
Makan malam yang begitu sunyi, tidak ada celotehan Alfaraz selama satu bulan ini menemaninya saat menikmati kudapan yang ia sajikan sendiri di rumah Zidan. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi perkembangan kesehatannya dari laki-laki yang masih bertahta di relung hati terdalamnya.
Farah menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menatap keluar jendela kecil yang ad di ruang makan. Senja yang tadinya nampak terlihat indah, kini tidak ada lagi. Jangan di tanya lagi kemana perginya warna jingga yang menghiasi langit sore itu, karena setiap apa yang Allah ciptakan, punya batas waktunya masing-masing.
Lalu kapankah rasa yang Allah ciptakan di hatinya ini berakhir ? Entahlah, sampai saat ini ia masih mengusahakan semuanya. Tidak hanya luka yang ingin ia hapus, tapi juga rasa yang menjadi penyebab luka ini terbentuk.
Nadia, jika saja logikanya lebih banyak berperan empat tahun lalu saat wanita itu memintanya menjadi wanita ke dua dalam hidup Zidan, mungkin saja saat ini ia tidak pernah merasakan sakit seperti hari ini.
Cinta lama belum usai, oh ayolah itu adalah kalimat yang terdengar menggelikan. Namun, begitulah yang ia rasakan saat itu. Saat empat tahun lalu Nadia datang menawarkan sebuah kebahagiaan untuknya. Hanya karena rasa cintanya yang masih tertata rapi di hatinya untuk Zidan, ia mengabaikan logikanya dan hanya mengikuti kata hatinya saja.
Apakah ini salah Nadia ? tidak ! Ini adalah kesalahannya. Sejauh apapun ia berpikir, sampai saat ini drinya sendirilah orang yang paling pantas di salahkan atas luka yang kini ia rasakan. Sejak awal pernikahan, Zidan tidak pernah menjanjikan apapun untuknya, jadi sebenarnya luka yang saat ini ia rasakan memang berawal dari dirinya sendiri. Ia sendiri yang memutuskan masuk, lalu berharap Zidan akan bersikap adil, dan akhirnya ia terluka dengan harapannya sendiri. Terluka karena Harapan yang tidak seusai dengan kenyataan.
Sebesar apapun cinta Zidan padanya di masa lalu, seharusnya ia tidak lagi masuk ke dalam hidup laki-laki itu, apalagi sudah sangat jelas jika Zidan sudah memiliki wanita lain dalam hidupnya.
Nadia, Yah wanita itu sudah mengusahakan semuanya sebaik mungkin untuk kebahagiaan Farah. Hanya memang sejak awal keputusannya sudah salah. Cinta yang ia inginkan sejak awal, memang bukan lagi sepenuhnya miliknya. Bukan, bukan karena Nadia yang sedang sakit menjadi alasannya masuk ke dalam rumah tangga Zidan, tapi karena dirinya yang masih sangat mencintai laki-laki itu, hingga mengabaikan kemungkinan yang akan terjadi setelah ia masuk ke dalam hidup laki-laki itu.
Sudahlah, menyesal mungkin iya. Namun, bukankah setiap manusia pasti punya kesalahan masing-masing dalam hidup. Dan mungkin inilah kesalahannya, ia begitu percaya diri masuk dalam hidup laki-laki, hanya karena ia pernah menjadi wanita istimewa dalam hati laki-laki itu.
Ingat, pernah belum tentu masih. Jangan takabur dengan takdir Allah. Tidak selamanya yang dulu pernah terasa, masih akan sama.
Setalah lamunan yang begitu panjang, Farah beranjak dari kursi makan lalu membawa piring bekas ke tempat pencucian piring. Lalu memilih untuk masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Hati dan tubuhnya sama-sam lelah, dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Hidup yang baru, sepertinya bukan. Tapi melanjutkan kembali hidupnya yang dulu, sebelum ia masuk ke dalam hidup Zidan.
Beberapa tahun sejak kepergian Andra dan Ibu, ia masih baik-baik saja. Tidak ada perasaan cemburu yang selalu menggerogoti hatinya seperti empat tahun ini.
__ADS_1
Sampai ke dalam kamar, Farah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sederhana yang ada di dalam kamarnya. Tidak semewah ranjangnya di rumah Zidan, tapi ranjang sederhana ini jauh lebih membuatnya sedikit lebih baik.
