
"Ck, jadi batal kan malam pertamanya."
Gerald berdecak sambil membuka lilitan kain kasa yang sudah penuh darah, dan bersiap menggantinya dengan yang baru.
"Pelan-pelan." Ucap Adelia saat Gerald tidak sengaja menekan bagian tangan yang terluka.
"Kata pelan-pelan itu kalau kamu ucapakan di atas ranjang lebih enak Del.."
Bugh....
Kepalan tangan Adelia yang tidak terluka menghantam kras di atas kepala suaminya.
"Sakit Del... Ga dapat jatah malam pertama, di pukul pula."
Bugh....
Tangan lentik yang terkepal itu kembali menghantam kepala Gerald..
"Kamu ngga puas ngamuk sama Kunti itu, sekarang ngamuk lagi sama aku ? Wah Mama, sepertinya memang sengaja membuat ku terbunuh di malam pengantin karena mengirimkan wanita ini padaku." Ujar Gerald.
Adelia masih belum menimpali. Tangan yang baru saja menghantam kepala suaminya, sudah kembali ke tempatnya.
"Udah..." Ucap Gerald masih kesal saat lilitan kain kasa baru di tangan Adelia sudah selesai.
"Sekarang jam berapa ?" Tanya Adelia.
Gerald meraih ponsel yang ada di atas nakas..
"Lima menit lagi jam dua belas malam. Tidur aja lagi." Pinta Gerald.
"Aku pingsan beberapa jam Gerald, dan kamu memintaku tidur lagi ? Apa kamu ga kasian, istri kamu ini kelaparan." Ujar Gerald.
Gerald tertawa lucu
"kalau lapar bilang aja. Ini hotel aku, tenang aja aku sanggup kok beri kamu nafkah lahir batin." Ujarnya masih dengan tawa lucu di bibirnya. Ia lantas melangkah menuju telepon dan menghubungi bawahannya untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar.
Adelia menatap punggung laki-laki yang baru saja melangkah menjauh dari ranjang tempat ia berada. Dan kini sedang berbicara di telepon entah dengan siapa.
"Maafkan aku mengacaukan malam pernikahan kita." Lirihnya.
__ADS_1
Gerald meletakkan telepon kembali ke tempatnya lalu segera berbalik. Ia menatap lekat wajah yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka berserobok, dadanya tiba-tiba saja berdebar. Debaran untuk sesorang yang ia usahakan menghilang, kini terasa di dalam dadanya.
"Terlepas pernikahan ini begitu dadakan, tetap saja aku benar-benar ingin menjalani pernikahan yang semestinya. Hanya saja malam ini aku terlalu emosi saat melihat wanita itu, apalagi si gila itu berniat menyakiti kakak ipar dan keponakanku." Sambung Adelia masih belum memutuskan tatapnya dari wajah sang suami.
Senyum terlihat di sudut bibir Gerald, ia kembali melangkah menuju ranjang tempat istrinya berada.
"Masih akan ada malam pernikahan berikutnya. Kita akan punya banyak waktu, jangan khawatir. Atau mungkin kamu ngga sabar yaa..
Plakk...
"Bikin kesal ih.." Rajuk Adelia. Gadis itu lantas mengangkat kedua kakinya yang menjuntai di sisi ranjang, dan bersiap naik.
"Tapi aku benar-benar ga sabar sih.." Gerald kembali tertawa geli lalu ikut naik ke atas ranjang. "Sudah halal kan, jadi sudah bisa peluk-peluk seperti ini." Sambungnya lalu membawa tubuh Adelia ke dalam pelukannya.
Tok...tok...
"Aaaaa siapa sih ganggu pengantin baru aja." Kesal Gerald. Ia masih tidak ingin beranjak dari atas ranjang, dan justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Adelia.
"Sumpah aku akan memukul siapa pun itu."
Karena bunyi ketukan pintu masih saja terdengar, Gerald bangkit dari atas ranjang, sambil mengomel kesal. Ia lantas kembali melangkah menuju pintu kamar, sedangkan wanita yang kini terbaring di atas ranjang hanya tertawa.
"Maaf mengganggu kalian.." Alfaraz terlihat tidak enak karena datang ke kamar pengantin baru di tengah malam buta seperti ini.
"Ck,, kamu ini kayak belum pernah nikah aja. Ini malam pengantin kenapa datang di tengah malam seperti ini." Gerald masih mengomeli kakak iparnya.
