
"Jadi begini Zi, kalau kamu dan Farah mengizinkan Rita ingin menginap di rumah kalian selam satu Minggu ke depan." Ucap Nina.
Zidan tersenyum lalu segera menolak permintaan dari Tante Nina dengan tegas.
"Rita boleh memilih salah hotel milik Ayah untuk ia tinggali selama satu Minggu, tapi aku tidak bisa menampungnya di rumahku." Ujar Zidan tegas.
Anisa dan Dimas masih diam, mereka memang keberatan saat Nina mengutarakan niatnya, namun merek memilih untuk tidak menjawab dan membiarkan Zidan yang mengambil keputusan.
"Hotel buang-buang uang Zi, lagi pula rumah Nadia ini kan besar dan banyak kamar kosong." Ucap Tante Nina, dengan menekankan Rumah Nadia.
Zidan hanya tersenyum menanggapi kalimat sinis yang kini tertuju padanya. Dan lagi-lagi gelengan kepala sebagai penolakan yang ia berikan.
"Pilihlah hotel yang Rita mau, aku akan menggratiskan semua termasuk fasilitasnya." Ucapnya santai.
Farah masih diam tertunduk, namun ia lega melihat sikap Zidan hari ini. Ah tentu saja Zidan akan bersikap demikian, pada dirinya yang notabene sebagai wanita yang di cintai saja, Zidan akan menjaga perasan Nadia di atas segala nya, apalagi hanya untuk orang asing seperti wanita yang kini duduk di hadapannya ini.
Nina berdecak kesal, bersamaan helaan nafas lega dari sepasang suami istri paruh baya yang juga duduk menyimak pembicaraan di ruangan itu.
"Ngga usah pura-pura kamu, menikahi Farah saat Nadia masih menjadi istrimu saja bisa kamu lakukan, masa menerima Rita sebagai tamu di rumahmu tidak bisa kamu lakukan." Ujar Nina.
"Maaf Tante Nina. Aku ngga tahu sejak kapan Tante membenciku, dan aku tidak perduli akan hal itu. Tapi satu hal yang harus Tante tahu. Tidak, aku yakin Tante sudah tahu sejak lama. Sebesar apapun cinta yang aku punya untuk Mas Zidan dulu, aku tidak berniat masuk ke dalam istana nya, jika ratu di istana itu tidak mengizinkannya. Ralat, bukan mengizinkan, tapi ratunya sendiri yang mengajakku masuk ke dalam istananya." Ujar Farah tegas, meski cairan bening jatuh begitu saja di pelupuk matanya. Cukup sudah, ia tidak akan membiarkan siapapun lagi merendahkan derajatnya sebagai istri kedua.
__ADS_1
Zidan menggeram kesal, terlebih lagi melihat air mata Farah kembali menetes hingga membasahi hijab istrinya, semakin membuat Zidan semakin tidak suka dengan sahabat ibunya ini.
"Nin, aku ngga tahu apa masalahmu dengan putraku hingga kamu terus menerus melakukan ini." Ucap Anisa lemah. Meskipun ia tidak menyukai sikap Nina sejak ia memilih untuk kembali pada Dimas, namun ia masih berusaha menahan diri, karena biar bagaimana pun Nina adalah orang yang paling menyayangi nya dulu.
"Aku tuh ga habis pikir sama kamu Nis. Ibu dari anak kamu ini sudah merusak rumah tanggamu, namun kamu tetap saja membesarkan nya. Di tambah lagi, keponakan ku harus jatuh cinta pada laki-laki yang kelakuannya memang menurun dari Ayah dan Ibunya membuatku geram." Ujarnya.
Zidan mengepalkan tangannya, mendengar mendiang ibunya kembali di sebut dalam kesalahannya.
"Aku sudah berusaha menolak Farah sejak awal, tapi Angga dan Yuna yang terus memaksa putraku untuk menikah karena mereka sadar putri mereka tidak bisa memberikan apa yang bisa Farah berikan untuk keluarga kami." Ujar Dimas dingin.
"Yah, jangan membawa Nadia. Ku mohon." Pinta Zidan memohon. Ia tahu jika sang Ayah sudah bersikap dingin seperti ini, tidak menutup kemungkinan, mendiang istrinya yang sudah tiada akan kembali terseret dalam masalah yang entah kapan akan berakhir ini.
Apapun yang terjadi selama ini, adalah kesalahannya. Semua berawal dari dirinya, dialah yang mengikat Farah dalam pernikahan. Dialah yang selalu menggilai tubuh Farah. Dia tidak benar-benar menolak Farah masuk ke dalam rumah tangganya. Ia serakah ingin memiliki dua wanita dalam hidupnya. Jadi, dia tidak ingin seseorang yang sudah tiada kembali terseret ke dalam masalah ini.
