
"Hai sayang, aku di lobi tapi aku ga tahu di mana ruangan kamu Yang." Rengek Aira manja sambil menatap orang-orang yang terlihat ketakutan di meja resepsionis tempat ia berada. Ponselnya asih melekat di pipi, sedangkan tatapannya masih tertuju pada para gadis yang kini sudah tertunduk di hadapannya. Hanya ada satu gadis yang terlihat Begitu angkuh di sana seakan tidak percaya dengan rengekan manja yang terus meluncur dari bibirnya. Sepertinya, gadis cantik itu sedang menantangnya.
Setelah beberapa saat menunggu, laki-laki yang masih saja sama tampannya terlihat melangkah cepat menuju tempat ia berdiri. Senyum termanis ia ukir di bibir tipisnya saat laki-laki yang ia tahu tidak akan menahan diri saat bersamanya itu, semakin memangkas jarak dengan tubuhnya. Dan seperti yang ia duga, pelukan hangat serta kecupan berulang kali terus mendarat di puncak kepalanya.
Puas, yah sangat puas. Dengan perlakuan Abizar ini, ia ingin membuktikan jika semua tuduhan yang sempat ia dengar beberapa saat yang lalu, tidaklah benar. Melalui perlakuan manis Abizar ini, ia ingin mengatakan jika apa yang sudah mereka bicarakan tentangnya, sangatlah salah. Mungkin hubungan mereka memang berawal dari keadaan yang salah, tapi yang ia tahu ia mencintai Abizar dengan tulus, begitupun sebaliknya.
"Rindu yaa ?" Tanya Aira masih dengan suara manja.
"Banget. Aku sangat rindu." Jawab Abizar.
Aira tersenyum mendengar jawaban itu.
Ah senangnya bisa membuat para gadis iri. Begitulah batinnya meronta.
"Nanti tolong siapkan, dan antar ke ruangan saya." Perintah Abizar sambil meraih paper bag dari tangan Aira lalu meletakkannya di atas meja resepsionis. Laki-laki itu membawa Aira berlalu dari sana, menuju ruangannya.
Beberapa saat memasuki lift khusus, tubuh mungil Aira sudah tersandar di dinding kotak besi itu. Bibir tipisnya sudah habis di makan oleh laki-laki yang semakin hari semakin gila.
"Pelan-pelan Mas." Aira tertawa setelah ciuman mereka terhenti. Ia meraup oksigen yang beterbangan di dalam kapsul besi itu, untuk mengisi paru-parunya.
"Belajar menjadi genit yaa." Ucap Abizar sambil mengusap lembut bibir bagian bawah milik Aira menggunakan ibu jarinya. "Ada apa ? Kenapa tiba-tiba berubah jadi gadis penggoda seperti itu ?" Tanyanya masih terus mengurung tubuh mungil Aira di dinding lift.
Aira hanya tertawa mendengar malu mendengar pertanyaan Abizar.
"Kalau ga jawab, aku cium lagi." Ancam Abizar.
Tanpa menunggu lama, Aira mengalungkan tangannya di leher Abizar lalu mencium bibir suaminya itu dengan amatir.
Sudut bibir Abizar terangkat dengan sikap tiba-tiba istrinya.
__ADS_1
"Aku cinta kamu." Ucap Aira pelan. Marta indahnya menatap lekat wajah tampan Abizar.
Abizar hanya tersenyum, tangannya lalu terangkat menyusuri wajah cantik Aira dengan begitu lembut.
"Tidak di sini." Ujarnya sambil membawa Aira keluar dari dalam lift, saat dentingan berbunyi di susul pintu kota besi yang mulai terbuka perlahan.
Masih sambil menggenggam erat tangan Aira, Abizar terus melangkah cepat menuju ruangannya. Dan tanpa membuang waktu lagi, Abizar segera menyandarkan punggung Aira di pintu ruangan yang baru saja tertutup, lalu mulai mencium bibir yang sudah menjadi candunya itu dengan rakus.
Abizar menurunkan resleting dress yang berada di punggung Aira, hingga menampakkan punggung mulus dengan kain brenda yang begitu kontras dengan kulit mulus istrinya. Tangan yang seakan tidak pernah lelah menyentuh kulit Aira itu, mulai kembali menjelajahi setiap inci tubuh yang sudah menjadi candunya itu.
Hingga beberapa saat kemudian, ketukan pintu yang menjadi sandaran Aira berhasil menghentikan kegiatan panas mereka.
