
Pagi yang cerah. Meskipun belum secerah hati Yana, tapi hari ini sudah jauh lebih baik. Memilih melepaskan diri dari pernikahan yang tidak bahagia, memanglah tidak mudah, akan tetapi itu jauh lebih baik.
Yah, akan lebih baik memilih untuk melepaskan diri, jangan bertahan dalam genggaman yang keras, karena itu akan sangat menyakitkan. Semakin hari, genggaman itu akan semakin keras, perlahan tapi pasti, hati kita akan ikut remuk terremas di dalam genggaman itu. Cinta yang baik adalah cinta yang tidak menzalimi. Entah itu diri kita sendiri atau orang lain.
Mobil Yana sudah memasuki pelataran gedung megah dengan puluhan lantai. Perusahaan keluarga Prasetyo, dengan ribuan karyawan, dan Yana adalah salah satu orang beruntung dari ribuan orang itu.
"Mobil baru ya Bu ?" Tanya petugas keamanan yang biasanya membantu Yana memarkirkan mobil.
"Iya Pak." Jawab Yana.
Ia lantas memberikan kunci mobilnya pada Lelaki paruh baya itu seperti biasanya, dan melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan usai menerima kunci mobilnya kembali.
Senyum tua di wajah lelaki itu begitu terlihat hangat. Bertahun-tahun ia mengabdikan diri di perusahaan ini, sejak masih berstatus sebagai karyawan paruh waktu, kemudian berlanjut sebagai mahasiswa magang dan kini sudah menempati posisi yang lumayan berpengaruh dengan perkembangan perusahaan, yang membuat Yana betah bekerja di sini adalah senyum hangat lelaki tua yang tidak pernah lelah menyambut kedatangannya di pagi hari.
"Pak.."
Yana menghentikan langkah kakinya yang hendak masuk, lalu menatap wajah tua di hadapannya.
"Ada apa Bu Yana ?" Tanya petugas keamanan itu.
"Bapak ngga niat istirahat dari pekerjaan ini. Yah, maksud saya, di umur Bapak yang sekarang, seharusnya sudah menikmati masa tua di rumah bersama istri dan anak-anak Bapak." Ujar Yana.
"Jika mau istirahat, nanti istri dan anak-anak saya makan apa Bu Yana." Jawab lelaki tua itu terkekeh, Seakan kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya dan membuat Yana tersentuh itu, adalah hal yang biasa baginya.
"Bapak mau ngga saya kasih modal, dan buka usaha kecil-kecilan di rumah ?" Tanya Yana hati-hati.
Sejujurnya ia pun tidak tahu harus di pakai untuk apa uang hasil penjualan rumah miliknya. Sejak dulu ia tidak terbiasa membeli barang-barang yang tidak penting, meskipun ia mampu membelinya.
"Benaran Bu ? Sebenarnya istri saya lagi buka usaha catering di rumah, omsetnya sangat bagus hanya saja kami takut mempekerjakan orang lain untuk membantu."
"Baiklah, pulang kerja nanti Bapak tunggu saya di sini, dan kita pulang bersama ke rumah Bapak." Ujar Yana.
Lelaki paruh baya itu mengangguk antusias, sembari mengucapkan banyak terimakasih pada wanita baik yang selalu memperlakukan dirinya dengan begitu sopan.
"Kalau begitu saya masuk ke dalam ya Pak." Pamit Yana, ia melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Semangat Bu, harus sabar menghadapi direktur yang baru."
"Semangat." Ujar Yana.
"Eh maksud Bapak direktur baru gimana ?"
Yana kembali menghentikan langkanya, ia menatap lekat wajah tua yang sedang menatapnya heran.
"Saya cuti selama dua Minggu, dan ini hari pertama saya masuk lagi." Ujarnya menjelaskan.
"Owalah... itu loh Bu, Pak Zidan sudah memilih pensiun, dan sekarang Putra beliau yang menggantikan. Pak Alfaraz." Jelas lelaki tua itu.
"Oh begitu ya, saya belum tahu. Ya Udah saya masuk ya Pak. Jangan lupa pulang nanti tunggu saya di sini." Pintanya lagi sebelum benar-benar berlalu dari sana.
