Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 261 Season 4


__ADS_3

Di sebuah kamar mewah, Daniza menggeliat dari lelapnya. Ia meraih jam kecil yang ada di atas nakas samping ranjang tempat ia terbaring. Jam menunjukan baru pukul tiga dini hari. Dengan perlahan ia bangkit dari atas ranjang. Ringisan kecil lolos dari bibirnya saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman di bagian inti tubuhnya.


"Astagfirullah." Gumamnya saat menyadari dirinya terlelap dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya di bawa selimut.


Ia menoleh, menatap laki-laki yang masih terlelap dengan begitu tenang. Wajah Daniza merona saat mengingat kejadian setelah mereka kembali dari rumah duka semalam, entah jam berapa ia terlelap semalam. Kejadian malam ini berhasil mengurus seluruh energi yang tersisa di tubuhnya.


Dengan hati-hati, Daniza meraih terusan panjang yang sudah teronggok di bawa ranjang, lalu mengenakannya kembali. Ringisan kecil masih terus keluar dari bibirnya, saat rasa tidak nyaman di bawah sana masih begitu mengganggu ketika ia turun dari atas ranjang mewah miliknya. Meski dengan langkah-langkah kecil, Daniza memaksakan diri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Air hangat mulai mengisi bathtub kesayangannya. Tidak lupa pula Daniza memberi air hangat itu dengan sedikit cairan aroma terapi untuk merelaksasi otot-ototnya yang sakit nanti. Setelah semuanya siap, ia masuk dengan hati-hati ke dalam bathtub yang sudah di penuhi busa sabun itu.


Daren benar-benar melupakan jika Daniza adik kesayangan banyak orang hingga berani membuat gadis cantik itu kelelahan di atas ranjang pengantin mereka.


"Ah segarnya.." Ucap Daniza saat tubuhnya mulai terasa lebih baik. Busa yang melimpah juga aroma terapi yang begitu menenangkan sedikit membuat tubuhnya merasa lebih baik.


Daniza masih membiarkan tubuhnya terendam di dalam bathtub yang berisi busa sabun melimpah. Netra nya tertutup rapat. Ingatannya kembali menjelajah pada beberapa jam yang lalu saat ia memantapkan hati untuk menjadi istri seutuhnya untuk Daren. Wajahnya memerah saat ingatannya kembali memutar kejadian saat ia menyerahkan mahkota yang ia jaga selam hampir dua puluh lima tahun ini untuk laki-laki yang sejak dulu tersimpan rapi di dalam hatinya.


Hingga beberapa saat kemudian ketukan di pintu kamar mandi menyadarkannya dari lamunan. Ia tidak lagi menebak-nebak siapa yang terus saja mengetuk pintu kamar mandi miliknya, karena memang dirinya tidak lagi menempati kamar kesayangannya ini seorang diri.


Setelah beberapa saat membersihkan busa sabun yang melekat di tubuhnya, di bawa kucuran air shower, Daniza lantas meraih bathrobe yang sudah tersedia di sana lalu mengenakannya. Tidak lupa pula ia membungkus rambut panjangnya dengan handuk kecil, kemudian bergegas melangkah menuju pintu kamar mandi.


"Kenapa ga bangunin aku. Aku kan mau mandi bareng." Ujar Daren saat Daniza sudah membuka pintu kamar mandi.


"Ga usah aneh-aneh Mas, sudah sana mandi bentar lagi subuh." Ujar Daniza ketus, lalu melangkah melewati Daren yang masih menatapnya.


"Kenapa jalan kamu kayak gitu ?" Tanya Daren.


"Bisa ga, ga usah bahas itu." Wajah cantik Daniza berubah menakutkan. "Mandi sana !" Tegas Daniza.


Nyali Daren menciut, laki-laki itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi hanya dengan celana pendek yang menempel di tubuhnya.


"Dasar gila, liat aja dia bahkan tidak sopan hanya menggunakan celana pendek seperti itu di dalam kamar. Padahal ini kamar aku." Omel Daniza dengan wajah memerah karena melihat tubuh bagian atas Daren yang di obral di dalam kamar miliknya.


"Kamu itu istri ku, jangan sampai lupa.." Daren yang tadinya sudah masuk ke dalam kamar mandi kembali mengeluarkan kepalanya di pintu kamar mandi dan menatap jail wajah gadis yang sudah terlihat memerah karena ulahnya.

