
Di dalam kamar lain yang ada di hotel yang sama, Tania dan Ayiman hanya menghabiskan malam pengantin mereka sambil duduk di atas ranjang pengantin, sambil membicarakan banyak hal yang terlewat selama lima bulan perkenalan mereka.
Ada kisah yang tidak di ketahui oleh orang tentang Tania, dan menurut wanita itu ia harus memberitahu segalanya pada Ayiman. Biar bagaimana pun, Ayiman berhak tahu sekecil apapun rahasia tentang hidupnya.
"Kenapa kamu ngga menuntut hak itu sejak dulu ? Padahal jika di pikir-pikir kamu berhak loh." Ujar Ayiman setelah mendengar kisah hidup istrinya.
Tania menggeleng.
"Ibu ku sudah melukai wanita lain dengan kehadiran ku, masa iya aku masih harus membuang hati nurani ku untuk menuntut hak atas apa yang mereka miliki." Jawab Tania.
Terlahir dari sebuah kesalahan yang di sengaja, begitulah dirinya. Apapun alasan sang Ibu, mengenai perselingkuhan dengan Ayah kandungannya, tetap saja tidak ada pembenaran dalam hal itu. Menjadi wanita kedua dalam hidup orang lain, harus memiliki adab, karena tidak semua wanita mampu menjalani hal itu.
"Meskipun alasannya mereka saling jatuh cinta, tetap saja mendiang ibu ku bersalah, karena beliau jatuh cinta pada laki-laki yang sudah memiliki keluarga." Ucap Tania.
"Cinta tidak pernah salah, Tania." Ujar Ayiman.
"Yah, benar. Cintanya tidak salah, tetapi orang nya. Bukankah kita memiliki kendali penuh atas apa yang ad pada diri kita. Cinta dan obsesi berbeda, Ayi. Ibuku terobsesi merubah hidupnya dengan cara menikah dengan lelaki yang sudah memiliki segalanya. Beruntung kekayaan Ayah kandung aku memang sudah ada sebelum beliau menikahi istri pertama. Bagaiman jika kemewahan yang saat itu beliau miliki hasil dari kerja keras istri pertama ? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya ketika hati seorang wanita yang menemani dari nol, dan di campakkan setelah sudah memiliki segalanya."
Ayiman menatap istrinya yang terlihat sedang menerawang jauh di masa lalu.
"Hal seperti itu banyak terjadi saat ini." Jawabnya.
"Dan tidak akan ada yang benar-benar bahagia dengan hal yang seperti itu. Hukum alam akan selalu berlaku, bahkan di zaman yang sudah modern, Ayi. Buktinya mendiang ibu ku. Hal yang benar-benar membuatnya bahagia adalah, setelah beliau berhasil memperbaiki diri dan menyadari letak kesalahannya di masa lalu." Ujar Tania. "Dan sekarang aku mau bertanya, setelah penjelasan ku malam ini, bagaiman perasaan mu ?" Tanyanya kemudian.
"Semua orang memiliki masa lalu, Tania. Berbuat salah kemudian menyadarinya, itu manusiawi. Yang tidak bisa di terima itu, setelah melakukan kesalahan fatal tapi tidak memiliki keinginan untuk menyadari dan meminta maaf." Jawab Ayiman.
Tania tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ayiman.
"Ah enak banget, sekarang aku sudah punya tempat bersandar." Kekeh nya membuat Ayiman ikut tertawa.
__ADS_1
"Bahu aku akan selalu ada, tapi jangan lama-lama entar pegal." Sambung Ayiman dan kembali membuat mereka tertawa.
Malam yang panjang, hanya mereka habiskan dengan bercerita banyak hal tentang kehidupan masing-masing. Dalam membangun sebuah rumah di perlukan pondasi yang kokoh agar tidak mudah runtuh. Sama halnya dengan membangun rumah tangga. Apakah pondasi dari rumah tangga itu cinta ? Bukan, akan tetapi sebuah kejujuran. Bahkan cinta yang menggebu pun akan musnah begitu saja, ketika sebuah kepercayaan di hancurkan.
Ayiman menggenggam tangan Tania, dan mengecupnya. Tidak ada anak haram baginya, karena bayi yang baru lahir itu suci dari dosa.
"Tidur yuk." Ajaknya sembari menoleh perlahan pada wajah yang sedang bersandar di bahunya.
