
Makan malam yang hangat. Aira melirik orang-orang baik yang ada di ruangan itu secara bergantian. Masalah yang banyak, tidak lantas membuat orang-orang luar biasa ini terlihat dingin. Semuanya terlihat baik-baik saja seperti tidak ada yang terjadi. Canda dan tawa terus mengisi ruangan dengan meja panjang yang sudah di penuhi berbagai macam hidangan yang begitu menggugah selera.
"Makan lagi Nak ? Apa perlu Ibu bantu ambilkan ?" Zyana melihat menantunya yang sudah menyelesaikan makanannya.
"Aira sudah kenyang Bu, terimakasih." Jawab Aira.
"Ih kamu manis banget sih." Si usil Arga tersenyum jail, terlebih melihat adik iparnya yang seketika mendengus kesal karena keusilannya.
"Jangan manis-manis Ra, bisa-bisa ada yang ga sabar, padahal kamu masih sakit."
Jangan di tanya lagi siapa yang memulai pembahasan mesum seperti ini.
Aira tersenyum, godaan seperti ini sudah menjadi santapannya sehari-hari. Meskipun itu sedikit membuatnya malu, tapi tidak lagi merasa canggung seperti sebelumnya.
"Tenang saja, setelah Aira sembuh Ayah akan memberi hadiah paket honeymoon, pilih aja kemana pun yang Aira mau." Alfaraz menimpali.
"Benar ya Yah ?" Tanya Abizar bersemangat.
"Dasar ! Jangan itu aja yang kamu pikirkan, pastikan dulu Aira sembuh." Pukul Dira di kepala adiknya yang sudah mulai ketularan mesum seperti kakak kembarnya.
Danira tertawa geli melihat tingkah Dira yang selalu saja tidak suka membahas hal-hal yang berbau urusan suami istri.
"Dia lagi bersemangat Dir. Jangan di pukul, kamu kan tahu gimana nikmatnya bulan madu, sudah ada hasilnya pula." Goda Danira pada adiknya.
"Sudah, sudah ayo kita pindah ke ruangan lain." Ajak Zyana pada suami dan anak-anaknya yang mulai membahas hal aneh di depan meja makan.
"Abizar mau langsung ke kamar Bu. Dia janji mau bawa Aira istirahat. Iya kan Abi ?" Danira menatap adiknya dengan tatapan jail.
"Jangan aneh-aneh Aira masih sakit." Tegas Yana pada putranya.
"Makanya mau Abi bawa istirahat Bu." Ucap laki-laki muda itu sontak membuat Danira tertawa.
__ADS_1
"Kalian berdua benar-benar mirip." Ucap Arion pada adik ipar dan istrinya.
"Tapi kamu suka kan ? Ayo kita ke kamar aja." Ajak Danira membuat Dira menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Sepertinya kita tidak jadi ke ruangan sebelah, Ayah mau ajak Ibu kalian istirahat juga." Ujar Alfaraz dan berakhir mendapat tabokan dari istrinya.
Aira hanya bisa menatap takjub pada orang-orang yang ada di sana. Kini dia tahu dari mana datangnya sifat Danira yang jail juga sikap Dira yang suka sekali memukul kepala orang. Dan itu berhasil membuat bulu kuduknya bergidik ngeri karena suaminya adalah perpaduan ke dua orang paruh baya ini. Oh tidak, jadi apa anaknya nanti. Eh, anak ? Ya salam otaknya sudah ikut-ikutan mesum sekarang.
*****
Di salah satu rumah yang juga berada di Jakarta, Reno sedang memeriksa berkas-berkas yang di bawakan oleh pengacaranya siang tadi. Sejujurnya ia tidak lagi ingin membuka kasus yang melibatkan mendiang sang Ibu, akan tetapi ia harus melakukannya agar putranya bisa hidup dengan nyaman bersama keluarga Prasetyo.
Rara, sang istri juga begitu setia menemani suaminya. Benang rumit masa yang mengikatnya dengan Zyana sudah lama terurai, akan tetapi ia ingin mematikan putranya hidup dengan baik dalam keluarga itu.Jika saja ia bisa menentukan dengan siapa putranya berjodoh, maka ia akan memilih orang lain, meskipun Dira adalah gadis yang baik dan di impikan oleh banyak Ibu untuk di jadikan menantu.