__ADS_1


Setelah pintu kamar mandi benar-benar tertutup, Daniza melangkahkan kakinya menuju ruang ganti. Tidak hanya memilih pakaian untuk dirinya sendiri, tetapi menyiapkan pakaian ganti untuk Daren juga.


*****


Pagi yang indah menyambut kediaman Arion. Kini meja makan nampak begitu ramai. Hanya dalam waktu sehari, Arion dan Danira sudah memanen dua orang menantu juga satu cucu baru, Al Fatih.


Hanya Aidar yang tidak bisa menyempatkan diri menikmati sarapan pagi bersama keluarga, karena langsung meluncur menuju rumah Tiara. Ada banyak pekerjaan yang akan mereka berdua siapkan hari ini.


Alfan yang sudah menempati apartemen pun, nampak terlihat hadir di sana. Laki-laki yang selalu sibuk dengan gawai nya itu, betah berlama-lama bermain game online bersama keponakannya.


"Jangan di ajarin main game terus Bang, nanti Fatih jadi lupa belajarnya." Omel Daniza.


"Ga kok Bu, nanti juga tetap pintar seperti paman Alfan." Jawab Fatih.


Alfan tertawa, lalu mengusap kepala keponakan pintarnya itu.


Daniza hanya bisa menghembuskan nafasnya. Bocah laki-laki yang selalu menghabiskan banyak waktu di apartemennya sejak dulu ini, tidak pernah kehabisan alasan untuk menjawab kalimatnya. Dan lihatlah, kata Ibu yang baru saja terucap dari bibir mungil itu, mampu membuat hati Daniza mencair.


"Selamat atas pernikahan kalian Bang." Ujar Alfan. Ia melirik gadis yang terlihat lebih muda darinya itu sebentar, lalu kembali menatap wajah Azam.


Alfan mengangguk mengerti.


"Jadi aku panggil nya Mbak Trias..


Daniza tertawa geli.


"Dia adik kita semua." Ujarnya. "Dia adik Mbak Tia, sahabat nya Bang Ai." Sambung Daniza.


Alfan melotot..


"Bang ga maksa nikahin gadis di bawah umur kan ?" Tanya Alfan sontak mendapat pukulan dari sang Mami.


"Maaf Trias.." Ucap Alfan.

__ADS_1


"Ga apa-apa, aku udah 20 tahun kok. Bentar lagi 21 Tahun.." Jawab Trias.


"Syukurlah.." Ucap Alfan lega.


Daren dan Daniza yang sedang duduk bersebelahan langsung tertawa bersama.


"Trias hari ini pergi ke rumah bareng Mami aja ya." Ujar Daniza.


"Baik,


"Mami.." Ucap Danira lagi saat melihat menantunya terlihat ragu-ragu sambil menatap wajah Azam.


"Baik Mami. Kata Mbak Tiara, tahlilan nya nanti sore, Tri mau mengatur barang- barang dulu." Jawab Trias.


Danira mengangguk..


"Ayo makan." Azam yang sejak tadi menutup mulutnya rapat-rapat akhirnya buka suara.


"Iya, ayo kita sarapan dulu." Ajak Arion pada seluruh keluarganya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan, memulai sarapan mereka. Danira tersenyum melihat tingkah putra sulungnya yang saat tiba di rumahnya pagi ini, masih menunjukan sikap pendiam menyebalkan itu.


Wakt secepat ini berlalu. Rasanya baru saja ia dan Arion menghabiskan malam indah mereka di Berlin dulu, kini mereka sudah di berikan hadiah berlimpah ini. Anak-anak yang baik, dan juga menantu yang tidak kalah baik.


Setelah puas memperhatikan putra sulungnya, Danira melirik Trias yang seperti sudah terbiasa mengurus seseorang. Lihatlah, tanpa di minta, gadis yang masih terlihat sangat muda itu dengan begitu telaten membantu menyiapkan makanan untuk putranya.


Memiliki anak dan menantu yang baik, adalah hadiah yang paling berharga. Krena tidak semua orang akan seberuntung itu dalam hidupnya.


****


*NoteAuthor


Hai-hai, aku kembali menyapa kalian semua. Terimakasih tetap mau membaca kisah rumit yang tak berujung ini 😂

__ADS_1


Love banyak-banyak buat kalian semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2