Setelah kepergian Yana, lelaki paruh baya itu berulang kali mengucapkan kalimat penuh syukur. Sejujurnya ia memang sudah sangat ingin beristirahat di rumah, namun, keperluan keluarga yang semakin hari semakin meningkat membuatnya mau tidak mau harus tetap menjalani pekerjaan ini.
Yana terus melangkahkan kakinya, lalu masuk ke dalam lift karyawan menuju pantai tempat ruangannya berada.
Memulai hidup baru, hanya itu yang ada di pikirannya saat ini. Menata karir dan mebahagiakan wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia, adalah prioritasnya.
***
Yana menatap heran wajah aneh enam orang yang tumben sekali berkumpul di ruangan ini bersama dan menyambut kedatangannya.
"Ada apa ?" Tanya Yana.
Keenam orang yang sudah menjadi rekan kerjanya sekian tahun itu hanya tersenyum, lalu menggeleng dengan serentak.
"Saya yakin pasti terjadi sesuatu." Ujarnya tidak percaya dengan gelengan kepala orang-orang yang ada di hadapannya ini.
Gadis cantik berhijab bernama Nia, melangkah perlahan sembari membawa tumpukan berkas di tangannya.
"Bu, direktur baru meminta kami memperbaiki laporan ini." Cicit gadis yang bernama Nia itu.
Yana terbahak melihat wajah khawatir orang-orang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ya sudah bawa berkas itu keruangan saya. Dan Gerald, flash disk yang menyimpan laporan ini, di bawa ke ruangan saya juga." Perintah Yana.
"Siap Bu." Ujar Gerald, di iringi hembusan nafas lega dari semua rekan-rekan kerja yang ada di sana.
Setelah semua berkas sudah berada di atas meja kerjanya, Yana mulai fokus membuka lembar demi lembar untuk memeriksa apa saja kesalahan yang ada di dalam laporan itu.
"Pak Direktur yang baru itu hebat banget Bu." Ucap Vivi. Sebagai asisten, dia memilih untuk duduk diam dan memperhatikan Yana yang sedang membuka setiap lembar laporan di atas meja kerjanya.
"Ini bukan karena direktur yang hebat, kalian aja yang payah." Ujar Yana lalu kembali tertawa melihat wajah cemberut asistennya.
"Ini tidak akan lama kok." Ujarnya lagi dan mulai merevisi setiap angka yang keliru.
"Keuangan memang harus teliti Vi, ga bisa asal-asalan buat laporan, karena ini menyangkut keuangan perusahaan." Ucap Yana lagi, sambil tetap fokus pada setiap digit angka yang ada di layar komputernya.
"Bu kabarnya Pak Reno gimana ?" Tanya Vivi.
"Dia baik kok." Jawab Yana.
"Tampan banget ya Bu." Ucap Vivi lagi. Gadis itu menatap pigura kecil yang ada di atas meja kerja Yana. "Ini kalian umur berapa sih Bu ?" Tanyanya lagi.
"Apanya ?"
Yana mengalihkan tatapannya dari layar komputer, lalu menatap asistennya sejenak.
"Itu." Tunjuk Vivi pada pigura kecil yang menjadi titik perhatiannya sejak tadi.
Yana mengikuti arah telunjuk asistennya.
Deg...
Ia menarik nafasnya yang kembali terasa sesak, lalu mengambil pigura itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
Vivi terkejut, namun, gadis itu tidak bertanya tentang apapun yang membuat wajah atasannya tiba-tiba menjadi begitu murung.
"Keluarlah Vi. Nanti akan saya panggil jika pekerjaan ini sudah selesai." Ujar Yana.
__ADS_1
Vivi mengangguk mengerti, lalu beranjak dari kursi yang ada di samping Yana, dan keluar dari dalam ruangan atasannya itu.
Yana menyenderkan punggungnya sebentar, lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Tidak ada proses yang mudah, akan tetapi tidak ada proses yang tidak membuahkan hasilnya. Hanya saja memang perlu sebuah tekad yang kuat, lalu dengan perlahan semuanya akan kembali biasa-biasa saja.