
Waktu terus beranjak pergi. Tidak terasa tiga hari begitu cepat berlalu. Banyak hal yang di bicarakan Arion mengenai masa lalunya yang di penuhi penyesalan. Danira pun selalu menjadi istri yang bijak dalam menyikapi semua kalimat yang ia dengar dari bibir suaminya.
Tidak memungkiri, jika ada beberapa hal yang sedikit membuatnya tidak nyaman, akan tetapi ia berusaha untuk menanggapi semua itu dengan pikiran yang baik. ada dasarnya, ada sebagian orang di luar sana yang rela melakukan apa saja agar bisa menjadi bagian dari orang yang mereka cintai, meskipun dirinya tidak termasuk dalam golongan itu.
Cerita kelam dari sang ibu mengenai wanita masa lalu sang Ayah yang rela melakukan apa saja karena kecewa tidak menjadi wanita yang di pilih, masih begitu membekas. Dan menjadi orang seperti itu bukanlah yang terbaik.
Memaksakan takdir yang sudah di tentukan oleh Allah, hanya akan membuat kita menderita. Terlebih, jika kita ingn merubah takdir tersebut dengan cara yang salah. Menjalani, berdamai dan mengikhlaskan jauh lebih baik dari pada harus rela mengorbankan diri sediri untuk seseorang yang memang sudah Allah tetapkan tidak akan pernah menjadi milik kita.
Ide Arion yang ingin kembali menempuh jalur medis agar dapat memiliki malaikat kecil bersamanya, tidak ia tolak. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bukan ? Hanya saja dia tidak ingin terlalu berharap dan berakhir kecewa. Saat Arion mengajaknya untuk kembali berikhtiar untuk mendapatkan keturunan, ia tidak menolaknya. Tapi baginya, hal seperti itu sudah di atur dengan baik oleh sang pemilik kehidupan.
Memiliki malaikat kecil dalam hidup, baginya tidak harus terlahir dari rahimnya sendiri. Terlebih di dunia yang sudah seperti ini, ada banyak malaikat kecil di luar sana yang membutuhkan uluran tangan dari mereka. Ada banyak anak-anak terlantar yang membutuhkan dekapan hangat dari mereka. Dan ada banyak malaikat kecil yang menunggu di selamatkan oleh mereka.
Keluarga merekap punya banyak uang untuk melakukan apa saja, tapi menurutnya jika tidak ada campur tangan yang maha kuasa di dalamnya, maka semua akan sia-sia dan akan kembali berakhir dengan kekecewaan. Walaupun begitu, ia tidak memungkiri jika sebuah rasa bahagia saat Arion menawarkan diri untuk kembali menjalani pembedahan, terasa di dalam hatinya.
Ia merasa jika saat ini Arion menganggap dirinya berharga, sama seperti wanita yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam hidup suaminya itu. Melihat semangat Arion yang ingin sekali membuatnya bahagia, membuat hatinya menghangat.
Setelah beberapa saat Danira merenung di balkon kamar hotel, seorang lelaki yang beberapa jam lalu meminta izin untuk bertemu seseorang, kini sudah berada di atas balkon yang sama dengannya.
"Kamu begitu menyukai waktu senja ya."
Suara bariton suaminya terdengar. Danira menoleh, menatap wajah laki-laki yang sudah memiliki, tidak hanya tubuh tapi juga hatinya.
__ADS_1
"Warna jingga saat senja sangat indah. Dan yang lebih penting, dari senja aku bisa belajar banyak hal, bahwa semua yang Allah ciptakan di dunia ini tidak ada yang benar-benar abadi. Entah itu hal baik atau buruk semua sudah memiliki batas waktunya masing-masing untuk pergi dan berlalu. Seperti halnya senja di ujung sana, yang akan beranjak pergi dan kembali ke peraduannya. Ucap Danira sambil kembali memandang warna jingga nan indah di ujung sana.
"Apakah aku menjadi bagian buruk yang Allah ciptakan untukmu ?" Tanya Arion.
Danira tidak mengalihkan tatapannya dari keindahan itu. Ia lalu menjawab pertanyaan suaminya dengan gelengan kepala.
