Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 35


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, Farah dan Zidan semakin dekat. Laki-laki itu berubah seratus delapan puluh derajat sejak ia keguguran. Tidak ada lagi air mata, canda tawa lebih banyak mengisi setiap hari-hari mereka. Semua begitu terasa indah. Zidan selalu pulang sebelum matahari terbenam, lalu menghabiskan banyak waktu bermain dengan Al juga bercerita banyak hal dengan Farah.


Selama ini mereka memang tidak benar-benar menjadi sepasang suami istri seperti pada umunya. Farah yang terkesan menjaga jarak, Zidan pun tidak pernah berinisiatif untuk memulai komunikasi.


Selama ini hanya Nadia yang menjadi jembatan bagi keduanya, dan kini saat Nadia sudah tidak ada lagi, Zidan harus berusaha sendiri membangun komunikasi dengan Farah.


****


Di sebuah restoran, Zidan sedang makan malam dengan beberapa klien yang menjadi mitranya dalam sebuah pembangunan salah satu hotel di pulau Dewata bali. Kabar baik karena berhasil memenangkan tender salah satu perusahaan besar, yang di bawa oleh laki-laki paruh baya di hadapannya, membuat Zidan lupa janjinya pada sang istri untuk selalu menikmati makan malam bersama di rumah.


Di liriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, Zidan bernafas berat karena begitu banyak waktu yang ia habiskan di tempat ini. Farah pasti sedang menunggunya saat ini. Zidan segera beranjak, saat memeriksa ponselnya tidak lagi memiliki daya.


"Saya minta maaf Pak, saya harus pamit lebih dulu. Istri saya masih dalam masa penyembuhan." Pamit Zidan sopan.


Selain karena teringat dengan janji makan malam bersama Farah juga tidak sempat memberi kabar perihal keterlambatannya malam ini, ia pun mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, untuk itu ia berharap agar bisa cepat keluar dari sini.


Laki-laki paruh baya yang membawa kabar baik hari ini, berusaha sekuat tenaga menahan Zidan agar tidak pergi, tapi Zidan tetap mengayunkan langkahnya keluar dari restoran tersebut.


Setelah mencapai mobilnya yang terparkir di halaman restoran, Zidan bergegas melajukan mobilnya keluar dari sana. Berusaha tetap berkonsentrasi dengan kemudi, meskipun ada sesuatu yang begitu mengganggu. Tubuhnya memanas, entah apa yang terjadi dengan dirinya hari ini.


Berapa kali mobil yang ia lewati membunyikan klakson, karena hampir terserempet mobilnya, namun Zidan tidak lagi memperdulikan hal tersebut. Dia hanya ingin cepat sampai di rumah, dan beristirahat.


****


Di kediamannya Farah melirik layar ponselnya, sudah pukul sembilan malam namun laki-laki yang sedang ia tunggu masih belum juga menampakkan diri. Tatapannya kembali tertuju pada makanan yang sudah terhidang di atas meja. Perasaannya mulai tidak enak, belum lagi nomor ponsel laki-laki itu masih saja tidak bisa di hubungi.


"Sekali lagi." Gumam Farah. Namun, lagi-lagi helaan nafas berat terdengar dari bibirnya, saat suara operator terdengar di ujung ponselnya.


Waktu terus berlalu, Farah kembali melirik layar ponselnya. Satu jam sudah ia menunggu di meja makan, namun mobil laki-laki itu masih belum juga terdengar suara mesinnya dari pelataran rumah.

__ADS_1


Dengan perasaan yang tidak menentu, Farah beranjak dari kursi yang ada di ruang makan, lalu melangkah menuju kamar tidurnya. Sedikit rasa kecewa menyeruak, tapi ia berusaha untuk tetap berpikir positif. Mungkin saja Zidan masih banyak pekerjaan, dan ponselnya mati hingga tidak sempat memberinya kabar malam ini.


Sebelum mencapai kamar tidurnya, Farah lebih dulu memastikan jika putranya benar-benar sudah terlelap. Dengan perasaan gundah, Farah kembali melangkah keluar dari kamar tidur Alfaraz, menuju kamar tidurnya.


Waktu semakin beranjak pergi, ia berusaha agar tidak terlelap, tapi netra nya tidak lagi bisa di ajak bekerjasama. Mungkin karena efek obat yang masih harus rutin ia konsumsi untuk pemulihan kesehatan, membuat kantuknya tidak lagi bisa di tahan. Farah perlahan memejamkan matanya, dan terlelap.


