Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 245 Season 4


__ADS_3

Dengan cepat gadis cantik itu membalik tubuhnya, dan melangkah cepat menuju sofa di mana dua laki-laki aneh yang sejak tadi membuatnya bingung, berada. Beberapa saat kemudian, bantal sofa yang masih tertata rapi di atas sofa, mulai menghantam tubuh Azam.


"Ada apa ?" Tanya Azam heran sambil menahan bantal kecil yang terus menghantam kepalanya.


"Kenapa ?" Tanya Daren juga saat Daniza sudah menatapnya tajam. Dan benar saja, gadis yang baru beberapa saat yang lalu ia lamar melangkah cepat mendekati tubuhnya. Daren tidak tertawa, laki-laki itu segera beranjak dari atas sofa, dan berlari menghindari amukan gadis yang sedang kesal karena perbuatannya dengan Azam.


"Kamu kenapa Niz ?" Tanya Daren. Kini ia sudah berdiri di belakang Azam. Laki-laki itu masih terus tertawa geli karena Daniza yang tiba-tiba mengamuk di acara lamaran yang sudah di rencanakan oleh Azam hari ini.


"Menikahlah dengan Mas Daren Niz, dia jauh lebih baik. Abang akan lebih tenang jika yang menjagamu adalah dia." Bujuk Azam. "Dan lebih bagusnya lagi, Abang bisa membunuhnya kapan saja jika berani macam-macam padamu." Sambung Azam dengan wajah memelas, membuat Daniza semakin sedih.


"Apa-apaan." Daren keberatan dengan kata membunuh yang baru saja meluncur dari bibir sepupunya. Bukan karena ia berniat menyakiti Daniza, tapi kata membunuh yang baru saja di ucapkan Azam sudah sangat keterlaluan.


"Iyalah aku akan membunuh mu jika berani menyakiti Daniza nanti." Ujar Azam.


Dua lelaki yang sudah bersahabat baik sejak kecil itu terus berdebat, padahal gadis yang sedang menjadi bahan perdebatan mereka malam ini, belum tentu mau di ajak menikah.


Daniza membalik tubuhnya, lalu melangkah cepat menuju dapur kesayangannya. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa sapu dan bersiap menghajar dua laki-laki yang berani mengganggu waktunya malam ini.


"Ada apa ini ?" Tanya Daren saat sapu itu berhasil mendarat di betisnya.


"Pulang ga !" Ujar Daniza dan bersiap melayangkan sapu itu ke arah Azam. Beruntung laki-laki tampan terkenal jomblo itu segera beranjak dari sofa dan berlari menuju pintu keluar.


"Cepat bodoh." Ajaknya pada Daren yang masih berdiri kebingungan di dalam ruangan, sambil menatap bingung ke arah Daniza.


"Ada apa ini ?" Tanya Daren.


"Pulang !" Usir Daniza lagi dan bersiap menambah memar di betis Daren.

__ADS_1


Masih dengan wajah kebingungan Daren ikut melangkah cepat menuju pintu keluar di mana Azam berada. Daniza pun ikut melangkah menuju pintu apartemen.


"Menikah sama Mas Daren ya Dek.." Pinta Azam.


"Pulang !" Kesal Daniza, lalu segera menutup pintu apartemennya. "Benar-benar sudah gila." Gumamnya sambil melangkah menuju kamar tidur di mana keponakannya sedang terlelap.


***


Di depan pintu apartemen Daren tertawa terbahak saat melihat wajah sedih Azam.


"Lamaran kamu itu baru saja di tolak, malah ketawa." Omel Azam sembari melangkah meninggalkan sahabat sekaligus sepupunya yang sedang tertawa di depan pintu apartemen adiknya.


Daren ikut melangkah meninggalkan apartemen Daniza, masih sambil tertawa geli.


"Kan aku sudah bilang, malam ini bukan waktu yang tepat. Niza pasti kaget." Jawab Daren.


Daren menepuk pelan bahu adik sepupunya.


