Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 58


__ADS_3

Farah melangkah mengikuti suaminya masuk ke dalam gedung dengan puluhan lantai yang ada di hadapannya. Gedung yang menjadi tempat pertama kali ia bertemu Zidan. Laki-laki yang merupakan putra pemilik perusahaan tempat ia magang. Jangan di tanya lagi seberapa populer Zidan di kalangan karyawan wanita di kantor ini dulu, nama laki-laki yang saat ini menjadi suaminya tidak pernah berhenti dari pembahasan kaum hawa di kantor ini.


"Rio." Panggilnya saat melihat siluet tubuh yang baru saja melewatinya.


Zidan segera membalik tubuhnya, lalu berjalan mendekati Farah yang masih berjalan beberapa centimeter di belakangnya. Ia bergegas menggenggam tangan istrinya itu dengan erat, saat mendengar wanita yang berada di belakangnya menyebut satu nama yang tidak asing lagi di telinganya selama satu bulan ini.


Farah tertawa di dalam hatinya, melihat sikap yang di tunjukan Zidan padanya. Beberapa karyawan sempat menatap mereka heran, tapi Zidan terlihat tidak perduli.


Pernikahan kedua Zidan memang tidak di publikasikan di ruang lingkup perusahaan. Hanya sebatas keluarga besar yang mengetahui tentang Farah.


Lelaki yang mengenakan kemeja berwarna biru yang baru saja di panggil namanya menoleh. Mencari wanita yang baru saja memanggil nya tanpa embel-embel Pak. Oh iya lupa, Rio sudah menjadi bagian dari orang penting dalam perusahaan Zidan, untuk itu ia terbiasa dengan sebutan Pak di awal namanya.


"Farah." Sebuah senyum terlihat di bibirnya melihat atasannya yang belum lama ini ia ketahui adalah suami dari wanita yang pernah membuat ia jatuh hati, sedang menatapnya tidak ramah. Namun, bodoh amatlah. Toh kontrak kerjanya sudah di tanda tangani, dan hal yang tidak mungkin dia akan di pecat hanya karena menjawab sapaan dari wanita milik bosnya ini.


Zidan segera menarik tangan Farah, agar tubuh wanitanya itu lebih mendekat.


"Kamu sudah kembali ?" Tanya Rio seolah tidak memperdulikan tatapan tajam yang sedang tertuju ke arahnya.


"Mas Zidan sakit, jadi aku pulang. " Jawab Farah


"Ayo, Ayah sudah menunggu." Ajak Zidan. Ia ingin segera mengakhiri pertemuan yang tidak ia inginkan ini. Kesal tentu saja, ia tidak suka ada orang lain yang menatap Farah sama seperti dirinya.


"Kembalilah bekerja." Perintahnya pada Rio.


Rio hanya tersenyum menanggapi kalimat yang terdengar kesal dari atasannya ini.


"Saya sedang beristirahat Pak, ini mau makan siang." Jawabnya sopan.


"Kamu sudah makan siang Ra ?" Tanyanya kemudian.


Zidan tidak lagi membiarkan Farah menjawab pertanyaan tidak penting itu, dan segera membawa istrinya menuju lift khusus yang biasanya di gunakan direktur perusahaan.


"Aku sudah makan, aku pergi ya." Ucap Farah sembari melambaikan tangannya.


Rio tertawa melihat tingkah Farah yang terlihat sengaja membuat bosnya itu marah.


"Kalau aku di pecat, kamu tanggung jawab." Gumamnya sambil menatap kepergian Farah yang semakin menjauh.

__ADS_1


Ah hatinya cemburu, namun, mau bagaimana lagi. Minder, minder dong. Seorang Zidan bukanlah laki-laki yang bisa di ajak bersaing. Belum lagi jika Farah benar-benar mencintai laki-laki itu.


Rio kembali melanjutkan langkahnya menuju kafe kantor untuk menikmati makan siangnya. Sudah sejak sebulan yang lalu ia memutuskan untuk tidak lagi menyimpan nama Farah, namun, melihat Farah hari ini tetap saja masih mampu membuat hatinya yang tidak tahu malu ini berdebar.


***


Di dalam lift, Zidan masih belum melepaskan genggamannya. Farah masih terus tertawa di dalam hati sembari merutuki sikapnya yang begitu alay tadi saat bertemu Rio, hanya karena ingin membuat suaminya ini cemburu.


"Kamu lagi membuat aku cemburu ?" Tanya Zidan akhirnya.


"Siapa ? Aku ?." Tunjuk Farah pada dirinya sendiri.


Bocah laki-laki yang berada dalam dekapan sang Ayah hanya menatap dua orang dewasa yang entah sedang membahas apa dengan mata polosnya.