Entah jam berapa sekarang, sayup terdengar pintu kamarnya di dorong perlahan. Farah melihat samar tubuh yang berdiri di ambang pintu kamarnya, dan melangkah mendekati ranjang tempat ia berbaring.


"Mas," Panggilnya, lalu bangun dari baringnya dan duduk di atas ranjang.


"Ada apa ?" Tanyanya lagi, tapi Zidan masih bungkam dan kembali menutup pintu kamar lalu kembali melanjutkan langkah hingga mencapai ranjang tempat Farah berada, dan duduk di sana.


"Kamu sudah makan malam ? sebentar, aku panaskan lagi makan malamnya." Ucap Farah berusaha menghindari tatapan Zidan yang sedikit membuat ia takut. Ia menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, namun, Zidan segera menahan tangannya.


"Malam ini ya Ra." Ucap Zidan sambil menyentuh atasan piyama yang melekat di tubuh Farah.


Farah segera memalingkan wajahnya, saat wajah Zidan hampir menyentu wajahnya. Kilasan malam-malam kelam yang ia lewati selama empat tahun kembali melintas.


"Beri aku sedikit waktu Mas, saat ini aku belum siap melakukannya. Aku...


hmmmpp..


Farah memukul-mukul dada bidang Zidan, namun laki-laki itu sama sekali tidak mengindahkannya. Ia terus mencumbu bibir istrinya seperti orang gila.


"Mas, hentikan." Ucap Farah saat bibir Zidan terlepas, Ia berusaha lepas dari dekapan Zidan, namun entah setan apa yang merasuki suaminya ini hingga terus melanjutkan cumbuan tanpa menghiraukan jeritan Farah.


"Mas jangan, aku belum bisa melakukannya." Cegah Farah lagi saat tangan Zidan mulai membuka perlahan kancing piyama yang ia kenakan.


"Mas aku mohon, beri aku sedikit waktu lagi.." Teriaknya kesal, namun laki-laki itu terus saja melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.

__ADS_1


"Aku tidak lagi bisa menahan diri Ra." Jawab Zidan serak.


"Mas jangan seperti ini." Mohon Farah.


Namun Zidan tidak menghiraukan permohonannya, dan terus melanjutkan apa yang ingin dia lakukan.


Hati Farah kembali mencelos sakit, bagaimana bisa Zidan memperlakukan dirinya seperti ini. Air mata mulai berjatuhan di pipinya, saat Zidan menarik kasar pakaian yang melekat di tubuhnya.


Saat Zidan sedang mempersiapkan dirinya sendiri, Farah segera mengambil kesempatan itu dan berlari menuju pintu kamar tanpa menghiraukan tubuhnya yang hanya terbalut dengan pakaian dalam


"Farah, aku mohon." Tahan Zidan di tubuh Farah, lalu kembali membawa tubuh kecil itu ke atas ranjang.


"Mas jangan seperti ini, aku belum benar-benar bersih dari hadats, bersabarlah sedikit lagi." Bujuk Farah. Dia memang sudah berniat untuk mempersiapkan diri, tapi bukan malam ini.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, maafkan aku." Ujar Zidan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Mas kita bisa membicarakannya lagi, mas sudah berjanji akan memberikan waktu sebanyak yang aku butuhkan lalu mengapa....


Hmmmppp...


Kalimat Farah terhenti saat bibirnya kembali di cumbu oleh Zidan. Kedua tangannya yang terus memukul dada bidang milik suaminya, kini sudah berada di atas kepala.


"Mas..." Lirihnya bersamaan dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya, saat sisa pakaian yang melekat di tubuhnya sudah di tarik kasar dan terlepas dari tempatnya.


Malam ini jauh lebih menyesakkan daripada malam-malam kelam lalu, Zidan tidak melakukannya dengan lembut seperti dulu. Laki-laki itu terkesan terburu-buru, dan menyisakan perih di inti tubuhnya.


Kata maaf di sertai lenguhan yang keluar dari bibir suaminya, semakin menambah luka yang sedang berusaha ia obati selama sebulan ini.


Yah tidak ada yang berubah, semua masih sama. Dia memang hanyalah wanita kedua yang seharusnya selalu menyiapkan diri saat Zidan membutuhkan kehangatan di atas ranjang. Bodohnya ia berharap rumah tangganya akan berubah, hanya karena dirinya sekarang yang menjadi satu-satunya dalam hidup Zidan.

__ADS_1


__ADS_2