
"Kita langsung ke rumah sakit Kak Riyan. Dira meminta kita ke sana, ada dokter kandungan yang sudah menunggu." Ajak Danira sambil melihat layar ponselnya. Sebelum berangkat, ia sudah mengabari adik kembarnya itu, dan baru saja ia menerima balasan jika dokter kandungan punya waktu dan bersedia memeriksa kandungannya.
"Janji jangan kecewa yaa." Arion meraih tangan Danira, lalu menggenggam tangan itu erat.
"Sepertinya kamu tuh yang akan kecewa, aku biasa aja. Lagi pula aku suka kok sendiri, karena aku masih bisa miliki kamu sendirian." Danira mengedipkan mata menggoda.
Arion hanya tersenyum lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan yang ada di hadapan mereka.
Benarkah ? Apakah saat ini dirinya yang sedang ketakutan ?
Yah, ia takut. Takut hasilnya nanti tidak akan sesuai dengan apa yang ia harapkan saat ini. Ia takut, kekecewaan pada dirinya sendiri akan semakin bertambah banyak. Sungguh, ia kecewa pada dirinya sendiri karena harus membuat gadis sebaik Danira ikut merasakan kekecewaan karena kebodohannya di masa lalu.
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka sudah mulai memasuki pelataran rumah sakit. Danira tersenyum saat melihat wanita serupa dengannya, lengkap dengan snelly sudah berdiri di depan lobi rumah sakit.
Di depan rumah sakit, Dira segera melangkah cepat menuju du orang yang baru saja keluar dari dalam mobil, hingga membuat wanita yang begitu mirip dengannya menatap khawatir.
"Hati-hati Dira." Ujar Nira dengan tatapan cemas saat melihat adiknya dengan perut yang tak lagi rata itu melangkah cepat ke arahnya.
Dira hanya memasang senyum terbaiknya, lalu memangkas jarak dan memeluk tubuh kakak kembarnya.
"Nanti kita jodohkan ya Kak." Ucapnya setelah melepaskan pelukannya di tubuh Danira.
Arion dan Danira sontak tertawa ketika mendengar kata perjodohan yang langsung meluncur dari bibir Nadira.
"Dir,, ya Allah.... ini tuh belum pasti dan kamu sudah berpikir ke sana. Siapa tahu aja aku telat datang bulan bukan karena hamil, tapi karena memang di beri kesempatan agar bisa terus menikmati adegan panas di atas ranjang. Kamu tahu ga, aku bahkan belum mencoba ranjang baru kami." Ujar Danira seketika membuat adik kembarnya cemberut.
"Bisa ngga sih Kak kalau cerita itu ga usah di sambung-sambung ke hal-hal aneh seperti itu." Kesal Dira lalu mulai melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Tapi kamu suka juga kan ? Buktinya hal aneh yang sering aku ceritakan sudah membuahkan hasil." Ledek Danira sambil mengusap lembut perut adiknya.
"Dasar ! Untung aja Arion betah sama kamu." Ucap Dira.
__ADS_1
"Aku betah kok, betah banget." Arion menimpali.
Dira hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalanya dengan tingkah aneh orang-orang terdekatnya ini. Sepertinya semua orang yang ada di dalam keluarga, memang terlalu vulgar, yah kecuali dirinya sendiri.
Ketiga orang itu terus melangkah menuju ruangan yang menjadi tujuan mereka sore ini. Gadis mudah yang sedikit lebih mudah dari mereka nampak terlihat menunggu kedatangan mereka di pintu ruangan.
"Hai." Wanita cantik dengan jas putih yang sama seperti yang di kenakan Dira, mengulurkan tangannya untuk menyapa Danira.
"Aku Danira." Ucap Danira memperkenalkan diri. "Dan ini suami saya, Arion." Sambungnya lagi.
"Aku Meisya Kak, panggil aja Mei." Jawab gadis cantik itu.
"Pasti lahirnya di bulan Mei yaa ?" Tebak Danira sambil tertawa lucu.
"Benar banget." Jawab gadis cantik itu lagi, kemudian mempersilahkan Danira dan dua orang lain masuk ke dalam ruangannya.
"Meisya ini putrinya Tante Friska, dan sekarang dia yang meneruskan karir Tante Friska di rumah sakit ini." Ucap Dira memperkenalkan gadis yang baru beberapa hari ini menjadi sahabatnya.
