
Reno mulai melajukan motor maticnya menuju rumah milik gadis yang sangat ia cintai. Setelah perjuangan panjang membujuk sang Mama, akhirnya motor kesayangannya bisa melaju di jalanan Jakarta.
Toko Bunga Zyana, begitulah yang terpampang di depan bangunan sederhana yang di penuhi berbagai macam aneka bunga.
"Assalamualaikum Bu" Sapa Reno. Pemuda itu gegas meraih tangan yang sedang sibuk merangkai bunga, lalu menciumnya takzim.
"Waalaikumsalam Nak Reno." Ayo mari masuk.
Dinda mempersilahkan teman putrinya masuk ke dalam tokoh bunga miliknya.
"Yana ada Bu ?" Tanya pemuda itu.
"Ada sebentar lagi keluar. Kalian mau ke kampus kan ?" Tanya Dinda.
"Iya Bu, mau temanin Yana lihat pengumuman kelulusan." Jawab Reno sopan.
"Sudah izin sama Mama kamu ?" Tanya Dinda lagi. Reno tidak langsung menjawab, pemuda yang sangat menyayangi putrinya itu hanya tertunduk sejenak.
"Sudah Bu, kali ini Reno minta izin mau antar Yana ke kampus." Jawab Reno pelan penuh rasa bersalah, karena beberapa hari yang lalu Yana ikut di marahi oleh Mamanya.
"Ibu hanya takut, jika Yana akan di benci oleh Mama kamu." Ujar Dinda.
"Ga kok Bu, Mama ga marah."
Dinda mengangguk, dan tak lagi berbicara panjang lebar, karena putrinya sudah keluar dari rumah dan ikut bergabung di toko bunga miliknya.
"Bu Yana pamit ya." Izin Yana pada sang Ibu.
Wanita paruh baya itu mengangguk, dan memperingati Yana untuk tetap berhati-hati di jalan.
***
Motor martic milik Reno mulai membelah jalanan Jakarta yang tidak pernah sepi dari pengguna lalu lintas. Kenderaan roda dua, dan empat selalu memadati jalanan kota metropolitan ini.
"Na, mau ngga setelah lulus kuliah nanti, nikah sama aku ?" Tanya Reno.
__ADS_1
Yana sontak tertawa mendengar lamaran yang terdengar menggelikan di telinganya.
"Mau makan apa kita ?" Tanya Yana masih terus tertawa geli.
Namun, hatinya berdebar mendengar ajakan Reno beberapa saat yang lalu. Gadis yang baru mendaftar di salah satu universitas dengan jalur beasiswa itu, semakin mengeratkan pelukannya di perut Reno. Teman tapi mesra, begitulah mereka. Bersahabat sejak kecil, meskipun terkadang Reno sembunyi-sembunyi datang bermain dengannya.
"Kan kita akan cari kerja setelah lulus kuliah nanti. Lagipula kamu kan pintar Na, pasti akan sangat mudah masuk ke perusahaan yang kamu mau."
"Mana ada yang seperti itu, sekarang mah pintar atau tidak yang penting punya koneksi pasti cepat."
"Jangan pesimis dong Na, kan belum berusaha." Ujar Reno.
"Iya, iya. Kuliah dulu yang benar, baru ngomongin nikah." Celetuk Yana. Gadis itu kembali tertawa riang saat mendengar Reno berdecak kesal.
Motor matic milik Reno sudah terparkir di area parkir kampus. Reno segera membawa Yana menuju ruangan dosen yang menjadi penanggung jawab penerimaan siswa baru jalur beasiswa yang di ikuti Yana. Senyum kembali terlihat di wajah keduanya, pasalnya Yama di nyatakan lulus dengan jalur beasiswa.
"Selamat ya Na, aku ikut senang." Ujar Reno.
"Semua berkat kamu Ren, aku ga tahu gimana caranya masuk ke kampus ini tanpa kamu. Sekali lagi terimakasih ya." Ucap Yana.
"Kita berjuang sama-sama ya Na." Ucap Reno sembari mengusap lembut kepala Yana, lalu mengajak gadis itu untuk segera pulang.
"Aku langsung pulang ga apa-apa kan ?" Ujar Reno sambil membuka helm yang ada di kepala Yana.