"Nikahi Rita." Ucap Nina santai. Pertanyaan inilah yang ia tunggu sejak tadi.
Zidan tertawa mengejek, melihat tingkah dua wanita berbeda usia namun sama-sama tidak memiliki etika di hadapannya ini.
"Dan kamu mau menjadi istri keduaku ? Eh bukan tapi istri ketiga ?" Tanya Zidan sambil menatap tajam gadis yang baru di kali ini ia lihat, namun sudah membuatnya muak.
"Apa kamu siap hidup sendirian dengan kubangan luka, seperti selama empat tahun ini aku berikan pada Farah ?" Tanyanya lagi masih terus menatap tajam gadis yang bergeming di samping wanita paruh baya yang sudah merah menahan amarah.
__ADS_1
"Nadia dan Farah berbeda. Nadia memiliki masalah pada kesehatan sejak ia remaja dan kami semua sudah tahu penyakitnya itu semakin memperpendek usianya. Buktinya empat tahun setelah pernikahan keduaku, Nadia pergi dan Farah menjadi satu-satunya. Jika kamu ingin menjadi yang ke tiga, maka bersiaplah untuk menerima luka yang lebih buruk dari yang di alami Farah, selama Farah masih hidup di sampingku, selama itu pula kubangan luka dan air mata akan kamu nikmati, terlebih lagi aku sama sekali tidak mencintaimu. Seorang wanita yang begitu aku cintai seperti Farah saja, nyaris menggugat cerai karena tidak tahan lagi dengan sikap brengsek ku, apalagi gadis yang justru membuatku muak seperti dirimu." Ujarnya dengan tangan terkepal erat.
Gadis itu terkejut mendapati kenyataan yang berlawanan dengan yang ia terima dari Tantenya ini. Rita menoleh menatap wajah tantenya yang kini menunduk dalam, lalu kembali beralih pada wajah tampan Zidan yang tidak bersahabat.
Sedangkan Zidan terkekeh melihat wajah bingung gadis di hadapannya.
"Apa kamu pikir selama ini Nadia menderita, dan Farah yang bahagia begitu ?" Tanya Zidan.
Rita terdiam, namun seperti itulah kabar yang ia terima dari wanita yang kini terdiam di sampingnya.
"Jika kamu masih berminta, tanyakan dulu pada Mama dan Papa mertuaku, aku yakin mereka akan segera memarahi mu habis-habisan." Ujarnya. Lalu berpamitan masuk ke dalam kamar sambil menggendong putranya yang sudah terlelap. Tidak lupa juga tangan Farah di genggamnya dengan begitu erat.
Selama ini ia memilih diam dengan sikap Tante Nina, karena menghargai Nadia. Namun kali ini, ia tidak akan lagi membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya.
"Oh iya Tan, aku yakin jika Mama dan Papa mertuaku mengetahui hal ini, mereka pasti akan marah besar. Jadi sebelum kesabaranmu habis dan mengadukan apa yang terjadi hari ini pada mereka, berhenti lah menghinaku dan juga Ayah. Apalagi mendiang ibuku yang tidak sempat aku lihat, jangan lagi menghinanya. Kami hanya memiliki takdir yang buruk, tapi bukan berarti semua orang berhak menghakimi." Ucap Zidan lagi lalu segera menarik tangan Farah menuju kamar Alfaraz.
Anisa menatap Nina dengan tatapan penuh kecewa. Meminta Zidan untuk kembali melakukan kesalahan, membuat hatinya remuk. Bagaimana bisa Nina datang membawa gadis, dan meminta putranya yang baru saja kehilangan dua nyawa, untuk menikahi gadis itu.
"Jangan lagi mengganggu putraku Nin, jangan buat persahabatan kita renggang karena ini.Aku dan Mas Dimas sudah bahagia puluhan tahun lamanya, Mbak Rania juga sudah tenang di sana. Putraku baru saja kehilangan dua nyawa dalam rentan waktu yang begitu dekat, jangan lagi menambah duka nya. Farah baru saja keguguran, karena kami lebih mementingkan Nadia dari apapun dan mengabaikan Farah." Isakan Anisa terdengar begitu jelas di ruang tamu rumah Zidan.
"Jangan buat menantuku yang telah pergi menderita di sana, hanya karena dendam mu yang entah kapan berakhir." Ucap Anisa lagi.
__ADS_1
Dimas segera meraih tubuh istrinya yang sudah bergetar masuknke dalam dekapan, dan membiarkan dua tamu yang kembali menciptakan masalah berlalu dari kediaman nya tanpa berpamitan.