"Kalau aku dan Al tengah malam gini, udah selesai." Jawab Yana sambil tertawa lucu, saat melihat adik iparnya sedang melangkah mendekati merek dengan tawa yang sama.
"Ngga apa-apa, kita juga sudah selesai kok." Ujar Adelia menimpali.
"Kalau sudah selesai, kamu ngga akan bisa jalan normal seperti itu." Ledek Yana. "Kakak kamu ngga bisa tidur sebelum memastikan sendiri kalau kamu baik-baik saja." Sambungnya.
Adelia menatap wajah sang Kakak sebentar, lalu segera menghambur dan bergelayut manja di lengan laki-laki yang terlihat sedih itu.
"Aku baik-baik aja kok, ini hanya luka kecil." Jawab Adelia. "Ayo masuk." Ajaknya.
"Sayang aku kan masih ingin peluk kamu.." Gerald merengek.
"Bukanya kamu yang bilang kita masih punya banyak waktu yang panjang nanti. Ya udah tunggu aja dulu." Jawab Adelia acuh.
__ADS_1
Wanita yang baru melepas masa lajang hari ini, terus saja memeluk lengan sang kakak, sambil melangkah menuju sofa yang ada di dalam kamar.
"Maafkan aku." Ucap Alfaraz lirih.
"Semua sudah terjadi, tapi aku puas sih karena bisa memukul nya hari ini. Ah bertahun-tahun lamanya aku ingin sekali memukul wajah sok cantiknya itu, tapi tidak pernah kesampaian." Jawab Adelia.
"Bukan itu, maaf mengabaikan mu dulu dan terus mementingkan wanita itu." Ucap Alfaraz lagi.
Adelia menghambur ke dalam pelukan Alfaraz. Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya mereka sedekat ini.
"Sungguh maafkan aku atas segalanya." Ujar Alfaraz lagi.
"Aku senang bisa di beri kesempatan hari ini. Aku pikir, semua yang selama ini menyiksa ku, hanya akan terus tertahan di dalam hati. Maaf jika membuat Kak Al banyak pikiran malam ini. Sungguh aku tidak berniat seperti itu, aku...
"Tidak masalah.. Aku juga bersyukur ada kesempatan ini. Kini aku tahu, tidak hanya Bunda dan Papa yang aku buat kecewa, tapi juga kamu yang harusnya aku jaga." Ujar Alfaraz.
Adelia tidak lagi menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Alfaraz.
"Kok aku jadi cemburu yaa, jangan peluk erat-erat gitu dong Del." Protes Gerald.
Yana hanya tersenyum lucu, tapi tawa lucu itu tidak bisa menutupi embun di sudut matanya. Yah, ia tidak tahu sedetail apa yang terjadi di masa lalu suaminya ini, tapi dengan adanya hari ini, ia bisa belajar untuk lebih hati-hati dalam bertindak. Dari kejadian ini ia belajar, bahwa Alfaraz bukan hanya miliknya seorang diri. Bunda, Papa dan adik iparnya ini juga berhak atas suaminya.
"Ini siapa lagi sih, bikin kesal aja. Kenapa malam pengantin yang aku impikan jadi mengenaskan seperti ini."
Gerald kembali beranjak dari sofa, lalu melangkah menuju pintu yang kembali di ketuk dari luar, sambil mengomel kesal.
"Oh iya, aku pesan makanan buat Adel tadi." Ucapnya salah tingkah sambil mempersilahkan petugas hotel yang sedang mendorong meja trolley.
"Dasar..." Ucap Yana lalu kembali tertawa lucu.
"Sudah lepaskan tanganmu itu, istriku mau aku kasih makan dulu." Perintah Gerald pada kakak iparnya, setelah pelayan hotel menghilang di balik pintu kamar yang kembali tertutup rapat.
Alfaraz melepaskan pelukannya di tubuh adiknya, tapi Adelia seakan ingin membuat laki-laki yang sejak tadi terus mengomel, semakin bertambah kesal.
"Suapin aku, aaa." Adelia membuka mulutnya tanpa melepaskan pelukan di tubuh Alfaraz.
" Ogah, peluk aku sini, nanti aku suapin." Ujar Gerald kesal.
"Ah sial, setelah ini aku harus buat perhitungan dengan mu. Kenapa semua yang aku punya kamu rebut. Mengesalkan." Ujar Gerald lagi sambil menatap tajam wajah kakak iparnya, dan mulai menyuapi Adelia.
__ADS_1