
Di sebuah rumah sederhana yang jauh dari ibu kota Jakarta, seorang wanita yang sedang memeluk kebaya pengantin tengah menangis sesegukan di atas ranjang sederhana miliknya.
Kehidupan mewah yang harus di tukar dengan perasaannya, sama sekali tidak ada harganya kini.
Tania Syahrana, anak seorang asisten rumah tangga yang ingin merubah hidupnya. Majikan dari sang Ibu memintanya untuk berpura-pura menjadi seorang putri dalam waktu lima bulan hanya untuk memuluskan investasi dengan bayaran yang fantanstis, dan kini lima bulan itu sudah berakhir.
Sebentar lagi kehidupan yang lebih baik akan menyapanya. Hasil penjualan rumah mewah milik majikannya yang ada di Jakarta, akan segera masuk ke dalam rekeningnya dalam waktu dua hari.
Tapi apakah cukup ? Tidak ini tdak lagi cukup. Setelah seharian berada di kamar sederhana ini, ia baru menyadari jika semua yang ia miliki sekarang tidak bisa mengisi sesuatu yang kosong di dalam hatinya.
Jika semua ini bisa ia tukar agar bisa bersama dengan Ayiman, maka ia akan melakukannya. Kutuk saja dirinya yang begitu muda jatuh hati pada laki-laki yang tidak seharusnya. Dia benar-benar menjadi gadis yang tidak tahu diri dan melupakan siapa dirinya yang sebenarnya saat sedang bersama Ayiman.
"Kamu cantik." Dua kata yang meluncur dari bibir Ayiman beberapa hari yang lalu saat ia mencoba kebaya pengantin ini kembali terngiang.
Tania semakin memeluk kebaya pengantin itu dengan erat. Hanya ini yang bisa ia bawa bersama perasaannya,. Hanya kebaya mewah ini yang menjadi kenangan jika ada seseorang benar-benar ingin membuatnya bahagia.
"Ayi maafkan aku, sungguh maafkan aku." Lirihnya masih sambil bergelut di atas ranjang mewah di dalam kamar apartemen pemberian majikannya.
Bunyi notifikasi di ponselnya kembali berbunyi. Ia sudah menebak dari siapa pesan tersebut, untuk itu ia tidak berniat memeriksa pesan itu, karena hanya akan kembali menambah penyesalan di hatinya.
Jika saja sejak awal saat Ayiman mengatakan akan memulai semua dari awal, ia sudah berusaha jujur tentang semuanya, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Tania berusaha untuk terlelap, agar mimpi indah yang ia rasakan beberapa minggu ini, kembali datang menyapanya. Berharap dalam lelapnya ia bisa berjumpa dengan laki-laki yang sudah mengisi hatinya sejak pertama kali mereka bertemu.
***
Di ruang kerja di dalam rumah mewah miliknya, Abizar sedang duduk di sofa yang ada di rungan itu bersama dua anaknya. Banyak hal yang mereka bicarakan malam ini, mengenai pembatalan pernikahan yang di lakukan sepihak oleh keluarga calon menantunya.
Tidak hanya pembatalan pernikahan, tetapi juga klien nya itu tidak lagi melanjutkan perpanjangan kontrak dengan alasan akan pindah keluar negeri.
__ADS_1
Abizar tidak kecewa dengan berakhirnya kontrak kerja d antara dua perusahaan itu, yang membuatnya geram adalah lelaki paruh baya yang belum lama ini menjalin kerja sama dengan perusahaannya ikut mengakhiri rencana pernikahan yang sudah di depan mata.
"Ga apa-apa, Ayah. Biarkan pernikahan Ayi di ganti dengan pernikahan Ayu aja." Ujar Ayiman berusaha sekuat mungkin untuk tidak menambah beban Ayahnya.
Ayura ingin sekali protes, tapi ini bukan waktu yang tepat. Meskipun Ayiman belum benar-benar menaruh rasa pada Tania, tapi ia tahu kakak kembarnya ini juga mengharapkan pernikahan dengan calon kakak iparnya itu.
"Menurut Ayu gimana, Nak ?" Tanya Abizar pada putrinya.