Ayiman tersenyum saat mendapati Tania sudah terlelap di bahunya. Apakah hari yang di jalani oleh gadis ini begitu melelahkan ? Ataukah bahunya yang terlampau nyaman untuk di jadikan sandaran ? Entahlah. Namun, yang pasti, mulai saat ini ia kan selalu menyediakan bahu untuk Tania dan mungkin anak-anak mereka kelak. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi hari yang melelahkan seperti yang di ceritakan Tania padanya beberapa saat yang lalu. Tidak akan berjanji dalam kisah mereka hanya akan ada kebahagiaan, namun, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membuat gadis yang sedang terlelap di bahunya ini, bahagia.
Setelah membantu Tania untuk terlelap di atas ranjang dengan nyaman, Ayiman melangkah keluar dari dala kamar tidur, menuju balkon. Waktu terus berlalu. Waktu sudah mencapai di penghujung malam, sebentar lagi akan memasuki waktu dini hari.
Ayiman menatap beberapa kenderaan yang masih saja lalu lalang dari ketinggian. Jalanan dengan kilauan lampu, kembali membawa ingatannya pada masa lalu.
Benar, cinta tidak pernah salah. Tapi kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri. Sakit, tentu saja. Tidak akan ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin.
Selamat tinggal kasih yang tak sampai. Semua sudah berbah, Daniza hanya akan selalu menjadi gadis kecil kesayangan mereka semua. Daniza hanya akan selalu menjadi seperti Ayura, di matanya.
Entah berapa lama waktu yang di habiskan Ayiman dengan berdiri di balkon kamar hotel. Ia melirik ke dalam kamar, melihat gadis yang masih terlelap di atas ranjang mewah dengan taburan kelopak bunga mawar. Ranjang yang seharusnya menjadi saksi di malam pengantin itu, masih terlihat rapi. Ah, dasar mesum.
Ayiman berpaling dari ranjang yang ada di dalam kamar, dan kembali menatap pemandangan kota yang tidak pernah sepi. Bahkan di jam seperti ini masih ada mobil yang melintas di jalanan.
"Ayi..." Sentuh Tania di bahu Ayiman.
Ayiman kaget saat ada ada tangan yang menyenth bahunya. Terkejut, tentu saja. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat Tania sedang terlelap di atas ranjang, dan kini tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Maaf, aku ngagetin kamu ya." Tania tertawa geli.
"Kok bangun ?" Tanya Ayiman. "Ayo masuk, di sini dingin." Ajaknya.
__ADS_1
Tania mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam kamar.
"Aku mencintaimu." Ujarnya saat mereka sudah berada di dalam kamar itu.
Ayiman yang sedang menutup pintu pembatas kamar dengan balkon, terhenti.
"Aku ngerti jika kamu masih belum bisa mencintai aku sepenuhnya. Tapi, aku ingin jujur dengan diri ku sendiri tentang apa yang aku rasakan saat ini." Ujar Tania.
Ayiman masih terdiam di tempatnya.
"Maafkan aku sudah lancang. Tapi beginilah kenyataannya." Ucap Tania lagi.
Ayiman melangkah, memangkas jarak dengan gadis yang terlihat merasa bersalah karena baru saja mengungkapkan isi hati padanya.
"Aku berniat ingin memberi mu waktu agar terbiasa dengan keadaan kita, tapi sepertinya kita tidak memerlukan kesempatan itu." Ayiman menarik tubuh Tania agar lebih dekat dengannya. "Apa aku sudah mengatakan pada mu jika aku sudah mencintai mu ?" Kecupan mendarat di atas bibir Tania.
Tania tersenyum.
"Ulangi lagi." Pintanya dengan senyum menggoda.
"Jangan menyesal karena sudah memancingku." Ujar Ayiman.
"Bukan kah malam pengantin memang harus di pergunakan dengan baik." Jawab Tania.
"Aku mencintaimu." Ucap Ayiman. Bibirnya kembali mendarat di atas bibir Tania, kali ini bukan kecupan tetapi ciuman panjang.
Dan akhirnya, tidak hanya di kamar sebelah yang menjalani ritual malam pengantin. Di kamar pengantin yang sebenarnya pun, berhasil melakukan ritual menyenangkan itu.
Pakaian yang berserakan di atas lantai, juga ranjang yang sudah acak-acakan menjadi bukti jika kamar pengantin itu benar-benar di gunakan dengan baik oleh pemiliknya.
__ADS_1
*****
.