
"Mobil hanya bisa sampai di sini." Ucap Aira setelah sepanjang perjalanan dari apartemen mewah menuju kostan, membungkam mulutnya rapat-rapat.
Tidak, bukan hanya dirinya yang membisu, tapi lelaki tampan dengan waja yang terlihat begitu tenang di sampingnya, pun ikut menutup mulutnya rapat-rapat.
Abizar membuka pintu mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil itu. Beberapa saat kemudian, Aira ikut melakukan hal yang sama , dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri gang sempit menuju kostan tempat ia tinggal selama dua tahun terakhir.
"Tunggu saja di mobil, aku akan mengambil berkasnya." Ucap Aira.
"Kenapa memintaku menunggu, kamu mau kabur ?" Tuduh Abizar.
Aira terkekeh mendengar tuduhan dari Abizar.
"Sebenarnya yang butuh pertanggung jawaban ini, aku atau kamu ?" Tanya Aira masih dengan tawa di bibirnya, membuat Abizar harus berusaha keras untuk tidak menekan dadanya yang tiba-tiba berdebar saat melihat wajah manis yang sedang tersenyum di hadapannya.
"Ayo." Ajak Abizar langsung menyambar tangan Aira, lalu menarik tubuh mungil itu untuk kembali melanjutkan langkah menuju tempat tujuan mereka.
Aira menatap tubuh tinggi yang kini sedang menggenggam tangannya dengan begitu erat menuju bangunan petak yang mulai terlihat di ujung sana.
"Bentar." Ucap Aira saat keduanya sudah berada di depan pintu kamar kost miliknya.
"Ada apa lagi ?" Tanya Abizar.
"Aku mau buka pintu." Jawab Aira.
"Buka aja, kenapa memangnya ?" Abizar mengerinyit sambil menatap lekat wajah cantik Aira.
Gadis itu kembali tertawa geli.
"Aku ngga akan kabur Abizar. Lepaskan tangan ku dulu, aku mau ambil kunci kamar." Jawab Aira dengan kekehan geli terus meluncur dari bibirnya. "Ya Allah aku ngga nyangka kamu sekocak ini." Sambung Aira sambil membuka tas kecil yang melingkar di bahunya.
Abizar hanya menatap wajah yang terlihat tak ada beban itu dengan seksama. Sejak semalam, ia bisa bebas melihat wajah gadis yang membuat hatinya berdebar dari jarak yang sangat dekat seperti ini.
"Kamu mau masuk ?" Tanya Aira.
__ADS_1
Abizar segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Aira.
Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan luas beberapa meter itu.
""Ini langsung kamar ? Ga ada ruang tamu gitu ?" Tanya Abizar saat memasuki ruangan dan mendapati ada ranjang di sana.
Aira kembali tertawa melihat wajah panik dari laki-laki yang katanya sudah menidurinya semalam.
"Namanya juga kostan, ya langsung kamar lah. Ini perbulannya lima ratus ribuan aja, jadi ga mungkin punya ruang tamu." Jawab Aira.
"Lalu aku duduk di mana ?" Tanya Abizar.
"Tuh." Aira menunjuk ranjang kecil miliknya. "Kenapa ? Kamu takut ? Bukannya semalam kamu sudah meniduri ku, kenapa sekarang masih takut ?" Tanya Aira dengan senyum penuh arti di wajahnya. Berharap lelaki ini menceritakan yang sebenarnya terjadi, namun, setelah bermenit-menit berlalu, lelaki itu masih bungkam dan hanya membawa tubuh tegapnya menuju ranjang kecil dan berbaring di sana.
"Aku suruh kamu duduk, bukan berbaring." Ujar Aira lagi.
"Aku ngantuk, semalaman nggak tidur." Jawab Abizar sambil menutup mata dengan lengannya.
Aira yang berniat membongkar lemari pakaian untuk mengambil berkas penting miliknya, memilih duduk di atas kursi belajar yang ada di ruangan itu.
"Dan jika kita sudah menikah nanti, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memandang remeh dirimu." Ujar Abizar masih sambil menutup matanya menggunakan lengan.
"Iya tapi kenapa ?" Tanya Aira.
"Ambil berkas mu, aku akan membawanya pulang nanti." Pinta Abizar tanpa berniat menjawab pertanyaan Aira. Ia lantas membalik tubuhnya, dan membelakangi gadis yang kini sedang menatapnya lekat dari atas kursi kecil yang juga berada di ruangan itu.