"Ayu baiknya gimana, nurut sama Ayah dan Bang Ayi aja." Jawab Ayura.
Abizar mengusap kepala putrinya yang tertutup hijab itu dengan lembut. Bersyukur punya putra dan putri yang seperti ini. Keduanya mirip dengan Aira yang tidak terlalu menuntut banyak hal, dan selalu patuh pada apapun yang menjadi keputusannya.
"Jika begitu dari kalian, Ayah harus berbicara lagi dengan Om Gio." Ujarnya.
Dua orang dengan wajah yang begitu mirip itu, mengangguk bersamaan.
"Kamu mencintainya ?" Tanya Abizar.
Ayiman tertunduk dalam. Bingung ? Yah, dia bingung dengan perasannya kini. Setelah mendapat pesan singkat dari Tania siang ini, terasa ada yang hilang dari hatinya.
"Apa perlu Ayah bantu di negara mana mereka tinggal ?" Tanya Abizar lagi, dan langsung mendapat gelengan kepala dari putranya.
"Ayi akan mencarinya sendiri, dan bertanya mengapa dia melakukan ini." Jawab Ayiman.
Abizar tidak lagi berkata-kata. Lelaki paruh baya itu hanya menganggu paham, lalu menepuk bahu putranya sebelum kemudian berlalu dari ruangan itu.
Setelah kepergian Ayah mereka dari ruangan itu, Ayura segera menahan tangan kakak kembarnya agar jangan beranjak dulu dari sana. Ada banyak hal yang mengganjal dari wanita yang menjadi perantara untuk jual beli rumah bekas kediaman Tania dan kedua orang tua wanita itu.
__ADS_1
"Aku akan membeli rumah itu." Ujar Ayiman. "Tapi samudra yang harus membayarnya sebagai kompensasi telah melangkahi ku." Sambungnya seketika membuat tanduk di kepala Ayura keluar.
Teriakan dari dalam ruangan yang baru saja di tinggalkan oleh pemiliknya, terdengar hingga keluar ruangan. Tapi orang-orang yang tinggal di sana tidak lagi perduli, karena sudah terlalu terbiasa dengan amukan Ayura.
"Aku tuh lagi bantu cari jalan keluar, Abang malah nyeleneh kemana-mana." Kesal Ayura sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menjambak rambut Ayiman.
"Sakit banget. Kamu itu gadis apa monster sih." Kesal Ayiman sambil meringis kesakitan.
"Bodoh amat, siapa suruh cari gara-gar. Ah, aku jadi males ngomong sama Abang." Ayura hendak melangkah keluar dari dalam ruang kerja itu sambil mengomel kesal, tapi tangannya segera di tahan Ayiman.
"Iya, maafkan aku. Tapi kan memang seperti itu. Kalau kamu nikah lebih dulu dari aku, Samudra wajib bayar uang kompensasi.
"Aku jambak lagi nih.." Ancam Ayura seketika membuat Ayiman diam. "Ah, bisa ngga sih Abang aku tukar dengan Bang Azam atau Aidar aja." Ceramah gratis masih berlanjut dari bibir Ayura.
"Iya udah, jadi ide nya apa ?" Tanya Ayiman kesal karena akan di barter oleh adik nya sendiri.
"Entah mengapa aku merasa, rumah itu milik Tania, Bang. Jadi aku mau membuat sesuatu pelanggaran kontrak gitu. Jadi rumah itu, pura-pura akan kita sita sebagai pembayaran pinalti karena mereka sudah melanggar kontrak dengan perusahaan kita." Jelas Ayura.
"Tapi kan mereka tidak melanggar kontrak Dek. Kontrak kerja emang udah berakhir."
"Abang ga tahu arti dari kata PURA-PURA ?" Tanya Ayura kesal.
"Tapi ibu tadi kan udah lihat kita." Jawab Ayiman.
"Serahkan semua pada ku. KIta tunggu keluarga itu datang, dan Abang bisa bertanya langsung pada mereka mengapa membatalkan rencana pernikahan kalian.
Ayiman terdiam. Bukan ide yang buruk, toh dia berniat hanya ingin mengetahui alasan di balik pembatalan pernikahan.
__ADS_1