Nira mengangguk paham.
Danira kembali mengangguk antusias.
Arion ikut melangkah menuju ranjang pasien, dan membantu istrinya berbaring di atas ranjang itu. Setelah memastikan Danira berbaring dengan nyaman, Arion duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang sambil memperhatikan dokter yang bernama Mei itu memulai prosedur pemeriksaan terhadap istrinya.
Setelah mengolesi perut rata Danira dengan gel, dokter cantik itu mulai menggerakkan alat pendeteksi di atas perut yang sudah diolesi gel itu dengan hati-hati. Tidak membutuhkan waktu lama, sebuah senyum bahagia langsung terlihat dari bibir dokter cantik itu, membuat jantung Danira semakin berdetak hebat.
Sama halnya dengan Arion, laki-laki tampan itu mulai berkaca, padahal ia belum mengetahui hasil pemeriksaan istrinya hari ini. Hanya dengan melihat senyum dari bibir dokter yang masih berkonsentrasi dengan layar komputer, membuatnya yakin jika keajaiban yang sering ia pinta dalam sujud nya, di kabulkan oleh sang khalik.
"Detak jantung janin masih lemah, tapi memang sudah ada kehidupan lain." Ucap Meisya. "Harus ekstra hati-hati menjaganya yaa." Sambungnya. Wanita yang masih tersenyum seakan ikut bahagia itu, mulai membersihkan gel di atas perut Danira dan mengakhiri sesi pemeriksaan itu.
"Jangan khawatir Kak Nira, nanti akan aku berikan vitamin agar calon dedek bayinya kuat." Ucap Meisya lagi.
__ADS_1
Arion membantu Danira bangkit dari bed pasien. Wanita yang sedang di bantu oleh suaminya itu masih terus menikmati rasa yang begitu membuncah di dalam dada.
"Jangan sedih dong, nanti aku ikutan sedih." Bisik Danira saat melihat manik yang selalu menatapnya hangat penuh cinta, berkaca-kaca.
"Aku bahagia, sangat bahagia. Saking bahagianya aku tiba-tiba berubah jadi cengeng." Kekeh Arion masih dengan mata yang berkaca. Bahkan satu tetes air mata berhasil memaksa keluar dari sudut matanya.
Tangan Danira terulur, dan mengusap sudut mata yang basah itu dengan lembut.
"Jangan bermesraan di ruangan orang, dasar tidak tahu tempat." Omel Dira saat melihat tidak hanya tangan Danira yang berhasil menyentuh sudut mata Arion, tetapi bibir nakal kakak kembarnya juga berhasil mendarat di pipi kakak iparnya itu.
Meisya hanya tertawa dengan tingkah tamunya hari ini.
"Keluarga yang menyenangkan." Ujarnya. "Sayangnya Ibu maupun aku tidak berhasil masuk dalam keluarga besar kalian yang begitu luar biasa." Sambungnya lirih.
"Serahkan pada penggenggam takdir, dan mohonlah padanya." Ujar Danira setelah berhasil turun dari ranjang pasien.
Meisya menggeleng.
"Aku menggenggam janji, tapi sayang si pemilik janji sudah berbahagia dengan pilihannya." Ucap gadis cantik itu sendu.
"Terkadang kita perlu melepaskan janji yang tidak mampu di tunaikan seseorang terhadap kita, agar kedepannya tidak lagi terikat dalam keadaan yang sudah jelas hanya akan menyiksa." Ujar Danira.
Meisya tersenyum. Bibirnya tersenyum, tapi matanya masih nampak terlihat menyimpan kesedihan.
"Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin." Ucap Danira lagi.
Meisya mengangguk, dan memilih untuk tidak lagi membahas hubungan rumit yang terus menyiksanya. Kini ia kembali pada tugasnya hari ini. Memberitahu hal-hal apa saja yang baik di lakukan di awal-awal kehamilan. Tidak lupa pula ia meresepkan vitamin untuk Danira.
****
*Note Author
__ADS_1
Meisya adalah pemeran di Menggenggam Janji. Ga tahu kapan aku bisa mulai up rutin, yang pasti aku akan lanjut. Kerangka bab sudah tersedia, hanya saja jariku sudah tak mampu lagi mengetik 🥺🥺
Mohon di maklumi ya 🙏🥺