan dengan kata 'Kita'. Wanita itu selalu mengklaim, semua yang ada di rumah ini bukan hanya miliknya, tapi milik mereka berdua.


Rumah kita, ank kita, dan suami kita. Terdengar begitu mengesalkan, namun entah mengapa justru kalimat Nadia itulah, yang mampu membuat nya bertahan dalam rumah tangga ini.


Berbagi cinta dengan wanita lain, sama sekali tidak pernah ia bayangkan terjadi dalam hidupnya. Tidak ingin munafik, dia begitu cemburu saat melihat Zidan begitu menyayangi Nadia. Namun, entah bagaimana dengan wanita itu. Sekuat apapun berpikir, sebesar apapun sabar seorang wanita, tetap saja perasan tidak nyaman akan datang menggangu, saat melihat laki-laki yang kita cintai, mencintai wanita lain.


Selama empat tahun mereka hidup seatap, Farah sama sekali tidak pernah melihat Nadia menunjukan kekesalan atau wajah marah di depannya. Sampai saat ini, ia masih bertanya-tanya, terbuat dari apa hati wanita itu hingga dengan ikhlas nya mampu membagi suaminya dengan wanita lain.


"Non Farah, di luar ada tamu." Ujar asisten rumah tangga yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Siapa Mbok ?" Tanya Farah.


"Itu tamu perempuan yang kemarin." Jawab asisten tersebut dengan terbata.


Ekspresi wajah Farah seketika berubah.


"Buat apa Tante Nina datang ke rumah." Gumamnya menerka, sambil beranjak dari kursi taman yang ia duduki.


"Bukan Ibu Nina Non, tapi gadis yang bersama Ibu Nina." Farah menghentikan langkah kakinya sebentar untuk menetralkan perasaan tidak nyaman yang mulai hinggap. Setelah merasa jauh lebih tenang, Farah kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu depan.


Seperti pemilik rumah pada umumnya, meskipun sedikit tidak nyaman, Farah tetap membukakan pintu untuk gadis yang bernama Rita ini, dan mempersilahkan tamu yang tidak di undang itu masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak ingin berbasa-basi." Ujar gadis itu tanpa sungkan. Tangannya terlipat di atas dada, dan berdiri dengan angkuh tanpa memperdulikan Farah yang mempersilahkan ia agar masuk kedalam. "Aku mau jadi istri ketiganya Mas Dimas." Sambungnya.

__ADS_1


Tentu saja Farah terkejut, namun dengan beberapa saat kemudian dia sudah kembali terlihat biasa saja.


"Terus ?" Tanya Farah acuh.


"Kamu harus izinin aku, sama seperti Kak Nadia mengizinkan kamu masuk dalam rumah tangganya." Ujar Rita.


Farah tertawa mendengar kalimat yang terdengar begitu angkuh dari bibir gadis yang mungkin masih seusianya ini.


"Sayang sekali, aku tidak sebaik Mbak Nadia. Aku jahat, dan aku tidak ingin berbagi." Jawab Farah santai.


"Jika begitu kamu yang harus bersedia mundur." Ucap Rita.


Farah kembali tertawa, kali ini tawa yang penuh ejekan.


"Memangnya Mas Zidan mau nikah sama kamu ?" Tanyanya masih dengan nda yang penuh ejekan.


"Tentu saja, tadi kami sudah bertemu di kantornya." Jawab gadis itu.


"Kamu ini benar-benar wanita yang serakah. Bagaimana kamu bisa kamu yang hanya orang kedua, tidak mengizinkan suami yang sudah orang lain berikan padamu." Kesal Rita.


Farah hanya menanggapi kekesalan wanita itu dengan acuh, lalu kembali melanjutkan niatnya menutup pintu rumah, namun gadis itu kembali menahannya. Wajahnya merah padam karena di remehkan Farah, dan tangan yang berniat menampar Farah, terhenti di udara.


"Jika tanganmu berani menyentuh ujung kulitku, maka akan aku pastikan kamu membusuk di penjara. Kamu tahukan aku seorang pengacara, dan kamu tahu beratnya hukuman untuk seorang yang datang menyerang dan membuat kegaduhan di rumah orang lain ?" Ucap Farah lalu menghempaskan tangan Rita dengan kasar.


"Dan satu hal yang harus kamu tahu, Mas Zidan tidak akan pernah mau menikah dengan wanita yang tidak dia cintai. Terlebih lagi wanita yang memiliki akhlak buruk seperti dirimu." Sambungnya, lalu menutup pintu rumahnya dengan kasar.


Mbok yang sejak tadi berada di ruang tamu, tersenyum lega data melihat majikannya baik-baik saja.


Telepon rumah berdering, asisten rumah tangga yang sejak tadi menonton pertunjukan di depannya bergegas meraih telepon tersebut.

__ADS_1


"Bapak." Ucap Mbok ke arah Farah.


Farah melangkah mendekat, dan telepon sudah berpindah ke tangannya.


"Dari mana aja sih Ra ? kenapa aku hubungi lewat ponsel, ngga kamu angkat." Seloroh laki-laki di ujung telepon.


Farah hanya tertawa mendengar celotehan Zidan yang lagi-lagi membuat hatinya berdebar. Ia membawa langkah kakinya, lalu duduk di sofa yang ada di samping tempat telepon.


"Tadi ada tamu Mas." Jawab Farah.


"Siapa ?" Tanya Zidan cepat.


"Rita." Jawab Farah singkat. Terdengar Zidan menarik nafas kasar di ujung sana. " Minta tanggung jawab kamu katanya." Sambungnya sembari terkekeh apalagi mendengar dengusan kesal di ujung sana.


"Ogah." Jawab Zidan.


"Jam berapa pulang ? bisa makan malam bareng kan ?" Tanya Farah.


"Tentu saja, memangnya sejak kapan aku melewatkan makan malam di rumah. Kamu tuh yang selalu tidak bisa menyempatkan makan malam di rumah, dan lebih memilih makan sendirian di apartemen." Ujar Zidan


"Mas."


"Aku sering ikutin kamu Ra, aku ingin ajak kamu pulang biar kita makan di rumah, tapi aku tidak berani melakukannya."


Farah menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha untuk menghindari pembahasan masa lalu mereka.


Zidan pun mengerti, dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan yang akan membuat mereka berdua kembali canggung.


Usai mendengarkan peringatan-peribgatan untuk beristirahat, dan memastikan Zidan sudah makan siang, Farah memutuskan mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


Ingin sekali ia membahas tentang Rati yang berkunjung ke kantor Zidan hari ini, namun ia mengurungkannya. Toh Zidan juga akan kembali ke rumah mereka, dan membahas hal seperti itu, jauh lebih bijak jika dilakukan di rumah.


Meskipun ada rasa yang begitu mengganggu karena kedatangan Rita siang tadi, Farah tetap melangkahkan kakinya menuju kamar tidur untuk beristirahat sebentar. Tubuhnya membutuhkan istirahat pasca keguguran, dan akan membahas perihal Rita bersama Zidan saat malam nanti. Ia yakin Zidan tidak akan pernah menikah lagi, tapi ia tetap harus menegaskan jika ia tidak memiliki hati dan sabar sebesar Nadia, untuk itu dia tidak ingin siapapun hadir dalam keluarga kecilnya, apapun alasannya.


__ADS_2