Ikatan rumit yang tidak pernah berakhir dalam keluarga mereka membuat Rara menciut untuk menjalin kekerabatan dengan wanita yang pernah ia beri luka itu. Terlebih Arga adalah hasil dari luka yang ia beri pada Zyana.
Namun, kembali lagi. Rezeki, maut dan jodoh yang sudah di tentukan oleh Allah, sama sekali tidak bisa di rubah oleh manusia mana pun, termasuk dirinya. Yang ada di pikirannya saat ini, hanya akan berusaha menjadikan takdir putranya sebagai alat pemutus dari segala kerumitan yang seakan tidak ada habisnya di antara dua keluarga.
"Tidak ada hal lain yang bisa memberatkan lelaki itu. Semua orang yang menjadi bagian dalam insiden penculikan Danira sudah meninggal." Lirih Reno sambil memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Terlebih mengingat sosok yang sudah membawanya ke dunia, sedikit membuat hatinya berdenyut.
Reno menghentikan pekerjaannya sebentar, lalu membawa wanita dengan hijab andalannya itu ke dalam dekapan.
"Maaf selalu saja membawamu dalam masalah." Ucapnya penuh sesal.
Rara menggeleng dalam pelukan Reno.
"Kita berdua harus membayar lunas segala luka di masa lalu. Aku yakin orang sebaik Mbak Yana tidak lagi mengingat kejahatan kita, akan tetapi Allah masih mengingatnya, karena malaikat-Nya menulis dengan rapi di sana. Mungkin saat ini kita kembali di beri kesempatan untuk menghapus catatan buruk itu, dan menggantinya dengan catatan yang baik. Jangan menyerah Mas, kita sama-sama berusaha yaa." Ujarnya sambil menenggelamkan wajahnya semakin dalam di dada bidang Reno.
Reno tidak lagi menjawab, ia hanya mengaminkan permohonan istrinya itu di dalam hati sembari mengeratkan pelukannya.
Yah, ini adalah kesempatan yang kedua kalinya untuk menebus luka lama yang sudah ia torehkan di hati Yana.
__ADS_1
Waktu terus bergulir, malam semakin larut, namun, Reno dan Rara masih terus memeriksa setiap file dokumen yang di kirimkan oleh pengacara siang tadi. Pengacara yang menemui Ibunya dulu, juga sudah meninggal karena kecelakaan. Nara, wanita yang di duga sebagai dalang dari penculikan itu pun, sudah meninggal karena bunuh diri di dalam sel tahanan. Reno memijit kepalanya yang mulai berdenyut.
"Kita istirahat dulu, aku akan menghubungi Akmal." Ajak Rara.
"Aku benar-benar tidak berguna, dan kini aku cemburu karena Akmal lebih bisa di andalkan." Ucap Reno membuat Rara tertawa.
"Tunggu."
"Ada apa ?" Tanya Reno cepat.
Rara tersenyum cerah.
"Kita melewatkan sesuatu. Saat kekacauan di pesta pernikahan adik Alfaraz, siapa yang mengajukan tuntutan terhadap Nara ?" Tanya Rara pada suaminya.
"Sebentar, aku hubungi Alfaraz dulu mungkin dia tahu tentang hal ini." Ujar Reno.
Tanpa berpikir panjang, Reno segera meraih ponselnya yang ada di atas meja sofa dan segera menghubungi besannya itu.
Baru saja terhubung, suara kesal langsung terdengar di ujung ponselnya.
"Maaf sudah mengganggu malam kalian." Ucap Reno tidak enak lalu segera mengakhiri panggilan itu.
"Ada apa ?" Tanya Rara sambil melihat wajah kebingungan suaminya.
"Kita ke kamar dulu, sial si Alfaraz bikin kesal aja."
"Apa yang terjadi ?" Tanya Rara lagi. Wanita itu terkejut saat tubuhnya tiba-tiba di angkat dan di bawa masuk ke dalam kamar.
Dan akhirnya semua pengantin lama kembali menikmati malam panjang mereka.
*****
__ADS_1
Abizar mengutuk authornya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yang nungguin bulan madu Abizar dan Rara, tinggalkan komentar yang banyak 😘😘😘😘