Aira tidak lagi bersuara, namun, ia belum juga beranjak dari kursi yang ia duduki. Hingga beberapa menit kemudian, dengkuran halus mulai terdengar dari atas ranjang sederhana miliknya. Yah, lelaki yang masih saja membuatnya bingung itu, sudah terlelap di atas ranjangnya.
Beberapa saat kemudian, Aira bangkit lalu mulai memeriksa tempat penyimpanan barang-barang penting miliknya. Dua lembar berkas yang di perlukan sudah ia sisihkan di atas meja belajar miliknya, lalu gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan baju ganti dalam pelukannya.
Biarlah, jika memang ini adalah jalan yang sudah Allah garis kan, maka ia memutuskan untuk menjalaninya saja. Toh, wanita paruh baya yang tadi memberinya banyak petuah pun tidak menuntut banyak hal, dan memberinya kesempatan untuk membicarakan apa saja yang perlu ia bicarakan dengan Abizar nanti.
Beberapa saat kemudian, Aira keluar dari dalam ruangan kecil itu dengan tubuh yang jauh lebih segar. Pakaian yang entah milik siapa, sudah berganti dengan pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Ia berdiri di depan pintu kamar mandi, sambil menatap tubuh bagian belakang Abizar, yang terlihat masih begitu tenang dengan lelapnya. Kejadian ini begitu mendadak, dan ia pun tidak tahu harus melakukan apa.
Dengan langkah perlahan agar tidak sampai mengganggu seseorang yang tengah terlelap di dalam kamarnya, Aira keluar menuju dapur umum untuk membuat sarapan untuknya sendiri. Sejak tadi, cacing-cacing di perutnya terus saja meronta meminta di beri makan.
Tidak lama, ia hanya membuat makanan instan seperti biasanya. Dua potong roti berlapiskan telur dan selembar sayuran hijau yang di beri saus, sudah terhidang di atas piring. Tidak lupa pula, ia menyeduh segelas teh hangat untuk ia minum.
Aira kembali ke dalam kamar miliknya, dengan sepiring roti lapis sederhana juga segelas teh hangat. Saat membuka pintu kamar, ia tidak lagi mendapati lelaki itu di atas ranjang, hanya suara gemercik air yang terdengar dari dalam kamar mandi.
Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Aira melangkah menuju belajar miliknya, lalu mulai memakan sarapannya dengan perlahan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Aira tidak memalingkan wajahnya sama sekali, karena ia tahu siapa yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi.
Retakan jantung semakin menggila, saat tubuh tinggi yang tadinya berada di depan pintu kamar mandi, mulai memangkas jarak mendekat ke arahnya.
Abizar tersenyum melihat Aira yang begitu acuh terhadap dirinya. Dan tanpa berkata apapun, ia segera meraih tangan yang sedang memegang satu buah roti, lalu memakan roti itu tanpa bertanya pada pemiliknya.
Aira tidak mencegah, meskipun ia begitu terkejut dengan perlakuan Abizar. Terlebih saat ini wajah Abizar begitu dekat dengan wajahnya.
"Sekalian tehnya yaa." Ucap Abizar. Lelaki itu terbahak saat gadis yang kini terdiam shock di depannya, mengangguk.
"Terimakasih untuk sarapannya. Kamu baik-baik di sini, hubungi aku jika ada sesuatu." Ucap Abizar sambil mengusap kepala Aira. "Aku pulang." Ucapnya lagi. Ia lalu melangkah keluar dari kamar itu setelah mengambil dua lembar kertas yang ada di atas meja belajar milik Aira.
"Aku belum punya nomor ponsel mu." Ujar Aira sebelum Abizar membuka pintu kamarnya.
Abizar tersenyum, lalu merogoh ponsel pintar miliknya.
"Sebutkan nomor ponsel mu." Pintanya.
Aira pun menyebutkan satu. persatu digit angka yang merupakan nomor ponselnya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya yang ada di dalam tas bergetar. Aira segera meraih tas yang ia pakai semalam, sedangkan Abizar sudah keluar dari dalam kamar itu sambil merutuki dirinya sendiri.
"Hubby." Gumam Aira sambil melotot melihat nama yang kini tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Dasar lebay." Umpatnya dengan wajah merona. Setelah panggilan tak terjawab itu berakhir, Aira kembali meletakkan ponsel miliknya di atas meja belajar, tanpa mengganti nama yang sudah tersimpan di dalam daftar kontak miliknya itu.