"Iya siapa lagi, tadi kamu sengaja kan bertegur sapa dengan si Rio itu." Ujar Zidan kesal. Namun jemari Farah yang ada di dalam genggamannya masih belum ia lepaskan.


"Aku dan Rio itu saling kenal, apa salahnya bertegur sapa saat bertemu." Jawab Farah santai.


"Tetap aja aku ngga suka Ra. Jangan semabarangan bertegur sapa dengan laki-laki lain." Pinta Zidan memelas. Sejujurnya ia tidak suka ada orang lain yang menatap Farah, sama seperti dirinya.


"Kita hanya teman kok. Tapi baiklah aku akan menjaga sikap mulai hari ini." Ucap Farah.


"Tolong ambilkan makan siang di dalam mobil saya." Perintah Zidan pada sekretarisnya. Ia melepaskan tangan Farah sebentar, lalu merogoh kunci mobil dari saku celana kemudian menyerahkan pada gadis yang ada di hadapannya.


"Ayah ada di dalam ?" Tanyanya lagi.


Gadis mudah dengan rok selutut itu kembali menahan langkahnya, lalu menjawab pertanyaan atasannya itu dengan ramah.


"Beliau masih di dalam, sedang ada tamu." Jawabnya


Zidan mengangguk, lalu menyuruh gadis itu segera pergi mengambil makan siang yang ia beli di restoran sebelum datang ke sini.


"Ayo." Ajak Zidan lagi. Ia kembali meraih tangan Farah dan membawa istrinya itu masuk ke dalam ruangan.


Ruangan yang sudah dua Minggu ini tidak lagi ia kunjungi karena sakit aneh yang di deritanya.


"Ayah ini aku. Kami boleh masuk." Izin Zidan setelah mengetuk pintu ruangan berbahan kayu itu.

__ADS_1


"Masuk Nak." Jawaban dari dalam ruangan itu terdengar.


"Ibu ada di sini." Ucap Zidan. Ia sangat tahu siapa yang baru saja mengizinkannya masuk.


Pintu ruangan terbuka, Zidan kembali membawa tangan istrinya yang ia lepaskan tadi untuk membuka pintu, lalu masuk ke dalam.


Farah terkejut mendapati pemandangan yang ada di dalam ruangan sang Ayah. Ia berpikir hanya ada Ibu mertuanya di dalam ruangan itu. Namun, dua wanita yang pernah datang mengacaukan ketenangan yang sedang ia usahakan beberapa bulan yang lalu kini kembali berada di ruangan yang sama dengannya.


Rita sedang bersimpuh di atas lantai di depan Ayah mertuanya, sedangkan Tante Nina sedang mengusap lembut punggung wanita yang sempat membuat ia murka beberapa bulan lalu.


Zidan semakin mengeratkan genggamannya di jemari Farah. Ia memaki dalam hati, sungguh ia hanya ingin hidup tenang bersama istri dan anak-anaknya, namun, kenapa ini begitu sulit untuk di wujudkan.


Melihat wanita murahan yang kini sedang bersimpuh di kaki Ayahnya, ia sudah bisa menebak jika ada sesuatu yang buruk sedang terjadi dengan keluarganya.


"Kita pulang Mas." Lirih Farah.


Zidan menatap Farah dengan tatapan mengiba.


"Kita pulang." Putus Zidan. Saat ini tidak ada yang lebih penting lagi selain Farah. Apapun itu akan ia lakukan, asalkan Farah tetap bersamanya.


"Tetap disini Nak." Ujar Dimas


Langkah kaki Zidan dan Farah yang hendak berlalu dari ruangan yang sementara ini di tempati sang Ayah kembali terhenti. Suara laki-laki paruh baya yang terkesan dingin namun tetap terdengar lembut itu menahan keduanya.


"Semua ini tidak akan pernah selesai, jika tidak di selesaikan. Jadi ayo kita selesaikan di sini saat ini juga." Ujar Dimas lagi.


Zidan menoleh, menatap Farah dengan penuh permohonan.


Farah menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menghembuskan nya perlahan. Benar, jika ingin tenang di kemudian hari maka apapun itu harus segera di selesaikan.


Farah membalik tubuhnya, ia mengeratkan genggamannya di jemari Zidan lalu melangkah menuju orang-orang yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi berbeda-beda.


***


*Note Author


Satu Bab ini dulu yaa 😁 besok lagi yah, yah 😅

__ADS_1


Tidak hanya Update-nya yang crazy, sebentar lagi jari dan otakku pasti akan ikutan crazy juga 😂😂


Selamat membaca semuanya, jangan lupa dukungannya 🥰🥰🥰❤️❤️❤️


__ADS_2