"Kamu adalah hal yang terbaik yang pernah Allah beri untukku." Jawabnya jujur. Yah, Arion adalah hal yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
"Meskipun aku membuatmu kecewa ? Tidak, aku tidak hanya membuatmu kecewa, tapi aku juga merasa telah menipu, dan menjebak mu dalam pernikahan ini." Ucap Arion membuat wanita cantik dengan hijab andalannya itu berpaling dari keindahan di ujung sana. Dan kini menatap raut sesal yang begitu kentara di wajah tampan suaminya.
"Pernikahan ini adalah hal yang palin aku syukuri Arion. Aku tidak pernah merasa kecewa, apalagi sampai memiliki pikiran di jebak oleh mu. Aku bahagia, percayalah aku sangat bahagia." Jawab Danira sambil menatap lekat mata sedih yang berjarak beberapa meter darinya.
Arion pun sama, ia menatap Danira dan mencari keraguan dari mata itu namun ia tidak menemukannya di sana. Mata indah dengan binar penuh ketulusan itu, justru semakin membuat dadanya berdebar.
"Tentu, karena aku pun merasakan hal yang sama. Waktu tiga hari bukankah cukup untuk jatuh cinta pada seseorang ? Dan lebih penting lagi, kali ini aku tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Aku jatuh cinta pada lelaki yang memang wajib aku cintai." Jawab Danira.
Arion melangkah cepat, lalu membawa tubuh Danira ke dalam pelukannya. Ciuman berulang kali ia berikan di wajah cantik itu kala pelukan mereka terurai beberapa saat, lalu kemudian, ia kembali memeluk tubuh itu dengan begitu eratnya.
"Aku mencintaimu Danira." Ucap Arion pelan, namun, masih bisa di dengar dengan jelas oleh wanita yang kini sedang membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Apakah ini wajar ? Apakah ini tidak terlalu cepat untuk jatuh cinta ? Tentu saja tidak !
__ADS_1
Di luar sana ada sebagian orang yang mampu jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Bahkan ada pula yang jatuh cinta, setelah sekian tahun bersama. Semuanya tergantung dari sang pemilik hati. Intinya semua yang di ciptakan sudah memiliki waktunya masing-masing.
"Sepertinya masih cukup waktu sebelum ke Bandara." Ucap Arion menggoda ketika ia melepaskan pelukannya di tubuh Danira.
Danira tersenyum geli melihat wajah tampa suaminya.
"Peluk aku dan bawa ke ranjang mu." Jawabnya.
"Itu bukan ranjang ku, tapi ranjang hotel. Aku sudah menyiapkan ranjang yang lebih baik untuk kita di Jakarta." Ujar Arion, dan tanpa membuang waktu lagi ia segera mengangkat tubuh Danira dan membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar.
"Ngga romantis banget sih, masa iya kamu bawa aku seperti ini. Harusnya ala bridal style sambil ciuman sepanjang jalan menuju ranjang." Protes Danira karena kembali di angkat seperti karung beras.
Arion hanya tertawa mendengar kalimat keberatan dari bibir istrinya.
"Aku mau hal yang baru, dan tentu saja ini kejutan untukmu." Jawabnya.
"Kejutan apaan, ini tidak sesuai dalam khayalan ku."
Ario tidak lagi membiarkan wanitanya itu terus berbicara. Ia segera membungkam bibir manis yang sudah menjadi candunya itu dengan ciuman panjang. Tangan lihai dan nakalnya mulai menjelajah bagian-bagan kesukaannya di tubuh Danira, hingga mampu membuat wanita yang kini berada di bawahnya, mengeluarkan suara yang semakin membuat tangan nakalnya itu bersemangat.
Hijab sudah terlepas dari kepala Danira. Kini beberapa kancing di bagian depan terusan panjang mulai ikut terbuka hingga menampakkan kulit mulus yang begitu sulit di abaikan oleh Arion.
__ADS_1
Hingga akhirnya rintihan dari bibir Danira terdengar, ketika tubuh keduanya kembali menyatu untuk yang ke sekian kalinya di dalam kamar hotel penuh kenangan ini.