Gadis itu mengangguk mengerti, sudah di izinkan untuk menemani aktivitasnya hari ini, bagi Yana sudah lebih dari cukup.
"Kita pasti akan bersama sampai nanti." Ucap Reno lagi.
"Semoga." Jawab Yana.
Lambaian tangan Yana mengiringi kepergian Reno dari hadapannya. Setelah motor matic berwarna hitam itu hilang di ujung jalan, barulah Yana melangkah masuk ke dalam toko bunga ibunya.
Melihat putrinya datang dengan senyum manis di wajah cantik itu, membuat Dinda ikut tersenyum. Ah gadis kecilnya kini sudah beranjak dewasa, semoga apa yang terjadi padanya dulu, tidak akan menimpa putri kesayangannya ini.
"Assalamualaikum Bu."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kok cepat pulangnya ?" Tanya Dinda.
"Reno harus belajar, mungkin kedepannya Yana juga akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar."
"Kamu lulus Nak ?" Tanya Dinda dengan mata penuh binar.
Yana mengangguk lalu segera menghambur memeluk tubuh ibunya.
"Ibu senang dengarnya." Ucap Dinda. "Kenapa Reno ga di ajak masuk dulu." Sambung Dinda setelah mengurai pelukan mereka.
"Kan Yana sudah bilang tadi, Reno harus belajar. Ngga ada yang benar-benar gratis Bu, jika ingin gratis uang, maka kita harus mempersiapkan otak untuk membayarnya." Ujar Yana.
Dinda mengusap lembut wajah teduh putrinya. Rambut panjang yang di biarkan tergerai itu di usapnya lembut.
"Kamu suka sama Reno ?" Tanya Dinda.
"Ga boleh ya Bu ?"
"Bukan ngga boleh, tapi ibu rasa kamu juga tahu kalau Mama nya Reno tidak begitu menyukai kita. Ibu hanya tidak ingin kamu terluka, itu aja." Ucap Dinda.
"Ibu jangan khawatir, sebesar apa pun rasa suka yang Yana miliki, Yana tidak akan pernah memaksakan keadaan. Tidak akan ada langkah selanjutnya tanpa restu dari orang penting dalam hidup." Jawab Yana. Ia tahu, Mama dari sahabatnya itu tidak terlalu menerima pertemanannya dengan Reno.
Dinda mengangguk lega. Tentu saja ia sangat mengenal watak putrinya. Sudah sejak dulu putrinya ini berteman dekat dengan Reno, namun sampai saat ini masih saja sebatas sahabat.
Dua wanita berbeda usia itu memilih untuk memesan makanan dari salah satu aplikasi penyedia jasa, dan menikmati makan siang mereka di toko bunga menjadi tempat mereka mengais rezeki. Toko bunga pemberian seseorang yang begitu dermawan, kini semakin besar. Namun sayang, orang dermawan itu sudah tidak lagi berada di dunia yang sama dengan mereka.
***
Usai menikmati makan siang yang di pesan dari salah satu restoran favorit mereka, Yana dan sang Ibu kembali beraktivitas seperti biasanya. Yana membantu ibunya merangkai bunga, juga ada beberapa pesanan karangan bunga harus di kerjakan oleh mereka berdua.
Yana tidak pernah membiarkan Ibunya mengerjakan semuanya sendiri, gadis yang sudah terbiasa dengan kehidupannya yang sederhana itu, selalu meluangkan di sela-sela waktu belajarnya, untuk membantu sang Ibu di toko bunga.
Ia menyadari, jika kerja keras sangatlah penting agar bisa menjalani kehidup yang baik di masa depan.
Sama halnya dengan apa yang ia raih saat ini, gadis yang seumuran dengannya kebanyakan masih duduk di bangku SMA, ia bahkan sudah bersiap untuk menempuh pendidikannya di Universitas.
__ADS_1
Namun, kembali lagi. Tidak ada yang instan, mengikuti kelas akselerasi tidak semudah yang di bayangkan, sekalipun memiliki IQ di atas dari siswa dan siswi lain, tetap saja Yana harus belajar dengan sangat keras.
Dan yah, kata tidak ada hasil yang akan mengkhianati usaha itu m mang benar adanya. Untuk sampai di titik ini, bukanlah hal yang mudah, dan semua kerja kerasnya dengan banyak buku, akhirnya yang ia targetkan dalam hidupnya pun tercapai.