Aira membiarkan dress selutut nya yang sudah acak-acakan. Ia hanya membawa tubuhnya menuju sofa tanpa berniat merapikan penampilannya yang sudah acak-acakan karena perbuatan Abizar. Ia yakin, gadis yang sedang berada di balik pintu ruangan, pasti salah satu dari gadis yang ia temui di lobi tadi, untuk itu ia ingin tetap berada di ruangan itu dengan penampilan yang bisa membuat otak siapapun berpikir mesum. Dan tebakannya benar. Gadis yang terlihat angkuh di lobi tadi, masuk ke dalam ruangan sambil membawakan nampan yang berisi makan siang yang ia beli dari restoran tadi.
"Mau makan siang sekarang ?" Tanya Abizar.
"Aku mau lanjutin yang tadi dulu." Jawab Aira dengan tatapan menggoda.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan saya selama tiga jam ke depan." Perintah Abizar.
Gadis yang masih berstatus sebagai sekretarisnya itu mengangguk mengerti, lalu bergegas keluar dari dalam ruangan itu.
Abizar melangkah lalu ikut duduk di samping Aira. Baru saja ia ingin kembali melanjutkan kegiatan menyenangkan yang tertunda beberapa saat lalu, istrinya justru meraih makanan yang sudah terhidang di atas meja sofa.
"Katanya mau ngelanjutin dulu." Ujar Abizar sambil tertawa melihat tingkah Aira.
"Aku lapar." Jawab Aira singkat.
Tangan nakal Abizar masih terus bergerilya di punggung mulus Aira.
__ADS_1
"Aaaaa." Aira menyuapkan satu sendok makanan kepada Abizar. Laki-laki itu pun dengan patuh memakan makanan itu.
"Ada apa ? Tumben banget hari ini kamu jadi manis gini." Tanya Abizar.
Aira tertawa.
"Tadi saat aku sampe di lobi, mereka lagi ngomongin kamu." Jawabnya sambil mengulurkan segelas air putih ke arah Abizar. "Aku takut nanti suamiku di rebut. Makanya aku mau jadi gadis yang genit aja, biar kamu ga gampang tergoda dengan mereka." Sambung Aira lalu mulai memakan makan siangnya.
"Sepertinya mereka sudah bosan bekerja." Kesal Abizar. "Tapi mereka ga ngomongin kamu kan ?" Tanyanya kemudian.
"Ngga kok. Ayo makan lagi." Jawab Aira sambil kembali menyuapi Abizar. Mereka berdua menghabiskan dua menu makan siang yang ia bawakan tadi, bersama-sama.
"Mau ke dokter sekarang ?" Tanya Abizar saat keduanya sudah menyelesaikan makan siang mereka.
"Bentar lagi. Ga enak, entar kamu di kira ejakulasi dini lagi." Ujar Aira lalu tertawa keras. "Oke, oke maafkan aku. Aku bercanda Mas." Mohon Aira saat tubuhnya sudah tergeletak di atas sofa.
Abizar tidak mendengarkan permohonan istrinya. Ia terus saja mencium bagian tubuh Aira hingga membuat wanita itu tertawa kegelian.
"Ayo keluarkan suara khas kamu, buat mereka iri." Ucap Abizar ikut tertawa sambil menggelitik perut Aira.
"Sudah maafin aku. Hentikan sayang, perut aku keram karena terlalu banyak tertawa." Mohon Aira lagi.
Abizar menghentikan tangannya, lalu membantu Aira untuk kembali duduk di sofa. Rambut panjang yang sudah berantakan karena perbuatannya itu, ia rapikan kembali.
Aira diam saja, ia hanya terus menikmati wajah tampan Abizar dengan netra nya. Tangan yang begitu telaten merapikan penampilannya, ia biarkan terus mengerjakan tugasnya.
"Love you suami." Ucapnya pelan, membuat laki-laki yang sedang merapikan rambut panjangnya seketika berhenti.
Dan akhirnya, rambut panjang yang sudah terlihat rapi beberapa saat yang lalau, kembali di buat acak-acakan. Tidak hanya rambut yang acak-acakan, tetapi dress selutut yang masih melekat di tubuh Aira sudah tidak berbentuk lagi. Decitan sofa juga suara yang terus meluncur dari bibir Aira ikut memenuhi ruangan mewah itu, dan entah kapan berhenti Author pun tidak tahu. Sekian dan terimakasih.
__ADS_1
****
Ayoo semangatin Ayang dong, komen yang banyak di bawah. Lagi lemes nih 🥺🥺🥺