Semoga saja, rumah sederhana ini akan mampu membantunya menghapus semua rasa. Tidak hanya ras cinta yang masih tersimpan rapi di relung hatinya, tapi juga luka yang selama ini terus menggerogoti hatinya.
Detik berganti menit, waktu terus berlalu dan malam semakin beranjak naik. Sunyi, tentu saja. Tidak ada tawa Alfaraz saat menjelang tidur malam ini, hanya ada suara binatang-binatang kecil yang entah mulai kapan menempati halaman rumahnya. Netra nya mulai tertutup rapat menuju mimpi yang panjang. Semoga saat pagi menyapa, semua akan jauh lebih baik.
*****
Gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar di dalam kamar Farah. Wanita itu sedang membersihkan bagian tubuhnya dengan air wudhu untuk kembali mencurahkan apa yang ia inginkan pada sang pemilik kehidupan.
Karena terlalu lelap, ia tidak sempat terjaga di sepertiga malam, beruntung menjelang subuh, suara Alfaraz yang ikut masuk ke dalam mimpi indahnya, mampu membuat ia terjaga.
Sajadah sudah tergelar di samping ranjangnya. Mukenah berwarna putih tanpa corak, sudah terpasang rapi menutupi piyama nya.
Jangan lagi ada kesedihan, begitu pikirnya. Yah, berusaha untuk bahagia, karena sejatinya kebahagiaan itu kita sendirilah yang harus menciptakannya.
Farah tersenyum melihat hasil kreasinya pagi ini. Usai menikmati sarapan pagi, kini ia mulia merapikan ruang tamu. Beruntung rumah ini kecil, jadi tidak membutuhkan banyak tenaga untuk membersihkannya.
Foto Alfaraz berukuran besar sudah terpampang di hadapannya. Farah menatap wajah putranya itu dengan senyum. Sejenak ia mengusap lembut wajah menggemaskan yang kini tergantung indah di dinding ruang tamu.
"Assalamualaikum." Seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan Farah sudah tahu siapa gerangan yang bertamu di rumah nya sepagi ini.
"Waalaikumsalam." Jawabnya, kemudian melangkah menuju pintu.
Farah terkekeh melihat perlengkapan yang di bawah Rian pagi ini ke rumahnya.
__ADS_1
"Kamu cocok jadi petani." Ucapnya dan sontak membuat laki-laki itu tertawa. "Ini siapa ?" Tanya Farah.
"Oh ini sahabat saya Mbak, namanya Tari." Ucap Rian memperkenalkan.
Farah meraih tangan gadis yang bernama Tari itu, sekaligus memperkenalkan dirinya.
"Sengaja saya bawa Mbak, biar nanti jika kebelet, bisa numpang di rumah Mbak Farah aja dan ngga perlu kembali ke kostan." Ucap Rian menjelaskan alasannya membawa Tari ikut dengannya hari ini.
Farah mengangguk, lalu mengajak dua orang itu masuk ke dalam rumah.
"Mbak sudah membersihkan rumah ya ?" Tanya Rian. "Yah, padahal niatnya bawa tari ke sini, biar bisa bantu-bantu Mbak." Sambungnya.
"Kalau tari mau, masih banyak kok yang belum Mbak beresin, tapi sebelum itu kalian sarapan dulu di dapur. Mbak sudah masak lebih." Ajak Farah.
Setelah menikmati sarapan yang di siapkan Farah untuk mereka, dua wanita cantik berbeda usia itu duduk di teras sembari memperhatikan Rian yang sedang memotong-motong rumput liar yang tumbuh di halaman.
Gadis yang sangat baik, begitu pikir Farah. Tari sangat sopan dan pandai dalam membawa diri sama seperti Rian, hingga ia tidak membutuhkan waktu lam untuk bisa dekat dengan gadis itu.
"Hai.." Seseorang melambaikan tangan dari pintu pagar.
"Rio ?" Farah menatap heran ke arah laki-laki yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Mau ngapain ?" Tanyanya.
Laki-laki itu tersenyum kaku sembari merutuki bosnya yang sudah menggangu tidurnya sepagi ini.
"Aku rindu." Ucapnya membuat Farah terbelalak. Tidak hanya melihat Farah yang terbelalak, Rio seketika memegang telinganya yang terpasang headset karena seseorang mengumpat dari ujung ponselnya.
__ADS_1