"Kamu pikir aku juga rela jika dia pergi jauh dari kita ? Putra ku akan sedih Zam, kalau Daniza ga akan di sini lagi." Ujar Daren. "Kali ini aku benar-benar ingin membawanya dalam hidup ku. Aku rela bolak balik Jakarta Lampung hari ini, karena benar-benar takut Daniza pergi dan akan semakin sulit aku raih." Sambung Daren.


Azam menghentikan langkahnya, lalu menatap Daren dengan wajah yang sedikit lebih baik.


"Jangan melihat ku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta." Kelakar Daren lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju lift.


Azam yang sudah merasa lega, ikut melangkah cepat dan masuk ke dalam lift.


"Tapi kamu yakin Daniza mau menerima lamaran mu ?" Tanya Azam. Melihat sikap Daniza tadi, sepertinya lamaran kakak sepupunya ini tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Tenang aja, tadi itu aku belum mengeluarkan seluruh kemampuan memikat wanita, jadi Daniza langsung menolaknya." Kekeh Daren.


Azam mendengus kesal. Daren selalu saja seperti ini. Laki-laki yang pernah menceritakan bagaimana besarnya perasaan terhadap adiknya ini, selalu saja membuat segala sesuatu yang serius, menjadi bahan tawa.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk menahannya tetap bersama kita. Walaupun Daniza tidak akan bisa menganggap ku lebih dari seorang kakak. Aku juga ga mau kehilangan baby siter Zam." Ujar Daren, lalu tertawa keras.


Karena tidak tahan lagi dengan sikap Daren yang sejak tadi terus menganggap kekhawatirannya ini sebagai lelucon, Azam segera keluar dari dalam lift lalu melangkah cepat menuju mobilnya.


"Woi anterin aku pulang." Teriak Daren saat mobil Azam sudah melaju meninggalkan basemen apartemen Daniza. Namun, mobil mewah milik CEO perusahaan itu terus melaju meninggalkan gedung apartemen. "Laki-laki kok ngambek." Omelnya. Ia merogoh ponsel yang ada di dalam saku celana yang ia kenakan dan segera mengetik pesan singkat di aplikasi berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.


"Gadis ini." Daren tersenyum saat melihat balasan yang tidak kalah singkat di layar ponselnya.


Beberapa saat kemudian, seorang gadis yang sudah mengenakan piyama panjang beserta hijab andalnya, melangkah keluar dari dalam lift tidak jauh dari tempat Daren berdiri.


Daren tersenyum seakan tidaka ada yang terjadi di antara mereka. Sedangkan gadis yang sedang ia pamerkan senyum manisnya itu masih terus memasang wajah judes, sambil terus melangkah menuju kearahnya.


"Hati-hati, ini mobil hadiah dari Papi." Ujar Daniza sambil mengulurkan kunci mobilnya ke arah Daren.


"Nanti milik kamu akan menjadi milik kita berdua, Niz." Jawab Daren masih dengan senyum yang semakin membuat Daniza kesal.


"Aku ga suka bercanda ya Mas." Ujar Daniza, lalu bersiap berbalik meninggalkan kakak sepupunya itu setelah menyerahkan kunci mobilnya.


"Niz..." Panggil Daren.


Daniza menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi detak jantungnya yang semakin menggila di dalam sana. Ia masih belum bersuara, hanya menanti kalimat yang ingin di utarakan oleh laki-laki yang kini masih berdiri di hadapannya.


"Aku akan menjaga mobilnya." Ujar Daren. Daniza yang sudah merasa canggung sejak lamaran dadakan tadi, hanya bisa mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Titip Fatih yaa, aku pamit." Ujar Daren lagi. Kali ini ia memberanikan tangannya menyentuh kepala Daniza yang tertutup hijab. "Jangan memeluknya, dia jatuh cinta padamu." Daren tertawa keras, lalu segera melangkah meninggalkan gadis yang baru saja merona karena perbuatannya, sebelum mendapat tambahan memar di betisnya.


__ADS_2