
Hari terus berganti, tidak terasa beberapa bulan sudah terlewati setelah makan siang keluarga hari itu. Hari dimana Farah benar-benar merasa lega, karena Rehan ikut hadir dan membawa wanita yang selalu menatapnya sinis, untuk meminta maaf secara langsung.
Entah permintaan maaf itu tulus atau tidak, Farah tidak lagi mempermasalahkan. Yang Peking penting baginya, tidak lagi menyimpan sesuatu yang akan merusak kebahagiaan nya bersama Zidan dan anak-anak mereka nanti.
Selama beberapa bulan terlewati di rumah ini, tidak ada lagi air mata yang selalu mengucur dari pelupuk mata Farah. Zidan benar-benar menepati janjinya bahwa hanya ada bahagia yang akan ia persembahkan untuk wanita yang sangat dia cintai.
Kandungan Farah semakin hari semakin membesar, dan semakin banyak pula larangan ini dan itu yang keluar dari mulut suaminya. Lelaki yang dulu acuh tak acuh, berubah menjadi posesif tingkat kronis.
"Hanya kamar calon bayi kita Mas, itu ngga berat kok." Bujuk Farah lagi.
Zidan menghembuskan nafasnya, lalu meletakkan benda pipih yang menjadi wadah penyimpanan berbagai macam laporan penting perusahaan, ke atas nakas di samping ranjang.
"Aku kan udah nyewa orang buat dekor kamar itu nanti Ra. Jangan capek-capek, aku takut kamu kenapa-kenapa." Ujarnya memelas. Namun, wajah Farah semakin cemberut karena keinginannya lagi-lagi di tolak oleh suaminya.
"Taman belakang kan udah kamu sewain orang buat kerja Mas. Kamar itu biar aku yang dekor, dan tentu saja di bantu sama kamu." Farah masih kekeuh ingin mendekorasi sendiri kamar untuk calon bayinya.
"Baiklah, nanti aku sesuaikan dengan kesibukanku di kantor ya." Ucap Zidan mengalah. "Sini dekat-dekat, jangan ngambek mulu nanti anak aku jadi jelek." Sambungnya.
Farah tertawa geli, lalu masuk kedalam pelukan hangat suaminya.
"Ra.."
"Hm...
"Kemarin waktu hamil Al, siapa yang mengusap pinggang kamu kayak gini ?" Tanya Zidan masih terus melakukan apa yang menjadi tugas nya setiap malam hingga Farah terlelap.
"Ga ada." Jawab Farah.
"Terus ?
"Nangis aja udah." Jawab Farah santai.
"Kamu nangis karena ga di usap ?" Tanya Zidan lagi.
Farah mengangguk
Zidan mendorong pelan tubuh, Farah lalu menatap wanita itu dengan lekat.
"Kenapa sampai nangis ?" Tanyanya.
"Pengen aja. Lagi pula kalau nangis, pasti akan cepat terlelap." Ujar Farah
"Maafkan aku yang tidak berguna." Ujar Zidan dengan wajah penuh sesal.
__ADS_1
"Apa sih, aneh deh." Ucap Farah lalu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Matanya tertutup, hatinya membuncah kala merasakan ciuman berulang kali di puncak kepala juga usapan lembut di pinggang bagian belakangnya. Tangannya yang melingkar di pinggang Zidan semakin erat, sambil mengucapkan terimakasih untuk hidup bahagia ini di dalam hatinya.
Sesal, mungkin tidak akan bisa terobati, akan tetapi dengan rasa sesal itu kita bisa belajar untuk lebih baik lagi dalam memperlakukan seseorang dalam kesempatan berikutnya.
"Aku cinta kamu Farahdilah." Ujar Zidan.
"Aku juga cinta kamu, sangat." Jawab Farah.
Malam yang indah di akhiri dengan pelukan hangat di atas ranjang yang nyaman. Farah tertidur dengan begitu lelapnya dalam pelukan Zidan. Pelukan ternyaman yang akan menemaninya hingga nanti. Pelukan hangat yang akan ia rindukan di waktu yang akan datang, saat lelaki ini mungkin tidak bisa menemani malamnya karena kesibukan.
****
Pagi menyapa di kediaman Zidan dan Farah. Wanita dengan perut buncit itu masih ke sana kemari menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Rutinitas yang menyenangkan menurutnya selama beberapa bulan ini. Menyiapkan sarapan di pagi hari untuk dua lelakinya, lalu menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami, kemudian berlanjut menyiapkan saingan kecil sang suami.
"Ra aku ngeri lihat kamu mondar-mandir kayak gitu, udah biar aku aja. Aku bisa kok nyiapin pakaian kerjaku sendiri." Kalimat larangan kembali terdengar dari bibir suaminya, Farah hanya tersenyum manis menanggapi kalimat yang selalu menjadi makanannya sehari-hari itu.
