
Pagi yang begitu cerah. Satu kotak makan siang sudah siap di atas meja makan, sedangkan sang Ibu sudah bersiap dan menunggu dirinya di meja makan. Yana gegas melangkah, menuju tempat Ibunya berada. Senyum hangat di pagi hari, yang sangat jarang ia dapati selama tujuh tahun ini, kini akan kembali ia nikmati sesuka hati.
Wanita yang sudah merawatnya penuh kasih, ia tinggalkan seorang diri di rumah hanya untuk mengabdikan diri pada laki-laki yang ia yakin adalah syurga nya, tidak hanya di akhirat nanti tetapi juga di dunia ini. Akan tetapi ia tidak mempersiapkan diri, jika alam sebuah pernikahan tidak selamanya manis. Sebaik apapun seorang lelaki, akan selalu ada titik lemahnya. Sayang, kelemahan Reno adalah hal yang tidak bisa Yana terima. Wanita lain selain dirinya, sungguh ia tidak akan sanggup menerimanya.
Sarapan nikmat yang jarang sekali ia nikmati setelah menikah, kini sedang ia santap dengan penuh rasa bahagia. Setelah perpisahan, setidaknya masih ada satu orang yang masih memberinya bahagia. Tidak, bukan masih tapi selalu memberi nya bahagia. Sejak dulu sampai saat ini, bahkan setelah ia sudah menomor duakan wanita yang telah melahirkan nya ini, namun wanita hebat ini masih saja bisa merentangkan tangan dan mendekapnya.
"Katanya dia ingin melamar kamu Na." Ucap Dinda sembari merapikan piring bekas dari meja makan.
"Siapa ?" Tanya Yana.
"Itu teman kamu semalam. Kamu pura-pura ngga tahu." Ledek Dinda pada putrinya.
"Lah bukannya Ibu yang meminta Yana untuk melupakan." Ujar Yana. Ia pun ikut melangkah menuju wastafel dan membantu sang ibu mencuci beberapa alat makan yang mereka gunakan pagi ini.
"Bukan melupakan, tapi untuk saat ini sampai tiga bulan ke depan kamu harus menjaga jarak dulu." Kesal Dinda
Yana tertawa mendengar kalimat kesal yang ia dengar dari bibir ibunya.
"Baiklah yang mulia." Ucap Yana tersenyum.
Setelah memastikan semuanya sudah tertata rapi, Yana mengikuti langkah kaki Ibunya menuju toko Bunga, tidak lupa pula ia meraih satu kotak makan siang yang sudah tersedia di atas meja.
"Yana langsung langsung berangkat ya Bu." Pamitnya usai membantu sang ibu membuka toko bunga.
Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu mengingatkan putrinya untuk selalu berhati-hati.
Yana melangkah keluar dari toko bunga menuju mobilnya yang sedang terparkir di pelataran. Baru saja ia hendak melajukan mobilnya keluar dari pelataran itu, mobil yang ia ketahui milik mantan suaminya sudah terparkir di sisi jalan.
Reno terlihat keluar dari dalam mobil, tapi Yana tidak lagi menghiraukan. Ia terus memacu mobilnya meninggalkan lelaki yang kembali terdiam di tempat nya berdiri.
Sudahlah, cara yang paling baik adalah, tidak lagi menanggapi. Semuanya sudah selesai, begitu pikirnya. Jika menurut Reno masih belum, maka itu adalah masalahnya sendiri. Yang jelas, untuk saat ini ia hanya perlu menata kehidupannya kembali..
__ADS_1
Mobilnya melaju di jalanan Jakarta. Belum terlalu padat, tapi sudah cukup banyak kenderaan yang ada di jalanan. Yana menggeram kesal saat melihat kaca spion mobilnya menangkap mobil yang tadi ia tinggalkan di depan toko bunga sang Ibu, kini sedang mengikutinya. Tidak lagi bertanya kemana Reno akan pergi, pasalnya tempat kerja laki-laki itu berlawanan arah dengan tempat kerjanya.
Dan benar dugaannya, lelaki yang ingin sekali ia hapus dari kisah hidupnya memang mengikutinya, bahkan kini lelaki itu ikut berhenti di depan gedung berlantai tempat ia bekerja. Yana memarkirkan mobilnya di tempat biasa, lalu turun dari dalam mobilnya.