"Tampan banget sih suamiku." Ujarnya setelah selesai memasangkan dasi dengan baik seperti hari-hari biasanya.
"Manis banget sih bibirnya." Ucap Zidan setelah mengecup bibir istrinya.
Wanita hamil itu mengusap pelan bahu suaminya lalu melangkah keluar dari kamar mereka, menuju kamar Alfaraz.
Zidan tersenyum lalu ikut melangkah keluar dari kamar yang selalu menjadi ruangan favoritnya di rumah ini.
Langkah kaki Farah mulai menapaki satu per satu anak tangga dengan hati-hati dan perlahan. Sesekali ia berhenti sejenak untuk menarik oksigen lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar putranya berada.
Sesak nafas tidak terlalu berarti saat wajah tampan putranya yang akan menanti kedatangannya di pagi hari kembali melintas di pelupuk mata. Ia menikmati setiap lelah mengurus keluarga kecilnya. Berulang kali Zidan menawarkan untuk mempekerjakan seseorang yang akan mengurus Al, namun dengan tegas ia menolaknya.
Asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bersama Nadia dan Zidan pun, tidak ia izinkan mengurus dua lelakinya.
"Pagi Boy." Sapa Farah ketika membuka pintu kamar putranya dengan perlahan.
"Pagi Unda." Bocah laki-laki yang sedikit lagi berusia empat tahun itu membalas sapaan sang Bunda dengan suara khasnya yang terdengar begitu menggemaskan. Entah sudah berapa lama Alfaraz terjaga, dan seperti biasa bocah yang begitu mirip dengan Bundanya itu, hanya akan duduk terdiam di atas ranjang.
Farah melangkah mendekati ranjang, lalu membantu Al turun dari ranjang itu, kemudian keduanya melangkah menuju kamar mandi.
Sama seperti hari-hari biasanya, Zidan pun ikut masuk ke dalam kamar putranya lalu duduk di sisi ranjang. Menunggu dua orang yang ia cintai itu menyelesaikan urusan mereka di dalam kamar mandi.
Setiap momen di pagi hari seperti ini, tidak ingin ia lewatkan karena hanya di saat pagi menyapa ia bisa menikmati aktivitas dua orang berharga itu.
__ADS_1
Kesibukan di perusahaan sering membuat waktunya tersita, dan hanya di pagi hari seperti ini ia memiliki kesempatan.
Farah sudah membawa Al keluar dari dalam kamar mandi dengan berbungkus handuk berwarna putih.
Tidak lama menyiapkan Al, karena bocah itu memang sangat patuh.
"Tampan banget sih." Ujar Farah lagi usai menyisir rambut Alfaraz.
"Hm tampan sih, tapi masih lebih tampan Papa." Jawab Zidan sambil melangkah mendekati istri dan putranya. "Sini sama Papa kita sarapan." Ajaknya sembari mengulurkan tangan ke arah putranya
"Mau Unda." Jawab Al ketus.
Farah terkekeh mendengar suara merajuk dari putranya.
"Al sama Papa dulu, kasian adik bayi kalau Bunda gendong Al." Bujuk Farah.
Alfaraz mengangguk, lalu masuk ke dalam pelukan Zidan.
Keluarga kecil itu keluar dari kamar Alfaraz, lalu menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan seperti biasanya.
"Mas bunga yang sudah Mas pesankan kapan tiba ? Sepertinya taman belakang akan rampung hari ini." Tanya Farah.
Zidan berhenti mengunyah, lalu menatap istrinya yang sibuk menyuapi putra mereka.
"Mungkin hari ini Ra." Jawabnya, kemudian kembali melanjutkan sarapannya.
Farah mengangguk mengerti
"Kamu makan juga Ra." Pinta Zidan.
"Iya nanti abis ini aku makan, Mas cepat selesaikan sarapannya, nanti terlambat." Ujar Farah.
Zidan mengiyakan, lalu kembali makan hingga nasi goreng yang ada di atas piring di hadapannya tandas.
Zidan mencium pipi Farah, lalu berpindah pada pipi gembul putranya.
"Minta Mbok yang berbelanja hari ini, aku ga bisa temanin. Ingat jangan kemana-mana tanpa aku." Ujar Zidan memperingati.
Farah hanya mengangguk pasrah mendengar setiap perintah dari bibir Zidan.
"Kabari aku tentang apa saja." Ucap Zidan lagi.
"Iya, udah sana." Suruh Farah sembari mendorong tubuh suaminya agar segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sebelum masuk, Zidan kembali membawa tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan. Mengecup puncak kepala itu berulang kali lalu masuk ke dalam mobil.