Di empat yang sama, Alfaraz tersenyum saat melihat wanita yang ia tunggu sudah menampakkan diri. Ia membuka pintu mobilnya, dan keluar dari sana. Namun, saat melihat ada seseorang yang datang menyapa Yana, ia kembali mengurungkan niatnya dan duduk dengan diam di dalam mobilnya.
"Na tunggu kita harus bicara." Pinta Reno memelas, namun ia tidak lagi berani menyentuh Yana.
"Reno ku mohon. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua tentang kita sudah selesai." Ucap Yana masih berusaha untuk tetap menjaga nada bicaranya.
"Tapi aku tidak ingin kita selesai Na. Aku masih mencintaimu."
Yana menghembuskan nafas kasar. Kesal, yah ia sangat kesal karena terus-terusan di teror oleh mantan suaminya ini.
"Apa aku perlu menikah juga agar kamu berhenti mengganggu ketenangan hidupku ?"
Kalimat dingin menusuk hati Reno, akhirnya keluar juga dari mulut Yana. Reno terdiam, ia masih menatap sendu wajah mantan istrinya yang masih begitu ia cintai.
"Maka jangan mengganggu kehidupan ku lagi." Tegas Yana. "Aku lelah jika terus seperti ini Ren. Aku terlalu sakit jika memaksakan diri kembali padamu. Aku tidak akan pernah bahagia jika memaksakan diri untuk melakukan itu." Ujarnya lagi. Ia menatap sejanak mantan suaminya yang terlihat begitu mengenaskan, lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kantor.
Reno berbalik menuju mobilnya, tapi langkah kakinya kembali terhenti saat melihat sosok yang tidak asing dalam ingatannya. Lelaki yang sempat mengganggu pikirannya semalam kini terlihat melangkah menuju ke dalam perusahaan yang sama tempat Yana bekerja.
"Sejak kapan kalian mengenal ?" Tanya Reno saat lelaki yang ia temui di toko mantan ibu mertuanya semalam, baru saja melewatinya.
Alfaraz menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap laki-laki yang terlihat kacau di hadapannya.
"Saya baru mengenalnya kemarin." Jawabnya.
"Bohong."
Reno menatap tajam wajah Alfaraz.
__ADS_1
"Yana sulit berteman dengan orang lain. Pasti kalian memiliki hubungan di belakang ku, kan ?" Tuduhnya.
Alfaraz tersenyum, ia tidak berniat menanggapi dan berniat kembali melangkah masuk ke dalam perusahaan nya.
"Benarkan dugaan ku ?" Tanya Reno lagi dengan suara yang terdengar sinis.
"Apa kamu tidak benar-benar mengenal wanita yang kamu cintai ? Apa selama pernikahan kamu tidak tahu bagaimana watak istrimu ?"
Reno terdiam.
"Jangan tuduhkan keburukan yang telah kamu buat, pada orang lain." Tegas Alfaraz lalu melangkah meninggalkan lelaki yang terdiam di pelataran perusahaan nya.
Lelaki itu terus melangkah menuju lift khusus, lalu naik ke lantai tempat ruangannya berada.
"Mia minta penanggung jawab divisi keuangan untuk datang ke ruangan saya." Perintah Alfaraz pada sekretaris nya.
Gadis berhijab itu mengangguk sembari membukakan pintu untuk atasannya dan mempersilahkan lelaki dengan wajah tidak bersahabat itu masuk ke dalam ruangan. Ia lantas kembali melangkah menuju meja kerjanya, dan meraih gagang telepon kemudian melaksanakan perintah sang atasan. Setelah memastikan semua yang di perintahkan oleh bosnya sudah tersampaikan, Mia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
"Ada apa Pak Alfaraz ingin bertemu saya ?"
Suara wanita yang ia tunggu kedatangannya sudah terdengar di telinga Mia.
"Saya juga kurang tahu Mbak, tapi Pak Al terlihat kurang bersahabat." Jawab Mia. Gadis cantik itu beranjak dari kursi kerjanya lalu mbukakkan pintu kemudian mempersilahkan Yana masuk ke dalam.
"Mbak Yana sudah datang Pak." Ucap Mia sopan.
"Suruh dia masuk." Perintah Alfaraz.
"Baik Pak." Ucap Mia lagi, lalu kembali menutup pintu ruangan itu setelah Yana masuk ke dalam.
__ADS_1